Sinar matahari pagi yang cahayanya begitu hangat tembus melalui jendela kaca mobil. Sayangnya, cerahnya sinar matahari tak secerah wajah Irene pagi ini. Irene tak bisa berhenti memikirkan orangtuanya. Selain karena sudah rindu, dirinya juga tak bisa berhenti memikirkan bagaimana reaksi orangtuanya nanti saat tahu Vino akan melamarnya hari ini. Dan untungnya Vino cukup peka. Vino tahu perempuan yang amat dicintainya itu sedang khawatir. "Kamu kenapa, hm?" tanya Vino. Irene menghela napas, "Aku takut." "Takut apa?" tanya Vino bingung. "Takut kalau ayah dan ibu tidak setuju sama pernikahan kita ..," lirih Irene. "Mereka pasti setuju," kata Vino dengan kepercayaan diri penuh. Irene mengerutkan dahinya, "Kok kamu yakin sekali?" Vino menaikkan satu alisnya, "Iya, kan kamu sudah cerai sama

