Bagian Delapanbelas

4597 Kata
"Mama, di mana?" Dion bertanya. Memalingkan muka ke sepanjang ruang makan, dan tidak menemukan sang ibu pagi ini. Anak itu menahan kunyahan roti bakar di mulutnya, berpaling menatap sang ayah. "Habiskan saja sarapanmu," balas Damien. Dion terdiam. Menatap sang ayah dengan pandangan skeptis. Lalu, terpaku kembali pada piringnya. Damien menghela napas. Dia sendiri tidak tahu harus berkata apa karena Selena sejak pagi buta tidak ada di kamar. Kemarin, semenjak Damien memutuskan untuk tidur di kamar putranya, dia membiarkan sang istri sendiri di kamar. Dan setelah dia bangun, berniat membersihkan diri, Selena tidak ada di kamarnya. Damien belum mencoba menghubunginya. Menghubungi Selena karena Damien pikir, istrinya butuh waktu sendiri setelah pertengkaran mereka semalam. Dion mendesah. Menarik kemeja sang ayah dengan pandangan bingung. "Kenapa melamun?" Damien terkesiap. Menaruh sarapannya dan meminta asisten rumah tangga untuk membersihkan meja. Sementara Damien akan bersiap-siap bekerja, lalu mengantar Dion pergi ke sekolah. Kalau sampai Selena tidak kembali sampai malam, Damien akan mencarinya. Dia akan mencoba menghubungi Selena nanti, setelah makan siang. Mereka harus bicara. Dion memakai dasinya. Setelah Ayame membantunya merapikan seragam beserta rompinya, anak itu tersenyum ramah. "Terima kasih." "Sama-sama," balas Ayame singkat. Mengusap seragam Dion, baru beranjak mencuci peralatan makan majikannya. "Ayo." Dion berjalan mengekori sang ayah. Tatapan matanya kembali pada rumah dan isinya. Sebelum dia menuruni tangga, dan menatap Damien yang baru saja membuka pintu mobil. "Papa, aku akan pulang dengan Mama." Damien terdiam. "Semalam, Mama bilang begitu? Mama akan menjemput?" Kepala Dion menggeleng. "Biar Papa yang menjemput nanti," Damien memastikan sang anak masuk ke dalam mobil dengan aman. Setelah Dion memasang sabuk pengaman, Damien mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi. Menyalakan mobil, dan menekan klakson setelah penjaga gerbang membukakan pintu gerbang rumah untuknya. *** "Selena?" Rola benar-benar cemas sekarang. Setelah pemakaman ibunya berjalan baik, Selena masih setia menemaninya. Bahkan, ibu satu anak itu tetap duduk, menyilangkan kaki dengan kepala tertunduk. "Kau bertengkar dengan suamimu?" Hembusan napas Selena berubah berat. "Semua sudah terbongkar. Aku tidak bisa mengelak apa-apa lagi." Kedua mata Rola melebar. "Tidak mungkin. Pasti mereka bicara yang tidak-tidak pada suamimu," gumam Rola dingin. "Aku akan menyeleGiokan semuanya, Selena." Kepala Selena terdongak. Memandang Rola dengan tatapan pias. "Untuk apa?" Rola mengepalkan tangan. "Kau pikir apa yang bisa aku lakukan sekarang? Mana mungkin aku mau kehidupan sahabatku kacau. Tercerai-berai seperti ini hanya karena kesalahpahaman?" Selena menghela napas. "Duduk dulu, Rola." "Aku akan menemui Damien sekarang," Rola beranjak. Sebelum suara Selena menghentikannya.  "Biarkan saja," Selena menarik napas panjang. "Ini yang aku mau." Rola menoleh. Bibirnya menahan geraman kala tangannya terayun, dan berhasil membuat Kamara Selena limbung karena tamparannya. "Ini untuk rasa sakitku karena melihatmu menderita atas kematian Sahara, Selena. Tidak hanya kau, tapi aku." Bibir Selena gemetar kala Rola melayangkan tamparan keduanya. Kali ini, lebih keras. "Dan itu, untuk kebodohanmu. Kebodohan Kamara Selena yang masih mementingkan ego dan dirinya sendiri." Selena lantas menunduk. Tidak bisa menatap lebih lama kedua manik cokelat yang bersinar pedih. "Aku mengaku kalah semalam, Rola. Aku mengaku kalah pada suamiku." Kedua mata Rola berkaca-kaca. Sesekali, perempuan itu berusaha tegar dengan menahan isakannya sendiri. Dan berujung, dia ikut hancur bersama Selena. "Selena," Rola memelankan suaranya. "Di saat kau bertahan untuk tetap mengandung, Dion. Saat itulah aku tahu, kalau kau punya kesempatan bahagia daripada dulu. Kau bersama keluarga kecilmu." Selena semakin menunduk. Dalam-dalam dengan perasaan getir. "Sekarang, bayangkan bagaimana hancurnya Dion kalau melihat kau dan Damien bertengkar? Bagaimana perasaan putramu melihat kau dan Damien yang tidak akur? Sepuluh tahun kau bersama Damien tanpa cinta, tidakkah kau berpikir perasaan polos putramu? Bagaimana kalau dia sedih?" Kepala Selena menengadah. Dan Rola tidak bisa menahan airmatanya sendiri melihat Selena di depannya, sama seperti Selena yang kehilangan arah setelah Sahara pergi. "Sahara akan katakan hal yang sama kalau dia di sini," Rola berlutut. Meremas tangan Selena di atas pangkuannya. "Sahara akan menangis melihatmu begini. Hati sahabat mana yang tidak hancur melihat sahabatnya terluka?" Kedua tangan Selena balik meremas tangan Rola. "Setelah ini, aku berjanji akan membebaskanmu, Rola. Aku tidak akan mengekangmu lagi. Kau harus hidup bebas. Semestinya. Kau paham?" Rola mengangguk. Menahan airmatanya lagi kini terasa sulit. Dia terlanjur menangis, di rumah duka setelah Nana Mizuki dimakamkan. "Kau harus bahagia," bisik Selena parau. Kepala Rola menggeleng. Menangis bersama dengan hati yang terluka. "Tidak hanya aku, tapi kau juga. Kau harus bahagia. Aku menyayangi Dion, kau pun sama, kan? Kau juga menyayanginya, kan?" Selena mengangguk. "Sangat. Sangat. Sampai rasanya, aku sanggup mengorbankan apa pun untuknya. Untuk anakku." Senyum Rola terulas manis. Dengan airmata yang belum berhenti mengalir, dia balas menatap mata Selena. "Dengar, setelah ini temui suamimu. Katakan segalanya. Jangan ditutupi. Jangan ada kebohongan lagi di antara kalian. Selena, harapan itu masih ada. Harapan yang sama seperti belasan tahun lalu masih ada." "Bahwa, laki-laki baik di dunia masih ada. Selain Kamara Yuma, ada Marcuss Damien. Dan kau beruntung mendapatkannya. Tolong, hancurkan benteng itu demi dirimu sendiri." Rola kembali terisak. "Sahara sudah bebas sekarang. Jangan buat dia menangis karenamu, karena aku. Kau sudah menjagaku dengan baik. Dari ibumu, dari siapa pun yang berusaha menyakitiku. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih." Selena merentangkan tangan. Membawa Rola ke dalam pelukannya dengan isakan Rola yang teredam dalam bahunya. Membiarkan mereka menangis bersama. Sampai beban di hati mengikis sedikit demi sedikit. *** "Pulang bersama Lawson mau, Dion?" Marcuss Dion menggeleng. Menekuk kedua kakinya dengan kepala bertumpu lututnya, Saphira meringis menemukan luka lecet kering pada lutut Dion karena terjatuh saat pelajaran olahraga tadi. "Ayo, Dion. Biar kutunjukkan koleksi gambarku yang baru," tawar Lawson. Sejak tadi, Dion tampak murung. Dia dan Souma berusaha menghibur, tapi tidak menemukan suasana hati Dion lekas membaik. Kepala Dion masih menggeleng. Yamanaka Saphira sampai harus menghela napas. Merasa cemas. Karena ponsel Selena tidak bisa dihubungi, dia tidak bisa membiarkan Dion sendiri di saat sekolah mulai sepi. "Oke, kita duduk sebentar. Bibi Saphira akan di sini sampai Mama datang. Bagaimana?" Dion menatap Saphira dengan senyum. "Terima kasih, Bibi Saphira." "Sama-sama," balas Saphira ramah. Mengacak gemas rambut legam Dion, dan duduk di sebelah anak itu. "Kenapa berdiri, Lawson? Ayo, duduk." Saphira meraih tangan putranya. Untuk duduk bersama Dion. Belum lepas dari PSP barunya, Lawson menunjuk mainan barunya pada Dion yang sedikit antusias. "Kau belum punya?" Dion menggeleng. "Belum bilang pada Mama," katanya. "Berapa harganya?" "Um, sebentar," Lawson mencolek lengan ibunya. "Harga PSP ini berapa?" "Rahasia," balas Saphira dengan senyum. Dion ikut tersenyum. Dan Lawson menggerutu sembari berbisik pada Dion. "Mamaku pelit. Padahal yang belikan PSP bukan Mama, tapi Papa." "Pakai uang Mama, Lawson. Jangan bicara macam-macam, Mama dengar." Lawson mendengus. Dan Dion tertawa kecil. "Lawson, ibumu lucu." "Apa? Tidak sama sekali," sahut Lawson sembari bermain PSP itu dengan raut serius. "Mama tidak lucu. Dia tukang marah. Kerjaan Mama hanya marah-marah. Tidak seperti Bibi Selena, lebih tenang." "Mama dengar Lawson," sungut Saphira jengkel. Dion kembali tertawa. Yamanaka Saphira berdiri. Menemukan sosok perempuan lain kira-kira ada di usia dua tahun lebih tua darinya, menatap Dion cemas. "Bibi Hyena?" Dion berdiri. Mendekat pada sang bibi dengan tatapan cemas. "Kenapa Bibi Hyena di sini?" Hyena lantas tersenyum tipis pada Dion. Saat dia menatap Saphira, meraih tangan Saphira dengan napas terengah. "Bisakah, aku tahu siapa namamu?" "Ah, Yamanaka Saphira, aku tetangga Selena di Distrik Rose," ujar Saphira cepat. "Ada apa? Apa yang terjadi? Selena baik-baik saja?" Hyena menarik napas. Saat dia melirik Dion, dan dia mengatakan hal sebenarnya pada Saphira. Wanita itu memekik, menutup mulutnya yang terbuka secara spontan. "Ya Tuhan," Saphira mendesis tidak percaya. "Regan—maksudku, Paman Regan akan membawa Dion pergi? Dia akan menculik keponakannya sendiri? Astaga! Dasar paman tidak waras!" Dion mengangkat alis. Menatap Hyena yang membungkuk ke arahnya. Merapikan rambut legam Dion dengan senyum. "Pulanglah bersama Bibi Saphira. Mama akan pergi menyusulmu di sana." Kepala Dion terdongak. "Kemana Mama pergi?" Hyena menipiskan bibir. Saat Saphira mengangguk pasrah, dan perempuan itu lekas meninggalkan mereka. Setelah meninggalkan kabar buruk, tentang Regan yang akan membawa pergi Dion setelah jam pulang sekolah. Saphira harus membawa anak ini ke rumahnya. Atau membawa Marcuss Dion ke rumahnya. Agar terlindungi. Mengingat siapa ayahnya, orang-orang akan takut nanti. "Ayo, Dion." Dion mengangguk pasrah. Saat Lawson mengekori dengan PSP di tangan, dan Saphira menarik mainan itu dari genggaman tangan sang anak, membuat Lawson menjerit dan Saphira mengabaikannya. *** "Memalukan!" Selena limbung saat tamparan itu ia dapatkan siang ini. Ketika Selena pergi menemui ibunya di rumah, dan menemukan kalau ayahnya tidak bekerja hari ini, membuat Selena dengan gamblang menceritakan kejadian sebenarnya. Pada sang ibu kalau Damien sudah mengetahui segalanya. Dan tamparan itu dia dapatkan setelah amarah Kiara berada di tingkat paling tinggi. "Benar-benar memalukan! Bagaimana bisa kau bertingkah menjijikan seperti itu, Selena?" Bahu Selena gemetar mendengar bentakan sang ibu. Begitu pula, Kamara Yuma yang lantas berlutut, membantu putrinya bangun. "Sudah!" Suara bentakan Yuma tidak menyurutkan amarah sang istri. Dengan tas di atas meja, Kiara memukul Selena serupa dengan yang ia lakukan pada Regan dan Haru beberapa minggu yang lalu. Terlalu keras sampai Selena terlempar dan sudut bibirnya terluka. Yuma membeku, dia menarik tas itu dari kedua tangan istrinya yang membabi-buta, melemparnya ke arah lain sampai membentur guci mahal mereka dan pecah. "Berhenti, Kiara! Berhenti!" "Apa yang bisa kulakukan sekarang? Hah? Katakan! Apa yang bisa kulakukan? Damien sudah tahu segalanya, dan Selena? Dia akan menceraikan Selena! Dia akan malu! Dia akan—," Kiara menuding Selena dengan telunjuknya. "Dasar anak tidak berguna! Kenapa pula kau harus melindungi Rola? Kenapa harus parasit itu, Selena?" Selena mendengus. Mencoba bangun dengan bibir perih karena luka. "Mama tahu rasanya memiliki sahabat? Tidak, kan? Karena Mama terlalu egois. Terlalu merasa diri Mama paling tinggi. Sampai-sampai, tidak ada orang satu pun ingin mendekat." Gigi Kiara bergemeletuk. "Aku dan Rola tidak memiliki hubungan apa pun, Mama. Bukti-bukti yang Mama dapatkan, itu bukanlah bukti yang harus Mama percayai. Aku dan Rola bersahabat." "Lalu, mengapa kau membunuh Akasuna Teddy? Kenapa pula kau membunuh Rei Nick, Selena? Dan kenapa aku harus menuduh Rola sebagai dalangnya?" "Rola melakukannya demi aku!" Selena balas berteriak. "Dia melakukannya demi aku! Kesulitan yang dia hadapi selama ini, karena aku. Karena diriku!" "Bukan tanpa alasan Rola membenci Mama," bisik Selena serak. "Mama tidak berhak menghancurkan hidup orang lain karena kami tidak sepadan. Rola bukan parasit, Mama. Dia saudaraku! Dia saudaraku!" Selena menjerit histeris. Lepas kendali saat dia  menarik taplak meja dari meja makan, membuat keranjang buah dan vas bunga hancur berkeping-keping di atas lantai. Kamara Yuma membeku. Memandang betapa putus asanya Selena, membuatnya tertegun. Dia merasa menjadi ayah yang gagal. Tidak pernah tahu-menahu tentang luka putrinya. "Kenapa kau lakukan itu, Selena?" "Aku hanya ... takut," Selena berlutut. Duduk di atas lantai sembari menekuk kedua kakinya sendiri. "Aku takut. Takut akan ekspetasiku sendiri, Papa. Takut kalau takdir tidak akan memberikan aku bahagia sama seperti kehidupan kalian. Kehidupan Mama dan Papaku." Kedua mata Kiara terpejam. Terlalu terkejut dengan fakta yang Selena berikan. Bertahun-tahun dia beranggapan, bahwa Rola Mizuki yang telah merusak putrinya. Tetapi, jauh dari kata merusak, Rola ternyata yang melindungi Selena. Kamara Yuma paham kali ini. Semua yang Selena lakukan. Pemberontakan demi pemberontakan hanya untuk mengeluarkan Rola dari penderitaan Kiara, adalah untuk membalas budi gadis itu. Selena tidak ingin sahabatnya menderita. Dia tidak mau Rola terpuruk. "Kami bersahabat. Aku, Rola, dan Sahara," Selena menatap telapak tangannya. "Sangat dekat. Tetapi, Sahara lebih dulu pergi karena gantung diri. Di kamarnya. Saat itu, saat salju turun untuk pertama kali." Yuma membeku. "Aku mendorong pintu kamar Sahara. Berteriak selamat ulang tahun, dan menemukan Sahara tergantung di langit-langit kamar, jiwaku melayang bebas. Ragaku lemas. Aku tidak berdaya. Sahara kalah dengan depresi dan rasa bersalahnya sendiri." Selena kembali menunduk. Menangis menahan perih pada luka yang perlahan kembali menganga. "Sahara menanggung rasa takut karena cacian mereka. Aku berusaha melindunginya. Rola dan Sahara, mereka sama, Mama. Hanya karena kehidupan mereka berbeda dari aku, mereka tidak pantas dapatkan itu." Kiara menggeram dalam suaranya. "Kau seharusnya tidak perlu—," "Aku harus lakukan sesuatu untuk memutus rantai kebencian orang lain pada dua sahabatku, Mama!" Selena bangun, balas berteriak pada ibunya. "Aku tidak bisa menahan rasa sakitku sendiri. Melihat Sahara diam-diam menangis di sebelah loker ketika sekolah sepi. Mendengar Rola menjerit menahan pedih karena pukulan ayahnya di toilet sekolah. Mama bayangkan rasanya jadi aku?" Selena mendekati ibunya. Menatap tepat pada manik Kiara yang retak. "Mama tahu? Tidak, karena Mama tidak tahu bagaimana rasanya. Karena Mama selalu berpikir, kehidupan terus berpihak pada Mama! Tanpa pernah berpikir bagaimana rasanya jadi orang lain!" Kamara Kiara membalas dengan tamparan yang lebih keras kali ini. Membuat Selena yang terlalu lelah, terhuyung mundur dan terjatuh. Kemudian, berjalan pergi meninggalkan putri dan suaminya di ruang makan. Selena kembali menjerit. Berteriak memanggil nama ibunya untuk tidak menyakiti Rola dengan jeritan parau. "Berhenti, Mama! Tolong, berhenti. Biarkan Rola bebas!" Selena tidak sanggup berteriak, saat dia meremas dadanya sendiri dengan kuat. Menangis sekeras mungkin. Melepaskan topeng yang melekat pada dirinya selama bertahun-tahun setelah kematian Sahara. "Selena," Yuma berlutut. Membawa putrinya ke dalam dekapan saat airmata Yuma mengalir deras. "Aku minta maaf. Aku minta maaf. Aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu. Aku tidak bisa ..." suara Yuma tertelan rasa sakitnya sendiri. Mendengar putrinya menangis meraung-raung lepas kendali, Yuma tahu. Banyak luka yang Selena pendam sendiri hanya demi membangun jati dirinya yang lain. Agar tidak kembali terluka. *** "Jangan cemas, Damien. Dion bersama Saphira sekarang. Dia aman." Damien tidak bersuara nyaris sepuluh menit mereka habiskan waktu bersama di kedai kopi seberang kantor. Di sisi lain, Selena belum memberi kabar. Dan di sisi lain, dia berjanji akan menjemput Dion, tetapi rapat penting terkait masa depannya bersama perusahaan keluarga, dipertaruhkan. Marcuss Regan menghilang tiba-tiba. Terbesit dua nama yang terlintas di pikiran Damien. Dion dan Selena. Kalau Dion baik-baik saja, bagaimana dengan Selena? Memikirkan istrinya membuat kepala Damien hampir pecah. Berry Drian yang ikut nelangsa memikirkan nasib sahabatnya, hanya bisa memberikan dukungan moril agar Damien tetap kuat dan tabah. "Minum dulu kopimu, Damien," sahut Gio. "Cangkirnya mulai dingin. Rasanya akan sangat pahit kalau terlalu lama dibiarkan." Damien mengembuskan napas panjang. Sebelum menatap cangkir itu, dan menemukan Rola berdiri di depan meja mereka. "Marcuss Damien?" Rola menyapa dengan senyum tipis. "Bisa kita bicara sebentar? Ini tentang Selena." Damien membeku. Kedua matanya memicing penuh ancaman pada Rola yang gelisah kali ini. Dengan tarikan napas, Damien mengangguk. Drian dan Gio yang mengerti, segera mengangguk. Mereka membiarkan Damien sendiri bersama Rola yang mengucapkan terima kasih dengan sopan, lalu duduk di salah satu kursi kosong. "Mau apa kau?" Rola mendengus mendengar nada sinis dari suami sahabatnya. Dengan senyum, dia akan berusaha menjelaskan semuanya. Segalanya yang ia tahu pada Damien untuk memutus kesalahpahaman di antara keduanya. "Jangan cemas, Selena baik-baik saja," kata Rola membuka percakapan. "Dia bersamaku." Bibir Damien menipis. "Jelas, dia menemani kekasihnya yang baru saja berkabung," sindir Damien tajam. Dan Rola hanya tersenyum getir membalasnya. "Kekasih, katamu? Kami ini bersahabat. Aku, Selena dan Sahara," Rola menatap Damien dengan senyum. "Kau tahu, Sahara? Sahabat Selena. Sahabatku juga. Dia meninggal setelah kelulusan karena gantung diri." Kedua alis Damien terangkat. "Bunuh diri?" Kepala Rola terangguk. "Di kamarnya. Saat itu, salju turun. Saat Selena berniat memberikan kejutan untuk ulang tahun Sahara yang kedelapan belas. Di antara aku dan Selena, Sahara tertua." "Masing-masing kami memiliki masalah. Selena bukannya kurang percaya diri. Dia hanya takut dengan orang sekitar yang suka menjilat dan memanfaatkan orang lain demi keuntungan," Rola mengembuskan napas panjang. "Sahara punya mimpi buruk di rumahnya. Dan aku pun sama. Kami, bukan manusia sempurna." Damien terpaku diam. "Selena punya ekspetasi tinggi terhadap kehidupannya," jemarinya bertaut di atas meja. "Kehidupan orang tuanya sempurna. Dia punya ayah yang hebat bernama Kamara Yuma. Ayah yang akan memberikan segalanya. Menutupi segala kekurangan Kamara Kiara. Selena bukannya tidak tahu bagaimana kelakuan ibunya, dan dia diam-diam berharap, akan memiliki sosok yang sama di masa depan. Sama seperti Kamara Yuma." Rola termangu sejenak. Mengenang masa lalu, teramat membuat hatinya sakit. Goresan pilu itu terlanjur basah, dan kembali membuka demi kebaikan bersama. Rola rela membuka luka lama itu hanya agar Selena kembali hidup. "Ekspetasinya hancur karena Sahara. Kau mungkin tidak tahu, tetapi Sahara menyukai Rei Nick. Laki-laki seangkatan dengan kami yang duduk di kelas sebelah. Nick terkenal baik. Dia ramah dan mudah bergaul. Topeng itu tertutup sempurna." Rola melirik Damien yang menatapnya datar. "Selena tertarik. Aku tahu, dia belum benar-benar jatuh cinta karena Selena sendiri terlalu abu-abu mengenal kata cinta. Maka dari itu, dia sering membaca novel bertemakan romansa atau romantis. Hanya karena dia ingin tahu bagaimana rasanya kalau itu terjadi." "Dan Nick saat itu tahu, kalau Selena bersikap dingin padanya. Penolakan demi penolakan terjadi. Aku pikir, Nick menyerah. Tapi, tiba-tiba dia memutar kemudinya untuk mendekati Sahara." Kedua alis Damien menyatu. "Sahara? Tapi, tidakkah Sahara tahu kalau Rei Nick menyukai Selena?" "Kau tahu, Damien. Kalau cinta membutakan segalanya? Semula, Sahara tidak mau. Selena juga membiarkan hal itu terjadi. Karena dia pikir, Nick orang baik. Dia bisa membawa Sahara bahagia. Meski Sahara bisu, Sahara tidak pantas mendapat luka dan derita lagi." Rola menunduk. Kedua matanya terpejam saat menghela napas dalam-dalam. "Tidak ada yang tahu apa yang Nick lakukan. Sampai Sahara diam-diam menangis karena menahan luka. Sahara berusaha melarikan diri, tapi dia tidak bisa. Selena selalu menolongnya. Entah, membayar orang atau memukul siapa pun dengan tangannya. Selena selalu terluka setiap kali dia membela kami. Membelaku, atau membela Sahara," suara Rola bergetar. "Dan Sahara diam karena hari itu, dia merasa bersalah pada Selena yang terluka karena senior kembali mengoyak dirinya sampai gadis itu hancur." Damien termangu. Mencerna semua ucapan Rola yang masih terdengar abu-abu di telinganya. "Perlahan demi perlahan, ekspetasi yang Selena bangun mulai hancur. Tidak ada laki-laki baik di sekelilingnya. Setiap kali Selena lewat, tatapan melecehkan itu selalu ada untuknya. Sahara adalah korban pertama. Korban dari kejahatan laki-laki di luar sana yang memasang topeng sempurna. Seakan-akan mereka adalah laki-laki sempurna tanpa cela." Rola menggigit bibir bawahnya yang gemetar. "Selena mungkin terluka karena banyak hal. Dia menyayangi kami. Selena menghabiskan waktu dengan kami karena orang tuanya begitu sibuk. Terkadang, sikap Kamara Kiara yang diktator membuat Selena remaja ketakutan. Selena tidak akan berani berbicara apa pun pada ayahnya, karena dia takut mendengar orang tuanya bertengkar. Kakinya gemetar. Aku pernah melihat Selena menangis di taman karena orang tuanya." Rola menatap Damien yang mulai menampakkan wajah getir. "Yang kedua, Sahara sedang mengandung saat dia bunuh diri. Aku baru tahu, setelah bertahun-tahun. Nick menghilang setelah kematian Sahara. Nick bersama teman-temannya sengaja memperalat Sahara dengan ancaman. Mereka menjadikan Sahara pemuas napsu mereka secara bergilir. Saat mayat Sahara diotopis, dokter menemukan lebam di punggung dan perut. Sahara mengalami penyiksaan sebelum dia pergi. Dan Selena tahu itu." "Akar kebenciannya bermula dari sana. Bukan salahnya kalau dia memukul rata semua pria sama saja. Dan dia bukan termasuk salah satu yang beruntung seperti Kamara Kiara. Ekspetasinya terhadap kehidupannya, terhadap kehidupan aku dan Sahara, tidak pernah berjalan baik. Membuatnya benci pada diri sendiri." Rola menghela napas. "Aku pernah menikah. Bersama Akasuna Teddy. Kami menikah, karena ibuku. Teddy tipikal pria pemabuk. Dia selalu memukul saat dia mabuk. Kebiasaan buruk yang berimbas padaku. Ibuku tahu, dan dia semakin sedih. Membuat kesehatannya memburuk saat itu. Ibuku meninggal karena radang otak setelah tiga tahun terbaring koma." "Pada kertas yang k****a, kau membunuh mantan suamimu sendiri?" Rola menatap Damien pias. "Aku lakukan itu untuk melindungi Selena. Bukan aku yang membunuhnya, tapi Selena. Saat dia melihat lukaku, tergambar luka yang sama seperti Sahara, dia sangat ketakutan. Aku melihat ketakutan itu di matanya. Selena lepas kendali. Dia menghubungi Kaia, sekretaris sekaligus tangan kanan terbaiknya untuk menyeret Akasuna Teddy ke hadapannya." "Aku tahu, Selena bukan orang yang sempurna. Dia penuh luka. Tapi, tidakkah dia pantas bahagia? Dia melindungiku sejauh ini, hanya karena tidak mau kehilangan untuk yang kedua kali," airmata Rola mengalir. "Kau tahu apa yang dia katakan pada kami saat memberikan piyama lucu sebagai hadiah pertemanan?" Damien mendadak mati rasa sekarang. "Aku akan menjaga kalian. Sesulit apa pun nanti. Aku beruntung karena kehidupanku mungkin baik-baik saja. Dan aku tidak mau kalian menderita. Takdir tidak boleh sekejam itu pada kalian." Rola mengulas satu senyuman saat dia menatap ke luar jendela. "Aku pernah mendengar nama Marcuss Regan. Aku rasa, Sahara pun tahu. Regan bersekolah di SMA Tokyo. Kapten tim basket yang seringkali bertanding di kandang SMA Sina." Rola mendengus. "Regan tidak perlu memakai topeng sempurna, karena Selena tahu dia pria luar biasa buruk. Gosip tentang Regan yang pernah meniduri anggota Cheerleaders SMA Sina santer terdengar. Membuat Selena muak. Aku belum pernah melihat bagaimana rupanya. Karena aku tidak terlalu tertarik dengan olahraga apa pun," Rola tertawa. "Sahara mungkin tahu. Karena dia menikmati setiap acara yang ada di sekolah. Bersama Selena terkadang." "Ah, sebentar." Damien mengernyit kala Rola memberikan amplop besar pada Damien. "Kalau kau melihat ini, kau akan percaya padaku. Aku tidak akan memintamu untuk mempercayai aku sekarang. Dugaan Kamara Kiara salah. Mereka salah menerka antara aku dan Selena. Hanya karena, putrinya terlalu peduli padaku. Melebihi batas antar sahabat pada umumnya." Damien menunduk. Menatap lekat pada amplop besar itu di atas meja. "Selena akan kembali padamu. Percayalah. Aku titip dia, ya? Selena berjanji akan melepasku bahagia. Dan aku berjanji, akan bahagia setelah ini. Sepuluh tahun berlalu, dia tidak pernah membencimu. Dia hanya benci pada dirinya sendiri karena terjebak bersamamu." Rola tersenyum. "Seperti yang Sahara tulis pada memonya. Kau orang baik, dan aku percaya pada kata-katanya. Aku rasa, Selena pun sama. Dia mulai percaya kalau pria di dunia ini, masih memiliki hati setulus dirimu. Dan dia beruntung karena mendapatkanmu." Rola mengusap matanya sendiri. "Terima kasih banyak, Damien. Karena berkatmu, tembok yang membentengi diri Selena hancur. Kau mungkin masih mempertanyakan bagaimana perasaan istrimu. Tapi, tidak ada pria lain yang sepadan dengannya selain dirimu. Tanpa sadar, kau menghancurkan ekspetasi istrimu sendiri. Yang menganggap kalau kau dan Rei Nick itu sama. Kau dan pria lain di luar sana itu sama, hanya memanfaatkan perempuan demi keuntungan semata. b******n yang bersembunyi di dalam rupa menawan." Rola membungkuk. "Aku pergi. Selamat siang." "Ah," Rola kembali tersenyum. "Sampaikan salamku pada Dion. Bibi Rola akan mengunjunginya nanti. Aku mendadak rindu padanya." Damien menatap kepergian Rola dengan pandangan pias. Getir yang menghampiri, berubah menjadi gelisah. Kala kepala Damien tertunduk, menemukan amplop itu tergenggam di atas telapak tangannya. Kau di mana, Selena? *** "Sampai jumpa!" Selena termangu. Menatap hampa pada pemandangan di luar sana. Tatkala dia menemukan Marcuss Dion melambai pada Saphira dan pada Lawson di depan gerbang rumah mereka. Setelah Damien pulang, membawa putranya untuk kembali. Pandangan mata Selena tak pernah lepas pada keduanya. Sampai dia melihat putranya mendongak, dan airmatanya mengalir menemukan Dion bertanya kemana dirinya. Selena kembali menutup kaca mobilnya. Meremas setir kemudi dengan gemetar hebat. Merambat ke seluruh tubuhnya dan berujung pada isakan tiada henti. Membuat raganya lelah. Kepala Selena tertunduk. Menemukan dering ponselnya berbunyi. Dan nama Kaia tertera di sana. "Nona Rola sudah kembali." Selena memejamkan mata. "Dengar, Kaia. Setelah aku menyeleGiokan urusanku dengan Rola dan ibuku, kau bisa melaksanakan perintah kedua. Seret Marcuss Regan ke penjara. Aku tahu apa yang coba dia lakukan pada putraku." "Baik, Nona Selena." Selena mendengar sambungan telepon terputus. Dengan ponsel masih melekat di telinga, dia menemukan Marcuss Damien berdiri di depan pintu gerbang. Menatap ke luar rumah dengan ekspresi yang sulit Selena baca, sampai pria itu bergegas masuk ke dalam. Menghela napas panjang, Selena menurunkan ponselnya dengan tatapan getir. Dia mengganti nomornya dengan nomor lama, nomor yang ia gunakan sebelum ia menikah. Nomor yang masih dia gunakan sesekali. Hanya Rola dan Kaia yang tahu, Damien pun tidak tahu. Kepala Selena menggeleng. Setelah memasang sabuk pengaman, ia bergegas menekan pedal gas untuk melajukan mobilnya. Setelah memastikan gerbang rumahnya tertutup rapat, Selena baru mengemudi melintasi rumah besar itu dan keluar gerbang Distrik Rose dengan kecepatan rendah. *** "Alasan aku menyimpan ini karena aku tidak mau Selena semakin terluka. Ini kenangan Sahara semasa dia hidup dulu. Selena mungkin menemukan semua catatan Sahara, tapi aku menemukan ini di lemari pakaian Sahara." Damien membuka amplop besar itu. Tidak banyak ia lihat selain puluhan potret polaroid Selena bersama kedua temannya. Sahara berdiri di antara mereka, dan Rola merangkul Sahara bersama Selena. Damien membeku. Setiap kali dia melihat kenangan itu, terlukis bagaimana senyum istrinya secerah matahari semasa dia remaja dulu. Tidak ada satu pun di sini, gambar Selena yang tengah murung atau berwajah masam. Semua gambar dirinya, terlukis dengan senyuman. Terpaku menatap salah satu potret yang Sahara ambil ketika dia bersama Selena di salah taman bunga dandelion. Damien membawa foto itu di antara foto lainnya ke dalam jarak pandang yang lebih dekat. Damien membalik lembaran foto itu, terpaku menatap tulisan tangan Sahara yang terukir indah di sana. Tempat favorit Selena untuk melepas sedih! Jangan banyak bersedih, Selena. Cheers! Lamunan Damien kembali ke masa lalu. Kala itu, sore hari. Saat Damien mencari kemana istrinya pergi karena menjelang senja, dia tidak juga menemukan Selena di pantai tempat mereka berlibur. Saat Damien menaiki area perbukitan, dia menemukan sepasang sandal pantai ada di atas rumput liar. Dengan kerutan di dahi, Damien lantas mendongak. Menemukan Selena berdiri di sana, menikmati udara sore bersama ratusan bunga dandelion di sekelilingnya. Damien hanya diam. Membiarkan istrinya lakukan apa yang dia mau. Menunggu tanpa kata, dan membiarkan dia berdiri di tepi tanaman dandelion liar. Pandangan mata Selena saat itu tidak terbaca. Ketika tangan itu terulur, mengambil salah satu bunga dandelion untuk ditiup, dan tersenyum kecil setelahnya. Selena baru berbalik setelah dia puas. Terkejut menemukan Damien menunggu di sana dalam diam, dan dia berjalan dengan ekspresi puas. "Kenapa duduk di sana?" "Kau menikmati waktumu?" Damien balik bertanya. Selena mengangkat bahu. Sedikit kesulitan karena perutnya yang semakin membesar. Bulan depan, menginjak sembilan. Dan siap melahirkan. "Kalau perut itu tidak membuncit, aku akan menggendongmu turun dari tangga batu ini." Selena mengangkat alis mendengar gumaman datar sang suami. Saat dia memakai sandalnya, mendengus geli pada Damien yang tidak melihat ekspresi wajah gelinya sekarang. "Kau pikir ini karena siapa?" Damien meliriknya bosan. "Karena siapa?" Selena tetap tidak mau berhenti menyudutkannya. Menghela napas kasar, Damien menatap istrinya. "Karenaku. Puas?" Selena memberikan dengusan kecil. "Bagus. Akhirnya, kau sadar juga." Lalu, berjalan menuruni tangga bebatuan hati-hati. Sudut bibir Damien melengkung naik mengenang masa-masa awal pernikahan mereka. Selena yang biasanya aktif di awal kehamilan, dan menjadi mudah marah di penghujung bulan. Sebelum putra mereka lahir selamat dan sempurna, Selena kembali membentengi dirinya. Melirik jam pada dinding, Damien terpaku menemukan angka menunjuk angka dua belas malam. Selena belum kembali, dan Damien tidak tahu harus mencari kemana. Karena memang, dia tidak tahu apa-apa. Rola bilang, Damien hanya perlu menunggu. Karena Selena akan kembali. Tapi, sampai kapan? Damien berjalan ke luar kamar. Terkejut menemukan area lantai dasar terang karena cahaya lampu. Segera, dia berjalan menuruni tangga dan menemukan putranya berdiri di dekat jendela dengan tirai tersingkap. "Kau bermimpi buruk?" Dion terpaku. Menatap taman rumahnya yang basah karena hujan deras melanda Tokyo malam ini. "Di mana, Mama?" Damien merasa lidahnya kelu sekarang. "Dion, dengar. Mama punya urusan. Dia akan kembali. Kau hanya perlu bersabar, oke?" Kepala anak itu tertoleh padanya. Damien menemukan genggaman Dion pada gelas s**u cokelatnya bergetar hebat. "Kalau Mama pergi, bagaimana denganku?" Damien tersentak mendengar pertanyaan spontan putranya. Dia mendekat, kemudian terkejut karena gelas yang Dion pegang, jatuh berkeping-keping ke atas lantai. Membuat isi s**u cokelatnya tercecer dan mengotori permukaan lantai. "Mama," bisiknya serak. Damien meraih tubuh sang anak agar menjauh. Saat Dion menunduk, memeluk ayahnya dengan bahu gemetar. "Mama," isaknya penuh gelisah. "Mama—," Damien mulai takut sekarang. "—baik-baik saja. Jangan menangis." Tangisan Dion semakin keras. Membuat Damien bingung dan dilanda gelisah luar biasa. Dia berdiri, membawa putranya naik ke kamar dengan tangisan Dion yang belum reda. "Aku takut," Dion kembali berbisik. Berusaha keras menghapus airmatanya sendiri saat melihat sang ayah masih berdiri mematung di sisi ranjangnya. "Aku takut." Damien menghela napas. Menatap sendu pada wajah sembab putranya dalam diam. Dengan senyum tipis guna menenangkan perasaan anak yang gundah, Damien beranjak naik ke atas ranjang. Membawa Dion untuk tidur di dalam dekapannya. "Tidurlah. Besok, kita bawa Mama pulang. Kau mau?" Kepala Dion terangguk. Damien mengulas lembut rambut legam putranya. Dengan senyum tipis, dan gerakan tangan yang perlahan-lahan membuat Dion tenang, lalu mendekap sang ayah semakin erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN