Bagian Sembilanbelas

4709 Kata
Hujan deras mengguyur Tokyo malam ini. Begitu lebat sampai-sampai jarak pandang antara jalan dan kendaraan tidak lagi bisa terlihat. Pandangan Selena memburam, kemampuan mengemudinya dipertaruhkan di sini.  Mengabaikan panggilan dari Kaia, Selena menghela napas. Sebelum dia menarik rem tangan, lalu memutar kemudi dan mendorong rem tangan itu ke depan. Menekan pedal gas sampai jarum menunjuk angka seratus dan memutar arah, membiarkan klakson bersahut-sahutan bercampur gemuruh yang menghantam bumi. Selena menelan ludahnya sendiri. Suara mesin deru Jaguar miliknya berdengung bercampur suara air hujan. Saat dia menekan pedal gas semakin dalam, kemudian dengan cepat memutar kemudi, membantingnya ke sisi kanan jalan dengan pemandangan jurang yang tidak terlalu dalam. Selena melempar mobilnya ke sana. Setelah dia menunduk untuk melindungi kepalanya, sekelibatan percakapan antara dirinya dan Rola kembali membayang. "Kau mengorbankan nyawamu demi aku, tapi bisakah aku bertanya sesuatu padamu?" Selena mendongak. Menatap Rola yang ikut menatapnya pias. "Apa?" "Bagaimana dengan Dion dan Damien? Kau membiarkan mereka sendiri? Apa kau membiarkan Dion tumbuh tanpa kehadiran ibunya? Atau, kau membiarkan Damien tenggelam rasa sakitnya sendiri karena kehilanganmu?" Rola menggeleng dengan raut penuh luka. "Kau tidak seharusnya mengambil keputusan dari satu sisi, Selena. Pikirkan putramu, pikirkan suamimu. Kau punya keluarga yang menunggumu di rumah. Kau pasti menyadarinya, kan? Sekeras apa pun kau mencoba, kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri. Kau dan Kamara Kiara, sama-sama beruntung mendapatkan cinta yang baik di kehidupan kalian." Rola menunduk menatap tangan Selena yang gemetar. Sebelum dia menjulurkan kedua tangannya, meremas tangan itu untuk memberikan rasa tenang. "Selena, seandainya aku mati pun, tidak ada yang kutinggalkan di sini. Ibuku sudah pergi. Apa yang tersisa lagi? Sedangkan, kau? Kau punya keluarga. Kau punya Dion, putramu. Kau punya Damien yang selalu menunggumu pulang. Rumah menjadi alasan kita tetap hidup, bukan?" Airmata Selena menetes. "Berhenti pedulikan aku," bisik Rola parau. "Kita berdua sama-sama tahu, kalau ini membunuh. Aku pun tidak akan berharap kau akan melindungiku sejauh ini, Selena." Bibir Selena gemetar. "Terima kasih untuk segalanya. Tapi, tolong bahagia. Tolong, jangan pedulikan aku. Hatiku hancur melihatmu seperti ini." Kedua mata Rola bersinar sendu saat dia menatap manik Selena yang menggenang. "Pikirkan tentang Sahara. Pikirkan tentang dia." Rola menunduk guna menahan isak tangisnya sendiri. "Dan tolong berhenti, berhenti pedulikan aku, Selena. Aku benar-benar merasa tidak berguna sekarang." Kedua mata Selena kembali membuka. Menyadari hanya ada rumput liar dan batang pohon besar tepat di depan matanya, Selena kembali memejamkan mata. Lalu, semuanya tampak gelap. *** "Ada yang tidak beres dengan Marcuss Regan." Hyena bangun dari kursinya. Terkesiap menemukan pengacara yang Selena tugaskan untuk membantunya bercerai dari Marcuss Regan tiba-tiba datang dengan raut tertekuk masam. "Apa maksud Anda?" Pengacara itu duduk. Tepat di hadapan Hyena saat dia datang bertemu sang klien karena titah dari Selena. "Semula, aku hanya mendengar samar-samar pengaduan Regan pada pengacaranya. Dia menjelaskan secara gamblang keinginannya untuk membawa Dion sebagai umpan. Agar Selena menolong putranya." "Astaga," bibir Hyena membuka. "Apa Regan setega itu?" Kepala pengacara paruh baya itu terangguk. "Karena Marcuss Dion tidak kenal aku, ada baiknya kau yang pergi ke sana. Setidaknya, bawa Dion bersamamu atau titipkan dia pada orang terdekat ibunya." Tiba-tiba d**a Hyena sesak. "Biasanya, Selena akan menjemput putranya seperti biasa. Setelah jam pulang sekolah, di depan gerbang." "Firasatku buruk kali ini," ujarnya. Meminta Hyena lewat tatapan matanya. "Aku bicara begini, sebagai imbalan atas kebaikan Selena padamu. Setidaknya, ada yang bisa kau lakukan untuk menyelamatkan rantai kematian itu nanti. Aku tidak tahu akan berakhir seperti apa, tapi ucapan Regan mungkin mengarah ke sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang lebih nekat." Hyena mengeraskan rahang. "Berkaitan dengan anak kecil. Anak yang tidak bersalah disangkutpautkan karena masalah orang dewasa," geram Hyena muak. "Aku akan pergi ke yayasan Halim sekarang. Waktuku tidak banyak." "Benar," pria itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Membutuhkan kurang dari lima belas menit. Biasanya, jalanan tidak terlalu ramai saat jam makan siang sedang berjalan. Aku berharap, kau tidak terlambat." Hyena mengangguk. Mengalungkan tasnya saat dia membungkuk, berpamitan pada pengacara senior itu dan berlalu untuk mencari taksi yang melintas di depannya. *** Rola Mizuki berlari di sepanjang koridor rumah sakit dengan napas putus, dan terengah-engah hebat. Kedua matanya basah, jejak-jejak sembab itu tertinggal di wajah kacaunya. Tanpa banyak bertanya, Rola tahu kemana dia harus pergi. Dadanya berdebar penuh antisipasi, menemukan kamar yang pintunya tertutup rapat, dan Rola tanpa sabar segera mendorongnya terbuka. Pandangan piasnya jatuh pada Kamara Selena yang duduk. Meluruskan kaki di atas ranjang rumah sakitnya. Saat pintu terbuka, atensi Selena berpaling dari langit-langit kamar, pada Rola yang membeku. "Kau gila?" Rola berteriak. Tidak sabar dan tidak mengenal tempat. Selena bereaksi dengan helaan napas. Menatap Rola dengan dengusan samar. "Jangan berteriak, Rola. Ini di rumah sakit." "Kau gila?" Rola tidak peduli. Meski seisi rumah sakit nanti akan memaki, dia perlu untuk menarik kembali kesadaran ibu satu anak ini agar tidak berhenti berbuat seenaknya. Tanpa memikirkan perasaan orang lain. "Apa kau seputus asa itu pada kehidupan? Sampai-sampai membanting setir mobilmu ke jurang, Selena? Kau pikir aku tidak tahu? Dan kau pikir, Kaia bisa menghentikanku?" Selena kembali mendengus. Raut muramnya tergambar jelas. "Aku tidak suka dengan pekerjaan Kaia sekarang. Dia malah mengejar Marcuss Regan, dan bukannya mengikatmu di depan lemari pakaian." "Selena!" Kedua mata Selena beralih pada jendela yang terbuka di dalam kamar. Pemandangan pagi hari yang mencolok setelah hujan deras, membuat udara berhembus begitu sejuk. Menenangkan debaran d**a Selena yang gelisah. "Bukannya aku tidak memikirkan siapa pun, Rola," bisik Selena pelan. "Aku memikirkan kehidupanku. Dari masa lalu, sampai sekarang." Rola terpaku. "Sudah lama aku tahu, kalau ibuku tidak bertindak sendirian. Dia punya mata-mata bernama Raito, mantan tentara angkatan darat yang pensiun dan memilih menjadi orang bayaran karena cidera tangan." Hembusan napas Selena berubah lirih. "Aku tahu, selama ini kau juga merasa tidak tenang dan selalu diawasi karena dia. Karena Raito. Pria itu yang memberi informasi tentang kau pada ibuku." "Lalu, apa maksudnya semua ini?" "Kemarin kami bertengkar hebat," ujar Selena. Tanpa memalingkan tatapannya dari taman rumah sakit. "Aku bicara tentang Sahara untuk yang pertama kali pada ibuku. Aku berharap, kewarasannya mengambil alih kala itu. Dan berhenti untuk menganggap kita berdua punya kelainan menyimpang seksual. Aku tidak seburuk itu," bisik Selena dingin. Rola mendesah berat. "Aku sama sekali tidak mengerti, mengapa pikiran aneh itu datang menghampiri perempuan berkelas Kamara Kiara? Apa alasan dia menuduhku, menuduhmu dengan aib memalukan itu?" "Sayangnya, aku tidak tahu hal apa yang mendasari pemikiran konyolnya," ujar Selena parau. "Dia menganggap, karena aku yang terlihat anti sosial dan anti laki-laki, menyukai sesamaku sebagai pelarian. Aku memperlakukanmu memang berlebihan, tapi bukan bermaksud lain. Hanya karena aku memiliki ketakutan, tidak baik menuduhku seperti itu." Rola menunduk. "Mama tidak pernah percaya apa yang aku katakan tentangmu. Sekeras apa pun aku mencoba kalau kau bukan benalu, kau bukan parasit, Mama selalu mengelaknya," Selena mendengus. "Kenapa? Karena kau terlahir bukan dari darah orang kaya lama?" Selena menunduk. Berdecak dengan ekspresi sinis. "Circle orang-orang kaya terkadang sesakit itu. Selama mereka nyaman bertemenan dengan siapa saja, itu sebenarnya bukan masalah. Mamaku malah bertindak lain. Seenaknya mengatur dan merusak hidup seseorang hanya karena dia tidak suka." "Tapi, kau tidak perlu sejauh ini, Selena. Ingatlah, kau punya Dion di rumah. Apa kau berpikir anakmu bisa tidur nyenyak semalam?" Selena menghela napas. "Ada Damien di sana. Putraku baik-baik saja. Ayahnya selalu ada untuknya," kepala Selena tertunduk kemudian. Sama seperti Kamara Yuma saat itu. "Kehadiran ayah saja tidak cukup," bisik Rola. "Dia butuh ibunya. Kalau kau wanita karir, dia mungkin terbiasa karena kau sibuk. Tapi, kenyataannya? Kau bukan wanita karir. Melainkan ibu rumah tangga, waktumu tercurahkan untuk rumah dan anak." Rola menarik tubuhnya. Duduk di tepi ranjang rumah sakit dengan pandangan pias yang kental. "Berhentilah. Aku tahu maksud ibumu kali ini. Melenyapkanku, sama saja menghilangkan dosa yang menempel pada tubuh putrinya. Tapi, kau malah mengorbankan diri untuk memancing Raito dan membiarkan dia mati malam itu." "Sudah terlanjur," kata Selena datar. "Aku sama sekali tidak menyesalinya. Terkadang, orang-orang itu tidak sadar bahwa mereka telah diberi kesempatan kedua untuk berubah. Aku tidak punya alasan membenci ibuku sendiri. Dia tetap ibuku. Selalu memberikanku segalanya. Tapi, terkadang bukan materi yang aku cari." Ekspresi Rola turut berduka. Entah, bagaimana bisa Kaia menceritakan segalanya pada Rola. Tentang Selena, dan bagaimana wanita itu nekat, sengaja memancing agar Raito keluar dari persembunyian. Melakukan hal gila di jalan, dan berakhir kematian. Selena menyandarkan kepalanya pada sisi tembok yang dingin. Permukaannya terasa dingin, menusuk kulitnya namun terasa begitu nyaman. "Kembalilah setelah ini, Selena." Selena bergumam dengan kedua mata terpejam. "Aku akan kembali setelah ini." Rola mengangguk. "Suamimu menunggu di rumah." Selena masih membisu. "Selama kau paham apa yang terjadi setelah sepuluh tahun ini, ada baiknya komunikasi menjadi kunci penting kehidupan pernikahan kalian. Damien terbuka tentang kehidupannya. Sayangnya, kau tidak. Kau bisa mengendalikan segalanya, terkecuali perasaanmu. Kau mengaku kalah, kan?" Kedua mata Selena yang terpejam kembali membuka. Dia menatap Rola datar. Bermenit-menit berlalu sampai sudut bibirnya melengkung naik, dan Selena mengulurkan kepalan tangannya untuk meninju pelan bahu gadis itu. "Aku masih ingat betul, saat kau dengan sombong memameri deretan kekasihmu saat SMP," Rola mendengus mendengar cibiran sahabatnya. "Di saat seusiamu, aku malah ikut les memasak khusus anak-anak bersama ayahku." "Paman Yuma menemanimu?" Selena kembali tertawa. Bersama ringisan kecil mengenang masa lalunya. "Ya. Kami beberapa kali mengikuti lomba dan kalah. Saat itu, aku baru sekali terkena cipratan minyak panas karena hendak menggoreng ikan. Dan, yah, aku berlebihan. Setiap kali mau memasak, aku akan mundur atau bersembunyi." Rola tertawa. "Sial. Bagaimana bisa kau selemah itu?" "Dan kau? Di saat anak-anak seusiamu masih bermain di luar rumah, kau sudah mengenal kata kencan?" "Heh, hanya cinta monyet biasa," ralat Rola dengan dengusan. "Aku tidak benar-benar punya perasaan saat itu karena belum paham tentang arti cinta itu sendiri. Terlalu dini. Dan aku pun, terlalu polos." "Pernah berpegangan tangan?" Kedua mata Rola melotot. "Tidak!" Selena terkekeh. "Dasar aneh." Rola hanya tersenyum. Matanya melirik pada Selena yang tengah menunduk. Salah satu tangannya bergerak untuk mengusap perutnya. Semula, Rola masih mematung diam. Tapi, saat Selena menghela napas dan menipiskan bibirnya dengan amat jelas, Rola baru mengerti. "Selena?" Selena mendesah berat. "Aku harus kembali. Damien melakukannya lagi. Dan dia harus tanggung jawab," gerutunya. Sebelum Selena berbaring, memeluk bantal lain dan memejamkan mata. Rola termangu selama beberapa detik. Menatap sang sahabat dengan pandangan melebar antusias. "Aku akan menjadi bibi yang baik kali ini. Hmm, sebentar. Karena Dion memanggilku dengan sebutan ibi Ola dulu, bagaimana kalau anakmu nanti memanggilku dengan aunty? Bagus, tidak?" Selena mengangkat alis. Membuka mata hanya untuk mengintip ekspresi bahagia Rola. "Terserah. Yang terpenting, aku tidak mau mengalami pagi berat setelah ini." Rola terkekeh. "Saat hamil Dion, tidak terjadi apa-apa, kan?" "Dia sudah pintar sejak di dalam kandungan," sinar mata Selena menghangat mengenang masa-masa kehamilan pertamanya kala itu. "Dan Damien selalu ada. Dia sepertinya paham gejala aneh pada ibu hamil setiap pagi. Dia tidak bertanya, tetapi tatapan matanya yang kerap kali cemas kemana pun aku melangkah, itu menjelaskan semuanya." Rola mendengus. Berdeham sembari menatap pada objek lain. "Ah, kenapa senyum-senyum sendiri berbicara tentang suamimu?" "Apa?" Selena mengernyit. Sebelum, membaringkan kepalanya ke atas bantal, dan mengabaikan godaan Rola yang berdengung di dalam kamar. Tidak membiarkan Selena beristirahat. Sementara Kamara Kiara hanya bisa berdiri diam, terpaku di atas lantai rumah sakit yang dingin dengan jutaan rasa bersalah menghinggapi. Di depan pintu kamar sang anak yang terbuka karena Rola Mizuki, tidak benar-benar menutupnya. Bersama sang suami yang masih setia menemani. Kedua mata Kiara terpejam. Mencoba mengusir rasa panas yang membakar kedua matanya pergi. Sayangnya, kali ini ia membiarkannya jatuh dan membekas di pipi. *** "Kenapa aku tidak boleh ikut?" Dion dengan keras kepala menarik tangannya dari genggaman tangan sang ayah. Karena ayahnya sore ini membawa dirinya pada keluarga Gio dan Saphira di sebelah rumah mereka. Kembali, seperti biasa. Damien akan menitipkan mereka demi suatu urusan. "Setelah ini, kau akan bertemu Mama." Kedua mata Dion melebar. "Aku mau ikut," cicitnya pelan. "Semalam, Papa bilang kita bisa membawa Mama pulang. Itu artinya, aku bisa ikut, kan?" Damien menghela napas. Dilema karena tidak bisa membiarkan kedua sinar mata itu meredup. Putranya terlalu menggemaskan. Dan Damien tidak punya banyak waktu untuk menenangkan Dion sampai ia memastikan sendiri bahwa semua benar-benar membaik. "Di luar berbahaya," kata Damien skeptis. Lidahnya kelu untuk mengatakan yang sebenarnya. "Kalau kau ikut dan terluka, bagaimana perasaan Mama nanti?" Dion terdiam. "Mama akan sedih?" "Benar," balas Damien rendah. Memberi pengertian pada putra semata wayangnya, sebenarnya tidak terlalu sulit. Hanya saja, Damien terkadang bingung bagaimana harus mengatakannya. "Kalau Dion menurut, dan bersikap baik selama Papa pergi, Mama akan sangat senang melihatnya." Dion terdiam. Menghela napas saat matanya melirik pada gerbang tinggi kediaman Lawson, teman dekatnya. Belum ada sepuluh menit Damien berdiri, gerbang terbuka lebar. Lawson yang siap bermain layang-layang terpaku, menatap Damien dan Dion bergantian. "Paman Damien mau apa di sini?" "Mamamu di dalam? Paman kemari mau—," "Damien?" Gio termangu. Menunduk menemukan Marcuss Dion ada di sana. Berdiri menatap pasangan ayah dan anak itu datar. "Kau mau pergi?" Damien menipiskan bibir. Dan Gio menghela napas. Mendorong gerbang hitam itu agar terbuka lebih lebar. "Masuklah, Dion. Bibi Saphira baru saja membuat kue bolu. Kau mau?" Dion hanya mengangguk. "Tidak merepotkan, Paman Gio?" "Tidak sama sekali," Gio tersenyum lebar. "Malah terkadang, aku merasa kau dan Lawson tertukar. Paman rasanya mau menukar kau dan Lawson karena kau lebih tenang." Dion terkekeh mendengarnya. "Sayang sekali, anak ini jiplakan ibunya. Yah, mau bagaimana lagi?" "Kau mengeluh karena putramu tidak menuruni fisik darimu?" Damien bertanya dengan alis terangkat satu. Setelah memastikan Lawson membawa Dion ke dalam rumah, dan Gio bersandar pada gerbang kediamannya. "Lupakan tentang itu," Gio mulai serius. "Kau ingin menemui Marcuss Regan, kan?" "Aku pikir, keluargaku melindunginya. Aku akan berbicara pada Hyena, mantan kakak iparku dulu," kata Damien masam. "Kau tahu dari Drian?" "Kau tahu, Drian tidak bisa menahan rahasia lebih dari dua puluh empat jam," keluh Gio. "Dia menghubungiku. Dia bilang, kalau Damien berkelahi ada baiknya aku membawa putramu pergi." Damien meringis. "Regan melarikan diri setelah dia gagal dengan rencana busuknya. Aku tidak tahu, kalau anggota keluargaku sendiri benar-benar ingin merusak rumah tanggaku." Gio menghela napas lelah. "Regan dan mantan Yamanaka Saphira, tidak ada bedanya. Suka sekali mencari keributan. Sekali digertak, tidak mempan. Kedua kali, malah makin menjadi. Aku tidak salah kalau akan menyeretnya ke penjara dengan pasal yang belum ditentukan." Damien mendengus. "Dasar aneh," geramnya. "Aku titip Dion. Setelah seleGio, aku akan membawanya kembali." Gio mengangguk. "Bukan masalah. Kami akan menjaganya dengan baik. Hati-hati di jalan," setelah menepuk bahu Damien, Gio memastikan Audi SUV itu benar-benar meluncur pergi. Saphira mengerutkan alis. Menemukan Marcuss Dion duduk sembari bermain Hot Wheels di atas meja makan. Dan Lawson yang duduk di sebelahnya, ikut mengangkat alis bingung. "Kau tidak apa?" Dion menggeleng. Ekspresi wajahnya yang murung, membuat Saphira ikut terluka. Menghela napas panjang, ibu satu anak itu ikut duduk. "Kalau Dion lapar, bilang pada Bibi Saphira, oke?" Dion tersenyum tipis ke arahnya. "Terima kasih banyak, Bibi Saphira." Lawson ikut diam. Dengan kue bolu di piring, dia mendorong itu pada Dion yang termangu. "Makan itu. Kata Mama, makanan manis selain bisa membuat kita gendut dan diabetes, bisa mengurangi rasa gelisah. Kau mungkin mau mencoba?" Dion mendengus. Menatap Lawson dengan kerlingan jahil. "Tumben sekali, kau," gerutunya. Sembari memakan bolu di piringnya. Dan Lawson terkekeh pelan. "Aku ini pintar sebenarnya, cuma pemalas." "Kata Mamaku, semua pemalas akan mengatakan kalimat yang sama," balas Dion. Dan Lawson menekuk wajahnya masam. Membuat Saphira tertawa lepas. Gio terdiam di ambang ruang makan. Menemukan perasaan Marcuss Dion membaik. Dengan Lawson yang berusaha menghibur anak malang itu, membawa Dion ke taman belakang untuk menerbangkan layang-layang bersama. "Aku dengar, Selena belum kembali. Sebenarnya, kemana dia?" Gio melirik sang istri datar. "Berdoa saja, semoga tidak terjadi sesuatu. Damien merahasiakan sesuatu tentang istrinya pada kami. Dia hanya bicara tentang Regan." Saphira menghela napas panjang. "Aku tidak tega melihat wajah Dion tertekuk sejak kemarin siang. Dia begitu ... terluka. Kasihan." "Aku harap mereka baik-baik saja," Saphira berdecak kemudian. Melirik pada potongan bolu lain di atas meja pada sang suami. "Kau mau? Putramu menyisakan beberapa potong untukmu." Gio menatap bolu cokelat itu di atas meja makan. "Tidak. Aku bisa terserang diabetes nanti karena terlalu manis," bersiap berlari sebelum mendapat amukan sang istri. *** Rola menggosok telapak tangannya dengan uap dingin yang mengepul di sekitar bibirnya. Tiap kali dia menghela napas, memberi rasa hangat pada dirinya sendiri yang membeku karena dingin. Kedua mata Rola terpejam erat. Menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Terkesiap menemukan Marcuss Damien berdiri sembari menatap pintu kamar dimana Selena berada. "Aku sudah menduga, lambat laun kau akan datang menjemput Selena pulang," ucap Rola. Damien masih diam. Sebelum dia menipiskan bibir, melirik Rola yang duduk di kursi tunggu, dan menyusul di kursi lain sebelahnya. "Dia baik-baik saja?" "Tentu saja," balas Rola. "Apa kau pikir Selena akan mati semudah itu?" Damien meliriknya datar dan Rola tersenyum. "Aku bercanda. Dia tidak mungkin pergi di saat Dion masih membutuhkannya." Ah, jadi ini semua masih tentang anak? "Dan dirimu," tunjuk Rola pada Damien dengan dagunya. "Selena tidak mungkin meninggalkan dua orang paling berharga dalam hidupnya." Damien menatap Rola tanpa arti. Sebelum, perempuan itu tertawa pelan. "Selain aku, tentunya. Dulu, mungkin aku yang menjadi prioritas Selena. Tapi, sekarang? Dia punya kalian." Damien membisu. "Aku tidak mengerti, kalau Selena sehancur itu pada ekspetasinya sendiri. Aku berpikir, kalau logikanya masih berjalan waras, dia tidak seharusnya bertindak sejauh ini, kan?" Rola terdiam. Menarik napas sembari melipat bibirnya ke dalam dengan dengusan samar. "Kau tahu, terkadang dalam hidup ada beberapa hal yang kita inginkan, tidak akan terjadi pada diri kita. Orang tua bilang, Tuhan punya rencana lebih indah dari apa yang kita bayangkan. Setidaknya, Selena juga mempercayai itu selama bertahun-tahun." Rola mengerutkan pangkal hidungnya. "Tapi, kenyataan berkata sebaliknya. Takdir merebut Sahara dari kami. Darinya. Selena remaja sangat kesepian. Kami berdua tahu, paham benar apa yang coba Selena kubur. Di saat ibunya sibuk, di saat ayahnya sering mendapat jam terbang tinggi demi orang lain, Selena tidak seharusnya mengeluh." "Selena punya segalanya. Yang tidak kami berdua miliki. Uang, kedudukan, reputasi, orang tua sempurna dan menyayanginya," Rola menghela napas. "Tapi, dalam hidup, ada kalanya kita harus belajar bagaimana menerima kenyataan pahit. Dan Selena menemukan harapan yang dia mau, tidak berjalan baik." "Tapi, tidak dengan memukul rata semua pria itu sama, bukan? b******n yang hanya membuat hati tiap perempuan terluka." "Kalau saja, Selena bertemu denganmu, atau dia mengenalmu lebih dulu dari Rei Nick atau kami berdua, dia tidak akan seperti ini," balas Rola lirih. "Dia akan percaya bahwa laki-laki tidak seburuk itu. Tapi, Damien, kenyataan berkata lain. Semua pria yang ada di dekat Selena, hanya memanfaatkan demi harta dan nama besar. Dan Selena lelah karena terlalu banyak berharap." Damien ikut menundukkan kepala. "Mungkin, bagimu ini masalah sederhana. Tapi, baginya tidak seperti itu. Setiap manusia, memiliki rasa takutnya sendiri. Setiap manusia pasti berekspetasi besar terhadap kehidupannya. Kau punya segalanya, lantas apa yang kau cari? Selena tidak peduli dengan uangnya. Selama kami bahagia, dia akan bahagia. Setidaknya, itu yang aku lihat dari prinsip hidupnya sekarang." Damien menatap Rola yang ikut memandangnya dalam gamang. "Tapi, baginya aku ini—," "Aku sudah katakan, kan? Kau berharga. Kau hanya tidak menyadari itu," bisik Rola serak. "Semula, Selena melakukannya demi anak. Tapi, tidakkah kau merasa kalau Selena bertahan karena dia mulai goyah? Mencoba melenyapkan rasa sakitnya sendiri dengan belajar mempercayaimu." Rola menghela napas. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantelnya sendiri. "Sahara tidak akan kembali karena dia telah lama pergi, dan Selena tahu itu," kata Rola lamat. "Kalau Sahara menulis dia percaya kau orang baik, kenapa Selena tidak boleh belajar memahami maksud tulisan Sahara di memo itu?" Rola menatap Damien penuh harapan. "Tolong, jangan tinggalkan dia. Selena selalu mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri," Rola menarik napas. "Kau merasakannya, kan? Bertahanlah lebih lama. Sahabatku baik-baik saja kalau dia bersamamu." Damien hanya diam. Membiarkan Rola memalingkan muka, menahan airmatanya sendiri yang hampir tumpah membasahi pipi. Selena termangu. Duduk di tepi jendela sembari memandang sepinya taman rumah sakit. Semenjak kematian Raito, mungkin membuat Kamara Kiara terkejut bukan main. Karena yang tewas bukan Rola Mizuki, melainkan tangan terbaiknya sendiri. Selena mendengus. Membayangkan betapa marahnya sang ibu kali ini membuat dadanya berdebar antisipasi. Dia akan selalu menjadi Selena remaja yang diam-diam menyimpan ketakutan karena amarah ibunya. Mendengar suara pintu terbuka, Selena berpikir kalau itu Rola. Karena hanya satu-satunya, kerabat dekat yang setia menunggunya di rumah sakit. "Rola, aku sudah bilang, aku tidak mau makan apa pun karena mu—," Tubuhnya membeku kala Selena memutar, menemukan bukan Rola Mizuki yang berdiri di ambang pintu masuk kamarnya, melainkan Marcuss Damien, suaminya. "Kenapa kau mual?" Selena melarikan matanya ke arah lain. "Bukan apa-apa," kemudian menyadari tindakan konyolnya, Selena menghela napas. "Kenapa kau di sini? Dion di mana?" "Kau ingin makan sesuatu? Mau kubelikan makan malam?" Selena mengernyit. "Kenapa malah balik bertanya?" "Kau sendiri bagaimana?" Damien membalas dingin. "Aku bertanya, dan kau bertanya hal lain." "Ingin sesuatu yang lain," gerutu Selena. Dia berjalan naik ke ranjang tidurnya. "Makanan rumah sakit tidak enak." Damien berpikir sebentar. "Bubur ayam?" "Kau mau membelikannya?" Kali ini, Damien yang membeku. Selena memperhatikan sang suami datar. Sebelum iris kelam itu menyapunya, dan berhenti pada kedua matanya. Lalu, turun pada perutnya. Damien lantas berbalik, kembali menutup pintu kamar dan membiarkan Selena dilanda kebingungan. "Bubur ayam?" Rola membeo bingung. "Setahuku, Selena tidak terlalu suka makan bubur ayam. Hm, terakhir kali saat dia hamil Dion. Seperti, sedang ngidam?" Kedua mata Rola melebar menemukan Marcuss Damien telah melesat jauh dari hadapannya. Sampai sosoknya tidak lagi terlihat di matanya. "Aku belum seleGio bicara," dengusnya masam. *** "Cita-citamu apa?" Dion terdiam. Melirik Lawson yang sibuk menggambar saat ia malah sibuk menyusun krayon temannya yang jumlahnya ratusan di atas karpet. Lawson dengan serampangan melempar asal krayon itu, membuat Dion yang tidak sabar langsung menyusunnya menjadi satu agar karpet mahal milik Bibi Saphira tidak kotor. "Wah, pintar sekali Dion. Merapikan krayon Lawson," Saphira datang dengan dua cangkir s**u cokelat. "Biarkan saja, Dion. Biar Lawson yang membereskan alat gambarnya sendiri." Dion menoleh. Menatap cangkir bergambar We Bare Bears itu dan menggeleng. "Tidak apa-apa." Lawson lantas mendongak. "Dion, kau belum menjawab pertanyaanku." "Pilot." "Itu bagus," Saphira menyahut antusias. "Mungkin, Selena bisa menyekolahkanmu di sekolah khusus untuk mengarahkan cita-citamu nanti." Dion menatapnya pias. "Aku belum bicara dengan Mama." "Ah," Saphira mendadak bungkam. "Bicaralah lain waktu. Mama akan mendengarkan apa pun yang anaknya ceritakan. Termasuk impian kecil mereka. Oke?" "Oke." Lawson mengulurkan tangan memegang cangkir berisi s**u cokelat buatan ibunya untuk Dion. "Minum dulu sebelum dingin." Dion menerimanya. Menegak s**u cokelat itu dari cangkir saat dia mendengar bel rumah nyaring terdengar sampai ke ruang keluarga. Dengan tak sabar, Dion bersama Paman Gio yang baru saja turun dari tangga membuka pintu. Kedua mata Dion melebar menemukan sang ayah yang kali ini bertamu. Damien terdiam. Matanya memaku datar pada sosok kecil yang berdiri di belakang Gio. "Ayo, pulang." Kening Dion mengernyit. Kala dia tidak menemukan sosok lain yang ia rindukan ada bersama sang ayah. "Terima kasih telah menjaganya," Damien bicara pada Gio dengan ekspresi kaku luar biasa. Seakan, pria itu baru saja mendapat masalah dan Gio mencibir. "Kenapa tiba-tiba aku merasa kau berlebihan? Kau hanya menitipkan anak, bukan barang haram," Gio menatap Dion yang berpindah ke sisi sang ayah. "Drian menghubungiku dan bertanya apa kau sudah kembali atau belum." Damien mengangkat alis. "Kami akan bertemu besok. Dia tidak bisa bersabar sedikit lagi?" Bahu Gio terangkat. "Jiwa keingintahunya meronta-ronta hebat," keluhnya datar. Damien berbalik. Menatap lurus ke dalam rumah dan mengangguk saat Saphira melambai ke arahnya. "Sampaikan salamku pada istrimu," Damien mengangguk. Menggandeng tangan Dion menuruni tangga rumah Gio, dan berjalan menuju gerbang. "Papa, Mama di rumah, kan?" Damien hanya diam. Dion kembali menunduk, menatap jalan besar menuju rumahnya yang terang. Banyak lampu-lampu jalan yang tinggi terpasang di pinggir. Membuat jalanan tidak terlalu gelap ketika malam datang. "Kenapa Papa sedih?" Damien mengerutkan alis. "Papa tidak—," Dion kembali berbalik. Mendorong pintu rumahnya dengan kepala tertunduk. Mengucapkan lamat-lamat kalimat yang biasa ia katakan saat sampai di rumah. "Aku pulang." "Puas bermain bersama Lawson? Kau sudah mengerjakan PR untuk besok, hm?" "Aku sudah mengerjakan semuanya, Ma—," Dion mendongak. Menemukan sang ibu berdiri menyambutnya di ruang tamu. Bersidekap dengan kedua mata menyipit. Selena menghela napas. Menurunkan kedua tangannya hanya untuk mendekati sang anak yang terpaku, menatapnya dengan kedua sorot mata yang mulai basah. "Mama?" "Sebenarnya, Mama mau menjemputmu di rumah Saphira, tapi Papa melarang," Selena membungkuk di hadapan putranya, lalu berlutut untuk menyamakan tinggi badan mereka. Lalu, tersentak saat melihat Dion berusaha keras menghapus airmata. "Kenapa menangis?" "Mama pergi ke mana? Mama tidak rindu aku? Aku tidak bisa tidur karena takut. Aku juga memecahkan gelas susuku. Papa yang menemaniku tidur di kamar." Selena tersentuh dengan usaha Dion yang berusaha berbicara di saat dia ingin meledak karena tangis sekarang. Mata sang anak tidak bisa berbohong. Selena selalu melihat putranya seperti buku terbuka yang menjelaskan isi hatinya secara gamblang. "Siapa bilang Mama tidak rindu?" Selena membuka tangannya. "Kemari. Biar Mama memelukmu dulu." Dion menerjang dengan kedua tangan melingkar di leher ibunya. Menangis di bahunya keras-keras. Selena sampai tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa di saat bersamaan dia juga ingin menangis. Bahu anak itu gemetar hebat. Selena menemukan atasan piyama tidurnya basah karena Dion menangis di bahunya. Damien hanya diam. Setelah dia menutup pintu, dan membisu mendengar interaksi antara ibu dan anak, serta menemukan setiap alasan Selena bertahan karena demi putranya, Damien tidak akan bisa mengelak fakta apa pun bahwa selama ini, Selena bertahan bukan hanya karena putra mereka, tapi pada dirinya sendiri. Untuk membuktikan semua asumsi dan ketakutannya itu benar atau tidak benar. Damien menunduk. Menemukan putranya tidak mau melepas pelukan barang sedikit saja, dan Selena harus menanggung beban berat karena bobot anaknya bertambah. "Mama tidur denganku, ya?" Selena mendorong dekapan Dion untuk menatap matanya. "Apa kau bermimpi buruk?" "Tidak. Hanya takut kalau Mama pergi lagi," balasnya dengan berusaha menghapus airmatanya sendiri. Wajahnya sembab. Selena mengulas senyum saat membantu menghapus airmata putranya. Dion menoleh, menemukan sang ayah masih berdiri di sana. "Mama temani tidur," Selena melirik sang suami sekilas dan menemukan ekspresi itu terlihat seperti tidak sependapat dengannya. "Ayo." Dion masih diam. Selena menoleh menatap sang anak yang malah tersenyum lebar ke arahnya. "Mama, aku mau digendong sampai kamar." "Hm?" Selena mengernyit. Melihat anaknya tersipu malu, dan mendengar suara dengusan dari sosok lain yang ada di dalam ruangan bersama mereka. "Usiamu sudah sepuluh tahun, dan kau bertambah berat sekarang," Selena mendekat. Tetapi, sebelum wanita itu nekat untuk menggendong putranya menaiki tangga sampai kamar, Damien berjalan untuk menghadang, menghalangi istrinya. "Tidak, Dion." Dion cemberut. "Kenapa tidak? Aku masih ringan, kok. Tidak terlalu gemuk," balas Dion tak mau kalah. Selena tertawa pelan. "Sudahlah, biar aku menggendongnya sampai kamar," Selena menggeser sang suami, dan Damien malah menarik tangannya mundur. "Tidak, Selena. Kenapa tiba-tiba?" Dion menghela napas. Menatap kedua orang tuanya dan anak itu mengambil ancang-ancang untuk berlari, siap menaiki tangga. Membuat tatapan keduanya berpaling pada Dion yang saat ini melambai dari ujung tangga lantai dua. "Cepat, Mama. Aku mengantuk." Kemudian, berlari ke kamar. Membiarkan pintu itu terbuka sampai sang ibu masuk. Dan Dion mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. "Kenapa dia tidak mau bersabar sedikit?" Selena menghela napas mendengar keluhan sang suami. Menunjuk pada jam yang menunjukkan angka sembilan. "Ini waktunya dia tidur. Jelas, dia akan berisik karena mengantuk." "Aku akan menemaninya tidur," Selena memutar badan. Bersiap menaiki tangga saat ada tangan lain menahan tubuhnya, bergerak melingkari perutnya. "Tidak hanya Dion, aku juga butuh ditemani di sini." Selena memutar mata menahan tawa. Saat kepalanya tertunduk, terdiam sebentar menemukan dekapan itu mengerat. Dan tangannya bergerak bukan untuk melepaskan dekapan itu, tetapi mengusapnya lengan sang suami lembut. "Aku akan pergi ke kamar setelah Dion tidur." Hanya terdengar suara gumaman tidak jelas dari sang suami. Selena mendesah pelan, menggeleng kecil saat berusaha melepaskan dekapan suaminya. Mendengar Dion menjerit dari kamar karena ibunya tidak kunjung naik dan pergi ke kamarnya. "Kau dengar itu?" Damien berdecak masam. "Aku tidak pernah menjerit seperti itu saat aku kecil. Mungkin, menurun darimu." Selena terkekeh pelan. "Lepas, Damien. Aku harus menemaninya tidur. Kalau aku tidak segera pergi, Dion tidak akan tidur." "Sesekali, maukah mementingkanku dulu?" Selena mengangkat alis. Memutar tubuhnya untuk berbalik, memiringkan kepala guna menatap lekat mata sang suami. "Aku akan melakukannya," Damien terpaku. Dadanya meledak karena senang. "Kalau Dion sudah menginjak usia tujuh belas. Oke?" Dan kembali berbalik, menaiki tangga dengan hati-hati di saat Selena tidak bisa bertingkah sembarangan kali ini. Karena ada kehidupan lain yang sedang bertumbuh di perutnya. Damien menghela napas. Kali ini, kembali dia dikalahkan oleh Marcuss Dion, putranya sendiri. Baik, baik. Dia akan mengalah. Hanya perlu bersabar sedikit, kan? Sampai semua benar-benar membaik. Sampai keadaan benar-benar seperti yang Damien inginkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN