7.Teror Mulai Mengancam

1787 Kata
“Lo hamilin Za kan? Dan lo nyuruh gue buat tanggung jawab atas perbuatan b***t lo!” tuduh Gio pada Ravi. Ravi masih mencerna informasi yang baru saja disampaikan Gio. ‘Za hamil? Gue nggak tahu harus seneng atau sedih. Gue seneng dia hamil anak gue. Tapi kondisinya sekarang nggak memungkinkan buat gue nikahin Za. Gue ada di badan Gio’ batin Ravi berperang. “Diem aja kan lo? Nggak bisa tanggung jawab aja pake acar hamilin anak orang segala!” Gio balik menceramahi Ravi yang kini duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di dinding. “Gue tadi terpaksa lari dari apartemen Za. Gue nggak tahu harus ngapain,” jujur Gio pada Ravi. “Sorry, Gio. Gue nggak bermaksud jadiin lo kambing hitam. Gue pun nggak tahu kalau Za lagi hamil. Gue seneng Za hamil anak gue. Tapi sekarang gue kan nggak bisa nikahin dia. Yang ada semua orang bakalan bingung kalau gue nikahin dia pake badan lo ini,” tutur Ravi panjang lebar. Ia berusaha memberikan penjelasan pada Gio agar tidak salah paham. Ravi memang merasa bersalah pada Gio yang seakan menjadi korban dari perbuatannya. “Kita sekarang punya masalah baru, Rav. Mau nggak mau lo harus jagain Za. Nggak mungkin kan kalau bayi itu digugurin? Gue juga masih punya hati nurani,” ucap Gio sungguh-sungguh. “Lo mau jagain Za dengan raga yang lo tempatin sekarang?” tanya Ravi memastikan. “Gue mau jagain Za, tapi nggak dengan cara menikahi dia. Lo tahu? Gue jadiin Za sebagai hadiah taruhan itu cuma buat bikin lo merasa ada saingan. Biar lo nggak belagu,” terang Gio. Ravi tersenyum masam. “Gue pun menyetujui taruhan balapan dari lo karena merasa ego dan gengsi gue diremehkan. Sejujurnya gue juga nggak rela kalau Za sama cowok lain,” jujur Ravi. “Udah lah, gue nggak suka melow gini. Jijik rasanya. Sekarang yang penting kita selesaikan masalah yang ada,” ucap Gio bijak. Gio lalu memilih untuk meninggalkan kamar Ravi. Ia kembali ke unit apartemennya di nomor 701. Gio pikir sepertinya Ravi butuh waktu untuk sendiri sekarang. Sepeninggal Gio, Ravi masih betah duduk di lantai sembari memegangi pelipisnya. Dalam otaknya sibuk memikirkan dan menyusun rencana memecahkan persoalan yang ia hadapi. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan dering ponselnya. Ada telepon masuk, dan itu dari Za. Ravi tidak bisa menerimanya karena Gio tidak berada di dekatnya. Mustahil mengangkat telepon dengan suara Gio, sehingga ia terpaksa menolak panggilan tersebut. Di seberang sana, Za merasa sangat marah karena ditinggalkan begitu saja oleh Ravi, bahkan telepon pun tidak diangkat. Ravi memutuskan untuk mengirim pesan pada Za. Hanya itulah cara untuk berkomunikasi sekarang. Semoga Za bisa memakluminya. Begitu pikir Ravi. [Maafin gue, Za. Gue nggak bisa angkat telepon dari lo untuk sementara waktu. Maafin gue juga karena lari dari apartemen lo tadi. Gue nggak bermaksud untuk lari dari tanggung jawab. Gue bakal nikahin lo, Za. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Tunggu gue. ~Ravi]. Za yang membaca pesan tersebut hanya bisa meluapkan amarah dengan kembali membanting perabotan di apartemennya. Ravi memandangi ponselnya setelah mengirim pesan pada Za. Ia berharap ada respon dari perempuan itu. Namun sayangnya pesan itu hanya dibaca tanpa dibalas. “Lo pasti kecewa banget sama gue, Za. Gue paham itu,” gumam Ravi seorang diri. Tidak lama, terdengar notifikasi pesan masuk ke ponsel Ravi. Dengan semangat ia membuka aplikasi chat-nya, berharap pesan tersebut dari Za. Namun kenyataannya lain, karena pengirim pesan tersebut adalah nomor asing. Dan isi pesannya pun mengerikan. [Jangan terlalu sombong karena sudah lolos dari maut. Sebentar lagi hidupmu akan celaka. ~08xxxx]. “Nomor siapa nih? Kok message-nya kayak gini? Siapa yang mau neror gue?” gumam Ravi lagi. Ia pun mencoba meneleponnya. Ravi tak peduli bahwa suara yang ia punya adalah suara Gio. Toh, yang ia telepon adalah nomor asing. Begitulah pikir Ravi. Nada dering pertama, belum ada jawaban dari nomor asing itu. Hingga nada dering ketiga, akhirnya panggilan Ravi diangkat. Namun anehnya, di penerima telepon tidak bersuara sedikit pun. Hanya ada suara seperti suara printer. Ravi pun membuka suara. “Hoi! Siapa nih? Beraninya cuma kirim pesan aja. Maksud lo apa? Tunjukin siapa diri lo!” Ravi berbicara seorang diri di telepon, karena telepon itu kemudian diputus secara sepihak oleh peneror. “Argh sialan emang ni orang! Main matiin telepon aja. Dasar cupu!” maki Ravi pada layar ponselnya yang kini berwarna hitam, pertanda sudah mati. Jauh dari tempat Ravi berada, si peneror menatap bingung layar ponselnya. “Kenapa yang telepon gue malah Gio? Perasaan tadi gue kirim pesan ke nomor Ravi?” gumam si peneror. “Hmm ... sepertinya mereka sekarang menjadi lebih akrab sejak lolos dari maut. Mungkin gue akan lebih gampang menghabisi mereka jika mereka sering bersama,” pikir si peneror. Orang itu kemudian menjajar foto Gio, Ravi, bahkan Za yang baru saja ia cetak, di sebuah papan. Ia lalu melempar pisau, dan foto yang terkena adalah foto Ravi. “Berarti Ravi duluan yang harus gue urus,” gumam si peneror sambil mencabut pisau di tengah foto Ravi. === [Jeff, cariin informasi tentang nomor ini. ~Ravi]. Ravi mengirimkan nomor asing peneror tadi pada Jeff. Jeff dan Ravi memang berhubungan baik dan cukup dekat, jika dibandingkan dengan hubungan Jeff dan Gio. Jeff yang biasanya membantu Ravi mengkoordinir balap. Jeff juga teman sekampus Ravi, Za, dan bahkan Gio. Hanya saja sejak awal, Ravi dan Gio berbeda kelompok. Bisa dibilang jika geng Ravi dan Gio berseberangan, tidak pernah akur. [Lo pikir gue badan intelegen? Main cari info orang sembarangan! ~Jeff]. Jeff membalas pesan Ravi dengan sewot. Pasalnya yang Ravi inginkan bukan hal yang mudah bagi warga negara biasa seperti Jeff. [Tolongin gue lah, Jeff. Gue butuh info tentang nomor itu. ~Ravi] [Oke gue cariin. Tapi nggak janji butuh berapa lama. ~Jeff]. Akhirnya Jeff menuruti permintaan Ravi. Jeff memang bukan seorang yang pandai meretas teknologi informasi. Namun ia punya jejaring pertemanan yang luas yang bisa ia manfaatkan untuk mengabulkan permintaan Ravi itu. [Thanks, Bro. ~Ravi] [By the way, lo kalah balapan dari Gio. Jadi lo harus rela kalau Za ditidurin Gio, Rav. ~Jeff]. Ravi seketika ingat dengan hadiah taruhan itu. Mungkin ia akan meluruskan hal itu pada Za, menggunakan raga Gio yang ia tumpangi. [Gue tahu gue kalah balapan. Tapi gue nggak rela Za tidur sama Gio. ~Ravi]. [Lo ingkar janji, Rav? ~Jeff]. [Gue bakal urus hal itu sendiri. ~Ravi]. === Gio yang sedang merebahkan tubuhnya di ranjang, dikejutkan oleh suara bel di unit apartemennya. “Siapa sih yang bertamu? Ravi orang penting kah?” gerutu Gio sambil meregangkan badannya, lalu melangkahkan kaki menuju pintu unitnya. Nampak petugas pengirim paket membawa sebuah kardus berukuran sedang. “Dengan Kak Ravindra Pranajaya?” tanya sang kurir paket. “Bukan, eh, iya saya Ravi,” Gio masih belum terbiasa menyebut namanya sebagai Ravi. “Ini ada kiriman paket untuk Kakak. Silakan diterima,” kata sang kurir lalu menyerahkan kardus yang ia bawa pada Gio. “Oke makasih,” ucap Gio setelah menerima paket Ravi tersebut. Gio membawa masuk kardus yang entah apa isinya itu, ke dalam unitnya. Ia lalu menelepon Ravi, mengatakan bahwa ada paket tertuju padanya. Ravi yang mengetahui hal itu lalu langsung beranjak naik ke lantai tujuh, lebih tepatnya unit 701. Nomor unit apartemennya yang sekarang ditempati Gio. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung menekan passcode unit tersebut dan masuk ke dalam sebelum Gio mempersilakan. “Paket apaan, Gio? Perasaan gue nggak ada pesen paket apapun?” tanya Ravi heran. “Ya mana gue tahu? Orang itu paket dikirim ke alamat lo. Berarti punya lo kan,” ucap Gio. Ravi lalu membuka kardus dengan hati-hati ketika tidak mendapati nama dan alamat si pengirim paket. Ketika dibuka, ternyata isi paket tersebut adalah kue tart kecil yang di atasnya terdapat foto Ravi, namun berlumurkan darah. Ada pesan yang menyertai paket tersebut. “Selamat atas lolosnya Ravi dari maut. Tapi setelah ini, maut akan kembali datang menjemputmu,” begitulah tulisan di paket yang Ravi terima. “Hiiii ngeri amat paket lo, Rav. Lo punya musuh selain gue ya?” Gio bergidik ngeri melihat tulisan berdarah tersebut. “Gue nggak tahu ini dari siapa. Tapi sepertinya pelakunya sama dengan peneror yang tadi kirim pesan ke gue. “Pesan apaan? Sini coba gue lihat,” Gio meminta ponsel Ravi yang seharusnya ia pegang. Kini tak ada privasi lagi antara Gio dan Ravi. Bahkan ponsel pun mereka harus berbagi dan saling tahu isi pesan masing-masing. Sungguh sebuah hal yang ironi. Ravi memberikan ponsel yang ia bawa pada Gio. Setelah menggulir layar ponsel, ditemukanlah pesan seperti yang dikatakan Ravi tadi. “Sepertinya kecelakaan kita memang karena disabotase seseorang. Orang itu mengincar nyawa lo, Rav. Tapi sekarang karena jiwa gue ada di tubuh lo, gue juga bakal kena imbasnya. Sial!” gerutu Gio setelah menyerahkan kembali ponsel pada Ravi. “Gue tadi udah minta tolong ke Jeff buat cari info tentang nomor handphone itu. Tapi belum ada progress dari Jeff. “Kita minta tolong Kakek Dan bisa nggak sih?” usul Gio. “Coba kita tanya deh. Siapa tahu Kakek Dan bisa kasih saran,” Ravi menyetujui usul Gio. “Kakek Dan! Keluar dong,” teriak Gio sambil menatap langit-langit, seolah Kakek Dan akan muncul dari sana. “Ngapain panggil-panggil?!” Kakek Dan muncul dengan asap putih, tepat di sebelah kiri Gio. “Bisa nggak sih kalau muncul tuh nggak usah bikin kaget?” sungut Gio yang terkejut karena Kakek Dan muncul di dekatnya. “Suka-suka Kakek lah. Lagian kenapa kalian panggil-panggil Kakek? Ganggu kegiatan Kakek aja,” sewot Kakek Dan. “Dihhh sok sibuk banget. Hantu punya kegiatan apa deh?” Gio melirik kesal Kakek Dan. “Kepo banget jadi anak,” sungut Kakek Dan. “Langsung aja bilang mau ngapain panggil Kakek ke sini?” tanya Kakek Dan tidak sabaran. “Kek, kira-kira Kakek tahu nggak siapa yang kirim pesan terror misterius ini?” tanya Ravi sambil menyodorkan paketnya. “Dan ada juga pesan teror di handphone Ravi, Kek.” adu Gio. Kakek Dan mengamati paket dan isi pesan di ponsel Ravi. Ia lalu berkata. “Sepertinya Kakek tahu siapa pelakunya. Tapi bukan hak Kakek untuk ikut campur urusan manusia. Kakek hanya bisa memberi saran, bukan membantu menyelesaikan masalah manusia. Kalian sendiri yang harus berusaha cari solusinya,” Kakek Dan menerangkan. “Terus fungsi keberadaan Kakek di antara kami berdua apaan?” cibir Gio. “Heh! Kakek sudah banyak kasih wejangan, petunjuk, dan peringatan ke kalian ya! Enak aja dibilang nggak ada fungsinya. Kakek bakal dapat hukuman kalau ikut campur urusan kalian,” Kakek Dan tidak terima dengan ucapan Gio. “Ya udah sekarang Kakek bisa kasih saran apaan buat masalah terror ini?” Ravi meminta masukan dari Kakek Dan. “Kakek cuma bisa bilang, jangan terlalu percaya dengan orang yang selama ini dekat denganmu,” ucap Kakek Dan lalu menghilang begitu saja. Ravi dan Gio hanya bisa mengernyit kebingungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN