6. Kabar Mengejutkan

1552 Kata
Ravi dan Gio masih saling menatap penuh amarah. Ravi yang kesal karena tubuhnya dipakai Gio untuk bercinta sembarangan. Gio pun kesal karena hidupnya sekarang seakan diatur oleh Ravi. “Lo nggak tahu kan kalau tadi Za ke sini?” tanya Ravi memastikan. “Nggak tahu. Paling pas gue lagi nanggung tadi,” jawab Gio enteng. “Sekarang Za bakal salah paham ama gue! Lo hobi banget sih bikin masalah?” Ravi tak habis pikir. “Lagian salah Za sendiri kenapa datang nggak bilang-bilang? Mana langsung masuk pula,” Gio malah menyalahkan kedatangan Za. “Sampai kapan kalian akan bertengkar terus?” Kakek Dan yang masih di situ hanya bisa geleng-geleng kepala. “Ingat yang harus kalian lakukan agar jiwa kalian kembali ke raga masing-masing. Berbuat baik!” Kakek Dan kembali menekankan hal itu. “Dan mencari dalang di balik kecelakaan mobil kami,” tambah Ravi. “Berhasil atau tidaknya jiwa kalian kembali tergantung kalian sendiri,” imbuh Kakek Dan. “Mungkin kita bisa cari informasi dari Jeff? Kita minta rekaman dashboard, siapa tahu bisa dapat petunjuk,” usul Ravi. “Kakek bisa bantuin cari informasi nggak?” Gio menoleh ke arah di mana Kakek Dan berada. Namun ternyata yang diajak bicara sudah menghilang lagi. "Kan! Kebiasaan deh dateng ngilang sesuka hati. Dasar kakek-kakek nggak jelas," omel Gio. “Rav, kok lo percaya-percaya aja sih sama apa yang diomongin Kakek Dan? Kita aja nggak tahu dia tuh siapa, atau apapun sebutannya. Hantu? Arwah? Roh? Atau apapun itu. Dan dia kayak udah kenal kita. Kan malah bikin curiga?” Gio mengungkapkan keraguannya. “Tapi saat ini hanya dia yang bisa kita ajak diskusi, Gio. Gue juga mikir ini semua nggak masuk akal. Tapi nyatanya? Lihat sendiri kan, lo jadi gue. Gue jadi lo,” Ravi pun mencurahkan pemikirannya. “Ya udah ayo kita kerja sama. Sekarang kita harus ngapain dulu? Minta kamera dashboard ke Jeff? Sana kirim chat ke orangnya. Minta Jeff kirim salinan videonya,” kali ini Gio yang memerintah Ravi. Akhirnya Ravi yang menghubungi Jeff menggunakan chat di nomor Ravi. Mereka sudah sepakat untuk meminimalkan telepon, karena menelepon butuh respon cepat. Sedangkan mereka berdua masih butuh berkomunikasi dan berdiskusi agar semua hal masih dalam kendali. “Siniin handphone gue,” Ravi menengadahkan tangannya meminta ponselnya dari Gio. Gio pun menyerahkan ponsel Ravi yang ia bawa. Ravi segera menulis pesan pada Jeff. Tak berselang lama, balasan dari Jeff pun masuk. Ravi dan Gio segera melihat video kamera dashboard mobil mereka masing-masing. “Nggak ada yang aneh menurut gue,” sahut Gio setelah menonton video. “Tapi menurut gue, video ini kayak kepotong. Atau mungkin ditempel dengan video lain,” Ravi memegang dagunya sembari mengamati lagi video melalui laptopnya. Saking penat karena menonton video terus menerus, akhirnya Gio tertidur di kasurnya. Ravi yang melihat hal itu hanya bisa menghela napas. “Dasar Gio. Hobinya tidur deh kayaknya. Mana pose tidurnya aneh gitu,” gerutu Ravi. Tit tit tit Terdengar notifikasi dari ponsel Ravi. Ravi segera membukanya. Terpampang nama Za di sana. Seketika senyum Ravi terbit. Hanya dengan chat ia bisa menjadi dirinya sendiri, berkomunikasi dengan Za tanpa harus berperan menjadi Gio. [There are many things I need to talk to you. We have to meet up immediately. ~Za] “Nggak biasanya Za chat kayak gini? Serius banget kayaknya. Duh pasti gara-gara mergokin Gio lagi log in sama cewek panggilan nih,” ujar Ravi sambil memijit pelipisnya. [Ayo kita ketemu, Za. Mau ketemu kapan? ~Ravi] [Besok siang aja kamu ke apartemenku. Masih ingat jalannya kan? ~Za] Za mengetikkan hal sarkas itu karena merasa kesal pada Ravi. [Oke. ~Ravi] “Duh besok Gio harus gue briefing dulu sebelum ketemuan sama Za. Kalau nggak bisa runyam lagi urusannya. Bisa-bisa umur gue berkurang lagi,” gumam Ravi yang memandangi posisi tidur Gio. Hari berikutnya tiba. Pagi-pagi sekali Ravi sudah memberikan banyak wejangan pada Gio. Hal-hal yang Za sukai, hal yang tidak disukai, bagaimana sikap Gio seharusnya pada Za, dan lain sebagainya. “Iya iya, gue paham. Let it flow, Bro. Semua bisa gue handle,” ucap Gio sombong. Ia malah mengorek telinganya, pertanda sudah bosan dengan ocehan Ravi. “Udah, gue mau berangkat dulu. Mau pacaran sama Za. Siapa tahu bisa tidur bareng juga. Hahaha,” Gio sengaja menggoda Ravi yang kemudian hampir mendapatkan tinjuan. “Lo kayak nenek-nenek aja, hobinya marah-marah melulu!” omel Gio. Gio sampai di apartemen Za setelah menempuh dua puluh menit perjalanan menggunakan mobil sport milik Ravi. Ia memilih untuk mengetuk pintu apartemen Za, walaupun sebelumnya Ravi sudah memberi tahu passcode unit tersebut. Za keluar dari unit apartemennya ketika mendengar suara pintu diketuk. Ketika didapatinya Ravi yang mengetuk pintu, Za terheran-heran. “Tumben ketuk pintu? Biasanya langsung nyelonong masuk?” tanya Za pada sosok Ravi yang dikendalikan oleh jiwa Gio. “Ini buat lo,” Gio memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Za. Ia malah menyodorkan setangkai mawar putih untuk Za. Hal itu tentu saja membuat Za tersenyum. “Makasih ya. Masuk yuk,” ajak Za lalu menuntun Gio untuk masuk ke apartemennya. Gio hanya bisa menurut ketika tangannya digandeng Za. “Mau ngomongin apa sih? Chat lo kayaknya serius banget,” Gio menanyakan hal tersebut, sesuai arahan dari Ravi tadi pagi. “Mmm … itu, gue mau kasih kejutan buat lo. Gue harap lo suka dengan kejutan gue,” ucap Za masih dengan mempertahankan senyum manisnya. “Apaan tuh kejutannya? So sweet banget lo,” puji Gio. Za lalu beranjak dari duduknya, mengambil kertas hitam putih yang ternyata adalaha print out USG kehamilannya. Ia menyerahkan kertas USG tersebut pada Gio. Gio masih belum paham dengan kertas yang diberikan Za. “Ini apa, Za?” Gio benar-benar tidak paham akan hal itu. “Gue hamil, Rav. Anak lo, anak kita. Dan itu foto USG calon bayi kita. Usianya baru empat minggu,” terang Za dengan sumringah. Gio hanya bisa membelalakkan matanya. “Apa?! Lo hamil anak Ravi?” Gio keceplosan menyebut Ravi. Padahal menurut orang lain, Ravi adalah namanya sendiri. “Iya, anak lo,” Za meyakinkan lagi. ‘Mati gue! Dikerjain Ravi kalau gini situasinya,’ batin Gio menahan amarah. “Terus mau lo gimana, Za?” Gio mempertanyakan kenapa Za memberi tahu perihal kehamilannya dengan bahagia. “Ya … seperti ucapan lo sebelum kecelakaan itu. Kalau gue hamil, kita tinggal nikah aja. Gampang kan? Gitu kata lo, Rav. Lo lupa? Atau pura-pura lupa?” Za mulai curiga dengan gelagat Gio yang sepertinya tidak menyukai kabar kehamilan Za. “Hah? Ravi bilang gitu?” lagi, Gio keceplosan menyebut nama Ravi. “Iya! Lo yang bilang sendiri, Rav. Jangan bilang lo mau lari dari tanggung jawab?!” tuduh Za. Gio hanya bisa geleng-geleng kepala. “Nggak ... nggak bisa gini caranya. Bukan gue pelakunya. Gue nggak mau tanggung jawab atas apa yang nggak gue perbuat. Gue aja belum pernah nidurin lo,” Gio malah berbicara semakin melenceng dari yang seharusnya ia katakan. “Apa lo bilang? Belum pernah nidurin gue? Lo mendadak amnesia, Rav?! Nggak usah belaga bego!” Za mulai naik darah. “Yang nidurin lo tuh Ravi, bukan gue!” nada bicara Gio meninggi. Plak! Za menampar pipi Gio. “Lo mau lari dari tanggung jawab kan, Rav?” Za mulai menitikkan air matanya. “Gue harus pergi,” Gio lalu berlalu begitu saja meninggalkan Za. “Ravi! Tungguin gue!” teriak Za berusaha mengejar sosok yang di matanya adalah Ravi. Nyatanya Gio sudah tidak menampakkan batang hidungnya di hadapan Za. Ia sudah bersembunyi di pintu darurat, sementara Za menyusul dengan naik lift. Benar-benar tindakan yang tidak jantan. Za mencari Gio hingga ke lobi, lalu basement, lahan parkir, dan area sekitar apartemen. Namun hasilnya nihil. Za tidak mampu menemukan ayah dari bayi yang dikandungnya itu. Dengan Langkah lemah lunglai, Za pun kembali ke unit apartemennya. “Sialan si Ravi! Dia nggak mau tanggung jawab!” pekik Za sambil mengacak rambutnya. Pyar! Terdengar suara vas bunga dilempar dan mengenai lantai. “Lo b******k, Rav! Cowok b***t!” maki Za sembari membanting perabotan di apartemennya. “Lo jahat, Rav. Lo tega ama gue,” tangis Za pecah sudah. Gio terus memacu mobilnya menjauhi apartemen Za. Entah sampai di mana mobil itu dipacu. Gio merasa marah. Ia merasa ditipu mentah-mentah oleh Ravi. “Ravi sialan!” Gio memaki sambil memukul kemudinya. “Pantes aja dia setuju taruhannya diganti. Kalau gue menang, gue bisa nidurin Za. Ternyata udah dibikin bunting duluan sama Ravi! Licik lo, Rav!” Gio mencengkeram setir mobilnya. Kini Gio melajukan mobilnya menuju apartemen tempat ia tinggal bersama dengan Ravi. Dengan tergesa-gesa ia memencet angka lima di lift, lantai dimana Ravi tinggal. Setelah pintu lift terbuka di lantai lima, Gio melangkah lebar menuju unit 501. Ia tekan passcode-nya, lalu masuk tanpa permisi. Ravi yang masih berkutat dengan video dashboard menoleh ke arah pintu masuk. Tiba-tiba. Bugh! Gio meninju pipi kiri Ravi. Ravi yang tidak siap dengan pukulan itu sontak terhuyung ke samping. “Lo apa-apaan hah! Main tonjok orang sembarangan!” Ravi bersiap membalas pukulan Gio, namun berhasil ditahan oleh lelaki itu. Kini giliran Gio mencengkeram kerah baju Ravi. “Lo ngehamilin Za kan? Dan lo minta gue yang bertanggung jawab atas perbuatan kotor lo!” licik banget lo, Rav. Lo manfaatin kondisi kita buat jadiin gue kambing hitam,” ucap Gio penuh amarah dan penekanan di setiap katanya. “Apa? Za hamil?” Ravi mundur dan terduduk lemas di lantai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN