Za pulang dari apartemen Gio -yang ditempati oleh Ravi- dengan menyetir mobilnya sendiri. Ia tidak sadar jika ada mobil yang mengikutinya sedari tadi. Hingga di sebuah jalanan yang sepi, mobil Za dihadang oleh mobil penguntit.
“Duh, siapa sih ini? Mau apaan. Kok gue takut,” lirih Za ketakutan di dalam mobilnya.
Muncullah pria bertopi dan bermasker hitam yang membawa senjata api. Pria itu mengetuk kaca mobil Za dengan pistol tersebut.
Tok tok tok.
Sang pria mengkode Za untuk membuka pintu mobil dan keluar dari mobilnya.
Za hanya mampu menuruti perintah sang pria bermasker yang tidak ia ketahui siapa.
Perempuan itu membuka pintu mobil dan turun. Tanpa disangka, ia langsung dibekap menggunakan chlorofoam, sejenis obat bius yang bereaksi lewat indera penciuman.
Za dibawa ke sebuah rumah kosong dengan tangan terikat dan mata yang ditutup. Setelah sampai di lokasi penyanderaan, si pria bermasker lalu mengirimkan foto Za kepada Ravi.
“Gue di mana nih? Kok gelap banget? Mata gue ditutup! Argh! Tolong ... tolongin gue! Lepasin gue!” Za berteriak-teriak saat telah sadar dari pingsannya.
Teriakannya tidak membuahkan hasil, karena di tempat itu hanya ada dia dan para pelaku penculikan yang mustahil akan menolongnya.
Terdengar suara langkah kaki mendekati Za. Za hanya bisa mengharap ia tidak disakiti. Za tidak tahu harus melangkah kemana, karena pandangannya tertutup kain hitam. Ia mundur sedikit demi sedikit, namun baru beberapa langkah, di belakangnya sudah ada dinding menghalangi. Za sudah terpojok, sementara langkah kaki terdengar lebih keras. Pertanda seseorang dekat dengannya. Tanpa kata si penculik mengelus pipi Za. Bukan kesan romantis yang didapat Za, namun kesan mengerikan dan mencekam. Seakan-akan Za diculik dan siap dibunuh oleh seorang psikopat.
“Katakan apa mau lo?” Za memberanikan diri bertanya entah pada siapa yang berada di depannya itu. Masih hening, tak ada suara.
“Lepasin gue, please. Gue mohon jangan sakiti gue,” mohon Za yang masih dielus pipinya.
Dari permukaan tangan yang mengelusnya, Za menduga bahwa si penculik adalah seorang laki-laki. Dalam hati Za masih mengira-ngira siapa yang tega melakukan hal itu padanya. Selama ini ia merasa tidak mempunyai musuh.
“Lo siapa? Gue punya salah apa sama lo? Kenapa gue diculik kayak gini?” Za masih gencar menanyai si penculik.
“Jawab gue! Breng … Hmmpphhtt,” makian Za terputus oleh bungkaman liar si penculik. Ya, si penculik mencium Za dengan kasar. Menutup mulut perempuan itu agar diam. Sementara Za menangis pasrah meskipun si penculik masih memonopoli bibirnya. Za merasa dilecehkan, direndahkan.
“Bos,” terdengar suara seorang lelaki yang menginterupsi kegiatan si bos penculik.
Lelaki yang dipanggil bos itu lalu menghempaskan Za ke samping, yang ternyata terdapat meja. Perut Za terantuk meja. Za merasakan sakit di area bawah perutnya.
“Ravi sudah datang,” Komplotan penculik memberikan informasi pada si bos.
Tanpa kata, si bos melenggang pergi meninggalkan Za yang masih menangis sesenggukan. Terdengar suara pintu dikunci, yang berarti Za ditinggalkan sendiri di ruangan itu. Setelahnya hanya ada hening.
‘Ravi ada di sini? Dia mau nyelamatin gue? Atau dia juga ditangkap sama penculik itu?’ batin Za bertanya.
Flasback On
Ravi dan Gio yang baru terbangun dari tidurnya sontak langsung berpikir keras menyusun cara menyelamatkan Za tanpa melukai mereka berdua.
“Lo biasanya kasih perintah ke Jeff? Sekarang minta dia kumpulin bodyguard-bodyguard buat nyelametin Za,” usul Gio pada Ravi.
“Jangan nyuruh Jeff deh. Gue lagi eneg sama dia. Dia juga barusan gue tonjok gara-gara mulutnya julid ngejekin Za yang ketahuan hamil,” jujur Ravi.
“Hah? Kok Jeff bisa tahu?” Gio penasaran.
“Ah udah deh, ceritanya kapan-kapan aja. Sekarang fokus buat lepasin Za aja dulu,” Gio mengangguk menyetujuinya.
“Gue punya orang kepercayaan. Namanya Alex. Sekarang lo telepon pake suara lo, ntar gue kode harus ngomong apa,” usul Gio kemudian. Ravi pun menelepon Alex menggunakan ponsel Gio.
Alex menyanggupi permintaan Ravi dan Gio untuk turut serta menyelamatkan Za. Mereka lalu menyusun rencana bertiga. Sejujurnya Alex agak heran karena ada Ravi yang notabene adalah saingan dan musuh Gio. Tapi melihat keduanya terlihat akrab, Alex tak mau ambil pusing. Yang terpenting adalah ia menjalankan tugas yang diberikan, dan mendapatkan upah yang tinggi dari Gio.
Flashback Off.
Di ruangan yang berbeda dengan tempat Za berada, Ravi -yang di dalamnya bersemayam jiwa Gio- sedang dikelilingi oleh para penculik.
‘Awas aja si Ravi kalau nggak datang bawa bala bantuan,’ batin Gio yang sedang pasrah dipegangi oleh dua orang penculik di samping kanan kirinya. Seluruh komplotan penculik yang ada di sana memakai masker, sehingga wajahnya tidak dapat dikenali. Sementara si bos penculik tidak menampakkan batang hidungnya di hadapan orang yang ia sangka adalah Ravi. Si bos mengamati lewat kamera dari sebuah ruangan.
“Tanda tangani berkas-berkas ini,” perintah salah seorang penculik dalam mode suara disamarkan.
Gio membuka berkas yang dilemparkan oleh si penculik. Ia membaca dokumen itu.
‘Ternyata semua karena uang. Penculik ini ingin ambil alih kuasa yang dimiliki Ravi selaku pewaris tunggal kekayaan orang tuanya,’ dalam hati Gio mengambil kesimpulan.
“Klasik sekali. Kalian ingin menguasai harta gue, tapi ujung-ujungnya gue bakal dibunuh juga kan? Kalau gitu gue nggak mau tanda tangan,” ucap Gio dengan berani.
“Bukan hanya lo yang akan mati, tapi Za juga. Lo nggak mau kan perempuan yang lo sayang mati sia-sia?” ancam si penculik.
“Siapa lo? Siapa dalang di balik semua ini? Gue bisa kasih lo semua upah yang jauh lebih tinggi dari bos lo,” ucap Gio sombong.
“Lo punya banyak musuh, Rav. Salah satunya Gio. Dia yang kasih perintah buat culik Za dan mancing lo ke sini,” terang si penculik yang menyebut Gio sebagai bosnya.
‘Breng**k orang-orang ini! Gue dijadiin kambing hitam. Sepertinya ada yang mau adu domba gue sama Ravi,’ batin Gio. Ia jelas mengetahui bahwa yang dikatakan penculik itu adalah bohong belaka. Karena Gio lah yang sekarang ada di hadapan mereka.
“Lekas tanda tangani berkas ini!” kali ini si penculik menodongkan pistol di pelipis Gio. Gio pastilah takut mati. Namun ia berusaha untuk tetap tenang.
‘Rav! Kapan lo datang?’ batin Gio mulai ragu akan keselamatan dirinya sendiri.
Sesaat kemudian terdengar suara pintu didobrak. Ravi, Alex, dan teman-temannya datang tepat waktu. Duel pun tak terelakkan. Wajah Gio terekam dalam kamera yang diintai oleh si bos.
“Gio?” gumam si bos.
“Ternyata sekarang kalian satu kubu?” si bos masih bergumam sendiri, belum beranjak dari posisinya sekarang. Ia hanya mengamati duel antara anak buahnya dan anak buah Gio. Si bos lalu memutuskan untuk melarikan diri tanpa peduli dengan nasib komplotannya.
‘Mereka nggak boleh tahu kalau gue di sini,’ batin si bos lalu menyalakan mesin motor trail dan mengemudikannya.
“Gio, lo cari Za. Lo yang Za butuhin sekarang. Gue urus mereka yang di sini,” titah Ravi pada Gio. Mereka berdua masih harus menjalankan peran terbalik dari jiwa mereka. Gio lalu menjelajah seisi rumah mencari keberadaan Za.
“Za! Lo di mana? Za!” Gio berteriak memanggil nama Za.
“Ravi! Lo di mana? Gue nggak bisa lihat, Rav! Tolongin gue,” Za balas berteriak.
Gio menemukan sumber suara. Ia lalu mendobrak pintu yang menghalangi keberadaan Za. Pemandangan pertama yang Gio lihat pertama kali saat pintu berhasil dibuka adalah kondisi Za yang terikat dan ditutup matanya. Sudut bibirnya pun berdarah. Hal itu karena si bos menggigit bibir Za sebelum melepaskan ciumannya tadi.
“Za, lo nggak apa-apa? Gue buka dulu ikatan lo,” ucap Gio. Senakal-nakalnya Gio, ia tidak tega jika melihat perempuan disakiti fisiknya.
Setelah ikatan Za dibuka, perempuan itu langsung memeluk Gio erat.
“Gue takut, Rav. Gue takut,” lirih Za disertai isakan tangis. Gio balas memeluknya. Biarlah Za mengira Gio adalah Ravi. Yang terpenting kini, mereka harus selamat dari para penculik itu.
“Ada gue, Za. Sekarang, lo bisa lari kan?” tanya Gio.
“Perut gue sakit, Rav. Tapi gue bisa jalan kok,” ungkap Za.
“Ya udah lo gue gendong aja,” Gio lalu menggendong Za ala bridal style. Ia melarikan Za menuju tempat yang lebih aman.
Sekelebat, Ravi melihat Gio menggendong Za dengan mesra. Hati Ravi memanas. Namun kondisinya memang harus seperti itu. Gio yang mengurus Za, sementara Ravi meringkus para penculik dan menyerahkannya pada polisi.
“Lo tunggu di dalam mobil dulu ya. Gue bantuin Rav ... maksud gue mau bantuin Gio,” Gio meralat pengucapan nama Ravi. Za yang mendengarnya hanya mengangguk walau sempat mengernyit heran.
Gio pun berlari ke dalam rumah penculikan guna membantu Ravi dan yang lain meringkus para penculik.
“Lo ngapain di sini? Mana Za? Lo harus bawa dia ke rumah sakit. Takut dia kenapa-napa,” nasehat Ravi ketika mendapati Gio menyusulnya.
“Lo sendiri nggak apa-apa? Lo kalau butuh apa-apa bilang ke Alex aja. Dia bisa diandalkan. Gue pergi dulu,” ucap Gio lalu berlalu menuju mobil tempat Za berada.
Gio menuju ke mobil. Alangkah terkejutnya dia mendapati Za tidak sadarkan diri.
“Za, lo kenapa? Za! Bangun, Za!” Gio mengguncang tubuh Za yang hanya diam tak bergerak.
Segera Gio menuju kursi kemudi lalu menginjak pedal gas. Tujuan utamanya adalah rumah sakit.
Pertarungan di rumah penculikan berlangsung sengit. Beberapa komplotan penculik berhasil diringkus, namun ada juga beberapa yang berhasil lolos, termasuk si bos yang sudah paling awal melarikan diri.
“Tolong lo interogasi mereka sebelum nyerahin mereka ke polisi. Gue perlu beberapa info dari mereka,” perintah Ravi pada Alex.
“Oke. Leave it to me,” jawab Alex menyanggupi.
“Gue nyusul Ravi dulu ke rumah sakit. Thanks, Bro. gue hutang budi sama lo,” ucap Ravi tulus. Alex yang mendengarnya terheran-heran. Karena tidak biasanya seorang Gio mengucapkan terima kasih dan minta tolong. Biasanya Gio hanya akan memerintah dengan lagak bosnya.
Di sebuah rumah sakit, Gio menunggu Za yang sedang diperiksa oleh dokter.
“Dengan keluarga pasien Zakhia?” tanya seorang perawat pada Gio.
“Iya saya keluarganya, Dok. Bagaimana kondisi Za?” tanya Gio khawatir.
“Kondisi pasien …” perkataan dokter terjeda karena di dalam ruangan, Za mengeluh kesakitan.