8. Masalah Lagi

1828 Kata
Ravi yang berada dalam tubuh Gio, memutuskan untuk mendatangi apartemen Za. Ia berniat untuk meluruskan masalah hadiah taruhan dan akan mulai bersikap baik pada Za. Hal itu Ravi lakukan semata-mata karena bayi yang ada dalam rahim Za. Ravi tidak memikirkan akibat yang ia lakukan. Bisa saja Za menjadi salah paham pada Gio, karena Za tidak tahu menahu mengenai tertukarnya dua jiwa itu. Pintu apartemen Za, Ravi ketuk. Ia hanya bisa berharap respon Za tidak semengerikan yang ia bayangkan. “Gio? Ngapain lo di sini?” Za membuka pintu unitnya dan terkejut mendapati sosok Gio yang bertamu. “Gue boleh main ke sini kan?” tanya Ravi. “Ngg ... ya.. boleh-boleh aja sih,” jawab Za kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia lalu menepi dari pintu, mempersilakan Ravi untuk masuk ke dalam unit apartemennya. “Nih buat lo,” Ravi menyodorkan buah-buahan yang sudah dirangkai menjadi sebuah hampers, kepada Za. “Oh, thanks. Lo kayak mau jenguk orang sakit aja. Pake acara bawain buah segala,” oceh Za berusaha menetralkan kecanggungan di antara mereka berdua. “Kan nggak cuma orang sakit aja yang boleh makan buah. Semua orang juga perlu,” Ravi memberikan justifikasi. Sejujurnya ia ingin memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil. Namun mustahil jika Ravi tiba-tiba membawakan s**u hamil. ‘Ini Gio kesambet apaan sih kok sikapnya jadi aneh gini ke gue,’ batin Za. “Mau minum apa nih?” tawar Za pada tamunya itu. “Terserah tuan rumahnya aja sih. Gue mau apa aja kok,” Ravi memberikan senyum manisnya yang membuat hati Za bergetar. ‘Kok gue jadi deg degan sih deket sama Gio? Jantung gue bermasalah deh kayaknya,’ ungkap Za dalam hati. “Oke, gue buatin cappuccino aja ya,” Za lalu menuju dapurnya hendak membuat kopi untuk Ravi. Sementara Za sibuk dengan kopinya, Ravi mengamati ruangan tempat lelaki itu berada. Ia merindukan kebersamaannya dengan Za di tempat itu. Seandainya waktu bisa diputar, ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Za. Agar Za tidak perlu menduga-duga isi hati Ravi. Agar Za merasa tenang dengan kehamilannya. Sekarang yang terjadi, Ravi seperti seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab. “Ngeliatin apa, Gio? Serius amat?” tanya Za sembari meletakkan cappucina buatannya di hadapan Ravi. “Ah, itu … apartemen lo rapi,” jawab Ravi sekenanya. “Lo nggak ada agenda apa-apa gitu? Kok tiba-tiba muncul di tempat gue?” tanya Za penasaran. “Gue tadi kan udah bilang, mau main ke sini,” jawab Ravi. “Terus lo tahu dari mana gue tinggal di sini?” pertanyaan Za ini membuat Ravi harus berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab. “Gue cari-cari info aja dari temen kampus yang tahu tempat tinggal lo,” jawab Ravi disertai cengiran. “Kok lo jadi kepo banget? Dan gue merasa lo sekarang ... aneh,” jujur Za pada akhirnya. “Di mata lo gue emang kayak apa orangnya?” tanya Ravi. “Seorang Gio, yang semua orang tahu kalau lo tuh orangnya bossy, tapi nggak suka diatur, belagu, dan seenaknya. Hehehe,” kini giliran Za yang memberikan cengiran seperti senyum kuda. “Mungkin semenjak lolos dari kecelakaan maut, gue dapat semacam hidayah. Kalau gue mau berubah jadi orang yang lebih baik, lo mau nerima gue jadi temen lo nggak?” Ravi menatap lurus netra Za. “Itu hal yang bagus kalau lo mau berubah jadi lebih baik. Dan gue mau-mau aja temenan sama lo. Gue nggak mbeda-mbedain temen kok,” Za menanggapi obrolan Ravi dengan santai, dan ia menikmatinya. “Apa lo baik-baik aja, Za?” Ravi mengkhawatirkan Za semenjak perempuan itu memergoki Gio bercinta, dan juga saat Gio lari ketika tahu bahwa Za hamil. “Hah? Gue baik-baik aja kok. Kenapa emangnya?” Za bingung dengan pertanyaan Ravi. “Semenjak nggak sengaja berpapasan sama lo di lift waktu itu, gue khawatir. Karena waktu itu lo keliatan lagi nggak baik-baik aja,” Ravi mengutarakan kekhawatirannya. “Oh, itu. Nggak apa-apa kok. Lo jadi terlalu sensitif gitu orangnya?” Za berdusta. Ia memang tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Namun ia merasa tidak harus berbagi rasa dengan Ravi yang berada dalam tubuh Gio itu. Sosok Gio yang tidak ia kenal dengan baik sebelumnya. “Kalau lo mau, lo bisa cerita sama gue kok, Za. Gue siap dengerin, walaupun mungkin nggak bisa kasih solusi buat masalah lo,” ucap Ravi tulus. Ia bahkan belum pernah berbincang sedalam ini sebelumnya. ‘Kok gue ngerasa Gio jadi mirip Ravi yang dulu ya? Ravi yang sekarang malah jadi pengecut,’ batin Za mulai bergejolak. “Thanks, Gio. Gue berasa jadi punya temen curhat sekarang. Oh ya, lo sekarang tinggal di apartemen yang sama kayak Ravi? Di unit berapa?” “Di unit 501. Lo boleh kok main ke unit gue. Sama Ravi sekalian juga boleh. Ravi di unit 701 kan?” Rasanya lidah Ravi kaku ketika menyebut namanya sendiri, karena sekarang nama itu dipakai orang lain. “Ngapain gue ngajak Ravi? Kurang kerjaan banget,” cibir Za. Ravi yang mendengar hal itu merasakan getir di hatinya. “Bukannya dia cowok lo?” Ravi berusaha mengungkap pandangan dan komentar Za terhadap Ravi. “Pacar? Entahlah, Gio. Kalau memang dia pacar gue, kenapa dia bercinta dengan perempuan lain?” Za mengatakannya sambil menahan amarah. “Emang lo pernah mergokin Ravi?” “Pernah, waktu gue ketemu lo itu. Gue abis mergokin dia lagi bercinta sama entah siapa. Hati gue sakit ngeliatnya. Padahal status kami pun nggak jelas,” jujur Za dengan senyum masam. “Mungkin dia lagi ada masalah, jadi dia butuh pelampiasan. Walaupun pelampiasannya itu adalah hal yang salah,” ucap Ravi bijak. “Lo mbelain perbuatannya, Gio?!” tiba-tiba Za terbawa emosi. “Bukan gitu, Za. Gue nggak mbelain dia. Toh perbuatan dia emang salah. Hanya saja pasti ada pemicu di balik itu,” Ravi mencoba meredam amarah Za. “Jangan-jangan lo ke sini karena mau ambil trophi balapan lo ya? Lo mau nidurin gue? Tapi pura-pura baik dulu sama gue?” tuduh Za. Ia sudah tersulut amarah mendengar penuturan Ravi sebelumnya. ‘Duh salah ngomong nih gue,’ batin Ravi. “Nggak, Za. Gue nggak bermaksud buat nidurin lo! Gue berani sumpah. Gue tulus pengin jadi orang yang lebih baik, dan jadi temen lo,” terang Ravi. “Gue mohon lo lupain perkara hadiah taruhan balap kemarin. Gue cuma ngetes Ravi doang. Nyatanya dia nggak rela kalau lo sama cowok lain,” Ravi mencoba memberi pemahaman pada Za. “Tapi dia malah berhubungan badan dengan cewek lain. Itu artinya dia egois. Dan arti gue di mata dia ya cuma sekedar pemuas hasrat aja, sama kayak cewek-cewek panggilan itu,” mata Za mulai berkaca-kaca. “Dan lo! Lo nggak usah sok-sok akrab sama gue. Lo juga nggak usah sok tahu tentang Ravi. Sekarang lo mending pulang aja,” usir Za kemudian. Suasana hatinya mendadak berubah menjadi buruk. Mungkin efek dari kehamilannya, ditambah dengan obrolannya dengan Gio yang dikendalikan oleh jiwa Ravi barusan. Za merasa kedua lelaki itu seperti mempermainkannya. Mau tak mau Ravi bangkit dari duduknya dan mulai berjalan menuju pintu keluar. “Gue pulang dulu, Za. Lo ati-ati di sini ya. Kalau ada apa-apa lo bisa kabari gue,” kata Ravi lalu menghilang di balik pintu. === Gio yang menempati raga Ravi kembali mendapat teror. Kali ini mobil sport Ravi yang dicoret-coret menggunakan cat berwarna merah darah. Warna itu sangat kontras dengan warna mobil Ravi, yaitu putih. Gio mendapati hal itu ketika ia sedang pergi keluar membeli makan siang. “Pelaku teror ini mengawasi kita dari jauh, Rav. Buktinya dia tahu kalau gue lagi makan di resto itu. Kamera CCTV di area parkir resto menangkap gambar seseorang bermasker dan memakai topi. Orang itulah yang nyoret mobil lo,” terang Gio pada Ravi. Saat ini mereka sedang berada di unit 701. “Terus sekarang mobil gue di mana? Lo cuma kasih liat fotonya doang. Mobilnya nggak ada di parkiran basement apartemen,” tanya Ravi. Pasalnya ia hanya diberi tahu Gio bahwa mobil Ravi dicoret seseorang. “Gue tinggal di resto. Malu gue bawa mobil lo. Mana tulisannya horor pula. Bersiaplah untuk mati. Hiii ... Ya mending gue panggil taksi aja,” jawab Gio tanpa dosa. Ravi hanya menghela napas. Ia harus menyewa sopir pengganti untuk mengantarkan mobilnya ke bengkel. Namun terlebih dahulu Ravi akan mengecek mobil tersebut. “Gue tanya perkembangan pencarian info dari Jeff deh. Karena pasti pelakunya orang yang sama. Dia yang udah bikin gue kecelakaan, dia juga tahu kalau gue selamat dari kecelakaan itu. Makanya sekarang dia mau coba buat bunuh gue lagi,” Ravi menganalisis keadaan. Ia lalu mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Jeff. [Udah dapet info tentang nomor telepon yang gue kasih kemarin? ~Ravi]. [Udah. Tapi nomor itu cuma nomor sekali pakai. Nggak bisa dilacak nama pemiliknya. ~Jeff]. [Oh, gitu ya? Ya udah thanks ya, Bro. ~Ravi]. Ravi menghela napas. Tidak ada info apapun mengenai pelaku teror ini. “Lo harus hati-hati, Gio. Walaupun yang diincar gue, tapi lo yang sekarang nempatin tubuh gue. Jadi, nyawa lo yang terancam. Lo perlu didampingi bodyguard nggak?” tawar Ravi yang khawatir dengan keselamatan Gio. Ia pun kembali merasa bersalah karena Gio yang menanggung apa yang seharusnya terjadi padanya. “Nggak usah pake bodyguard. Lebay banget! Yang ada ntar malah gue risih diikutin mulu kemana-mana,” Gio malah tidak bersedia jika harus ditemani oleh bodyguard. Ketika mereka tengah berpikir, terdengar bel pintu dibunyikan. Ada tamu berkunjung ke unit Ravi. Tanpa melihat siapa yang datang, Gio yang berada dalam tubuh Ravi, langsung membukakan pintu. Tiba-tiba. “Ravi … syukurlah kamu selamat, nak. Mama khawatir banget sama kamu. Maafkan Mama ya. Mama baru sekarang bisa pulang dari Perancis,” seorang wanita yang memanggil dirinya mama, memeluk Gio erat. “Mama?” bukan Gio yang bersuara, namun Ravi. “Kenapa kamu panggil saya mama? Saya bukan mama kamu. Nggak usah sok akrab!” ketus Mama Ravi pada Ravi yang berada di tubuh Gio. ‘Oh, ini mamanya Ravi? Tapi kok dia ketus banget?’ batin Gio yang masih dipeluk oleh Mama Ravi. “Rav, kenapa kamu jadi akrab sama anak ini?” Sheila, Mama Ravi menunjuk wajah Ravi yang berada di tubuh Gio. “Kamu Georgio Arkananta kan? Putra dari Pradipta Arkananta?” tanya Sheila memastikan. Ravi yang tidak tahu nama ayah Gio mendadak bingung. Gio lalu mengkode Ravi dengan sedikit mengangguk, membenarkan perkataan Sheila. “Iya, Tante. Saya Gio,” Ravi mengulurkan tangannya hendak menyalami Sheila, namun Sheila tidak bersedia menerima uluran tangan Ravi. “Mendingan kamu sekarang keluar dari sini. Saya mau bicara sama anak saya,” ucap Sheila dengan nada bicara sarat dengan kebencian. Baik Ravi ataupun Gio tidak ada yang tahu kenapa Sheila bersikap kasar pada Gio. Dan mau tidak mau, Ravi keluar sesuai perintah Sheila. Sementara Gio hanya diam ketika Sheila menutup pintu dari dalam. ‘Mamanya Ravi serem amat ya? Dan kok dia jutek banget sama gue?’ batin Gio saat hanya tinggal mereka berdua di dalam apartemen. “Jangan dekat-dekat sama Gio. Lebih baik kamu sekarang tinggal di rumah sama mama papa,” titah Sheila pada sosok yang ia sangka adalah Ravi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN