Za menatap jalanan yang kini basah oleh hujan. Ia kini berada di apartemennya, berdiri di balkon sembari memegang kertas hitam putih yang ia dapatkan dari pemeriksaan tadi. Ya, hasil USG yang menyatakan bahwa ia tengah berbadan dua. Usia kandungannya masih sangat muda, yaitu empat minggu.
“Rav, gue hamil anak lo. Di sini bakal ada buah cinta kita. Kita bakal nikah kan? Seperti janji lo sebelum lo kecelakaan,” monolog Za seorang diri sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Za melamunkan bagaimana kira-kira reaksi Ravi ketika tahu bahwa ia sedang mengandung anak Ravi. Apakah lelaki itu akan senang mendengar kabar bahagia ini? Atau Ravi akan menolak untuk bertanggung jawab? Jangan sampai Ravi meminta Za untuk menggugurkan janin tak berdosa ini. Membayangkannya saja membuat Za menangis.
“Astaga, kenapa gue jadi melow gini ya? Kalau jadi ibu hamil ternyata mood-nya naik turun,” Za menyeka air matanya. Ia lalu meraih cangkir berisi coklat hangat dan hendak meminumnya ketika ada notifikasi pesan masuk di ponselnya.
[Gue denger Ravi dan Gio udah sadar, Za. Jadi lo harus siap-siap jadi tropi kemenangan buat Gio. ~Jeff]
[Ngapain lo ngungkit-ungkit soal balapan? Masih untung mereka berdua lolos dari kematian. ~Za]
[Gue punya bukti kamera dashboard kalau Gio yang menang balapan. ~Jeff]
“Kurang ajar banget sih Jeff. Masih aja mikirin taruhan balap! Oh God, gue harus gimana kalau emang taruhannya kayak gitu?”
“Nggak … nggak! Gue nggak bisa tinggal diam. Gue harus melakukan sesuatu. Tapi apa?!” Za mengacak rambutnya frustasi. Ia lalu beralih mengelus perutnya.
“Nak, kenapa papamu jahat sama mama? Kenapa papamu tega menjadikan mama cewek taruhannya?” keluh Za sendiri.
===
Hari kepulangan Ravi dan Gio akhirnya tiba. Setelah dinyatakan sembuh oleh dokter, mereka bisa kembali ke rumah masing-masing. Sayangnya, mulai saat itu juga kehidupan Ravi dan Gio harus bertukar peran selama seratus hari ke depan. Jika semua yang dikatakan Kakek Dan benar, maka mau tak mau kedua lelaki itu harus menjalaninya. Guna meminimalisir interaksi dengan orang lain selama mereka bertukar jiwa, maka mereka memilih tinggal di apartemen yang sama, namun beda unit. Beruntung apartemen tempat Ravi tinggal masih menyediakan unit untuk disewa ataupun dibeli.
“Ogah banget gue seruangan ama lo, Rav. Jijik banget!” keluh Gio saat diputuskan untuk tinggal di apartemen yang sama.
“Heh, gue juga males banget deketan ama lo. Tapi kondisinya kayak gini. Terpaksa kita harus lebih deket dari sebelumnya. Daripada lo mati sia-sia sebelum seratus hari,” omel Ravi.
Setelah urusan administrasi rumah sakit selesai diurus, mereka pun menuju apartemen.
“Lo tinggal di unit gue, gue tinggal di unit lo,” titah Ravi ketika mereka berdua menginjakkan kaki di gedung apartemen mereka.
“Iya, iya! Kenapa lo sekarang hobi banget merintah gue?” sewot Gio yang sekarang merasa menjadi anak buah Ravi. Ravi menghela napas. Rupanya menghadapi Gio tidak semudah yang ia pikirkan. Gio begitu keras kepala dan susah diatur.
“Gue nggak berniat merintah lo, apalagi nganggep lo bawahan gue. Gue cuma pengin hidup kita lebih baik dari sebelumnya. Gue harap lo ngerti,” Ravi memberi pengertian pada Gio.
“Ya, ya, ya. Whatever! Terserah lo. Dah sekarang gue mau ke unit gue. Jangan ganggu gue dulu. Gue pengin tidur,” ucap Gio lalu meninggalkan Ravi.
Sepeninggal Gio, Ravi pun melangkah menuju unitnya. Lebih tepatnya unit Gio yang baru ia beli.
Di dalam unit Ravi, Gio mulai merebahkan dirinya. Namun ada hal yang mengusik dirinya. Gio sedang berhasrat dan ia ingin menuntaskannya. Maka dari itu Gio langsung menelepon wanita panggilan. Tak lama kemudian, seseorang yang Gio tunggu datang. Tanpa banyak basa basi dan tanpa merasa berdosa, mereka melakukan perzinaan di apartemen Ravi.
Saking asyiknya dengan kegiatan yang mereka lakukan, Gio tidak sadar jika ada yang menekan passcode pintu apartemen. Dialah Za.
Za menyambangi apartemen Ravi dengan membawakan beberapa makanan, karena tahu bahwa laki-laki itu baru saja pulang dari rumah sakit. Za tidak terlebih dahulu memberikan kabar kedatangannya karena ingin memberikan kejutan. Siapa sangka malah Za yang dibuat terkejut karena ulah Ravi yang dikendalikan oleh jiwa Gio.
Za ingin memberi tahu Ravi perihal kehamilannya. Ketika mendatangi apartemen Ravi, ia malah memergoki Ravi sedang bercinta dengan wanita panggilan.
“Rav ...” lirih Za yang tak didengar oleh orang yang ia panggil itu.
Hati Za teriris melihat apa yang dilakukan Ravi di kamarnya. Niat hati ingin memberitahu bahwa ia hamil, tapi malah dikejutkan dengan hal tak terduga. Za tidak menyangka Ravi sekarang berubah. Ia mengira bahwa hubungannya dengan Ravi spesial, jika dibandingkan dengan perempuan-perempuan yang pernah menemani Ravi di area balap. Nyatanya Za tidak lebih dari sekedar friend with benefit. Za pergi meninggalkan apartemen Ravi tanpa sepengetahuan sang pemilik. Air mata pun jatuh tak tertahankan.
Dengan langkah tergesa-gesa, Za memencet tombol di lift. Gadis itu lalu menunggu lift terbuka sembari mengusap kasar air mata yang terus mengalir di pipinya.
Ting!
Suara pintu lift terbuka. Tanpa disangka, di dalam lift berdirilah Gio yang dikendalikan oleh jiwa Ravi. Ravi tercekat mendapati Za berada di hadapannya. Dan sepertinya gadis itu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
“Za,” panggil Ravi
“Gio? Lo ngapain ada di sini?” tanya Za heran. Pasalnya keberadaan Gio di area apartemen Ravi adalah hal yang tidak normal.
“Ngg … itu … gue sekarang tinggal di sini,” Ravi tidak mampu berbohong.
“Hah? Lo sekarang tinggal di apartemen ini juga?” Za masih terheran-heran. Ravi hanya bisa mengangguk lemah.
“Lo sendiri ngapain di sini? Dan kok bawa banyak barang kayaknya?” Ravi melongok ke arah kotak-kotak makan yang ditenteng Za.
“Oh, ini? Tadinya mau gue kasih ke Ravi. Tapi kayaknya dia lagi sibuk tuh sampai-sampai nggak sadar kalau gue ke unitnya,” entah mengapa Za mengatakan hal itu pada Ravi.
‘Hah? Sibuk ngapain? Perasaan tadi Gio bilangnya mau tidur deh?’ batin Ravi.
“Gue turun duluan, Gio. Lo nggak keluar dari lift?” Za masih bingung karena sosok Gio di hadapannya ini terlihat aneh.
“Gue temenin lo sampai turun, Za. Mau gue bawain barang-barang lo?” tawar Ravi. Ia melangkah masuk lagi ke dalam lift, menemani Za. Pintu lift tertutup lalu turun menuju lobi apartemen.
“Hah? Nggak salah denger gue? Gio yang sekarang kok jadi lebih santun? Biasanya arogan dan sok bossy,” cibir Za. Ravi menghela napas. Sepertinya ia harus merubah pandangan orang pada Gio. Dan itu menjadi tugasnya selama ia berada dalam tubuh Gio ini.
“Nggak ada salahnya kan menjadi seseorang yang lebih baik,” ucap Ravi sambil tersenyum. Senyum yang bisa menenangkan Za. Dan tanpa Za sadari, ia mengelus-elus perutnya. Ravi yang melihat hal itu sontak berkata.
“Lo lapar, Za? Kok elus-elus perut?” Za malah menyemburkan tawa karenanya.
Sebenarnya bukan karena lapar, namun Za mengelus sayang calon bayi yang ada di dalam perutnya setelah melihat senyum manis Ravi.
“Iya,” Za mengangguk, memilih mengiyakan dugaan Ravi yang mengira ia lapar.
“Lo mau makan makanan gue nggak?” Za menyodorkan makanan yang tadinya ia bawa untuk Ravi yang di dalamnya ada jiwa Gio.
“Boleh banget,” Ravi menerima makanan dari Za. Mereka berdua kini telah turun dari lift.
“Mau makan bareng nggak? Kayaknya tadi ada yang bilang laper,” ajak Ravi ketika lift telah sampai lobi. Za yang tadinya hendak melangkah, spontan menghentikan langkahnya.
“Lo makan sendiri aja, Gio. Gue masih punya makanan,” ucap Za kemudian melangkahkan kaki menjauhi Ravi. Za sedang tidak nafsu makan setelah melihat kelakuan Ravi yang tak senonoh.
‘Gue bener-bener kangen lo, Za. Andai lo tahu kalau gue ini Ravi. Bukan Gio,’ batin Ravi memelas. Ia menatap kepergian Za dengan sedih.
Ravi lalu teringat perkataan Za yang menyebutkan bahwa Gio sedang sibuk sehingga tidak mengetahui kedatangan Za di apartemen. Ravi jadi penasaran karenanya. Oleh sebab itu, ia bergegas menuju unit di mana Gio tinggal.
Beep beep beep.
Suara nomor sandi ditekan di pintu apartemen yang Gio tempati. Ravi hapal nomor sandi tersebut karena unit itu adalah miliknya sewaktu masih berada di raga yang seharusnya.
Begitu masuk ke unit apartemen, yang Ravi lihat pertama adalah adanya tas dan sepatu perempuan. Batin Ravi pun bertanya.
‘Ada sepatu cewek? Punya siapa nih?’ tanya Ravi dalam hati.
Ia kemudian masuk ke dalam lagi dan mendapati pintu kamar tidur yang tidak tertutup sempurna.
Ravi melongok ke dalam, dan alangkah terkejutnya ia melihat Gio sedang tidur satu selimut dengan seorang wanita. Amarah Ravi langsung naik. Mungkin inilah yang Za lihat tadi.
"Argh sial! Za pasti jadi salah paham karena Gio yang ada di tubuh gue," Ravi mengacak rambutnya. Ia pun berteriak.
“Woi! Bangun kalian!” baik Gio maupun sang perempuan panggilan sama-sama terkejut dengan teriakan Ravi itu.
“Sialan! Lo ngapain ke sini? Ganggu gue aja,” sungut Gio tidak terima diganggu sewaktu bersenang-senang. Ia menggeliatkan badannya yang masih belum berpakaian.
Ravi menatap wanita bayaran di samping Gio.
“Lo udah dibayar belum sama cowok ini? Kalau udah dibayar, sana pergi!” usir Ravi pada perempuan itu. Dengan cemberut, si perempuan lalu memungut bajunya yang berserakan di lantai dan bergegas pergi dari tempat itu. Hatinya dongkol karena merasa direndahkan oleh Ravi.
Sepeninggal si wanita panggilan, Ravi bersiap menghakimi Gio, layaknya seorang kakak memarahi adiknya.
“Lo harus tahan tuh libido! Jangan seenaknya pakai tubuh gue buat log in sembarangan,” Ravi kini mondar mandir di hadapan Gio. Sementara Gio masih enggan menanggapi. Ia masih sibuk memakai pakaiannya.
“Lo jangan sembarangan bertindak deh. Mulai sekarang apapun yang lo lakuin, lo harus kasih tahu ke gue,” titah Ravi.
“Gue nggak mau lo perintah!” tegas Gio dan itu ia ucapkan tepat di wajah Ravi.
“Sialan lo!”
Bugh!
Ravi yang sudah tersulut emosinya sontak memukul wajah Gio.
“Lo yang sialan!” Gio balas memukul Ravi.
Dua lelaki itu terlibat baku hantam. Lalu asap putih muncul di sudut ruangan.
“Dasar anak muda nggak punya otak semua!” kata Kakek Dan yang muncul tiba-tiba.
Ravi dan Gio menghentikan aksi pukul memukulnya.
“Dia yang salah, Kek!” adu Ravi sambil menunjuk Gio.
“Lo yang mukul gue duluan,” adu Gio tidak terima. Mereka akan melanjutkan adu pukul. Lalu …
Ctik!
Kakek Dan menjentikkan jarinya. Membuat Ravi dan Gio yang semula saling menarik kerah, terpisah. Tubuh Ravi berada di sudut timur, sementara tubuh Gio berada di sudut barat. Keduanya melayang di udara.
“Jika kalian melakukan hal buruk pada tubuh yang kalian tumpangi, maka waktu kalian akan berkurang satu hari,” ucap Kakek Dan datar.
“Apa?!” pekik Ravi.