“Kondisi pasien …” perkataan dokter terjeda karena di dalam ruangan, Za mengeluh kesakitan.
Dokter pun segera masuk ke ruang perawatan tempat Za berada. Perut Za terasa kram. Mengetahui keluhan itu, dokter dan paramedis yang lain segera mengecek kondisi pasiennya itu. Za ketakutan, mengira janinnya tak bisa diselamatkan. Walau bagaimanapun juga, Za ingin menjaga calon bayinya.
Selesai memeriksa, dokter menjelaskan apa yang terjadi.
“Kondisi janin yang ada dalam kandungan pasien sangat lemah. Zakhia butuh obat-obatan untuk menguatkan kandungannya. Dan kesehatan mentalnya harus dijaga, selain juga kesehatan fisik,” terang sang dokter.
“Tapi bayinya baik-baik saja kan, Dok?” tanya Gio memastikan.
“Untuk saat ini janin masih aman. Namun kita semua harus berhati-hati dan bersiap dengan segala kondisi,” mendengarnya membuat Za lemas seketika. Setelah itu sang dokter meninggalkan ruang perawatan Za.
Saat ini Gio merasa bingung harus berbuat apa. Calon bayi itu bukan anaknya, namun tubuh yang Gio tempati sekarang adalah ayah dari janin itu. Bagaimana cara Gio memberikan semangat dan menenangkan Za? Sementara mereka tidak kenal dekat.
“Za, gue bakal jagain lo dan janin ini,’ ucap Gio pada akhirnya setelah memilih kalimat yang tepat dari pikirannya.
“Lo ngakuin kalau ini anak lo, Rav?” tanya Za pada Gio. Gio hanya bisa mengangguk, mengakui perbuatan Ravi.
“Lo pasti bingung dengan sikap gue setelah kecelakaan. Kalaupun gue jelasin, lo juga pasti nggak akan percaya. Tapi satu yang pasti, gue mau berubah jadi orang yang lebih baik. Salah satunya adalah menjaga lo dan bayi itu,” tutur Gio.
‘Kok kata-katanya mirip Gio pas bilang mau jadi orang yang lebih baik?’ batin Za bertanya.
“Yang harus lo lakuin sekarang adalah jaga kesehatan, jaga mood lo, dan lo harus bahagia,” ucap Gio lagi. Za tersenyum mendengarnya. Ia yang sedang berbaring lalu duduk dan merapatkan tubuhnya pada Gio. Memeluk lelaki yang ia kira adalah seseorang yang ia sayangi.
“Gue kangen lo, Rav. Gue kangen kebersamaan kita sebelum lo kecelakaan. Sejak itu lo berubah. Lo bahkan tidur sama cewek lain, dan lo pergi saat gue kasih tahu perihal kehamilan gue,” adu Za pada Gio.
“Maafin atas kelakuan buruk gue itu. Gue juga nggak tahu kenapa gue bertindak kayak gitu. Gue nggak bermaksud nyakitin hati lo,” ucapan Gio sangat manis seakan ia memang menyayangi Za.
“Tapi anehnya, walaupun lo kayak gitu, gue nggak bisa benci lo. Katakanlah gue bodoh, tapi gue nggak mau bohongin perasaan gue. Mungkin ini juga efek dari kehamilan gue. Jadi lebih sensitif, melow, dan manja,” Za mengakhiri kalimatnya dengan menggelayut manja di pelukan Gio.
“Lo sekarang ngidam sesuatu nggak? Kalau ada, gue beliin. Gue mau belajar jadi ayah yang baik,” Gio menawarkan diri untuk membelikan sesuatu yang Za inginkan.
“Belum pengin apa-apa sih. Besok-besok aja kalau pengin sesuatu gue bilang ke lo,” Gio mengacak lembut rambut Za.
Ravi melihat dari jendela kamar kemesraan Gio dan Za. Ia tidak tahu apakah Gio memainkan perannya sebagai Ravi atau murni sebagai Gio sendiri walau jiwanya berada di tubuh Ravi.
Tok tok tok.
Ravi memutuskan untuk masuk ke ruang rawat Za, mengganggu kemesraan yang membuatnya cemburu.
“Gio, lo di sini?” tanya Za yang mendapati Ravi membuka pintu.
“Dia ikut nyelamatin lo, Za. Gio pula yang meringkus penculik-penculik itu,” terang Gio terdengar seperti menyombongkan namanya sendiri.
“Thanks, Gio. Thanks juga Rav. Sejujurnya gue nggak tahu motif penjahat itu nyulik gue,” Za bertanya pada kedua lelaki di depannya.
“Para penculik itu berusaha mengadu domba kita, Gio. Karena mereka bilang kalau bos mereka adalah Gio. Lo yang nyuruh mereka nyulik Za, dan nyuruh gue buat tanda tangan berkas,” kata Gio dalam tubuh Ravi.
“Apa lo lihat atau tahu siapa yang nyekap lo, Za?” tanya Ravi membuka suara sebagai Gio. Za menggeleng lemah.
“Gue diikat dan mata gue ditutup. Beruntung janin gue masih aman, karena gue sempet dibanting ama penculik itu,” adu Za. Ia tidak menceritakan bahwa ia dicium dengan kasar oleh penculik itu. Za merasa itu sebuah hal yang tak perlu diumbar. Dan begitulah biasanya para korban pelecehan menghadapi kasus yang menjadikannya korban.
“Apa?! Lo dibanting? Kurang ajar mereka!” Ravi tersulut emosi. Hal itu membuat Za heran.
“Seperhatian itu lo sama gue, Gio. Gue jadi tersentuh,” goda Za pada Ravi. Perempuan itu berusaha untuk baik-baik saja setelah diculik. Nyatanya tanpa diketahui Ravi dan Gio, Za masih merasakan sakit di perutnya.
“Sekarang mumpung ada kalian berdua, gue mau tanya beberapa hal,” Za menegakkan badannya, tidak lagi memeluk Gio.
“Yang pertama, kenapa kalian sekarang bisa seakrab ini? Bahkan kalian bekerja sama nyelamatin gue,” Za memulai pertanyaannya.
“Nggak ada salahnya kan berbuat baik. Toh gue juga nggak rugi apa-apa,” jawab Ravi dalam tubuh Gio.
“Hmm ... jawaban bisa diterima. Sekarang pertanyaan kedua, apa maksud kalian bikin gue jadi hadiah taruhan balap kalian?” kali ini Za menanyai dengan nada agak ketus dan marah.
“Gue hanya kemakan ego dan gengsi gue, Za. Sejujurnya gue nggak rela lo sama cowok lain,” jawab Gio dalam tubuh Ravi.
“Terus pembelaan dari lo apa, Gio?” Za menoleh ke arah Gio meminta penjelasan.
“Gue muak sama gaya Ravi yang sok-sok an. Maka dari itu gue bertekad buat ngalahin dia. Tapi sekarang gue sadar kalau gue salah jadiin lo bahan taruhan. Dan pernah gue bilang sebelumnya kan, gue harap lo lupain masalah taruhan balap itu,” terang Ravi dalam tubuh Gio.
“Jadi sekarang kalian nggak musuhan?” tanya Za lagi. Kedua lelaki di dekatnya itu kompak menggeleng.
Ketika menggeleng, pandangan Ravi mendapati keberadaan Kakek Dan di luar ruangan. Ia lalu mengkode Gio untuk mengikuti arah pandangnya. Gio pun menoleh ke arah di mana mata Ravi mengisyaratkan.
“Kakek Dan,” lirih Gio. Za mendengarnya.
“Siapa, Rav?” tanya Za.
“Ah, nggak kok. Bukan siapa-siapa,” dusta Gio.
Keberadaan Kakek Dan adalah hal biasa bagi Ravi dan Gio. Tapi tidak dengan Za. Za tidak bisa melihat Kakek Dan, karena lelaki itu bukan manusia. Akan aneh rasanya jika Gio ataupun Ravi berbicara dengan Kakek Dan, sementara ada Za di sana.
“Gue keluar dulu ya mau angkat telepon,” Ravi pura-pura mengangkat teleponnya lalu keluar dari ruangan. Tujuannya adalah menghampiri Kakek Dan.
Kakek Dan berdiri dengan memberikan senyum tipis pada Ravi. Namun ia tidak sendiri. Di sampingnya ada lelaki berpakaian serba hitam. Kontras dengan pakaian yang dipakai Kakek Dan sekarang, yaitu warna putih.
“Kakek ngapain di sini? Dan dia siapa, Kek?” tanya Ravi pada Kakek Dan.
“Dia ... Malaikat Maut,” kata Kakek Dan sendu.
“Malaikat Maut? Kenapa dia ada di sini?” detak jantung Ravi berdetak lebih cepat.
“Kamu tenang dulu, Rav. Kakek bisa jelaskan,” ucap Kakek Dan.
“Jangan bilang di antara kami ada yang akan dijemput,” Ravi mundur selangkah karena takut.
Belum sempat Kakek Dan melanjutkan ucapannya, beberapa paramedis melintasi mereka. Ravi mengamati kemana paramedis itu melangkah cepat. Dan ternyata ruangan yang dituju adalah tempat di mana Za dirawat. Ravi segera berlari meninggalkan Kakek Dan dan malaikat maut.
“Za kenapa, Gio?” tanya Ravi ketika sampai di ruangan. Ada Gio yang masih menunggui Za di sana.
“Za tak sadarkan diri setelah mengeluh perutnya sakit,” Gio menjelaskan.
“Gue langsung pencet bel. Dan sekarang seperti yang lo liat sendiri,” wajah Ravi berubah menjadi pucat pasi.
Za mengalami perdarahan. Janin yang dikandungnya tidak bisa diselamatkan. Itulah fakta yang harus diketahui oleh Ravi.
Ravi lalu beranjak keluar dari ruangan.
“Lo mau kemana, Rav? Lo harusnya di sini nungguin Za,” ucap Gio lirih, menahan Ravi yang hendak pergi.
“Ada Malaikat Maut di dekat Kakek Dan. Pasti dia penyebab semua ini,” tuduh Ravi dengan emosi. Ia pun keluar meninggalkan Gio.
Sesampainya di tempat di mana tadi ia berbicara dengan Kakek Dan, nampak malaikat maut membawa sesuatu yang dibungkus kain putih kecil.
“Lo mau bawa pergi ke mana anak gue?” tanya Ravi pada Malaikat Maut.
“Tempatnya bukan di sini. Aku akan membawanya ke tempat yang lebih baik,” ucap Malaikat Maut dengan nada bicara datar.
“Balikin ke gue, please. Kasihan Za kalau tahu janinnya udah nggak ada,” pinta Ravi memelas.
“Takdirnya memang seperti ini. Kamu bisa anggap ini sebagai tabunganmu di akhirat. Atau mungkin ini hukumanmu atas perbuatanmu yang tidak baik,” ucap Malaikat Maut telak. Ia pun perlahan menghilang bersama Kakek Dan di sampingnya. Ravi yang berada di sana hanya bisa menatap nanar kepergian dua makhluk non manusia itu.
Ravi kembali ke ruangan Za. Perempuan itu masih terlelap karena obat. Di sampingnya ada Gio yang masih setia menunggu.
“Lo dari mana sih, Rav?” tanya Gio sedikit emosi. Pasalnya Gio mengira Ravi lari dari Za. Padahal ia sedang memohon agar malaikat maut tidak membawa janin Za.
“Calon anak gue udah pergi, Gio. Malaikat Maut udah mbawa dia,” ucap Ravi sedih. Sungguh ia merasa amat bersalah pada Za. Za diculik sebagai umpan untuk memancing kedatangan Ravi.
“Lo yang tabah, Rav. Gue turut berduka atas kehilangan lo,” ucap Gio penuh empati.
“Gue harus tangkap pelaku penculikan itu. Gue bakal bunuh dia!” mata Ravi memerah karena emosi.