13. Pengakuan Sheila

1551 Kata
“Gue bakal bunuh penculik itu!” geram Ravi penuh penekanan pada ucapannya. “Lo mau bunuh siapa, Gio?” terdengar suara lemah Za yang terbangun karena suara Ravi. “Eh, Za ... lo udah siuman? Gimana kondisi lo sekarang? Udah enakan?” tanya Ravi khawatir. “Gue kenapa?” tanya Za. Ia lalu menyentuh perutnya. “Bayi gue?” tanya Za lagi. Gio dan Ravi saling berpandangan sebelum memutuskan kalimat apa yang akan mereka katakan. “Bayi lo nggak bisa diselamatkan, Za. Dia udah pergi,” Ravi mengatakannya dengan tercekat. Air mata Za jatuh sudah. Perempuan itu menangis terisak meratapi takdir yang menimpanya. “Maafin gue, Za. Gue nggak bisa jaga lo dan anak kita,” kali ini Gio dalam tubuh Ravi yang bersuara. Ia kemudian menarik Za ke dalam pelukannya. Membiarkan perempuan itu menangis dalam rengkuhannya. Gio sangat pandai bersandiwara, memainkan perannya sebagai Ravi di depan Za. Atau memang sekarang Gio mulai mendekati Za untuk dirinya sendiri? Ravi memilih keluar ruangan daripada harus menahan cemburu melihat kemesraan Gio dan Za. Ia mengitari rumah sakit, sambil sesekali memanggil Kakek Dan untuk muncul di hadapannya. “Kakek Dan!” panggil Ravi ketika dirasa tidak ada orang di sekitarnya. Saat ini dia sedang berada di parkiran mobil. “Kenapa panggil-panggil Kakek?” tanya Kakek Dan ketika sudah muncul di dekat Ravi. “Kenapa Kakek bawa Malaikat Maut ke tempat Za?” Ravi bertanya seolah menyalahkan Kakek Dan. “Bukan Kakek yang mengajak Malaikat Maut. Namun memang dia bertugas di sini, menjemput calon bayi yang ada di dalam perut Za,” terang Kakek Dan. “Za sangat terpukul, Kek. Dia sedih. Dan aku nggak bisa menghiburnya,” ucap Ravi frustasi. “Jangan pernah kamu salahkan takdir. Manusia hanya perlu berusaha untuk memperbaiki takdirnya sendiri. Ingatlah, semua pasti ada maknanya. Semua ada hikmah dan nilai positifnya. Terimalah dengan lapang d**a,” begitulah nasehat Kakek Dan pada Ravi. Ravi menunduk. Perasaan dalam hatinya saling bertarung. Amarah, sesal, sedih melebur menjadi satu. Dan ia hanya bisa berandai-andai. Andaikan dia tidak ikut balapan, andaikan ia tidak menghamili Za, andaikan ia tidak punya musuh yang meneror dirinya. “Kamu lihat ambulans yang datang itu. Pasien di dalamnya tidak akan berumur lama. Bisa kamu lihat bahwa ada Malaikat Maut berdiri di samping pasien. Tapi mereka tidak tahu akan hal itu. Yang paramedis lakukan adalah berusaha menyelamatkan nyawa pasien, semaksimal yang mereka bisa. Kamu tahu apa artinya? Semua hal itu perlu proses, dan tidak ada hasil yang instan. Walaupun pada akhirnya hasil tidak sesuai yang diharapkan, tapi pasti ada hal lain yang lebih baik menanti di proses selanjutnya,” lagi, Kakek Dan memberikan wejangan pada Ravi. “Sekarang fokuslah pada pencarian pelaku kecelakaan kalian. Karena pelaku itu juga berkaitan dengan teror yang menimpamu,” Ravi mengangguk menyetujui. Ya, waktunya tidak banyak untuk mengungkap pelaku di balik kecelakaannya dan Gio. Seratus hari bukanlah waktu yang lama. “Kakek pergi dulu,” pamit Kakek Dan lalu menghilang begitu saja dari pandangan Ravi. Ravi masih betah duduk termenung di area parkiran itu. Tidak peduli dengan udara tidak nyaman di sekitarnya ataupun suara kendaraan yang terkadang bising. Ia hanya memikirkan apa yang harus ia lakukan sebelum waktunya habis. Sekelebat Ravi melihat seseorang yang ia kenal. “Mama?” lirih Ravi. Ia heran mengapa ibunya berada di rumah sakit ini. Ravi hendak menghampiri, namun ia urungkan karena ia berada dalam raga Gio sekarang. Lelaki itu hanya bisa mengendap-endap membuntuti Sheila yang berjalan ke resepsionis rawat inap. “Sepertinya Mama mau jenguk seseorang?” duga Ravi dari balik tembok di mana ia bersembunyi sembari mengintip. Ternyata Sheila menuju ruang rawat inap Za. “Kenapa Mama ke ruangan Za? Memangnya Mama tahu kalau Za dirawat?” tanya Ravi pada diri sendiri. Ia tidak mengikuti Sheila hingga masuk ke ruangan Za. Ravi hanya berdiri di balik pintu dan mempertajam pendengarannya. Di ruang rawat Za. “Ravi? Ternyata benar kamu di sini,” ucap Sheila ketika memasuki ruang rawat inap Za. “Mama? Ngapain Mama di sini? Kok tahu aku di sini?” Gio sudah mulai terbiasa memanggil Sheila dengan sebutan Mama. “Kamu tuh ya, udah pergi dari rumah nggak pamit Mama, malah tahu-tahu di rumah sakit. Sebenarnya ada apa sih sama kalian?” Sheila mencecar Gio dan Za dengan keingintahuannya. “Sekarang Mama bilang dulu deh, gimana caranya Mama tahu kalau aku ada di sini. Baru setelah itu aku ceritain kejadian yang kami alami,” Gio berkata dengan nada sabar. “Mama dapat kiriman foto dari nomor asing,” Sheila menggulir ponselnya dan menyodorkan benda pipih itu pada Gio. Gio pun menerimanya dan mulai mengamati. Foto yang dikirim adalah momen ketika sosok Ravi sedang ikut mendorong brankar Za. Seketika Gio berpikir. ‘Pelaku penculikan ada di rumah sakit ini juga. Atau mungkin dia orang yang dekat sama gue, Ravi, ataupun Za,’ batin Gio. “Aku selidiki nomornya ya, Ma. Bisa jadi pemilik nomor ini adalah pelaku yang coba nyelakain Za dan aku,” ucap Gio pada Sheila. “Duh, kamu tuh terlibat apaan sih kok sampai kayak gini, Rav? Salah pergaulan ya kamu?” tuding Sheila pada anak laki-lakinya itu. Gio hanya bisa menghela napas. Ia tidak tahu bagaimana hubungan Ravi dan Mamanya sebelumnya. Sepertinya ibu dan anak itu tidak terlalu dekat, sama dengan Gio dan kedua orang tuanya. Gio menyalin nomor telepon pengirim foto pada Ravi. [Suruh Alex menyelidiki nomor ini. Nyokap lo ke rumah sakit karena dikirimi foto gue. ~ Gio]. [Picture sent. ~Gio]. [Sepertinya pelaku penculikan adalah orang yang kenal dekat sama kita. ~Gio]. Gio mengirimkan pesan pada Ravi beserta foto yang dikirim ke Sheila. Kuat dugaannya bahwa pelaku adalah orang yang dekat dengan Ravi dan Gio, dan sengaja mengadu domba mereka berdua. Di luar ruangan, Ravi membaca pesan yang baru saja dikirim Gio. Gio tidak tahu jika Ravi berada di luar ruang rawat Za. Selesai membaca pesan dari Gio, Ravi segera menghubungi Alex, menanyakan progres interogasi antek penculikan, dan juga hendak memberikan tugas baru. Entah mengapa Ravi sekarang lebih nyaman bekerja sama dengan Alex dibandingkan dengan Jeff. Setelah insiden di apartemen Ravi itu, dia tidak lagi memiliki simpati pada Jeff. === “Kamu nggak apa-apa, Za?” tanya Sheila yang masih berada di ruang rawat inap. Sheila tidak tahu jika Za dihamili oleh Ravi. Yang ia tahu, Za masuk rumah sakit. “Saya nggak apa-apa kok, Tan. Ini sudah mendingan,” dusta Za tidak ingin kegugurannya diketahui oleh orang lain. “Sekarang cerita sama Mama ada apa sebenarnya?” cecar Sheila pada Gio yang ia anggap Ravi. “Mama nggak usah tahu lah ya, nanti malah kepikiran macam-macam. Yang penting Mama doain aja biar aku selalu terlindungi dari hal-hal buruk,” bujuk Gio. Ia tidak ingin ibunda Ravi itu stress memikirkan teror dan segala macam hal yang pelaku lakukan padanya dan Ravi. “Nggak bisa gitu dong! Gimana Mama mau tenang kalau ternyata kamu sampai masuk rumah sakit. Dan perlu diingat! Kamu baru lolos dari kecelakaan maut,” Sheila teguh pada pendiriannya, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anak laki-lakinya itu. “Oke, aku bakal jelasin secara garis besar. Jadi, kecelakanku dan Gio sepertinya adalah sabotase seseorang. Dan seseorang itu menerorku. Mungkin juga dia orang yang sama dengan pelaku penculikan Za. Pelaku menculik Za sebagai umpan agar aku datang. Sewaktu aku datang ke lokasi penculikan, aku disodorkan berkas untuk aku tanda tangani. Intinya adalah pengalihan kekayaan yang aku miliki,” terang Gio pada akhirnya. Sheila membekap mulutnya. Tidak menyangka bahwa masalah yang dihadapi anaknya adalah suatu hal yang rumit dan mengerikan. “Kenapa kamu nggak minta tolong ke Papa? Kenapa selama ini kamu cuma diam aja, Rav?” tanya Sheila tak habis pikir. “Yang diincar aku, Ma. Biar aku selesaikan sendiri. Oiya, satu hal lagi. Pelaku ingin mengadu domba aku dan Gio,” imbuh Gio. “Kok kamu tahu? Jangan-jangan memang Gio dalang di balik semua ini?” tuduh Sheila seenaknya. “Kenapa Mama selalu berburuk sangka pada Gio sih, Ma? Tahu nggak, dia ikut nolongin aku dan Za. Dia mengerahkan anak buahnya buat meringkus para penculik. Jadi tolong jangan tuduh dia tanpa bukti, Ma. Dia juga korban kecelakaan sama sepertiku,” Gio mencoba membuka pikiran Sheila agar tidak membencinya. Lagi, Sheila hanya bisa menghela napas. “Entah kenapa, sejak Papamu bersaing dengan Papanya Gio, yang ada di pikiran kami hanyalah prasangka buruk pada keluarga mereka. Mama tidak tahu awal mula permusuhan Papamu dan Papanya Gio. Yang jelas, mereka berdua seperti ada dendam yang mendarah daging,” jujur Sheila. “Ditambah lagi Mama yang selalu bersaing dengan Mamanya Gio. Iya kan?” goda Gio yang direspon dengan senyuman kecut Sheila. “Ayolah, Ma. Buka mata hati Mama. Jangan-jangan dari jaman dulu ada seseorang yang sengaja mengadu domba Papa dan Papany Gio, hingga sampai pada aku dan Gio sekarang ini,” tambah Gio. “Ya ya ya, baiklah. Mama akan lebih bijak dalam menghadapi rumor tentang Gio, Rachel, dan juga Pradipta. Mungkin memang ada musuh nyata yang bersembunyi dibalik permusuhan keluarga kita selama ini,” ucap Sheila bijak. Pada akhirnya ia mau membuka pikiran dan hatinya untuk tidak membenci keluarga Gio. Za sedari tadi hanya diam mendengarkan obrolan Ibu dan anak di dekatnya itu. Fokusnya teralih pada kaca kecil di pintu masuk ruangannya. Ia merasa ada seseorang yang mencuri dengar pembicaraan di kamarnya. “Siapa di situ?!” ucap Za setengah berteriak. Sontak hal itu membuat Gio mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN