10. Tak Bisa Berjauhan

1562 Kata
“Lo hamil, Za?” tanya Jeff yang mendapati print out hasil USG milik Za. Za segera merebut kertas itu. Rahasianya terbongkar di depan orang-orang yang tak seharusnya tahu. “Nggak usah sok tahu,” ucap Za ketus. “Wah, anak Ravi atau Gio nih?” Jeff malah makin gencar mengejek. “Jaga omongan lo, Jeff!” tuding Za dengan penuh amarah. “Hahaha ... Za, Za. Mending lo buruan nikah aja deh keburu perut lo buncit,” Jeff benar-benar tidak punya empati. Bugh! Tanpa aba-aba, Ravi meninju wajah Jeff. Ia tidak tahan mendengar ucapan Jeff yang sangat keterlaluan. “Apa-apaan lo nonjok gue, Gio?!” teriak Jeff marah. “Jaga omongan lo. Lo nggak berhak menghakimi Za kayak gitu!” ucap Ravi dengan amarah. “Itu bukan anak lo kan, Gio? Lo marah? Lo merasa ditipu karena ternyata Za udah hamil duluan, jadinya nggak bisa lo jadiin hadiah taruhan balap?” Ucapan Jeff kian menyulut emosi. Satu hal yang kini baru Ravi ketahui adalah Jeff yang suka memojokkan orang lain dengan perkataannya. “Bukan urusan lo kan, Jeff. Kenapa mulut lo kayak nenek-nenek julid?” Ravi mengatai Jeff. “Ah sialan lo! Udah gue mau balik aja. Nih nitip kunci mobil Ravi,” Jeff melempar kunci mobil pada Gio. Ia lalu melangkah pergi sembari mengusap wajahnya yang baru saja kena tinjuan Ravi. “Bye bumil,” Jeff masih sempat mengejek Za. Za masih mematung dengan wajah memerah karena menahan amarah. “Lo nggak apa-apa, Za?" Pertanyaan itu direspon dengan gelengan. "Mau ke unit gue? Gue bikinin coklat hangat kesukaan lo,” Ravi menawari Za. Namun ia keceplosan menyebut minuman kesukaan Za. “Hah? Kok lo tahu gue suka coklat hangat?” Za terkejut. “Ngg ... itu ... gue nebak aja sih. Minuman coklat hangat cocok diminum saat mood kita lagi nggak baik. Jadi kayaknya enak minum coklat hangat buat memperbaiki suasana hati,” Ravi memberikan alasan. “Thanks, Gio. Lo udah berusaha hibur gue. Thanks juga udah nonjok Jeff,” ucap Za diselingi sedikit tawa. “Gue yang denger aja marah. Apalagi lo, Za." tutur Ravi. "Ya udah ayo turun ke unit gue,” ajak Ravi kemudian. Mereka pun menuju unit di mana Ravi tinggal. “Za, apa yang lo butuhin buat kehamilan lo?” tanya Ravi ketika mereka tengah menikmati coklat hangat berdua. “Gue nggak butuh apa-apa. Gue cuma butuh pengakuan dari Ravi, bukan malah menghilang dan menghindar dari gue. Gue capek kalau harus mengemis pertanggungjawaban dari dia,” jujur Za. “Kalau lo mau, gue bisa bantuin lo jaga kehamilan lo, Za. Lo nggak boleh stress mikirin sikap Ravi ke lo. Lo cukup jaga kesehatan aja,” nasehat Ravi pada Za. “Kita belum pernah sedekat ini, Gio. Tapi anehnya gue merasa lo udah kenal gue dari lama. Apa gue yang ke-GR-an?” tutur Za sedikit malu. “Gue emang pengin kenal lo lebih dekat. Bukan karena taruhan balapan itu. Tapi murni gue pengin dekat sama lo. Mulai saat ini, jangan pernah buruk sangka sama gue. Gue nggak ada niat buat ngajak lo tidur bareng. Lupakan taruhan balapan itu. Oke?” ucap Ravi menghalau keraguan Za. “Gue bisa percaya lo nggak, Gio?” masih ada keraguan di hati Za. “Lo boleh percaya atau tidak. Yang pasti gue bakal buktiin kalau gue bisa jadi lebih baik,” jawab Ravi bijak. “Lo nggak malu deket-deket sama cewek hamil di luar nikah?” tanya Za yang merasa rendah diri. “Ngapain harus malu? Jangan pernah merasa insecure sama diri lo, Za. Lo harus hadapi hidup dengan percaya diri,” Obrolan pun berlanjut, membuat Za merasa nyaman dan tidak sendiri. Latar belakang Za yang merupakan anak dari keluarga broken home membuat Za haus akan kasih sayang. Saat ada seseorang yang memberinya perhatian, Za akan merasa bahagia. Kesalahan Za adalah terjerumus dalam pergaulan bebas, walaupun ia hanya melakukan hubungan badan dengan Ravi seorang. Kini Ravi sedang berusaha melindungi Za dan calon anaknya, walau ia berada dalam raga Gio. Ravi benar-benar menahan diri untuk tidak berkontak fisik dengan Za. Tidak seperti dulu sebelum Ravi kecelakaan. Ravi merasa amat bersalah telah menodai Za hingga hamil. Asyik mengobrol, Ravi merasakan badannya mulai aneh. Rasa seperti melayang dan tak bertenaga menggerogoti tubuhnya. ‘Badan gue kenapa ya? Berasa kayak masuk angin, tapi ini lebih-lebih rasanya. Kalau cuma masuk angin biasa, nggak sesakit ini. Tenaga gue juga habis,’ Ravi bertanya dalam hati. “Lo kenapa, Gio? Kok muka lo pucat gitu?” tanya Za khawatir. “Gue juga nggak tahu, Za. Tiba-tiba badan gue nggak enak,” jujur Ravi. “Lo mau gue beliin obat atau apa gitu?” tawar Za. “Nggak usah. Dipake tidur paling juga sembuh,” ucap Ravi. “Gue pulang aja? Biar lo tidur?” Za hendak pamit pulang dari apartemen Gio tersebut. “Kok jadi kesannya gue ngusir lo?” ucap Ravi tak enak hati. “Santai aja kali. Gue juga udah lama di sini. Gue juga pengin rebahan di kasur gue,” terang Za. “Gue anterin sampai parkiran deh. Lo bawa mobil kan? Atau gue anterin sampai apartemen lo?” Ravi benar-benar sungkan. Tapi badannya tidak bisa diajak kompromi. “Udah, nggak perlu. Gue bisa sendiri kok. Ya udah gue pamit ya,” Za pun pamit dan menuju pintu keluar. “Hati-hati di jalan ya, Za. Sorry badan gue nggak bisa diajak kerja sama,” Ravi mengantar Za hingga ke pintu. Sepeninggal Za, Ravi langsung menuju kasur empuknya, merebahkan tubuh di sana. Baru akan menutup mata, terdengar seseorang menekan passcode pintunya. Ravi langsung waspada. Ia mengira ada seseorang yang berniat tidak baik di apartemennya. “Rav! Lo di mana?” suara seorang lelaki memanggil nama Ravi, bukan Gio. “Gio? Ngapain lo di sini?” ternyata orang tersebut adalah Gio. Kondisinya tidak berbeda jauh dengan Ravi. Muka pucat dan tidak bertenaga. “Hah! Syukurlah lo di sini. Gue butuh recharge. Ah sial banget hidup gue. Harus deketan terus sama lo,” Gio mulai mengoceh sambil merebahkan tubuhnya di sofa apartemen. Tak berselang lama, Ravi merasa badannya lebih sehat. Begitu pula dengan Gio. “Gila! Mujarab bener ternyata. Gue langsung seger lagi. Padahal cuma seruangan ama lo,” Gio berkata sendiri. Membuat Ravi terheran-heran. “Lo sebenernya kenapa sih? Datang-datang langsung tiduran, ngomong nggak jelas pula. Random banget!” omel Ravi. “Badan lo sekarang lebih enakan nggak? Lo tadi pasti ngerasa sakit kan?” tebak Gio. “Kok lo tahu? Ih jijik gue kalau lo ternyata stalking gue,” Ravi bergidik. “Heh kampret! Gue sama lo tuh nggak bisa jauh-jauhan sekarang. Karena jiwa kita nggak berada di tempat yang seharusnya. Kita udah dua hari nggak ketemu, jadinya badan kita sakit. Kakek Dan yang bilang gitu,” terang Gio panjang lebar. “Astaga! Sumpah gue jadi jijik sendiri dengernya,” Ravi meringis. “Gue juga ogah deketan sama lo terus! Tapi kalau kita jauhan, bisa-bisa energi kita habis dengan sendirinya,” Gio memberi penjelasan. “Ya berarti lo harus tinggal di apartemen ini dong," tuntut Ravi. “Gue nggak bisa. Nyokap lo galak bener, Rav. Dia nggak mau gue berteman sama lo. Heran gue kenapa nyokap lo bisa benci banget sama gue dan keluarga gue,” keluh Gio pada Ravi. “Sorry kalau nyokap gue kayak gitu. Nyokap gue sama nyokap lo beda geng sosialita. Jadi mereka musuhan, saingan gitu lah. Bokap gue sama bokap lo sama-sama pebisnis mobil sport, jadi ya saingan juga. Gue sama lo juga musuhan kan sebelum kejadian ini?” Ravi mengungkapkan alasan kenapa ibunya membenci Gio. “Dan gue rasa tertukarnya jiwa kita ada hubungan sama persaingan keluarga kita, Rav. Semua hal yang terjadi sekarang bisa jadi punya makna tersendiri,” giliran Gio mengemukakan pemikirannya. “Jangan-jangan kita anak yang tertukar, Gio?” Ravi mulai berimajinasi. “Halu banget!” sungut Gio tidak terima. “Hahaha … ogah banget gue saudaraan sama lo,” Ravi pun tidak mau jika imajinasinya adalah sebuah kenyataan. “By the way, tadi Za ke sini. Nyariin orang yang namanya Ravi,” lanjut Ravi kemudian. “Ya udah, berarti nyariin lo kan? Ngapain harus laporan ke gue?” tanya Gio heran. “Heh! Sekarang lo ada di tubuh gue, tubuh Ravi kalau lo lupa. Jadi Za nyariin lo, bukan gue. Dan lo harusnya buruan temui Za biar dia nggak salah paham lagi,” pinta Ravi. “Ya ya ya, besok gue ke apartemen Za. Tapi apapun yang gue lakukan, itu murni dari gue sendiri. Nggak perlu lo dikte. Oke?” Gio meminta persetujuan. “Oke, gue setuju. Lo bisa bertindak sesuai keinginan lo sendiri. Tolong jaga Za, baik fisik juga perasaannya. Gue mohon itu,” pinta Ravi lagi. Gio mengangguk pertanda mengiyakan permintaan Ravi. Setelah itu tak terdengar obrolan lagi dari keduanya. Ravi dan Gio sibuk mengisi energi untuk tubuh mereka dengan terlelap. Dan memang benar, badan mereka menjadi lebih segar. Beep beep beep. Tiba-tiba terdengar notifikasi pesan masuk di ponsel Ravi yang saat ini dipegang oleh Gio. [Kalau mau nyawa Za selamat, lo harus ke sini. Tukar dengan nyawa lo. ~08xxx]. Pesan itu disertai foto Za dalam keadaan tak sadarkan diri. “Rav, Za dalam bahaya! Peneror itu mau lo datang buat nuker nyawa Za. Ah iya, gue lupa! Berarti harus gue yang ke sana nyerahin nyawa. Giman nih, Rav?” Gio bingung harus berbuat apa. Ravi yang baru membuka mata juga langsung memikirkan cara menyelamatkan Za tanpa melukai mereka bertiga. Za, Ravi, dan Gio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN