Bagian Duapuluh

5586 Kata
"Ha?" Lawson tersedak pasta makan siangnya sendiri. Saat ini, jam sepuluh siang. Saat bel berbunyi pertanda anak-anak sekolah dasar diperbolehkan keluar dari kelas dan menyerbu kantin untuk beristirahat. Biasanya, setelah makan siang, mereka akan dihadapkan dengan pelajaran lain sebelum akhirnya bel pulang berbunyi. Dan mereka kembali ke rumah masing-masing. "Siapa?" Kali ini, anak itu kembali bersuara. Lawson melirik Souma yang berekspresi ketat, dan pada Dion yang bertopang dagu. "Rasanya punya adik, bagaimana?" Souma mengangkat alis. "Ada teman bermain. Kau tidak kesepian lagi," balasnya. "Tapi, tidak enaknya, adikmu bisa saja manja. Sebentar-sebentar, menangis. Tidak diberi mainan, menangis." "Kau mau punya adik?" Lawson bertanya dan Dion melirik datar. "Aku mendengar dari Papa. Dia bilang, Mama tidak boleh banyak bergerak karena sedang hamil. Mama tidak mau dengar. Mereka bertengkar pagi tadi." "Oh," sahut Lawson. "Adik Souma sangat lucu. Aku berharap, adikmu nanti juga." Dion mengangkat alis. "Kalau adikku laki-laki, bagaimana?" "Ada teman bergulat," balas Souma. "Adikku perempuan. Papa menjaganya seperti berlian. Dulu, kalau aku jatuh Papa akan membiarkan. Sekarang? Kalau Himawari jatuh, Papa akan panik bukan main." "Usia adikmu baru tiga tahun, wajar saja." Souma mendesah. "Itu namanya tidak adil." Dion terdiam. Menghela napas panjang saat dia menunduk menatap hamburger bersama kentang goreng di atas piring. "Kalau kau, Lawson? Kau tidak mau punya adik?" Lawson terpaku. Berpura-pura memasang ekspresi serius yang membuat kedua rekannya menatapnya lekat. "Hmm, bagaimana, ya." "Bagaimana apanya?" "Aku mau," Lawson kembali bersuara. "Biar kalau Mama marah, aku punya teman untuk melawan. Seperti, kami bersekutu melawan amukan Mama." Lalu, anak itu berdecak. "Tapi, sepertinya tidak seru. Karena kalau Papa membeli es krim, itu artinya harus dibagi dua. Bagi dengan adikku. Aku terbiasa makan satu es krim, tidak suka berbagi." "Dasar pelit." Lawson mendesah. "Pelit pada adikku, bukan pada temanku," rangkul pada Dion dengan seringai lebar. "Papa mengajarkan padaku, untuk pelit antar keluarga. Tetapi, tidak boleh pelit antar teman," Lawson kembali menjelaskan. Membuat Souma mengangkat alis dan Dion mengernyit. Masih dengan raut datar yang kental. "Aku baru mendengar hal itu," Souma mengendik pada Dion. "Kau?" "Sama," Dion melirik Lawson dengan dengusan. Souma menggeleng pelan. Ada baiknya, mengabaikan Lawson ketimbang meladeninya. "Papamu kaya. Minta belikan es krim yang banyak bukan masalah," sahut Souma dan Lawson mengangguk. "Masalahnya, ada pada Mama. Mama tidak mungkin membiarkan aku makan es krim sepuasnya. Karena takut aku diare," sungut Lawson kesal. "Aku pernah diare sampai keluar darah karena terlalu banyak makan es krim." "Mengerikan," desis Dion. Lawson mengangguk masam. "Lupakan saja tentang adik. Kalau kalian punya adik, jangan lupa padaku." "Buktinya aku tidak," ujar Souma. Dan Lawson memberikan jempolnya. "Aku rasa, Paman Damien akan jadi ayah posesif setelah Papaku," sela Souma sebelum menghabiskan pastanya dan Dion diam-diam menyetujui perkataan temannya. *** "Bebaskan Regan." Damien mengangkat kepala, melirik datar pada Marcuss Haru yang baru muncul ke peradaban setelah insiden Hermes milik ibu mertuanya. Sepertinya, kepala Haru sempat dingin sebelum kembali panas karena mendengar Marcuss Regan masuk sel tahanan. "Bukan aku yang memenjarakannya," kata Damien datar. Kembali membaca berkas di atas meja dan mengabaikan sang ibu yang menggeram. "Lalu, siapa? Istrimu? Kalau begitu, bicara padanya. Bebaskan Regan. Biar aku yang menghukumnya." Damien mendengus. "Mama tidak akan bisa menghukumnya. Sebagai anak kesayangan, tidak sepatutnya Regan diperlakukan keras," mata Damien memindai penampilan ibunya dingin. "Benar begitu, bukan?" "Damien!" "Tidak. Aku tidak akan bicara. Regan ingin melukai putraku. Aku akan membiarkannya di penjara selama kasus ini masih berjalan," Damien mengeraskan rahang. "Juga tuntutan selanjutnya karena kekerasan rumah tangga pada Hyena. Dia akan dikenakan pasal berlapis. Mama membayangkan hukuman apa yang menantinya, kan?" Marcuss Haru menggeram dalam diamnya. Semua kalimat yang ingin ia lontarkan, tertahan di tenggorokan. "Bicara pada Selena. Katakan padanya, kalau kita masih berkeluarga. Apa dia mau reputasi keluarganya hancur?" "Untuk apa dia peduli?" Damien kembali membalas dingin. "Yang hancur reputasi Mama dan Regan, bukan dia. Selena tidak akan peduli. Ibunya bisa membersihkan reputasi buruk itu dalam sekejap. Selena tidak akan berpikir dua kali untuk benar-benar menjebloskan Regan ke penjara." "Tapi, kau pasti peduli, bukan?" Haru memamerkan senyum ramahnya. "Karena dia kakakmu. Kakak kandungmu. Damien, kau tidak akan setega itu padanya." Damien terpaku. Kedua matanya menyipit sebelum dia menutup berkasnya dan konsentrasi yang dia bangun, buyar sudah. "Regan tidak pernah menganggapku ada selama ini," balas Damien lirih. "Kalau pun aku membantu, aku hanya bisa meringankan masa hukumannya. Bukan membebaskan dia dari penjara." Manik Haru melebar. "Damien," lirihnya. "Aku tidak pernah menyentuh kehidupan pribadinya. Regan pernah kuperingati untuk tidak menyentuh istri atau putraku, dan dia melanggar peringatanku untuk kesekian kali," Damien mengangkat bahu. "Lantas, apa yang bisa kulakukan? Biarkan saja." Bersandar pada kursi kerjanya, Damien mengendik pada ibunya dengan raut masam. "Kalau Mama bisa, bebaskan saja. Mama punya uang, bukan? Kenapa Mama tidak lakukan itu untuknya? Membela Regan dari masalah apa pun, Mama sanggup. Mengeluarkannya dari penjara juga bukan perkara yang sulit untukmu." Damien mendengar suara geraman tertahan sekali lagi. "Kau pikir, apa yang bisa kulakukan? Lawanku ibu mertuamu. Aku bisa apa?" "Kalau Mama paham, ada baiknya Mama pergi dari sini. Pintu keluar terbuka lebar untuk Mama," kata Damien sinis. Kembali pada pekerjaannya dan sepenuhnya mengabaikan atensi Marcuss Haru di ruang kerja. Remasan Haru pada tas mahalnya mengerat. Dengan napas tertahan, dia berangsur menjauh dengan pintu yang terbanting keras. Damien mengurut pelipisnya yang berdenyut, mendapati pintu terbuka setelah dan dia terkesiap. "Kenapa kau di sini?" "Kenapa dengan ibumu? Kau mengusirnya pergi?" Damien mengerutkan alis. "Jangan balik bertanya. Kenapa kau di sini?" "Aku menawarkan ini," Selena mendorong seberkas map biru langit pada sang suami. "Menawarkan Kaia untuk bekerja di sini. Dia lebih aman di sini. Sesuai dengan passion dan keahliannya. Aku setuju kalau dia bersamamu." Damien membuka map itu. Membaca sekilas profil Kaia Ankara, dan menghela napas. "Kenapa tidak yang lain?" "Aku percaya Kaia tidak akan macam-macam. Dia itu sangat profesional. Tidak mudah terpincut dengan bosnya sekaya apa pun itu," Selena tersenyum penuh arti. "Dan yang terpenting, dia mengenal benar siapa aku. Istri dari calon atasannya. Dia mana mungkin berani macam-macam." Damien menutup berkas itu. Menaruhnya di atas tumpukan bukunya, dan menatap sang istri yang berdiri di depan meja dengan dagu tertopang siku. "Aku rasa, kau masih trauma dengan kejadian Aster? Mungkin, kau bilang kalau kau tidak cemburu. Atau, kau merasa baik-baik saja karena Aster berada di sekitarku. Tapi, kau tidak bisa mengelak kalau rasa tidak suka itu karena kau ... cemburu, kan?" Selena menyipit tajam. "Kenapa tiba-tiba?" "Kepercayaan diriku meningkat setelah tahu apa yang terjadi. Semuanya," Damien mengutip semuanya dengan dua jemari kanannya. "Jadi, aku akan meluruskan kesalahpahaman yang sempat aku lewatkan untuk mengartikan maksud sebenarnya." "Kau ini bicara apa?" Selena berdecak. Mulai bosan. "Aku tidak mengerti." Damien menipiskan bibir. "Lupakan. Kenapa kau berjalan-jalan? Aku sudah bilang, untuk tetap di rumah, bukan?" Selena menghela napas. Menggeleng dengan raut lelah, sebelum dia meringis dan kembali menatap mata sang suami. "Kandunganku baru satu bulan, bukan tujuh bulan. Aku masih bisa berlari kalau ingin membuatmu terkena serangan jantung." "Dan kau akan kehilangan suami super perhatian sepertiku," katanya. Sangat percaya diri. Selena mendesis. Memutar mata bosan dengan jemari mengetuk tepi meja. "Aku tidak suka saat kau mulai kekanakkan. Ayo, bangun." "Kemana?" "Temani aku makan siang," Selena berbalik. Bersiap berjalan ke luar saat Damien melesat, menghadang pintu keluar. "Aku lapar." Tatapan mata Damien merambat turun ke perut sang istri. "Kau ingin sesuatu?" "Tidak ada yang spesifik. Hanya ingin makan karena lapar," Selena menggeser tubuh suaminya. "Ayo, cepat." Saat Selena membuka pintu, dia menemukan Kaia berdiri di depan meja sekretaris. Dengan tubuh membungkuk, dan senyum khas seorang Kaia yang membuat Selena percaya kalau Kaia akan bekerja dengan baik. "Kau butuh uang untuk berobat ayahmu, bukan? Karena kau terus menolak pemberian dariku, aku memberimu pekerjaan. Yang sekiranya pantas?" Selena tertawa. "Aku tahu, kau pasti bisa melakukannya. Suamiku tidak diktator. Dia berbeda denganku dulu." Kaia tertawa. "Aku sudah menduganya." Pandangan Kaia beralih pada atasan barunya yang baru saja keluar dari ruangan. Damien termangu, menatap Kaia yang sedang membungkuk dan tersenyum tipis. "Selamat siang," sapanya. Damien berdeham. "Kau mulai bekerja hari ini?" "Nona Selena memintaku untuk bekerja hari ini," balas Kaia ramah. "Jadi, aku mempersiapkan diri untuk bekerja meski baru setengah hari." Damien mengangkat alis. "Bosmu sekarang aku, bukan istriku. Dan kenapa, kau memanggilnya dengan Nona?" Kaia mengangkat alis. "Kemauan Nona Selena sendiri, Tuan. Karena Nyonya identik dengan Kamara Kiara." Selena mengangguk. Memberi senyum bangga pada Kaia setelah menepuk bahunya. "Bagus." Kaia mendengus setelah Marcuss Damien melengos begitu saja dari hadapannya. Dan tatapan itu beralih pada Selena yang sedang menahan geli. "Dia memang seperti itu," Selena menatap Kaia. "Aku pergi dulu." "Hati-hati di jalan," ujar Kaia dan kembali ke mejanya. Selena melesat masuk ke dalam lift. Menggosok lengannya sendiri dan mencari-cari sesuatu di dalam tas Chanel miliknya. "Sekedar mengingatkan, kalau aku masih marah padamu." Selena mengangkat alis. Melirik sang suami setelah menutup tasnya. "Marahmu tidak beralasan," gumamnya datar. Damien meliriknya dingin. "Tentu saja. Karena kau tertidur di kamar Dion sampai pagi. Dan aku terjaga karena tidak tega membangunkanmu. Atau Dion, akan menjerit lagi." Selena mendengus masam. Melempar tatapannya pada layar di dalam lift yang menunjuk angka pada lantai gedung. "Dasar kekanakkan," gerutunya sembari menahan senyum geli. *** "Mama tidak tidur bersamaku malam ini?" Selena menghentikan gerakan tangannya mematikan lampu saat dia beranjak dari ranjang tidur putranya. Dan Dion yang nyaris terlelap, tersadar karena radarnya berbisik jika sang ibu siap pergi dari sisinya. "Kemarin sudah, kan?" Selena menatap Dion yang mengerutkan alis. "Kemarin Mama tertidur sampai pagi. Ingat? Papa yang membuat sarapan dan membangunkanmu." Dion cemberut. "Papa tidak seru." Selena terkekeh. "Kalau akhir pekan, Papa akan membiarkanmu tidur. Tapi, kau harus sekolah. Sekarang, tidurlah. Di akhir pekan nanti, Mama akan membawamu pergi." Kedua mata Dion melebar. "Berlibur? Bersama Papa juga?" Selena mengangguk. "Bersama Papa," mengulas satu senyuman hangat. "Kita akan bertemu Bibi Sahara." Alis anak itu bertaut. "Bibi Sahara? Aku tidak pernah dengar. Siapa dia, Mama?" "Dia keluarga terdekat yang Mama punya selain Bibi Rola," balas Selena. Mendapati bingung melumuri wajah Dion, Selena kembali tertawa. "Sudah. Tidurlah. Jam berapa ini?" Dion menarik selimutnya. Mencari-cari gulingnya sebelum memejamkan mata, menatap mata ibunya. "Aku tidak sabar bertemu Bibi Sahara, Mama." Selena terpaku. Iris pekat Dion tersembunyi pada kedua kelopak mata yang terpejam. Saat Selena menunduk, menarik napas guna mengusir rasa panas pada matanya pergi. "Selamat malam," bibir putranya kembali bersuara. Sebelum Dion tenggelam dalam guling dan bantal besarnya, lalu Selena berjalan pergi. Meninggalkan kamar sang anak dalam diam. Di dalam kamar, dia menemukan sang suami tidur dengan posisi miring. Selena melirik jam pada dinding, mematikan lampu tidur dan menyalakan lampu kamar mandi kamar. Sebelum dia melepas sandal rumah, dan siap berbaring untuk beristirahat. "Dia sudah tidur?" Selena menoleh dengan alis terangkat. Hanya gambaran punggung sang suami yang berbalit piyama hitam terlihat. "Belum, masih terjaga." "Dia benar-benar tidak mau mengalah?" "Mengalah untuk apa?" "Berbagi ibunya," ujar Damien masam. "Kau sudah tidur di sana semalam, dia memintamu menemaninya lagi?" Selena mendengus. Mendengar betapa masamnya suara sang suami kali ini, dia berbalik. Mengulurkan tangannya untuk memeluk tubuhnya dari belakang. "Hmm, aku merasa ada yang cemburu kali ini. Kemarahanmu tidak beralasan, Damien. Kenapa harus marah pada putramu sendiri?" Damien balas mendesah berat. "Kau mencurahkan segalanya dari dia kecil. Sampai dia besar. Aku sampai-sampai tidak mendapat tempat di hatinya." Selena mengintip ekspresi sang suami dari belakang. "Benarkah? Kau lupa? Saat kau pergi ke luar negeri selama satu bulan, putramu demam? Dan kau sulit dihubungi karena sibuk. Satu minggu sekali memberi kabar, itu berarti hanya empat kali. Dan setiap menghubungi, tidak lebih dari setengah jam. Dion merengek karena kau tidak ada." "Saat itu dia masih enam tahun," balas Damien. Mengenang masa-masa dimana dia begitu sibuk, sampai melewatkan beberapa hal kecil tentang putranya yang sedang berkembang saat itu. "Sudahlah. Kita berdua punya tempat tersendiri di hatinya, hati putra kita," Selena tanpa sadar mengeratkan dekapannya. Damien terpaku. Putra kita? Kepalanya tertunduk menemukan cincin pernikahan itu melingkar manis di jari tengah sang istri. Selena memakainya. Tidak, Damien menyadari sejak mereka menikah, Selena memang memakai cincin pernikahan. Hanya saja, rasanya berbeda. Sebelum dan sesudah semua masalah ini terlewati. "Kau mau tahu satu rahasia?" "Hm?" Damien menghela napas. Saat dia berbalik, memutari tubuhnya untuk menghadap Selena. "Saat aku membeli cincin ini, aku tidak punya tabungan cukup. Ibuku tidak mau membantu karena keluargamu menolak Regan. Jadi, aku harus melepas tabunganku demi ini." "Kau menabung?" Kepala Damien terangguk. "Sejak aku SMP, aku menabung. Diam-diam, Papa memberikanku uang lebih. Dan aku tidak pernah menggunakan uang itu untuk hal yang tidak penting." "Aku rasa, Marcuss Daren benar-benar sosok yang baik?" Damien terdiam. Sinar matanya mengatakan sebaliknya. Saat dia menunduk, mengulurkan tangan meremas tangan sang istri dan menghela napas. "Tidak. Dia lakukan ini agar aku tetap diam." Selena tanpa sadar memundurkan kepalanya. "Kenapa?" "Papaku berselingkuh dengan salah satu bawahan kantor. Dia gadis biasa. Berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Aku tahu, setelah beberapa kali Papa menggunakan uang kas perusahaan untuk memanjakan gadis itu dengan uang dan perhiasan." "Dia bahkan membelikan mobil," kata Damien lirih. "Mama tidak tahu. Begitu pula Regan. Mereka tidak terlalu menganggap Papa ada di rumah. Seperti, ada namun tak terlihat." Selena termangu. "Kalau pun dia tidak memberiku apa-apa, aku juga akan tetap diam. Banyak orang dirugikan, tapi aku tidak mau tahu. Karena perusahaan bukan milikku, milik orang tuaku." "Apa yang Marcuss Daren lakukan?" Damien menatap mata istrinya. "Operasi mata. Penglihatanku buruk setelah aku lulus sekolah dasar. Lalu, kuliah di universitas terbaik. Aku tidak terlalu pintar. Untuk masuk ke universitas terbaik, butuh biaya." Selena menahan getir di bibirnya. "Jadi, itu alasan kau tidak memakai kacamatamu lagi?" Kepala Damien terangguk. "Aku sembuh. Tetapi, akhir-akhir ini kembali berat. Aku beberapa kali memakai kacamata, walau tidak sesering dulu." Selena hanya diam. Sesekali alisnya bertaut, sebelum dia menghela napas panjang. "Kalau kau merasakan sakit pada matamu, atau pada bagian tubuhmu yang lain, tolong bicara." "Oke," sahut Damien pelan. "Apa ayahmu sudah berubah?" Damien mengangguk. "Sudah. Dia menyadari kalau itu semua tidak ada artinya. Tapi, saat itu kalimatmu benar adanya. Ada kalanya, harga diri laki-laki terusik karena wanitanya lebih tinggi dari mereka. Dan ayahku mengalaminya. Terlebih, Mama sering merendahkannya. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali." "Aku juga lakukan hal yang sama padamu," Selena mengangkat bahu. "Berapa kali aku memintamu untuk mencari perempuan lain. Dan kau tidak mau. Bersikeras menolaknya. Termasuk Aster." Damien mengerutkan kening. "Pernikahan kita rapuh. Aku sadar itu saat kau menatapku benci untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Aku tidak tahu apa kesalahanku, sampai tatapanmu sedingin itu. Dan kenapa aku harus mencari perempuan lain kalau aku sendiri tidak tahu apa yang salah dariku, atau dari pernikahanku?" "Walau kesempatan itu ada sekali pun, aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan menjadi Marcuss Daren, atau pria-pria di luar sana yang suka mencari kehangatan lain di luar rumah," Damien menghela napas. "Atau, kau mungkin semakin membenciku?" "Karena dugaanku benar?" Selena mendengus geli. "Aku sampai putus asa saat itu. Kau tahu? Aster memang bukan tandinganku. Tapi, melihat gadis itu berusaha untuk terlihat di matamu dan kau mengabaikannya, aku sedikit tersentil dengan sikapmu." "Dengan kata lain, kau cemburu? Selena, aku tidak berpikir sampai ke sana. Karena perempuan sekelas dirimu, cemburu dengan Aster benar-benar tidak masuk akal," kata Damien datar. "Dari segi mana pun, dia tidak sama denganmu. Kenapa aku harus melepasmu dan memilih dirinya?" Selena meringis mendengar selipan kalimat rayuan suaminya. "Gio saja bisa kehilangan kendali. Kenapa kau tidak?" "Kenapa harus? Gio dan aku berbeda," sela Damien dingin. "Gio juga merasa bersalah. Terkadang, istrinya mengungkit masalah itu sampai Gio benar-benar hancur. Dia merasa bersalah. Untung saja, hubungan mereka belum sejauh itu." Selena mendesah. "Aku terkadang kasihan melihat Saphira. Dia terlihat ceria, sebenarnya menyimpan duka." "Kau juga akan mengalami hal yang sama kalau aku bermain dengan perempuan lain di luar sana," sahut Damien lirih. "Aku sendiri tidak tahu apa lukamu, dan dengan aku berselingkuh, bukankah sama saja dengan menambah lukamu?" Selena menahan napas. Kemudian, melarikan matanya ke arah lain. Sial, kenapa tiba-tiba matanya basah? "Bukan uang yang kau cari, karena kau memiliki segalanya. Uang, reputasi, tahta. Dan aku baru mengerti sekarang." "Aku kehilangan segalanya saat salju turun," kata Selena. Memandang langit-langit kamar dengan mata memburam. "Diriku sendiri, Sahara, kepercayaan, segalanya yang berusaha aku pendam rapat-rapat." "Aku membenci salju saat itu. Karena segalanya. Saat aku menjadi saksi kematian Nick, salju sedang turun. Menjadi saksi untuk terakhir kali, aku melepas rasa sakitku bebas." Kepala Selena menggeleng setelahnya. "Tidak, rasa sakit itu belum bebas. Bertahun-tahun. Setelah aku memiliki keluarga sempurna di mata orang lain. Suami, anak, bagiku belum cukup." "Mama melarangku berkencan dengan sembarang pria, karena dia menganggap derajatnya lebih tinggi," Selena mendengus. "Tapi, saat Mama membantu keluargamu, dia dengan senang hati menerimamu menjadi bagian dari keluarganya. Calon menantu." "Kau tahu bagian mana yang menyedihkan?" Selena berusaha tersenyum, walau terasa sulit. "Mama berusaha mencari pasangan yang serupa dengan ayahku. Dengan Kamara Yuma. Mama menyadari perubahan pada diriku. Menuduh Rola merusak segalanya. Merebut pelangi putri kecilnya. Merebut senyum pada diri Kamara Selena. Dan bertahun-tahun Rola mendapat tekanan darinya, dari ibuku." "Itu alasan kau membelanya sampai detik ini?" "Kehilangan Rola, sama saja kehilangan separuh diriku," Selena membiarkan airmatanya mengalir. "Kehilangan Sahara, melenyapkan bagian lain. Kalau sampai aku kehilangan Rola, aku tidak lagi utuh." "Kau tahu, kehilangan sahabat lebih menyakitkan bahkan dari kehilangan kekasih saat itu." Selena menarik napas. "Aku berusaha menjelaskan. Tapi, Mama tidak pernah mau dengar. Hanya Papa, hanya dia yang mau mendengar. Papa membantuku, membantu Nana Mizuki, ibu Rola untuk dirawat di rumah sakit. Melindunginya dari ibuku. Tiap kali Mama mau melenyapkan keluarga Rola, Papa akan menahannya. Dan aku tidak bisa berterima kasih lebih dari itu, karena dia membantuku, tanpa tahu alasannya." Selena mendengus menahan getir. "Alasanku menerimamu karena kalimat yang Sahara tulis. Sahara tidak pernah memberikannya padaku, dia menyimpan memo itu pada kotak hadiah yang kuberikan padanya. Aku menemukan kotak itu setelah kematiannya," Selena menggigit bibir bawahnya. "Dan aku menikahimu hanya untuk mematahkan prasangka Sahara tentang dirimu. Sahara terlalu naif. Karena berpikir kau orang baik hanya dalam sekali lihat." "Dan ternyata dia benar." Selena tersenyum pahit setelahnya. "Andai saja Sahara masih ada, dan aku mengenalmu, aku akan membiarkan kalian bersama." Damien mendengus pelan. "Dan Sahara tahu, aku tidak menyukainya. Tapi, menyukaimu." "Semula, memang semua tentang anak," bisik Selena lirih. "Tapi, lambat laun aku tidak bisa mengelak, kalau aku bertahan karena dirimu." Selena kembali berbalik, menghadap miring ke arah sang suami. "Malam dimana kau marah, dan meluapkan segala rasa sakitmu, aku sadar. Kalau yang kulakukan selama ini adalah kesalahan. Membatasi diriku sendiri darimu. Berpikir kalau hanya aku yang terluka, dan kau tidak." Salah satu tangannya terulur, mengusap pipi sang suami dengan usapan lembut. "Jangan tinggalkan aku," Damien membeku. Mendengar Selena kembali menangis. "Jangan tinggalkan aku." Selena kembali menarik tangannya. Menutup wajahnya yang basah dan bengkak karena menangis, sebelum isakan itu semakin keras. Tidak ada yang bisa Damien lakukan selain menghibur istrinya yang baru saja menceritakan segalanya. Selena berusaha terbuka, dan Damien menyadari kalau istrinya masih kesulitan. Selena selalu melakukannya sendiri. Memendam lukanya sendiri bertahun-tahun. Sama seperti dirinya. "Bukan kau yang seharusnya bicara begitu," Damien mendekat. Menarik Selena ke dalam dekapannya. Merasakan bahu itu gemetar semakin hebat. Kala pelukannya mengerat. "—tapi aku." "Aku kalah karena dirimu." Damien tidak bisa menahan senyumnya kali ini. "Aku akan terus menangis sampai tertidur," Selena balas memeluknya. "Jangan pergi ke kamar Dion karena aku menangis. Tetap di sini." Damien mendengus geli. "Aku baik-baik saja mendengarmu menangis. Rasanya melegakan. Aku bosan melihatmu tertawa. Dan kau, tidak pernah menangis selama ini." "Dasar aneh," gerutu Selena. Kemudian, kembali menangis. Benar-benar menepati janjinya. Menangis sampai tertidur pulas. Dan tidak lagi bermimpi buruk.  *** Kamara Kiara terpaku. Mendapati Rola Mizuki datang ke rumahnya, seorang diri. Tanpa Selena, putrinya. Kedatangan Rola tentu bukan tanpa sebab. Dan Kiara bertanya-tanya, apa yang membawa Rola datang menemuinya. "Aku datang, untuk minta maaf," Rola berbisik lirih. Menyadari perempuan adikuasa itu berdiri kaku di depannya, Rola segera berlutut. Menundukkan kepala seperti seorang tahanan yang mengaku telah berbuat kejahatan. "Aku minta maaf, untuk segalanya. Bukan maksudku menghancurkan atau merusak Selena. Tidak sama sekali," suara Rola bergetar. Kiara terdiam. Begitu pula saat Yuma turun, tercenung diam menemukan Rola berlutut di depan sang istri. "Nyonya Kiara, Anda salah paham. Aku berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Tapi, Anda tidak mau dengar. Aku memang bukan gadis istimewa, aku memang seberuntung itu karena berteman dengan Selena. Tapi, sungguh, aku tidak ingin memanfaatkannya hanya karena dia memiliki uang." Tangan Rola saling bertaut. "Aku berhutang banyak pada Selena dan Paman Yuma. Terima kasih, karena mau merawat ibuku yang terbaring. Aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Dan dengan rasa bersalahku, dengan kerendahan hati, aku minta maaf. Kalau selama ini, aku telah membuat Nyonya Kiara terluka." "Rola," Yuma mendekat. Mencoba meraih lengan perempuan itu, dan Rola menggeleng dengan bahu gemetar. "Kenapa kau berlutut? Kau tidak salah apa pun," Yuma berbicara lirih. Meminta Rola untuk bangun, dan dia tidak mendengarkan. "Aku akan bekerja keras untuk membayar hutang-hutangku, Tuan Yuma," kata Rola. "Selena banyak mengeluarkan uang untukku. Dan aku rasa, Nyonya Kiara benar. Aku tidak pantas dapatkan itu." Kepala Rola semakin tertunduk dalam. "Selena terlihat kesepian. Dia benar-benar berbeda dari gadis sepantaran lainnya. Aku melihatnya seperti itu. Barang-barang yang ia kenakan, bagaimana dia berinteraksi, Selena bukan mereka yang bisanya hanya memamerkan kekayaan orang tua di depan anak-anak yang tidak memiliki takdir sebaik dirinya." Rola kembali menggeleng getir. "Aku juga ingin minta maaf, karena tidak bisa menghetikan Selena saat dia membunuh Rei Nick. Dia meminta Nick untuk mati sama seperti Sahara. Selena hanya terluka. Dia marah. Marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menyelamatkan Sahara saat itu." Yuma terpaku. Menemukan bahu Rola gemetar hebat, dan tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain meringis, mengutuk dirinya sendiri yang apatis terhadap perasaan terluka putrinya. "Saat Selena menikah, aku datang bukan bermaksud menghancurkan pernikahannya, Nyonya Kiara," kepala Rola menggeleng. "Aku datang hanya untuk memberi selamat. Berdoa semoga dia bahagia. Tapi, saat itu aku terseret oleh dua orang berbadan besar. Memintaku untuk pergi dan jangan kembali. Aku juga membawa kado untuk sahabatku. Aku turut bahagia." Bibir Yuma menipis saat dia menoleh, menatap datar pada sang istri yang membeku. "Ketika di rumah sakit, saat Selena memeriksa kandungannya, aku menemani bukan untuk meminta Selena membunuh kandungannya sendiri. Aku datang untuk menguatkan Selena. Dia baik-baik saja selama ada Damien di sampingnya, dan terus berkata kalau dia tidak akan berakhir seperti Sahara. Hanya itu ..." Rola kembali terisak. "Nyonya Kiara, tuduhan Anda padaku adalah kesalahan. Dan kesalahanku adalah karena menganggapmu perempuan bertangan dingin. Kejam pada siapa pun." "Rola," suara Yuma memanggilnya. "Kalau memang yang Anda inginkan adalah aku pergi dari sisi Selena, aku akan pergi. Aku akan pergi menjauh. Selena sudah bahagia. Aku akan melepasnya." "Kau ini bicara apa, Rola?" Yuma meminta agar perempuan itu bangun, mengusap airmatanya sendiri dan Rola mencelos karena tiba-tiba merindukan ibunya. Kamara Kiara hanya menarik napas. Mengusap sudut matanya sendiri dengan napas tertahan, sebelum dia bersuara dan sunyi di dalam ruangan itu pecah. "Intinya, semua kesalahan ada padaku. Aku meremehkan segalanya. Ingin memberikan yang terbaik untuk putriku. Dan sayangnya, aku melakukan kesalahan. Itu menyedihkan." Kiara tersenyum pahit. "Ada kalanya, aku merasa gagal menjadi seorang ibu. Dan kali ini, aku merasakannya. Benar-benar merasakannya." "Aku tidak tahu siapa Sahara. Siapa pria yang ada di kehidupan Selena sebelumnya. Aku hanya menganggap hubungan yang kalian jalin, terlarang. Membuatku malu dan terluka." Pandangan Kiara berpendar sendu. "Kematian Nana, mungkin karena diriku. Karena aku mencabut selang kehidupan dari tubuhnya. Tapi, Rola, tidakkah kau menderita melihat ibumu terbaring selama bertahun-tahun tanpa kepastian?" "Kiara!" Bibir Kiara gemetar. "Seharusnya, aku berterima kasih. Bukannya ingin mencelakakanmu, dan berakhir dengan Selena yang terluka. Aku beruntung, karena putriku baik-baik saja. Bagaimana kalau dia terluka? Aku akan berakhir sama. Hancur dan mati rasa." Rola berpaling. Berusaha menahan airmata yang kembali ingin menetes. "Aku akan menebus segalanya. Tapi, tolong, maafkan aku. Maafkan diriku. Aku hanya berusaha—," suara Kiara tertelan rasa sakitnya sendiri. "—berusaha menjadi ibu yang baik." Rola membeku. Menemukan Kiara mendekapnya, membawa dirinya ke dalam pelukan begitu erat. Menumpahkan segalanya di bahu Rola yang bergetar. "Maaf." Dan Rola hanya mampu meluapkan dengan tangisan penuh penyesalan yang sama. *** Damien menatap sekali lagi pada Dion yang benar-benar pulas malam ini. Setelah seharian hujan melanda Tokyo dari pagi sampai senja, mereka memutuskan untuk tetap di rumah. Ucapkan selamat tinggal pada akhir pekan. Liburan yang sempat Damien tawarkan pada putranya adalah mengunjungi taman bermain. Dia juga berniat menyewa taman bermain itu agar anaknya bisa bermain puas. Kalau untuk itu, ide gila istrinya. Dan berakhir dengan mereka di dalam rumah sehari penuh. Damien mengajak Dion yang bosan bermain lego. Atau sesekali, mengubah permainan mereka dengan kartu uno di tangan. Selena tidak ikut. Hanya mengawasi mereka bermain. Dan tertidur setiap dua atau tiga jam sekali karena kantuk yang menyerang. Serta daya tahan tubuh yang sedang tidak prima. Menyisakan rintik-rintik menyapa Tokyo malam ini, Damien berjalan menuju kamarnya. Menemukan kamar telah temaram. Dan Selena tertidur meringkuk dengan punggung menghadap ke arahnya. Melepas sandal rumahnya, Damien berjalan untuk bergabung bersama sang istri di atas ranjang mereka. Matanya belum mau terpejam, hanya terbuka untuk menerawang menatap langit-langit kamar. "Dion sudah tidur?" "Sudah," balasnya pelan. "Aku pikir kau sudah tidur," lanjutnya lirih. "Aku lelah tidur seharian," Selena melepas gulingnya untuk berbaring terlentang. Tangannya juga tidak tinggal diam, bergerak mengusap perut ratanya dan mendadak ingin sesuatu malam ini. "Aku ingin sesuatu." Alis Damien terangkat waspada. "Apa?" "Seperti dulu," Selena menyipitkan mata. "Aku ingin bubur kerang. Dulu, saat aku hamil Dion, aku tidak pernah bosan makan bubur ayam. Sekarang? Apakah harus makan bubur lagi?" "Kenapa kau terdengar kesal?" "Aku tidak suka bubur," Selena mengerling pada sang suami. Menatapnya datar. "Rasanya menggelikan melihat adukan bubur di mangkuk. Sahara sangat suka bubur, sedangkan aku tidak." "Bagaimana dengan Rola?" "Oh, dia suka pasta. Lidahnya mahal. Rola pernah alergi memakan okonomiyaki di pinggir jalan. Padahal, aku dan Sahara baik-baik saja." Damien mendengus menahan geli. "Memiliki teman menyenangkan, bukan? Sekiranya, itu yang aku rasakan setelah bertahun-tahun menjadi anti sosial dan aku bertemu Drian. Lalu, bertemu Gio di organisasi." "Kalian akrab," Selena memutar tubuhnya untuk menghadap sang suami. "Aku terkejut kalau kau bisa berbaur dengan dua manusia berbeda sifat itu. Satu lagi berisik, dan salah satunya bermulut pedas. Tipikal kau adalah pendiam dan tidak banyak bicara." Damien mengerutkan keningnya. "Aku tidak suka pada Drian awalnya. Dia terlalu berisik. Tapi, melihat Drian yang tulus pada siapa pun tanpa memandang siapa dia, aku tertarik menerima tawaran pertemanannya." "Drian punya relasi yang bagus," Selena mengangkat bahu. "Dia juga setia kawan." "Begitulah." Damien menipiskan bibir. Selena hanya diam. Sampai bermenit-menit lamanya mereka tenggelam dalam senyap, dan Damien memutar badan hanya untuk menatap istrinya. "Bagaimana dengan Rola setelah ini?" "Dia akan tetap di Halim," Selena menghela napas. "Rola ingin pindah ke tempat yang lebih tenang. Tapi, saat dia mengatakan kemauan ini pada anak-anak, mereka menangis. Pada dasarnya, memang Rola menyukai anak-anak. Jadi, dia tidak berniat pergi. Dion juga menangisinya saat itu." "Benarkah?" Kepala Selena terangguk. "Di antara Lawson dan Souma, tangisan putramu lebih keras. Rola tidak tega melihat anak-anak lain menangis saat dia ingin pergi. Jadi, aku memintanya untuk tetap tinggal." "Dia berniat membayar kebaikanmu." Selena mendengus. "Aku tidak berniat menerima uangnya," dengan gaya angkuh seperti biasa. "Lagipula, uang bukan masalah untukku. Aku punya segalanya, kan?" Damien hanya diam. Benar, Selena punya segalanya. Uang, orang tua yang menyayangi, dan keluarga kecil yang sempurna. "Aku tidak mau bubur sekarang." Damien mengerutkan alis. "Kenapa tiba-tiba?" Dengan senyum lebar, Selena mendongak ke arahnya. Menatap mata suaminya penuh harap. "Aku mau meminta sesuatu darimu." "Hm?" "Peluk." Sebentar. "Peluk," ulang Selena lagi. Dulu saat kehamilan putra pertama mereka, Selena terkesan menjaga jarak. Meski, beberapa kali Damien harus kesulitan mengatasi morning sick istrinya yang terlewat batas. Atau, keinginan anehnya yang membuat repot dirinya dan ibu mertuanya. Damien tidak keberatan selama istri dan calon anaknya baik-baik saja. Tapi, beberapa kali melihat Selena terbaring di rumah sakit karena kelelahan dan kesakitan, dia benar-benar tidak tega. Tidak tega dalam arti membiarkan Selena kembali mengandung. Hanya saja, kilasan saat mereka kembali berhubungan, Damien benar-benar menginginkan anak untuk mengikat mereka lebih erat. Kalau saja kehamilan kedua, membuat sikap dingin Selena luntur padanya, Damien tidak keberatan harus kembali memikul berat itu sebagai suami dan calon ayah. "Ini kemauanmu atau kemauan—," "—anakku," selanya cepat. Mendesis karena Damien tidak kunjung memeluknya, dan membiarkan dirinya merapat. Mencari kehangatan selagi tangannya melingkari pinggang sang suami erat. "Aku mendengar kalau kau akan pergi ke luar kota. Kapan?" "Bulan depan," Damien mengangkat alis. "Kaia memberitahu?" "Dia berusaha membatalkan jadwal itu. Menggantinya dengan manajer umum untukmu." Kedua mata Damien melebar. "Kau yang memintanya?" "Bukan aku," Selena menggeleng. "Kemauan calon anak ini. Dia tidak mau jauh-jauh dari ayahnya. Dan aku tidak siap memikirkan kesulitan itu sendiri." Astaga. Selena benar-benar bisa membuatnya mati karena bahagia sebentar lagi. "Kalau melihatmu seperti ini, aku tidak keberatan kau hamil sekali atau dua kali lagi," Damien menahan senyum sembari membalas dekapan istrinya. "Menyenangkan rasanya." "Kau saja yang mengandung," cibir Selena kesal. "Kita berbagi derita yang sama. Kau ingat?" Membawa Selena kembali pada kenangan kehamilan anak pertama. Kalau Selena diperkenankan kembali melahirkan, dia tidak akan keberatan melahirkan keturunan pria itu, suaminya. Jika anak yang ia dapatkan nanti, sesempurna Marcuss Dion. Selena tidak akan keberatan. Tidak sama sekali. "Kalau aku ingin melahirkan di bawah menara Pisa, Mama akan membunuhku tidak?" Damien mengangkat alis. "Maksudmu?" "Aku ingin melahirkan tepat di depan menara Pisa. Bukan di rumah sakit. Kira-kira, bagaimana?" Damien terperangah. "Di depan umum, begitu? Di saat orang-orang tengah berlibur, dan kau merusak suasana dengan berteriak kesakitan saat melahirkan? Jangan aneh, Selena." "Ide gilaku pernah terlintas saat mengandung Dion kala itu. Usia kandunganku sembilan bulan. Dan aku ingin melahirkan di kapal tempur. Kau tahu bagaimana reaksi Mama?" Damien mendengarkan sembari menahan tawa. "Astaga. Setelah cucuku lahir, aku akan mengumpankanmu menjadi peluru senjata tempur itu sendiri, Selena." Selena terkekeh geli. "Astaga. Mama jahat sekali padaku. Ekspresi wajahnya lucu sekali. Dia bingung dengan keinginan gilaku." Mereka larut dalam tawa. Sesekali, Selena menceritakan betapa gilanya dia semasa remaja dulu. Berlari menghindari kepala yayasan karena membolos pelajaran matematika. Memanjat pagar bersama Rola. Menceritakan Rola yang dihukum karena bertengkar bersama kakak kelas. Melemparnya dengan permen karet dari dalam mulutnya. Sampai Sahara harus membelanya. Sampai, ada masa dimana Selena bersama Rola dan Sahara pergi ke kebun binatang. Membolos untuk sekedar bermain di taman bermain yang kala itu sedang mengadakan promo harga besar-besaran. Dan berakhir kehujanan. Bermain hujan bersama. Dan Selena beruntung, karena sang ayah tidak memarahi. Karena ibunya sedang bertugas di luar kota selama satu bulan. "Apa kau benar-benar sudah merelakan Sahara pergi?" Selena terdiam. Senyum itu pudar saat kembali mengenang Sahara yang pergi dari sisi mereka. Dengan cara menyakitkan. "Sampai aku menikah, aku belum bisa menerimanya. Aku tahu, Rola pun sama. Tapi, dia lebih dewasa dariku." Selena menghembuskan napas panjang. "Akan tetapi, bukankah Sahara akan menderita kalau aku terus-terusan menahannya pergi? Hanya karena aku tidak bisa melepasnya, jiwanya tidak akan tenang. Aku tidak bisa mengekangnya dengan cara seperti itu." Damien tidak bisa menahan dirinya untuk tidak kembali membawa istrinya ke dalam dekapan. Menyadari kalau ada airmata yang siap tumpah, dia tidak mau kenangan itu kembali menyakiti Selena semakin dalam. "Jangan pernah berpikir, hanya kau yang mencintai sendiri dalam diam. Aku pun sama. Kau tidak sendiri." Melegakan rasanya saat Selena bisa mengungkapkan isi hatinya tanpa harus menggambarkan dengan jelas. Dan berharap, Damien mengerti apa yang dia katakan, apa yang dia rasakan, dan bagaimana Selena benar-benar tidak mau kehilangan lagi untuk kedua kali. *** "Kenapa Bibi Sahara pergi?" Rola termangu. Menatap mata Dion lekat-lekat dengan kedua mata abu-abu itu basah. Saat melirik Selena yang berdiri dalam diam, dan menarik napas untuk membalas rasa ingin tahu Dion yang besar. "Tuhan lebih menyayangi Bibi Sahara. Dia memintanya untuk berpulang lebih dulu," balas Selena. Mengusap rambut legam putranya. Dion kembali menatap ibunya. "Mama, apa Bibi Sahara sakit?" Rola terpaku diam. Kepala Selena terangguk. Dan anak itu tidak lagi bertanya saat menunduk, menatap nisan bertuliskan Sahara Seika. Lalu, menunduk untuk membaca tanggal lahir Sahara yang tertulis di sana. "Uh? Tanggal lahir Bibi Sahara sama denganku!" Dion tanpa sadar menjerit spontan. Membuat Rola tersenyum menyadari senyum anak manis itu benar-benar melebar tulus. Lalu, memandang Selena yang menunduk, menahan airmatanya sendiri. "Pasti menyenangkan membuka kado bersama kalau Bibi Sahara ada di sini," Dion berlutut. Menatap nisan itu dengan senyum. "Bibi Sahara, aku berjanji. Saat ulang tahun, aku akan memberikan hadiah untuk Bibi Sahara. Aku akan menabung lebih banyak lagi." Rola hanya mengulas satu senyuman hangat. Mengacak gemas rambut legam Dion. Meminta untuk anak itu duduk di atas pangkuannya. "Kemari, biar Bibi Rola memangkumu." Dion mengangguk. Dia menurut dalam diam. Menatap Rola dengan senyum. "Bibi Rola, aku akan tetap memanggil Bibi Rola dengan Mrs. Rola di sekolah." "Tentu saja," Rola balas terkikik. Selena menengadah. Menatap gumpalan awan seperti kapas tengah melintas pada permukaan langit biru yang cerah pagi ini. Setelah Tokyo dirundung gelap selama sehari penuh, kini langit kembali menunjukkan keindahannya untuk menghibur hati yang tengah berduka. Rola termangu. Begitu pula Selena yang tercenung menatap Dion yang menaruh lego berbentuk mobil di atas makam Sahara. "Bibi Sahara suka lego, tidak? Aku suka bermain lego. Aku akan memberikan Bibi Sahara lego milikku. Semoga bibi suka!" Dion bangun dari pangkuan Rola. Menatap nisan bertuliskan Sahara itu dengan senyum lebar. Saat Dion mengusap nisan itu dengan usapan lembut, lalu menoleh untuk memanggil sang ayah yang berdiri di ambang pintu masuk pemakaman. "Mama, Papa di sini." Selena hanya diam. Terpaku masih pada putranya yang berlari menjauhi makam untuk mendekati sang ayah yang telah menunggu. Rola menatap pemandangan antara Dion dan Damien dalam diam. Bibirnya menipis, tatkala dia berpaling pada Selena yang menunduk. Meremas tangannya sendiri yang gemetar. Terima kasih banyak. Kedua mata Rola terpejam. Begitu pula pada Selena yang termangu, menemukan kelopak bunga krisan putih itu terbang menjauhi gundukan tanah. Mendengar samar-samar suara Sahara yang telah melekat jauh di dalam benak bernama kenangan. Selena menunduk. Berlutut di depan makam itu dengan bahu gemetar. Bersama Rola yang ikut menunduk, menatap kotak pandora dan lego itu lekat-lekat. Lalu, tersenyum sembari menahan tangis. Jangan lupa bahagia, untuk kalian berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN