Marcuss Regan, jelas tidak akan pernah ada dalam kamusnya. Dari modelan pria itu, Selena tahu kalau Regan adalah pengecualian besar dari hidupnya. Meski, dia tahu benar, mantan kapten tim basket SMA Tokyo itu menaruh hati padanya.
Dengan dengusan, Selena berbalik. Kembali berjalan melewati bahu sang ibu yang berdiri. Memandang Regan dengan tatapan menilai. Dan Regan hanya diam. Meratap bagaimana penolakan demi penolakan selalu kembali pada dirinya dari Selena.
Rahang Regan mengeras. "Kenapa putri Anda selalu memasang ekspresi keras seperti itu? Dia punya masalah bulanan?"
"Kau bukan seleranya," kata Kiara sinis. "Kalau begitu, pergilah. Kau tahu dimana pintu keluarnya, Regan."
Marcuss Regan kembali menggeram tertahan. Sebelum iris pekatnya memaku menatap Kamara Kiara yang mendorong pintu ruangannya terbuka, Regan dengan santai melenggang melewati lorong yang sepi.
Menemukan sekretaris pribadi Kiara berdiri, membungkuk padanya dengan raut datar. Lalu, kembali duduk untuk mengacuhkannya.
Dengan menumpangi lift khusus direksi dan tamu direksi, Regan berjalan setelah sampai di lantai lobi. Lantai dasar Bank Tokyo yang berpusat di jantung kota, Tokyo.
Matanya memindai ke seluruh lobi yang ramai. Dengan perasaan antisipasi, Regan menemukan Kamara Selena tengah duduk. Menyesap kopi berlabel Starbucks sembari memejamkan mata.
Seringainya timbul. Begitu pula dengan decakan samar di bibirnya. Dengan langkah ringan, Regan berjalan mendekat. Tanpa permisi duduk di sebelah Selena yang masih terpejam.
"Malam nanti, kau datang ke acara amal, kan?"
Masih tidak ada jawaban. Dan Regan tidak akan menyerah. "Mau datang bersamaku?"
Terdengar suara desisan sinis sebelum kedua mata itu membuka. Selena melirik datar ke arahnya. Pada Regan yang masih mempertahankan senyum manisnya.
"Aku tidak berminat—," matanya mengamati ekspresi Regan dan penampilannya. "—datang bersamamu."
Kedua mata itu melebar. "Apa kau sudah punya calon, Selena? Untuk kau ajak ke acara resmi itu?"
Selena memiringkan kepala. Menatap beberapa karyawan yang berlalu-lalang dengan kaki menyilang. "Bukan urusanmu."
Sebelum Regan bersuara, dia mendengar Selena kembali melanjutkan ucapannya.
"Dan sejak kapan kita akrab? Aku tidak merasa dekat denganmu?" Selena kembali menoleh. Memindai ekspresi Regan dengan pandangan dingin. "Lagipula, perusahaan keluargamu tertolong berkat ibuku. Dan kau tidak punya urusan untuk mendekatiku, bukan? Jadi, pergilah. Perlu kutunjukkan dimana pintu keluar?"
Regan merengut tak percaya. Bibirnya menipis dengan pandangan menilai. Penuh perhitungan. Kala tawa pahit itu meluncur, dan Regan merasakan penghinaan luar biasa karena untuk kesekian kali, Kamara Selena menolaknya.
"Yah, baiklah."
Regan bangun dari kursinya. Menatap Selena yang acuh membuang pandangan ke objek lain. Sembari menyesap kopi dalam gelasnya.
"Karena sebentar lagi kau menjadi milikku, aku akan bersabar untuk kali ini," kata Regan santai. Sebelum dia melambai, dan berjalan ke pintu keluar dengan senyum menawan.
Kedua kelopak mata itu hanya memicing. Selena menghela napas. Berdecak dengan dengusan, serta gelengan kepala. Raut wajahnya tampak jijik.
"Aku ingin muntah melihatnya."
***
Ballroom Hotel Acacia Tokyo cukup ramai malam ini. Tamu yang didominasi berasal dari kalangan atas, memenuhi ballroom dengan berbagai penampilan memukau mereka. Berniat menunjukkan pada dunia, bahwa mereka keluar sebagai yang terbaik.
Selena memberikan kuncinya pada petugas vallet yang telah menunggu. Setelah dia merapikan gaun malamnya, berjalan menaiki undakan anak tangga dengan karpet merah menghias. Beberapa kali mengangguk saat pihak keamanan hotel menyapa ramah.
Selena menipiskan bibir. Menemukan ballroom yang penuh, dia lantas mencari kemana orang tuanya. Dan menemukan Kamara Kiara bersama beberapa teman sosialitanya sedang berkumpul, lalu pada Kamara Yuma yang tampak tenang, menunggu sang istri dengan minuman di tangan.
"Ah, itu putriku."
Selena berjalan mendekat. Menyapa empat perempuan paruh baya yang ada di usia sama dengan sang ibu. Menyapa mereka dengan sopan, dan berpamitan untuk bergabung bersama sang ayah yang telah menunggu.
"Papa pikir, kau tidak akan datang."
Selena mencari minuman yang ingin dia minum. "Aku hanya ingin tahu, apa yang akan terjadi malam ini. Bukankah, Mama melakukan perjanjian dengan keluarga Marcuss untuk menikahkan salah satu putra mereka denganku?"
Bibir Yuma mengetat. "Kau tahu, Selena?"
Selena hanya mendengus. Menahan senyum pahit sebelum dia meraih gelas jus melon cair dan mengintip ekspresi terkejut sang ayah. "Bukan sesuatu yang mengejutkan."
Yuma mengembuskan napas berat. Menaruh gelas minumannya. Menatap sisi wajah sang anak dengan tatapan bersalah. "Papa minta maaf, karena tidak bisa—,"
"Yuma?"
Kalimat Yuma tertahan kala bahunya ditepuk dua kali dari sosok dingin di belakangnya. Dengan senyum ramah, Yuma membalas uluran tangan itu. "Daren. Senang melihatmu di sini."
Marcuss Daren hanya mengangguk. Memberi senyum tipis pada Yuma. Sebelum mereka berbincang, dan manik pekat itu menyapu Selena di sebelah Yuma.
"Dia putrimu, kan?"
"Ah, ya," Yuma memperkenalkan Selena dengan formal. Selena berbalik, tersenyum ramah seperti biasa. "Ini Kamara Selena, putriku satu-satunya."
"Sebentar,"
Daren menepuk bahu seseorang yang membelakangi mereka dengan ponsel di tangan. "Ini putra bungsuku, Marcuss Damien."
Kedua mata Yuma melebar. Sampai-sampai tidak bisa menutup mulutnya sendiri karena terkejut. Yuma tidak tahu, kalau keluarga Marcuss memiliki putra selain Marcuss Utachi.
Marcuss Damien lantas meremas ponselnya sendiri. Setelah memutar badan, membungkuk pada Yuma, dan dia terpaku menemukan Kamara Selena berdiri di depannya. Karena menghabiskan waktu dengan ponsel, hanya demi mengurai rasa bosan yang terlanjur menumpuk.
Pandangan mata mereka bertemu. Damien tidak mampu memalingkan wajahnya ke arah lain. Bertahun-tahun berlalu, dan Damien tidak melihat Selena versi remaja tertinggal pada diri gadis itu.
"Kamara Selena," sapa Selena dengan anggukan singkat. Matanya memaku menatap Damien datar. "Senang melihatmu—," sebelum bibir itu mengulas senyum dingin. "—lagi."
Sepertinya, di antara kedua ayah belah pihak tidak mengerti maksud sapaan Selena. Saat Damien hanya memberi reaksi anggukan kepala, dan menaruh ponselnya di saku kemeja.
Damien merasa hampa kala Selena memutus kontak mata mereka. Ketika gadis itu memilih berjalan pergi, berpamitan pada sang ayah dan Marcuss Daren, lalu berjalan pergi mencari udara segar di taman hotel.
Rahang Selena mengeras. Mendapati Marcuss Damien bukan seperti Damien remaja yang ia tahu. Kemana kacamata besar serta rambut klimis aneh itu? Sial.
Dengan dengusan, Selena mengusap pelipisnya sendiri. Tidak percaya dengan sosok Marcuss Damien yang membuatnya terkejut. Perubahan itu benar-benar menampar telak dirinya.
Selena kembali masuk ke dalam. Meminta pelayan yang melintas di depannya untuk membawakan anggur dalam kadar alkohol sedang untuknya. Setelah menyanggupi, Selena berjalan mendekati sang ibu yang kembali berbasa-basi dengan keluarga Damien.
Kali ini, ada Marcuss Regan.
Langkah Selena terhenti tatkala melihat dua pria menghadang jalannya. Dengan seringai nakal dan kedipan mata menggoda, mereka melemparkan tatapan tak senonoh itu pada Selena.
"Kamara—," mereka menilai penampilan Selena dengan seringai miring. "—Selena. Malam ini, tidak ada yang lebih sempurna dari dirimu."
Selena hanya diam. Menatap keduanya tanpa minat. Dengan alis terangkat, dan saat matanya mengerling dingin pada kerumunan perempuan yang bergosip tentang dirinya.
Bibir Selena terlipat ke dalam saat matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan iris gelap Marcuss Damien. Yang menatapnya—bukan. Yang menatap ke arah kedua pria itu dengan pandangan tidak suka. Kental melumuri ekspresi kakunya, Selena terpaku sebentar.
Sebelum tangan itu terulur menyentuh kulit lengan terbukanya, Selena menepis dengan halus. Tidak lupa memberikan mereka satu senyuman dingin penuh ancaman.
"Aku tidak punya waktu meladeni dua pria manja seperti kalian," ujar Selena sinis. Lalu, berjalan pergi melewati keduanya dengan raut masam.
Kedua pria itu tertegun. Menatap punggung yang mulai menjauh itu dengan pandangan nelangsa bercampur bingung. Mereka baru saja ditolak?
"Selamat malam."
Selena menyapa ibu Damien dan Marcuss Regan dengan senyum seadanya. Karena melihat Regan ada di satu atap yang sama, menghirup udara di satu lingkup sama, membuat Selena muak.
"Bagaimana dengan Marcuss Regan, Kiara? Kita pernah membahas ini, dan ada baiknya kalau—,"
"Maaf menyela, Haru. Tapi, aku tetap pada keputusanku. Aku akan memilih Marcuss Damien."
Damien mengangkat alis. Memberi reaksi kecil mendengar namanya menjadi topik percakapan antar orang tua.
"Bagaimana, Damien? Kalau kau menikah dengan Selena? Apa kau keberatan?"
Pertanyaan itu spontan membuat Damien membeku. Kepalanya pusing mendapat pertanyaan tiba-tiba. Kalau dia langsung mengangguk, bukankah terlihat jelas nantinya?
Selena menipiskan bibir. Mendengus masam sembari menatap Damien dingin. "Aku akan mencari udara segar, Mama. Aku rasa aku tidak akan kembali."
Delikan tajam Kamara Kiara tidak mampu menyurutkan niat Selena untuk segera angkat kaki dari pesta menyebalkan ini. Dengan senyum seramah mungkin, Selena menepuk lengan ibunya. Beralih memberikan kedipan mata pada sang ayah. Lalu, membungkuk pada orang tua Damien.
"Aku permisi."
Pandangan mata Damien belum lepas dari gadis yang kenangannya memenuhi kepala Damien. Terakhir kali, rambut Selena tidak sepanjang itu. Hanya rambut biasa, dan tidak terlalu tertata rapi.
Lagi-lagi, Damien mendapati sesuatu yang lain. Kala Selena berjalan, dan godaan menghampiri gadis itu, tetapi Selena dengan dingin mengacuhkan mereka.
Dan berjalan santai sampai tiba di pintu keluar.
***
Dentaman suara musik di lantai dansa mengaburkan pikiran Damien. Bersama pandangannya yang memutar, mencari sosok cokelat mencolok yang berbelok ke arah bar malam dengan mobil sedan hitamnya.
Damien mengernyit. Rasa asing menghantam dadanya begitu keras. Bersamaan dengan aroma alkohol yang bercampur menjadi satu. Alkohol dan asap rokok adalah perpaduan aroma neraka yang kental. Begitu khas sampai rasanya membuat kedua hidungnya tersumbat.
Suara geraman terdengar. Damien tersentak. Nyaris menabrak pasangan muda yang tengah b******u liar dengan gairah yang mengepul sampai batas ubun-ubun mereka.
"Kau sudah mabuk, Nona. Mari, biar kuantar kau ke lantai paling atas untuk berbaring."
Selena mendorong tangan yang merayap di lengannya. Menepis tangan itu dengan delikan tajam. "Jangan sentuh aku," gertaknya dingin.
Pria itu malah terkekeh. Memberi seringai miring yang membuat kepala Selena semakin pening. Karena aroma tembakau bercampur alkohol dari napas pria itu menerpa wajahnya.
"Jangan jual mahal begitu, cantik. Tidak ada gunanya. Kau datang kemari, itu berarti kau sudah siap dengan segala resikonya."
Selena mencibir. Menegak kembali gelasnya hingga tandas. Sebelum dia membanting gelas itu, mengambil pecahan kaca itu untuk melukai lengan si pria. Yang masih berani menyentuh kulitnya. "Sekali lagi kau menyentuhku, aku akan melukaimu."
"Sialan!"
Darah mengalir. Dan Selena membanting pecahan kaca itu ke atas meja. Bartender yang berjaga segera membersihkan pecahan itu sebelum orang lain terluka.
"Kau!"
Pria itu mendelik tajam saat tangannya tertahan di udara. Dengan sinar mata siap membunuh, dia mengernyit menemukan sosok lain berdiri untuk menghalangi pandangan matanya ke arah gadis yang tengah mabuk itu.
"Pergilah ke klinik terdekat. Aku melihat ada klinik buka dua puluh empat jam dekat sini," Marcuss Damien mengeluarkan dompetnya. "Biar aku yang membayar kekacauan ini."
"Heh, sialan! Kau pikir semuanya bisa dibayar dengan uang?"
Damien menghela napas. "Aku hanya tidak mau kau menyesal kemudian," balasnya datar. "Cepatlah. Sebelum kau infeksi, dan luka itu semakin sulit disembuhkan."
Dengan meraup semua uang lembaran yang Damien berikan, pria itu turun dari kursi bar. Berjalan pergi setelah menabrak beberapa pasangan yang menikmati musik di lantai dansa.
Damien mendesah berat. Berbalik untuk melihat betapa kacaunya Kamara Selena malam ini. Apa yang akan Kamara Kiara katakan nanti? Mendapati putrinya mabuk dan baru saja melukai orang lain?
"Ayo, pulang."
Kedua kelopak mata itu sedikit membuka. Kemudian, kembali menutup. Saat Selena mendengus, menuding Damien dengan telunjuknya. "Mau apa kau di sini?"
"Membawamu kembali," sahutnya. Damien mengeluarkan uang, dan bartender itu menggeleng halus. Berkata bahwa Selena sudah membayar lebih dari yang Damien berikan.
"Ayo, Selena."
"Jangan sebut namaku," racau gadis itu. Dengan susah payah, Selena berusaha bangun. Melepas heels yang membuat kakinya terluka, dan Damien segera membawanya sebelum gadis itu limbung. Dan terinjak-injak di lantai dansa yang ramai.
Damien menepikan gadis itu ke mobilnya. Dia akan meminta asistennya untuk membawa mobil Selena kembali nanti.
Pilihan terbaik malam ini adalah, membiarkan Selena beristirahat di hotel. Karena kalau dia kembali dalam keadaan kacau, Damien tidak yakin akan ada perdebatan sengit di antara Kiara dan putrinya. Mengingat, betapa kerasnya Selena remaja, Damien tidak akan berpikir panjang untuk mengamankan gadis itu sementara waktu.
Kamar hotel terbaik dia pilihkan. Setelah membayar, dan membawa gadis itu ke kamarnya. Damien menghela napas panjang.
"Sakit sekali," rintihnya.
Kepala Damien tertoleh. "Bagian mana?"
"Di sini," tunjuk Selena dengan hatinya. "Sakit sekali. Sampai rasanya mati rasa. Aku tidak bisa merasakan apa pun selain marah, benci, kecewa," lirihnya.
Damien tidak mengerti. Sama sekali tidak tahu apa yang Selena bicarakan. Dia terluka? Dengan kekasihnya?
Sebelum Damien kehilangan akal sehatnya, ada baiknya dia segera pergi dari kamar ini. Menitipkan Selena pada petugas hotel, agar gadis itu tidak kebingungan di pagi hari.
Tetapi, Damien harus menahan keinginannya untuk pergi kala mendapati Selena melingkarkan tangannya pada bahu kokohnya.
"Kepalaku sakit," bisiknya pelan. "Jangan pergi."
Damien berusaha melepas rangkulan tangan itu. Dan bertambah gelisah saat Selena malah semakin erat mendekapnya. "Kenapa aromamu harum sekali? Parfum apa ini?"
Kenapa tiba-tiba?
Damien belum sempat bersuara, Selena menarik tangannya untuk berbaring bersama. Alkohol membuyarkan logika gadis itu. Membuat Damien tersipu menyadari satu hal. Bahwa area bawah gaun malam gadis itu tersingkap.
"Selena."
"Hm?" Gadis itu merespon dengan kedua mata terpejam.
"Kau harus istirahat," Damien masih berusaha melepas lingkaran tangan gadis itu di lehernya. "Aku akan kembali. Tidurlah."
Kedua mata itu membuka. Iris matanya yang sayu membuat pikiran Damien mengabur. Kalut. Kacau. Rasa-rasanya, dia tidak mau pergi.
"Kalau kau pergi, kau akan menyesali ini."
"Ap—,"
Damien tersentak. Menemukan permukaan bibirnya terasa lembab dan menenangkan. Di saat kedua matanya melebar, menemukan Selena berusaha keras menciumnya.
Hanya sekedar menempel, dan Selena kembali menjauhkan wajahnya dengan sipu menggemaskan yang timbul di pipi.
"Cium aku lagi."
Dan Damien tidak akan berpikir dua kali untuk melakukannya.
***
Selena menarik rem tangan pada mobilnya dengan bibir menipis. Menemukan Rola Mizuki menangkap basah dirinya. Setelah membayar taksi, Rola segera turun. Bersidekap di depan Jaguar milik Selena.
Selena melepas sabuk pengaman. Menutup keras pintu Jaguar miliknya. Memandang Rola datar. "Mau apa kau?"
Rola mendengus. "Jangan bercanda, Selena. Aku datang untuk menahanmu melakukan sesuatu yang buruk."
Selena mencibir Rola. "Tidak akan ada yang bisa menghentikanku sekarang, Rola. Tidak kau, tidak siapa pun."
"Ingat Sahara!"
Rahang Selena mengeras. "Aku lakukan ini demi Sahara. Demi menuntaskan rasa sakitnya. Demi mengurangi rasa bersalahku, Rola!"
Rola terpaku. Kedua tangannya mengepal. Begitu pula reaksi tubuhnya yang membeku.
"Aku minta padamu, pergi dari sini. Panggil taksi itu kembali."
"Tidak."
Selena hanya mendesis.
"Aku tidak akan pergi."
Selena mengembuskan napas. Melempar tatapannya pada rumah minimalis tingkat dua dengan datar. "Berhenti keras kepala, Rola. Aku tidak mau kau terlibat kali ini."
"Dan membiarkan sahabatku menderita seorang diri?" Rola berangsur mendekat, dan Selena hanya diam. "Kita kehilangan Sahara. Aku tidak akan kehilanganmu, Selena."
"Biar aku yang menanggung ini sendiri, Rola."
Selena berjalan masuk melalui jalan setapak taman. Mendorong pintu utama itu terbuka, dan menemukan Rei Nick terikat bersama simpanannya yang tengah hamil besar.
"Ya Tuhan!" Rola menutup mulutnya.
Selena berjalan mendekat. Saat pandangan Nick lirih memohon padanya. Untuk tidak berbuat kasar selanjutnya.
"Matsuri, dia kekasih Rei Nick setelah bercerai dari Ana. Sedang hamil tujuh bulan."
"Hamil?" Selena membeo dingin.
"Benar, Nona Selena," ujar Kaia. Mengangguk pada Selena setelah dia menjambak rambut Matsuri agar berhenti menangis. "Aku menemukannya sedang tidur di saat Rei Nick sedang berkebun."
"Apa kau bercerai dari istrimu karena perempuan ini, Nick?"
"Bukan urusanmu, Rola."
Selena mendengus mendengar kalimat balasan Rei Nick pada Rola. Dengan langkah perlahan, Selena nendekati Kaia. Meminta sesuatu pada gadis bertubuh ramping itu.
"Kau tahu apa yang selanjutnya kau lakukan, Kaia."
"Baik."
Rola terpaku. Menatap takut bercampur panik pada Selena yang tengah menggenggam pistol hitam di tangannya.
"Selena!"
Isak tangis Matsuri semakin keras terdengar. Saat Kaia menarik Rei Nick dengan kekuatan tubuhnya untuk berdiri, mengalungkan tali tambang itu pada leher Nick.
"Selena," panggil Rola.
Selena berpura-pura tuli kali ini. Senyumnya mengembang pada Matsuri yang menatapnya penuh harapan iba.
"Kau tahu, sahabatku pernah ada di posisi yang sama denganmu," tukas Selena dingin. "Dan dia berakhir menyedihkan dengan membunuh dirinya sendiri karena depresi."
Selena membungkuk. Saat Rola gemetar di belakangnya. "Ini belum apa-apa. Nick mati pun, rasa sakitku karena melihat sahabatku pergi, belum apa-apa."
"Selena!"
Selena menajamkan matanya. Saat Kaia telah menyeleGiokan tugasnya. Hanya menunggu instruksi sampai kursi kayu itu terdorong, dan Rei Nick akan mati tergantung.
"Tolong. Tolong aku ..."
Rola mendesis tanpa bisa lakukan apa pun. Ketika jemarinya gemetar, berusaha menahan Selena dan sahabatnya malah memberikan tatapan dingin lain, membuat Rola membeku.
"Jatuhkan kursi itu, Nick. Aku akan melepaskan kekasihmu."
Nick meringis. Menggeleng dengan pemberontakan kecil saat moncong pistol itu melekat pada dahi Matsuri. "Tidak, Selena."
"Tangisanmu tidak akan bisa membawa Sahara kembali, Nick," kata Selena lirih. "Tidak akan bisa membawa sahabatku kembali."
Rola menunduk. Membuang pandangannya saat Nick dengan tangisan mendorong kursi kayu itu agar jatuh dengan kakinya. Dan kedua kaki yang tergantung itu mulai bereaksi, begitu pula dengan tangan yang mulai gemetar, dan napas Nick perlahan-lahan tercekik.
Tangisan Matsuri semakin keras. Saat Selena menatap pemandangan itu datar. Kala Rei Nick akhirnya kalah, dan dia berakhir sama seperti Sahara. Pergi.
Selena menghela napas. Menjauhkan pistol itu dari dahi Matsuri dan melemparkannya pada Kaia. "Ini, setelah ini pergilah menjauh dari Tokyo. Karena aku tidak akan memberi kesempatan yang sama untukmu dua kali."
Matsuri menangis keras. Dengan bahu merosot dan wajah yang sembab karena terlalu banyak menangis.
"Kau tidak akan bebas kalau kau menceritakan ini pada orang lain," bisik Selena dingin. "Uang yang kuberikan cukup untukmu. Kau akan bekerja untuk menghidupi calon anakmu sendiri. Kau paham?"
"Terima kasih," kata Matsuri terbata-bata.
Selena mendesah. Menatap Kaia yang juga menatapnya. "Bereskan semuanya, Kaia. Temui aku besok pagi di kantor."
"Baik, Nona."
Selena berbalik pergi. Meninggalkan Rola yang masih memandang lurus pada Matsuri, dan pada raga Rei Nick yang masih tergantung.
***
Selena memainkan jemarinya di atas meja. Bersama Kaia yang bersabar dan setia menunggunya di ruang rapat. Seketika, ruang rapat yang semula ramai berubah senyap. Kala Selena hanya diam, seakan tidak mendengarkan suara di dalam ruangan.
"Jadikan Marcuss Damien direktur utama," kata Selena setelahnya. Membuat Kaia mengerutkan alis, dan Selena mendekat dengan tangan menopang dagu. "Aku tidak ingin Marcuss Regan naik tahta. Dia harus lengser."
"Ada apa, Nona Selena?"
"Kerugian banyak terjadi selama kepemimpinan Regan. Dampak yang aku rasakan berimbas pada saham dan pemasukan yang masuk. Banyak laporan palsu yang ia berikan untuk memanipulasi data pemasukan sekaligus pengeluaran."
Semua orang terkesiap.
"Seperti contoh, Regan bilang perusahaan mengalami kenaikan sebanyak sepuluh persen. Kenyataannya, perusahaan merugi nyaris lima sampai delapan milyar pertahun."
Selena mengusap pelipisnya. "Aku tidak akan mengambil resiko dengan mengorbankan kas dan PHK besar-besaran tiap tahun hanya karena perusahaan itu merugi."
Semua orang saling berpandangan. "Tetapi, Nona Selena. Bukankah, Marcuss Damien tidak berkompeten di bidangnya? Setidaknya, itu yang sering Nyonya Haru katakan setiap rapat."
"Kalian bisa menilai setelah melihat hasil kerjanya," balas Selena dingin. "Karena aku pun sama. Menantikan apa yang bisa dia lakukan untuk membawa perusahaan kembali ke garis normal. Bukan berada di garis merah."
Mereka terpaku. Mencerna ucapan Selena, sebelum satu-persatu memberi anggukan kecil, dan perlahan menyebar ke penjuru ruangan.
"Kami akan melakukannya, Nona Selena."
Senyum Selena terurai lebar. "Bagus. Aku tahu, kalian semua bisa diandalkan."
Setelah para anggota rapat mengundurkan diri, menyisakan Selena bersama Kaia di dalam ruangan, Kaia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Bagaimana jika Nyonya Kiara tahu, Nona?"
"Biarkan saja," acuh Selena. "Mama tidak akan bisa lakukan apa pun. Dia mendukungku. Regan banyak melakukan manipulasi demi keuntungan pribadi. Dan aku muak dengannya."
Kaia menghela napas. "Apa ini berkaitan dengan kehamilan Anda?"
Rahang Selena mengeras. "Setelah makan malam, aku akan bicarakan ini pada dokter kandungan. Jaga rahasia ini agar ibuku tidak tahu."
Selena berjalan pergi menuju pintu ruangan, sebelum Kaia bersuara. Membuat Selena membeku.
"Sebenarnya, Nyonya Kiara tahu. Dan kemungkinan Anda ingin menggugurkan kandungan Anda, sangatlah tipis."
Selena membeku.
***
Selena melamun. Menatap datar pada gelas kosong. Yang kemudian terisi dengan air putih, dituangkan oleh pelayan berdasi dengan sopan.
Kamara Kiara menyesap air itu dengan senyum lebar. Setelah dia bicara pada Marcuss Haru, dan ibu dua anak itu tidak bisa lakukan apa pun karena Kiara meminta Damien untuk menjadi menantunya, bukan Marcuss Regan.
"Dengar, Damien. Setelah ini, aku rasa kehidupan pernikahan kalian di masa depan akan semakin berwarna," ujar Kiara menggebu-gebu. Membuat Selena mual bukan main.
Damien hanya mengerutkan kening. Saat dia mengintip ekspresi bosan Selena, dan kembali pada calon ibu mertuanya. "Maaf?"
Kamara Kiara hanya tersenyum. Senyum yang menbuat Damien bingung bukan main.
"Setelah menikah, bisakah aku memberikan syarat padamu?"
Selena melirik datar ke arahnya.
"Aku tidak mau kau bekerja. Kau hanya harus di rumah. Mengurus keperluan rumah dan merawat anak-anak nanti."
Anak-anak. Memikirkan anak membuat kepala Selena hampir meledak sebentar lagi.
"Ide bagus!"
Suara Kiara kembali terdengar ceria. "Aku sebelumnya memberi mandat pada Selena untuk duduk di kursi tertinggi. Biarlah orang mau bilang apa, lulusan Kedokteran Gigi menjabat direktur. Yang terpenting, Selena bisa melakukannya."
Kiara kembali melanjutkan kalimatnya. "Tapi, kalau Damien memintanya untuk melepas jabatannya, biar aku yang kembali memegang perusahaan."
"Saham terbesar masih milikku," sela Selena dengan senyum tipis. Mengangkat gelas minumnya dan mengerling pada Damien. "Aku masih berkuasa penuh untuk lakukan apa pun yang kau mau."
Damien berdeham. "Selama itu tidak merugikanmu, tidak masalah."
Senyum Kiara terulas manis. "Ya Tuhan, menantuku benar-benar perhatian sekali. Astaga. Ini benar-benar membuatku senang. Karena aku mendapat menantu sebaik dirimu."
Selena memutar mata. Saat Kamara Kiara mendapat panggilan, dan memintanya untuk segera pulang, dia meninggalkan restauran bersama Damien di dalamnya.
Nyaris sepuluh menit, mereka tenggelam dalam senyap. Tidak ada satu pun yang membuka percakapan. Begitu pula dengan Selena yang tiada henti menatapnya tajam. Seolah-olah gadis itu siap mengulitinya kapan saja.
"Ada yang ingin kau katakan?"
Selena menarik napas. Mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Melempar amplop berlabel Rumah Sakit Tokyo pada halaman depan.
Damien tidak banyak bertanya. Tiba-tiba dia berdebar menunggu antisipasi. Ketika kertas itu terbuka sepenuhnya, deretan tulisan itu menghentikan debaran dadanya sesaat.
"Usia kandunganku menginjak tiga bulan. Ini alasan kenapa aku menghindarimu selama tiga bulan. Karena aku memang tidak mau melihatmu," kata Selena. "Bukan bawaan bayi. Tapi, karena aku muak."
"Muak padaku?"
"Pada diriku sendiri karena membiarkan kita melakukan kesalahan malam itu," ujar Selena parau. "Mama tahu ini. Dan dia meminta agar mempercepat semua urusan. Setidaknya, saat cucunya lahir, dia punya nama dan marga. Atau, dia memiliki orang tua lengkap."
"Kau berpikir untuk merawatnya sendirian?"
Selena mengangkat alis pada Damien. "Kau pikir aku mau merawatnya? Aku akan membuangnya."
Damien membeku hebat. "Apa maksudmu?"
"Pernikahan tidak ada dalam kamusku. Apalagi memiliki anak?" Selena tersenyum getir. "Kau beruntung, karena Mama tahu. Dan dia mempercepat segalanya hanya untuk kita berdua."
"Aku akan bertanggung jawab," putus Damien tegas.
Selena hanya diam. Menatap sepasang manik pekat yang namanya pernah ditulis Sahara dalam memo kenangannya.
"Kita lihat nanti."
Dan Selena berjalan pergi. Meninggalkan Damien seorang diri di dalam ruangan bersama pikirannya.
***
Rola membeku menemukan Kamara Selena duduk di sebelah makam Sahara yang tertata rapi. Bersama taburan bunga di atas gundukan tanah, dan bersama pemandangan memilukan yang tengah berusaha Rola tahan agar tidak menangis.
"Aku akan mematahkan prasangkamu tentang Marcuss Damien sebagai pria baik-baik, Sahara."
Tangan Selena gemetar memegang bunga krisan putih. "Tidak ada pria baik-baik dalam kamusku. Keinginanku bahagia seperti kehidupan pernikahan orang tuaku, pupus sudah. Melihat kau menderita, melihat Rola menderita. Aku hanya dilingkupi keberuntungan."
Selena mengembuskan napas. "Keberuntungan berpihak pada ibuku, dan bukan padaku. Kenapa harus aku berharap pada takdir memberikan orang yang sama untuk mencintaiku? Seharusnya, takdir memberikan itu padamu dan Rola."
Selena tertunduk lemas. "Karena kau dan Rola banyak menderita daripada aku. Aku hanya perempuan bodoh yang terjebak dalam cangkang keluarga kaya dan berkuasa. Selebihnya, tidak ada."
"Aku menjaga Rola seperti yang kau mau. Tidak, kalau pun kau tidak berkata seperti itu, aku akan menjaganya sebaik mungkin. Satu-satunya sahabat yang kumiliki hanya dia. Aku sebisa mungkin akan melindunginya dari ibuku sendiri, Sahara."
Kelopak krisan putih itu terbang menjauhi Selena yang termangu.
"Jika kau tidak pergi saat itu, aku dan Rola bisa bekerjasama menjadi bibi terbaik untuk anakmu, Sahara. Kami akan menyayangi keponakan kami dengan sepenuh hati. Tetapi, kenapa? Kenapa kau malah membunuh dirimu sendiri?"
Bibir Selena gemetar. "Ekspetasiku hancur bersama kepergianmu, Sahara. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk bersamamu sampai kau bahagia nanti. Tapi, aku malah membiarkanmu pergi."
Rola berjalan mendekat. Dan kembali menahan langkahnya saat Selena bersuara lirih.
"Cinta membutakan segalanya, bukan? Dan aku tidak mau terpedaya hanya karena aku jatuh cinta."
Rola tidak bisa menahan dirinya lagi. Saat dia berjalan, berlutut di depan makam Sahara. Dan menangis di sana. Di depan nisan bertuliskan Sahara Seika dengan sorot hancur yang sama.
Selena menghela napas. Mengusap airmatanya sendiri saat melihat Rola menangis histeris di pemakaman yang sepi. Mereka baik-baik saja selama tidak ada yang tahu. Tetapi, melihat Rola yang ikut hancur, Selena tidak bisa menahan dirinya untuk tidak kembali menangis.
***
"Dion, kemari! Jangan kejar bola itu."
Selena baru saja menuruni tangga. Menemukan putra semata wayangnya yang menginjak usia sepuluh bulan, merangkak cepat mengejar bola kecil berwarna merah yang menggelinding sampai ke dekat tangga.
Rola berusaha mengejar. Dan Selena menggeleng saat dia menunduk, menemukan iris sepekat malam itu menatapnya.
"Selena, bawa Dion kemari."
Selena mengabaikan Rola. Membiarkan putranya terus mengejar bola itu dengan celoteh riang. Sementara dia berlalu pergi ke dapur untuk mengambil air dingin.
Selena kembali ke ruang tengah. Dimana Dion yang belajar berdiri sembari berpegangan pada benda, membuat Rola khawatir.
"Jangan nakal," Rola membawa anak itu ke ruang tengah. Meminta Dion untuk bermain di dekatnya, saat anak manis itu menjerit dan Selena berdecak dingin padanya.
"Selena," tegur Rola.
"Jangan menjerit," ujar Selena dingin. Dan Dion yang menatap ibunya kembali menjerit dengan suara lebih keras. Membuat Selena sontak melebarkan matanya, dan Dion terkekeh kemudian.
"Lihat, dia menggemaskan sekali. Benar-benar duplikat suamimu, Selena."
Rola kembali menggoda Dion. Meniupkan udara pada perut Dion dan bergantian mencubit pipinya gemas. Sampai Dion terkikik geli, dan mencubit pipi Rola cukup keras.
Selena bergeming menatap pemandangan itu. Ekspresi datarnya membuat Rola kebingungan. Saat Rola membiarkan Dion bermain tenang sembari duduk, mata Rola menyapu Selena.
"Jangan membenci putramu sendiri, Selena. Dion tidak salah."
Selena hanya diam.
"Aku merasa tidak enak karena sering datang tanpa suamimu tahu," ujar Rola getir. "Lain kali, aku akan berkunjung kalau suamimu ada di rumah."
"Tidak perlu. Kau bisa datang di saat dia kerja," kata Selena datar. "Tidak ada gunanya dia tahu."
Rola menghela napas.
"Anak ini menggemaskan, Selena. Lihat? Kenapa bola matanya bulat sekali? Pipinya juga tembam," gemas Rola. "Semua orang akan jatuh cinta padanya. Tapi, kenapa tidak denganmu?"
"Dia adalah kesalahan," ucap Selena dingin.
Rola membisu diam.
"Damien menyayanginya, Selena. Belajarlah lakukan ini demi anak. Jangan demi dirimu sendiri," kata Rola mengingatkan.
"Demi anak?"
"Apa pun yang kau lakukan nanti, di masa depan, pastikan semua tentang anak. Kehidupan kita akan berubah jika anak sudah hadir. Kau seharusnya merasakan itu."
"Semua masih sama," balas Selena datar.
Rola mengembuskan napas panjang.
Dion memegang kaki sang ibu, menggunakan kakinya sebagai media untuk belajar berdiri. Rola sudah siap menangkap kalau Dion jatuh, tapi sebelum b****g anak itu menyentuh karpet, Selena sudah menahannya.
Rola terpaku. Menatap Selena yang membawa Dion ke dalam pelukannya. "Kenapa kau tidak bisa diam, hm?" Memukul lengan anak itu pelan, dan Dion tertawa dengan tujuh gigi susunya yang baru timbul.
Rola mendesah. Tersenyum tipis saat Dion terayun di dekapan Selena. Tiada henti terkekeh karena sang ibu yang terus menggodanya.
***
Selena menutup tirai kamarnya saat dirasa hujan yang mendera Tokyo semakin lebat saja terdengar. Sampai suara angin yang berhembus menerbangkan daun kering, terdengar menelusup masuk ke dalam kamar.
Mendengar suara putranya yang belum tidur, Selena mendesah pelan. Karena sang suami tidak mau menaruh Dion di keranjang tidurnya, dan malah mengajaknya bermain. Padahal, jarum jam menunjuk angka sembilan malam.
"Ayo, tidur."
Selena berusaha mengambil atensi Dion, dan anak itu malah merapat pada sang ayah. Menatap Selena dengan tatapan memelas.
"Dia tidak mau tidur, Selena," kata Damien. "Biarkan dia tidur di sini."
Selena memutar mata. "Ayo, Dion. Kau harus tidur."
Memberi reaksi melambaikan tangan, Damien mengulurkan tangannya untuk mendekap putranya lebih erat, membawa Dion untuk berlindung.
"Di luar hujan, dia takut sendirian," ujar Damien menyuarakan isi hati putranya.
"Kau pasti bercanda," Selena berdecak. Menaruh tubuhnya di atas ranjang sembari menarik selimut. "Kamarnya aman. Dia tidak akan kehujanan di dalam kamar. Kau memberikan fasilitas kedap suara pada kamar putramu."
Dion yang sudah bisa merangkak, mendekati sang ibu. Duduk di tengah-tengah mereka dengan tangan terulur pada Selena.
"Ma-ma-ma-ma."
Selena terpaku. "Hm?"
"Ma-ma," ucapnya dengan mulut membuka kecil. Lalu, Dion melambai ke arahnya. "Ma-ma-ma."
"Dia baru saja memanggilmu," kata Damien. Bermaksud menafsirkan ocehan sang anak pada istrinya.
Selena membeku. Matanya menatap lekat pada putranya yang merangkak mendekatinya, merapatkan wajahnya pada leher sang ibu, mencari-cari sumber makanan dan minumannya di sana.
"Mama?"
Selena menunduk. Dia meremas lengan putranya dengan pandangan kalut. "Dion baru saja memanggilku Mama?"
Memberi reaksi kecil dengan rengekan, Selena menarik napas panjang. Beku yang melumuri tubuhnya, berangsur-angsur mencair. Damien menatap lekat ekspresi pucat istrinya, seakan Selena hampir saja mati karena serangan jantung, dan dia ingin mengambil Dion dari tangan sang istri.
"Ya Tuhan," napas Selena berembus kasar. Memeluk putranya dengan gemas, dan dengan airmata yang tidak bisa ia tahan. "Rasanya sesak sekali."
"Selena."
Selena masih tidak mendengarkan. Dan jeritan Dion semakin keras terdengar.
"Selena, kau memeluk Dion terlalu erat."
Selena masih memeluknya sampai Dion menangis keras karena tingkah ibunya.
"Selena, putramu tidak bisa bernapas."
Selena tersentak. Mendengar Dion menangis keras, dia malah terkekeh. Selena mengulurkan tangannya, menghapus airmata sang anak dengan lembut. "Siapa yang nakal?"
"Kau," sahut sosok di sebelahnya.
"Sssh," Selena mengulurkan tangan untuk mencubit lengan sang suami. "Diam."
Damien mendengus. Membiarkan Dion menyusu pada ibunya dan tertidur ketika dia lelah bermain. Dan suara hujan di luar sana sebagai melodi pengantar tidur terbaik untuknya.
Selena ikut mengantuk. Saat hisapan keras itu perlahan-lahan terhenti, dan dia menutup kancing piyamanya, bersiap tidur.
Damien masih terjaga. Menatap keduanya dengan pandangan sulit diartikan. Seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah selain sifat dingi. Selena yang perlahan-lahan mencair selama pernikahan mereka.
Damien menarik selimut untuk membungkus mereka. Saat Selena melipat tangannya, bersiap tidur karena kantuk yang menyerang.
Jemari Damien terulur. Bermaksud jahil dengan mengusap pipi tembam putranya. Dan Dion memberi reaksi dengan menggeliat kecil, membuat Selena gelisah di tempat tidurnya.
Lalu, tangan itu bergerak mencubit pipi putranya gemas. Membuat Dion menjerit kecil, kemudian menangis. Merengek karena sang ayah malam ini berbuat jahil padanya.
Kedua mata Selena membuka. Menemukan Dion merengek dan menangis keras. Dengan raut masam, Selena menuding sang suami yang berpura-pura tertidur pulas.
"Berhenti menyebalkan," gerutu Selena.
Membawa Dion ke dalam gendongannya. Dan Damien membuka mata, menarik tangan sang istri. "Mau kemana?"
"Pindah. Aku mengantuk, Damien. Jangan mengganggu. Kasihan dia," ketus Selena. Dan Damien kembali menarik tangannya.
"Di sini saja. Dion tidur bersama kita malam ini."
Selena menaruh kembali putranya yang masih menangis. "Jangan iseng. Dia mengantuk."
"Iya."
Damien kembali diam. Mengunci tangannya di atas bantal, saat Selena memberikan Dion minum, menepuk kakinya pelan dan mulai memejamkan mata.
Sebelum Damien sempat memberikan kejahilan kedua, dia menahan tangannya kala Selena menatap dingin ke arahnya.
"Sekali lagi Dion bangun, kau tidur di luar."
Damien mendengus masam. Menarik kembali tangannya. Merapatkan selimutnya sendiri sampai Selena benar-benar kalah dengan kantuknya, dan Dion berhenti menghisap s**u ibunya.
Karena Selena berjanji setelah airmatanya turun untuk pertama kali karena Marcuss Dion memanggilnya Mama, Selena akan bertahan demi putranya. Akan lakukan apa pun demi putranya seorang.