9. Perselisihan Keluarga

1753 Kata
“Kamu nggak usah dekat-dekat sama anaknya Pradipta, Rav. Nggak baik buat kamu. Nggak baik buat keluarga kita juga,” ucap Sheila pada Gio. “Memangnya kenapa, Ma?” Gio mulai membiasakan lidahnya memanggil Sheila dengan sebutan mama. “Haduh, kamu tuh udah pernah dikasih tahu kan. Abis kecelakaan jadi amnesia apa gimana?” tanya Sheila gemas pada anak laki-lakinya itu. “Ya udah ceritain aja aku harus gimana sama Gio?” Gio penasaran dengan sikap Sheila. Pasti ada suatu hal besar yang membuat Sheila sebenci itu pada Gio dan juga ayahnya. “Ayahnya Gio dan ayahmu sama-sama pengusaha mobil sport. Mereka bersaing dalam bisnis. Tapi Pradipta suka memakai cara kotor untuk melancarkan bisnisnya. Siapapun akan dia singkirkan jika menghalangi jalannya. Walaupun itu adalah keluarganya sendiri,” terang Sheila pada Gio. ‘Bokap gue kayak gitu? Masa sama keluarga jahat juga?’ batin Gio tidak percaya. Walaupun Gio tidak dekat dengan ayahnya, namun ia tak bisa begitu saja mempercayai omongan Sheila. “Mama tahu dari mana kalau ayahnya Gio orang jahat?” Gio mencoba mengorek informasi tentang ayahnya sendiri. “Kamu nggak perlu tahu, Rav. Yang penting kamu jaga jarak dari Gio. Kamu kecelakaan juga karena dia kan?” Sheila kembali membicarakan hal buruk tentang Gio. ‘Kok gue yang dituduh jadi penyebab kecelakaan? Gue kan juga korban?’ dalam hati Gio tidak terima dengan tuduhan Sheila. Namun ia hanya diam saja. “Gio juga korban kecelakaan, Ma. Kenapa dia dituduh sebagai dalang dari musibah itu?” Gio hanya mampu mengutarakan hal itu. “Bisa aja dia pura-pura ikut kecelakaan, biar nggak dituduh sebagai pelaku. Pokoknya kamu harus hati-hati berhubungan sama Gio,” Sheila sepertinya benar-benar membenci Gio. ‘Kenapa penilaian Mamanya Ravi jelek banget ya ke gue? Padahal gue baru ketemu sekarang. Berasa kayak musuh bebuyutan. Kayaknya gue sama Ravi nggak segitunya pas musuhan,’ Gio bertanya-tanya dalam hatinya. Ia pun merasa harus waspada terhadap Sheila dan Ravi. Karena perkataan Sheila, Gio menjadi ragu untuk bekerja sama dengan Ravi. Jika memang keluarga mereka musuh bebuyutan, maka akan lebih baik jika Gio pun menjaga jarak dari Ravi. Urusan tertukarnya jiwa mereka akan coba Gio selesaikan sendiri. Untuk saat ini, Gio ingin menggali informasi dari Sheila, ibu dari Ravi. “Kamu tinggal di rumah aja ya, Rav. Mama juga tinggal di Indonesia kok. Mama bakal rawat kamu di rumah. Kamu baru aja sembuh dari kecelakaan, nggak baik kalau tinggal sendirian di apartemen. Siapa yang bakal urusin kamu?” Sheila begitu perhatian pada anaknya. Gio menuruti permintaan Sheila. Ia ikut pulang ke rumah Ravi. Kehidupannya ke depan akan lebih menantang karena berinteraksi dengan lebih banyak orang. [Gue pulang ke rumah lo, Rav. Nyokap lo yang nyuruh. ~Gio]. Gio mengirimkan pesan pada Ravi untuk berpamitan. Di unit apartemennya, Ravi mengusap kasar wajahnya. “Kenapa Mama malah datang di saat yang nggak tepat? Bisa-bisa sikap dan ucapan mama bikin Gio salah paham,” gumam Ravi. Sheila, ibunda Ravi tersebut adalah seorang wanita sosialita yang hobi berbelanja. Ia sering menghabiskan waktunya untuk arisan, jalan-jalan, ataupun berkumpul bersama teman-teman sosialitanya. Rachel, ibunda Gio pun juga memiliki kegemaran yang hampir sama dengan Sheila. Hanya saja mereka berdua mempunyai kubu yang berseberangan sehingga tidak rukun. Hal itulah yang menjadi salah satu faktor pemicu kebencian Sheila terhadap keluarga Gio, baik Pradipta, Rachel, maupun Gio sendiri. Persaingan wanita kelas atas yang hidup dengan gaya hedonisme, membuat mereka berlomba-lomba menjadi wanita yang paling bersinar di antara yang lain. “Semoga mama nggak bikin keadaan tambah runyam,” Ravi berdoa. === Gio pulang ke rumah Ravi bersama Sheila. Rumah Ravi layaknya istana di mana banyak penjaga dan asisten rumah tangga yang siap sedia menjalankan perintah tuan dan nyonyanya. Gio memandangi rumah megah bergaya Eropa klasik tersebut. “Rumah Ravi bagus sih. Emang bener anak orang tajir ternyata,” gumam Gio yang hanya bisa didengar olehnya sendiri. Gio dan Ravi sama-sama keturunan dari kaum konglomerat. Hanya saja karena orang tuanya sibuk sendiri-sendiri, kedua anak yang menginjak usia dewasa tersebut tidak ada yang menjaga dan membimbing. Maka dari itu, terjadilah balap mobil yang menjadi ajang pelampiasan rasa kesendirian mereka. “Rav, mama antar ke kamar yuk. Mama mau tunjukin surprise buat kamu,” ajak Sheila pada Gio. Wanita cantik berkelas itu lalu menggandeng anak lelaki semata wayangnya menuju kamar Ravi di lantai dua. Gio hanya bisa menurut saja. Sheila membuka pintu kamar Ravi begitu sampai. “Tada …” Sheila menunjukkan kamar Ravi pada Gio. “Kamarmu udah Mama ganti furniture dan nuansanya. Biar kelihatan lebih maskulin. Tapi tata letak kamarnya nggak berubah kok, Rav. Mama harap kamu lebih betah tinggal di rumah daripada di apartemen,” ucap Sheila panjang lebar. Gio melangkah masuk ke kamar Ravi yang akan menjadi kamarnya beberapa waktu ke depan. Ia lalu merebahkan tubuhnya di ranjang king size empuk yang berada di tengah ruangan. Tanpa mengucapkan terima kasih, Gio menutup matanya dengan lengannya. Sheila hanya geleng-geleng kepala melihatnya. “Ya udah kamu istirahat dulu aja, Rav. Mama tinggal ke kamar mama ya,” pamit Sheila pada Gio. Sepeninggal Sheila dari kamar Ravi, Gio bangkit dari ranjangnya. Ia mengamati segala sesuatu di kamarnya kini. Lemari, rak buku, nakas, dan segala benda yang ada di sana. Ia berharap menemukan hal yang bisa ia jadikan informasi. Ia tidak ingin melakukan hal buruk, karena itu akan mengurangi usianya. Ia hanya akan bertindak sesuai kata hatinya. “Nggak ada apapun yang bisa gue jadiin informasi. Sebenarnya ada apa antara keluarga gue dan keluarga Ravi? Jangan-jangan ini ada hubungannya sama jiwa gue yang ketuker? Masuk akal nggak sih? Ah, masuk akal atau nggak nyatanya jiwa gue ada di badan Ravi sekarang. Hal yang mustahil pun bisa terjadi,” Gio berpikir keras. Lalu ia teringat Kakek Dan. “Kakek Dan!” panggil Gio sambil berteriak. Beruntung kamar Ravi sudah dirnacang kedap suara. Jadi teriakan itu pun teredam. “Kakek Dan! Tolong datang dong!” seperti biasa, Gio menengadah ke langit-langit menunggu kehadiran Kakek Dan yang ia kira ada di atas. “Ngapain panggil-panggil?” suara Kakek Dan mengejutkan Gio. “Aduh kaget! Haish, kenapa gue tetep kaget aja ama si kakek ini,” omel Gio lirih. “Ada apa? Mau tanya apa sekarang?” Kakek Dan bersedekap, siap mendengar keluh kesah Gio. “Kakek nggak tanya ini di mana?” Gio malah menanyakan hal itu. “Kakek nggak tahu sih ini di mana. Tapi sepertinya kamu dan Ravi terpisah. Jarak kalian berapa jauh? Karena sebenarnya kalian nggak bisa berjauhan dalam waktu yang lama. Jiwa kalian itu rentan hilang, karena tidak bersemayam di tempat yang seharusnya,” belum apa-apa Kakek Dan sudah membeberkan hal lain yang tidak diduga Gio. Hingga Gio lupa tujuan awal memanggil Kakek Dan ke kamar Ravi itu. “Sekarang kita berada di rumah Ravi. Aku diajak pulang sama mamanya Ravi. Sementara Ravi masih tinggal di apartemen,” Gio menggunakan bahasa yang lebih sopan saat berbicara dengan Kakek Dan. Sepertinya anak muda itu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. “Kalian harus menyempatkan diri bertemu walau hanya sebentar. Bisa diistilahkan, seperti ponsel yang butuh charger. Kalian pun demikian. Jiwa dan raga kalian harus bertemu tiap hari. Jadi kalian memang harus berdekatan. Mau tidak mau ya seperti itu,” terang Kakek Dan. Gio hanya mengangguk-angguk. “Terus ngapain kamu panggil kakek ke sini?” kini giliran Kakek Dan bertanya pada Gio. “Oh iya, lupa. Aku mau tanya kira-kira apakah ada masalah antara keluargaku dan keluarga Ravi? Atau mungkin hal itu menjadi salah satu alasan kenapa jiwa kami tertukar?” tanya Gio. Kakek Dan tersenyum penuh arti. “Sepertinya kamu cepat mengenali keadaan. Intinya, semua yang terjadi selama kalian bertukar jiwa pasti ada maknanya. Tugas kalian mencari apa makna di balik kejadian tersebut. Dan ingat! Kalian harus bekerja sama,” Gio seketika terkesiap akan kata-kata itu. Sebelumnya, ia ingin menjaga jarak dari Ravi dan mencari sendiri informasi yang ia butuhkan. Ternyata kerja sama adalah hal mutlak yang harus dilakukan. “Jangan musuhi Ravi dan keluarganya. Walaupun mungkin mereka memusuhimu,” ucap Kakek Dan telak. “Kok Kakek tahu kalau keluarga Ravi memusuhiku?” Gio heran. “Kakek hanya menebak saja dari gelagatmu. Kamu mungkin akan berpaling mencari solusi sendiri, dan meninggalkan Ravi. Dan Kakek minta jangan lakukan itu. Untuk saat ini, hanya Ravi yang kamu punya. Dan Ravi pun hanya punya kamu,” tutur Kakek Dan membuat Gio bungkam. === Za melangkahkan kaki menuju unit 701, di mana ia ketahui sebagai tempat tinggal Ravi. Perempuan itu memutuskan untuk mengetuk pintunya, tidak langsung menekan passcode. Ia takut akan melihat lagi hal yang tak ingin ia lihat. Lama ia mengetuk, tak ada jawaban dari sang pemilik. Za hendak berbalik, lalu ia mendapati Ravi berdiri tak jauh dari tempatnya kini. Lelaki itu mulai melangkah maju mengikis jarak. “Ravi udah nggak tinggal di sini, Za. Dia stay di rumah orang tuanya,” terang Ravi dalam badan Gio. “Oh,” hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Za. Pupus sudah harapannya untuk bertemu ayah dari calon bayinya itu. Katakanlah Za pantang menyerah. Mendatangi lelaki yang sudah menghamilinya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. “Lo bisa datang ke rumahnya kalau lo mau,” ucap Ravi kemudian. Za hanya diam di hadapan Ravi. Beberapa menit berlalu dalam diam, tak disangka ada seseorang yang mengunjungi apartemen Ravi juga. “Kalian berdua ngapain bengong di depan unitnya Ravi?” tanya seseorang itu. “Jeff? Ngapain lo di sini?” tanya Za pada seseorang yang datang, yang ternyata adalah Jeff. “Gue mau kasih kunci mobilnya Ravi. Mobilnya udah selesai gue perbaiki. Tulisan-tulisannya juga udah hilang,” jujur Jeff pada dua orang di hadapannya. “Tulisan apaan?” Za heran. “Ravi diteror,” Jeff lalu mengeluarkan ponselnya, menggulir layarnya hingga mendapatkan sebuah foto, lalu menyerahkannya pada Za. “Ini ... apaan Jeff? Ada yang iseng nyoret mobilnya Ravi?” Jeff mengangguk. “Sepertinya nggak cuma iseng, tapi beneran kasih terror buat Ravi. Dan dia tahu kalau Ravi pernah lolos dari maut,” terang Jeff. “By the way, lo ngapain ada di sini, Gio? Sama Za pula? Jangan-jangan kalian mau skidipap pap. Itu, hadiah taruhan balap. Hahaha,” Jeff tertawa mengejek Za dan sosok Gio yang ada di depannya. “Nggak usah ngaco!” Ravi mendelik. Ia tidak suka hal itu dibahas oleh Jeff. “Gue mau pulang aja,” Za memilih pergi dari sana tanpa meladeni ocehan Jeff. Ia melangkahkan kaki sembari merogoh tas mencari kunci mobilnya. Namun selembar kertas terjatuh dari dalam tasnya. “Kertas apaan nih?” Jeff memungut kertas yang jatuh dari tas Za. “Hah? USG? Lo hamil, Za?” pekik Jeff yang seketika membuat Za dan Ravi mematung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN