Different Surface~03

2283 Kata
Setelah menyelesaikan sesi berdiskusi nya dengan Dudley yang tidak menghasilkan apapun, Marcella memutuskan untuk langsung kembali ke apartemen milik nya. Pria bermata abu - abu itu terus membayangi pikiran nya, apalagi saat Dudley terus saja membuat spekulasi bahwa pria tersebut mengingat nya dan otak nya yang terus berusaha memperingati diri nya sendiri. Lalu kenapa pria tersebut bertindak seolah - olah tidak mengenal nya di pertemuan tidak sengaja pagi tadi ? Saat dentingan lift di depan nya berbunyi pertanda bahwa dirinya telah tiba di lantai apartemen nya, dengan gusar Marcella melangkah keluar. Sesaat dirinya berhenti berjalan saat melihat perempuan yang di ketahui nya sebagai tetangga nya itu tengah sibuk dengan beberapa barang - barang yang telah di bungkus oleh plastik. Membuat nya menatap bingung perempuan yang masih belum menyadari keberadaan nya itu.  "Permisi." sapa Marcella dengan kedua bola mata cokelat nya yang masih menelusuri seluruh barang - barang milik perempuan di samping nya, hingga 3 orang pria datang dan mengangkut nya. "Ya ?" mendengar sapaan nya di respon membuat Marcella berbalik menatap perempuan berambut sebahu tersebut " Saya tetangga sebelah anda, jika boleh tau apa anda akan berpergian ?" Perempuan di depan nya terlihat menatap nya sedikit bingung karena pertanyaan yang di ajukan nya seolah mereka tetangga yang cukup dekat, Padahal mereka bahkan sangat jarang dalam bertegur sapa. Hingga perempuan tersebut kembali tersenyum mencoba bersikap ramah. "Tidak. Saya akan pindah. Seseorang menawari saya untuk menjual apartemen saya dengan harga fantastis." Mendengar hal tersebut membuat rasa penasaran Marcella tiba - tiba memuncak. Apa pria pemilik bekas luka tersebut yang membeli apartemen milik perempuan ini ? "Siapa yang akan membeli nya ?" kali ini kerutan di dahi tetangga perempuan nya kembali dan semakin dalam "Seorang pria." jawab nya acuh sebelum kembali mengurusi barang - barang milik nya. Mendengar jawaban acuh yang sepertinya tidak akan membeberkan lebih dari itu, membuat Marcella dengan segera menyingkir meninggalkan perempuan tersebut yang kembali sibuk dengan barang - barang nya. ®®® Marcella terbangun dari tidur nya tepat pada jam 20.00 p.m, memang setiba nya Marcella apartemen dirinya kembali sibuk dengan kamera CCTV yang di yakini nya masih ada beberapa yang mengintai nya itu  tetapi sial nya setelah mencari selama 3 jam lebih dirinya tidak menemukan  kamera - kamera lain nya. Rasa gerah yang di rasanya saat terbangun dari tidur nya dengan pakaian yang masih sama saat di pakai nya untuk bertemu dengan Dudley siang tadi, membuat Marcella bergegas bangun dari ranjang nya dan segera berjalan kedalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuh nya dengan air hangat dan sedikit memiliki waktu berendam untuk menenangkan otak nya yang dari pagi ini di paksa nya berfikir. 25 menit dirinya telah berendam dalam air hangat dengan aroma terapi berbauh bunga teratai yang di tuangkan nya, tiba - tiba saja suara keras terdengar dari arah luar kamar nya membuat Marcella spontan membuka matanya dan dengan segera menyudahi waktu berendam nya. Ditarik nya bathrobe putih yang tergantung di sebelah nya lalu di pakainya dengan cepat, sebelum berjalan keluar dari kamar mandi yang menghubungkan nya langsung dengan kamar milik nya, lalu segera berjalan ke salah satu laci kecil yang terdapat di sampimg lemarinya, untuk membuka nya dan menemukan satu buah pistol hitam yang di sediakan nya hanya untuk berjaga - jaga. Melangkah keluar dari kamar nya dengan pelan dan penuh dengan kewaspadaan membuat air yang menetas jatuh ke bawah lantai dari rambut basah nya itu jauh lebih terdengar setiap tetesan nya, karena keadaan yang sunyi. Setelah memastikan dapurnya tidak ada apa - apa dirinya berlanjut ke ruang tamu dan masih sama dengan dapur, Marcella pun tidak menemukan apa - apa. Membuat Marcella perlahan - lahan menurunkan senjata nya yang awalnya di acungkan nya itu. Hingga pada saat Marcella masih memeriksa sekitar nya, tatapan nya terjatuh pada pintu apartemen milik mya yang terlihat sedikit terbuka itu membuat dirinya perlahan - lahan kembali berjalan mendekati pintu tetapi,kali ini dengan senjata yang di sembunyikan nya di balik bathrobe dan akan segera menarik nya keluar jika benar - benar ada seseorang yang menyusup masuk. "Meong..." suara dari kucing peliharaan nya terdengar dari arah pintu luar apartemenya, membuat Marcella semakin melangkah mendekat dengan berhati - hati. Lalu mulai mendorong pintu nya dengan lebih lebar bersamaan dengan sebelah tangan nya yang berada di dalam bathrobe, menggenggam pistol tersebut. Marcella hampir saja menarik keluar pistolnya lalu menembak nya ke seorang pria yang sedang berdiri tepat di depan pintu nya dengan kucing nya yang sedang menikmati elusan dari tangan pria tersebut, membuat nya berkali - kali mengeluarkan suara erangan tanda menikmati. "Nice to meet you again," Pria bermata abu - abu yang masih saja mengelus kucing milik Marcella dengan kedua bola mata abu - abu nya yang menghunus tajam membuka suara nya. "Marcella." Dan saat mendengar pria yang tidak di ketahui nya identitas itu mengetahui nama nya dengan cepat Marcella menarik keluar pistol nya dan menodongkan nya tepat ke arah dahi pria yang masih saja menatap nya dengan senyum yang tidak sampai kemata nya. "Siapa kau ?" Kucing yang awalnya berada di tangan pria tersebut spontan meloncat turun dan kembali masuk kedalam apartemen milik Marcella saat mengetahui suasana yang berubah. "Ssst.. Kau membuat kucingmu marasa terancam. Calm down. Because I won't make you feel threatened like you did to your cat." ¤¤¤   Entah bagaimana pistol yang awal nya berada di tangan Marcella kini telah beralih ke tangan pria di depan nya, membuat Marcella dengan cepat tersadar akan situasi yang telah berbalik. Saat melihat kesadaran Marcella dengan cepat pria bermata abu - abu itu kembali melancarkan serangan nya, meringkuk Marcella dengan sebelah tangan nya sebelum menempalkan tubuh bagian depan nya ke depan pintu. "s**t. Siapa kau ?" geram Marcella mencoba melepaskan ringkusan pria tersebut di kedua tangan nya di belakang. Dirinya dapat merasakan bahwa pria tersebut mendekati tubuh nya hingga bagian tubuh belakang nya menempel tepat dengan tubuh bagian depan pria bemata abu - abu itu.  "Ssst... Jangan membuat keributan. CCTV mengintai, Aku tidak ingin  menyakitimu tapi, semua itu tergantung padamu." bisik nya dengan lembut di telinga Marcella membuat Marcella dapat mersakan hembusan nafas hangat dengan harum tembakau dari nafas pria tersebut. Menenangkan dirinya Marcella berhenti memberontak dari ringkusan pria di belakang nya .Membuat pria tersebut menyunggingkan senyum, memuji Marcella yang dapat memahami situasi dirinya sendiri. "Great. Sekarang aku akan melonggarkan cengkraman ku pada pergelangan tanganmu, dengan syarat kau akan berjalan ke apartemen di sampingmu ini tanpa melakukan perlawanan. Atau pistol ini..." Perlahan - lahan sebelah tangan pria tersebut terjulur naik ke atas tubuh Marcella, sebelum menempelkan mulut pistol tepat di bawah dagu milik Marcella. " akan menembus dagu cantikmu hingga melobangi kepala kecilmu ini." sambung pria tersebut. Di saat pria tersebut berhasil membuat Marcella hanya berdiam diri mendengarkan, dengan perlahan di longgarkan nya cengkraman tangan tersebut. "Jalan." Bisik nya lagi membuat Marcella mengambil langkah dan berjalan tepat ke arah samping pintu apartemen. Disaat mereka telah tiba di depan pintu apartemen tersebut, secara tiba - tiba seseorang dari dalam membuka pintu apartemen membuat Marcella melirik pria di belakang nya. "Kalian sudah merencanakan nya." sinis Marcella membuat pria tersebut hanya tersenyum dengan mengangkat bahu nya. Marcella kembali melangkah masuk tetapi dengan pergelangan tangan nya yang telah di lepaskan sepenuh nya dari cengkraman pria tersebut. Diri nya pikir dirinya dapat kembali melepaskan diri setelah cengkraman tangan tersebut di lepas tetapi, saat melihat seisi apartemen tersebut terdapat beberapa pria berseragam jas dengan senjata di tangan membuat diri nya tahu, akan sulit lolos dari sini. "Kau bisa mengabaikan mereka semua. Sekarang duduk." perintah kembali pria tersebut yang telah mengambil tempat di depan sofa, berbeda dengan Marcella yang di tarikan sebuah kursi untuk dapat duduk saling berhadapan tepat di depan pria bermata abu-abu di depan nya. Di saat Marcella mengabaikan perintah tersebut dengan cepat pria pemilik bekas luka yang berada di belakang nya menekan kedua bahu nya dengan keras untuk duduk, membuat dirinya yang tidak menyangka langsung terduduk sebelum mencoba kembali bangkit,memberikan perlawanan yang langsung di tahan pria tersebut dengan kembali menekan paksa bahu nya. "Lihat situasimu nona, sebaik nya kau tenang." ucap pria pemilik bekas luka itu sebelum menjauhkan kedua tangan nya dari bahu kecil tersebut. "Brengsek." Maki Marcella membuat pria di depan nya hanya tersenyum lebar menatap nya. ¤¤¤ Sebuah sinar berwarna merah dari sebuah alat berbentuk sirene itu menyala, membuat beberapa orang yang sedang sibuk dengan komputer di depan nya beralih cepat memandang sinar merah terang yang terus menyala. Red Code. "Cepat lacak dari siapa Drop itu berasal." perintah seorang yang menjadi kepala bagian di dalam ruangan itu membuat orang - orang dengan cepat melacak nya. "Marcellia Jovanka. Agen Lapangan dengan igendritas kelas A. Titik lokasinya tepat berada di Street Wolverine, itu adalah lokasi apartemen miliknya." lapor seorang membuat beberapa orang mengalihkan tatapan nya kepada seorang pria yang masih berkutik di depan komputer nya. "Tapi, kurasa ada yang aneh. Titik lokasinya memang tepat di apartemen milik nya, tetapi kenapa dia menekan alarm untuk mengirim Red Code ke markas." ucapnya kembali membuat pria yang bekerja sebagai atasannya di dalam ruangan itu berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati nya. Beberapa detik kedua pria tersebut memerhatikan layar di depannya yang menampilkan sebuah titik lokasi dari Marcella. "Hubungi beberapa agen terdekat dari lokasi. Berikan mereka inctask untuk mengecek lokasi nya." perintah nya membuat semua orang yang berada di dalam ruangan dengan cepat menggerakan tangan nya di atas keyboard hitam,melacak lokasi - lokasi beberapa agen untuk di berikan inctask atau tugas singkat dari markas yang tidak terkonfirmasi.  "Agen Rusel. Anda menerima Inctask yang harus di lakukan dalam 3 detik. Please, give youre confirmation code." ¤¤¤ Marcella berpura - pura terbatuk - terbatuk saat pria di depan nya terlihat menghembuskan asap dari sebuah cerutu, membuat nya menundukkan sedikit tubuh nya dengan tangan kirinya yang menutup mulut dan hidung nya yang seolah menghalau asap dari cerutu yang membuat nya terbatuk - batuk itu dan sebelah tangan nya lagi yang secara diam - diam menekan liontin kalung di lehernya. Sebuah kalung dengan bentuk liontin berbentuk bunga matahari itu adalah kalung khusus yang diberikan kepada agen - agen C.I.V yang bertugas terjun langsung kedalam lapangan. Masing - masing agen memiliki bentuk liontin kalung yang berbeda - beda, hal itu berguna agar setiap agen yang tertangkap langsung oleh target tidak akan tau bahwa dia adalah utusan dari seorang agensi Intellegence C.I.V. Kalung buatan C.I.V dengan code velenc ini memilik 2 fungsi utama yang di tetapkan. Pertama, kalung ini berguna untuk membantu agen langsung melaporkan dari tempat kejadian ke markas utama. Kedua, kalung ini berguna untuk mengirim sebuah sinyal kemarkas utama yaitu sinyal yang disebut Red Code. Red Code diartikan sebagai keadaan darurat yang dimana dikirim oleh para agen yang tak bisa melaporkan langsung keadaan nya yang sedang berada dalam situasi darurat atau berbahaya, membuat markas utama harus mengambil tindakan. Melihat Marcella yang terbatuk - batuk di depan nya membuat Aldred menatap cerutu di tangan nya sebelum memanggil Richardo mendekat "Jauhkan cerutu ini dari dia. Aku tidak ingin dia membuat susah nantinya hanya karena asap ini." tunjuk Aldred melalui dagu nya kearah Marcella yang masih berpura - pura menormalkan nafasnya. "Apa maumu ?!" tanya Marcella setelah selesai berpura - pura mengatur nafasnya, mendengar pertanyaan perempuan didepan nya membuat Aldred menyunggingkan senyum nya. "Jawaban. Beberapa jawaban tepat nya." Mendengar maksud dari pria bermata abu - abu didepan nya membuat Marcella mengerutkan kening nya mengabaikan tatapan Aldred yang menyusuri tubuh nya yang hanya di tutupi oleh bathrobe. "Aku tidak tau apa yang kau cari. Tapi, sepertinya kau tidak akan mendapat jawaban yang kau inginkan dariku." "Kenapa kau berpikir begitu ?" "Karena kau bertanya pada orang yang salah!" mendengar jawaban yang diberikan Marcella dengan nada tinggi membuat Aldred menahan senyum nya sebelum menarik sebuah pistol dari dalam jas nya dan membolak - balik nya, memperhatikan nya lebih teliti. "Kurasa aku sudah benar bertanya pada orang yang tepat. Pistol bermerek Desert Eagle dengan panjang laras 152mm dan peluru 440 magnum." Aldred melihat gagang dari pistol tersebut membuat nya menaikan sebelah alisnya "Lihat, disini tertulis sebuah inisial dengan huruf M.J." Sebelum kembali membalikan pistol tersebut dengan ujung mulut nya yang tepat menghadap ke arah dirinya sendiri, membuat Marcella yang melihat nya benar - benar berharap dapat menarik pelatuk nya membuat kepala pria tersebut memiliki lobang menganga tepat di tengahnya. Sayangnya kondisi tidak mendukung nya, bahkan jika dirinya berdiri saja maka mereka pasti sudah akan mengambil tindakan untuk kembali memaksa nya duduk, terlebih jika Marcella mencoba melesatkan ssebuah peluru ke arah pria di depan nya yang diyakini nya sebaga boss dari mereka semua yang berada dalam ruangan. Maka kepala nya yang akan mendapat lobang menganga tepat di dahinya. "Aku sudah benar bukan ? Bertanya padamu Marcella Jovanka." Marcella sudah menduga pria di depan nya ini pasti sudah mencari tahu mengenai latar belakang nya membuat dirinya menyipitkan mata menatap pria didepan nya. "Melihat kau sudah mencari tau mengenai latar belakangku, bukankah itu sudah menyimpulkan bahwa kau memang bertanya pada orang--" Saat Marcella masih mencoba mengulur waktu dengan terus menyangkal bahwa dirinya hanya orang biasa - biasa saja membuat Aldred melempar pistol miliknya kelantai dengan keras hingga kantung dari peluru pistol tersebut terlepas memperlihatkan 7 buah peluru yang kini menggelinding dari tempat nya. Dengan cepat pria tersebut melangkah ke arah Marcella lalu mencengkram rahang nya seolah akan meremukan nya jika, Marcella masih saja mengelak. "Orang yang salah ? Kau!. Kau seorang pramugari yang menerima gaji tetapi menjadi penari e****s ? Apa gaji sebagai seorang pramugari tidak cukup, membuatmu harus bekerja sebagai penari e****s ? Jangan menyangkal, Itu hanya kedokmu! Aku tau kau itu bukan seorang pramugari !" jelas Aldred sebelum melepaskan cengkraman nya di dagu Marcella dengan kasar membuat wajah kecil tersebut terlempar kesamping. "Sepertinya kau suka menguji kesabaran seseorang. Harus kuapakan dirimu agar dapat diajak bekerjasama."  sambung Aldred seolah bertanya kedirinya sendiri, dengan kedua bola mata abu - abu miliknya yang terus menatap Marcella yang juga berbalik menatap nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN