Different Surface~04

2379 Kata
"Sepertinya tidak ada yang terjadi disini. Apa kau yakin dia hanya tidak sengaja mengirim Red Code ?" tanya Rusel melalui wirelles yang dipakai nya. "Tidak. Agen seperti Marcella tidak melakukan kesalahan. Cek saja." Saat dentingan kecil dari lift terdengar, Rusel keluar berjalan dengan santai. Mengantungi kedua tangan nya di balik jacket yang di pakai nya dengan sebuah pistol dalam genggaman nya. "Nomor berapa apartemen nya ?" tanya nya kembali setelah melihat 2 pintul flat apartemen di depan nya. "3856" melihat nomor di pintu apartemen sebelah kiri nya membuat Rusel berjalan mendekat ke arah pintu tersebut. Menekan bel yang pertama, Rusel belum mendapatkan respon apapun dari dalam membuatnya menekan bel kembali. Hingga saat dirinya telah menekan bel untuk yang ke 5 kalinya, dirinya kembali menekan wirelles di telinga nya "Tidak ada respon dari dalam flat apartemen nya. Berikan password flat nya, aku akan mengeceknya kedalam." "Tunggu sebentar." Sembari menunggu password dari flat Marcella dirinya menyibukan mengamati sekitaran apartemen.  Melihat 1 buah cctv dari sebelah timur dan 1 lagi tepat di belakang nya, menghadap ke arah lift. Situasi ini akan menjadi aneh jika memang sesuatu terjadi dan 2 buah cctv ini tidak menyorot apapun. "Apa kau sudah mengecek cctv dari apartemen ini ? Seharusnya 2 cctv ini merekam nya jika memang sesuatu terjadi." "Tidak bisa. Itu sama saja melanggar protokol, kita membutuhkan ijin untuk mengakses CCTV dari mereka. 41583." Mendengar kode yang di berikan membuat Rusel kembali mendekati pintu flat apartemen Marcella. Menekan digit - digit dari kode tersebut secara perlahan bersamaan dengan pintu sebelah apartemen yang berbunyi, bertanda terbuka. Menghentikan gerakan tangan nya yang sebentar lagi akan membuka pintu setelah berhasil memasukan digit - digit dari password apartemen, dengan perlahan Russel berbalik menatap seorang pria yang sekarang berdiri tepat di samping nya. Menempelkan sebuah pistol di pinggangnya. "Siapa kau ?" Tiba - tiba keadaan menjadi hening tidak ada jawaban yang di dapatkan saat Russel bertanya. "Tid--" DOR Secara tiba - tiba Russel menarik keluar pistol dari kantong jaketnya lalu menembakkannya tepat ke bawah, kaki pria yang mencoba menyandranya. Membuat pria yang juga memegang pistol sama dengan nya dengan cepat berjalan mundur, menghindarinya lalu kembali mengacungkan pistol ke arahnya. Keadaan menjadi semakin mencekam saat tidak ada diantara mereka yang berniat menjatuhkan senjata dan hanya saling menodong satu sama lain dengan jarak yang cukup jauh.  DOR Kali ini tembakan itu kembali dilepaskan oleh Russel saat pintu apartemen itu kembali terbuka, menembak nya tepat ke arah seorang pria yang sepertinya berniat keluar membantu pria didepannya. Setelah berhasil menembakan satu tembakan tersebut dengan cepat Russel kembali menembakan pistolnya secara acak lalu berlari menuju tangga darurat yang tersedia. Terus berlari Russel menekan wirelles ditelinganya bersamaan dengan terus berlari turun "Kirim bantuan bersenjata.  Sepertinya Agen Marcella mengalami penyekapan." Setelah berhasil melaporkan kejadian nya, seseorang di sebelah sana yang terhubung dengan wirelles miliknya terdengar berteriak, ikut menyampaikan situasi . Suara langkah kaki yang mencoba mengejar dirinya semakin terdengar mendekat ke arahnya membuat Russel kembali melepaskan tembakannya saat terlihat seorang pria yang kini berhasil mengejarnya. ®®® Marcella mengalihkan pandangan nya dari Aldred saat pria pemilik bekas luka yang masih saja belum diketahui namanya itu tiba - tiba menghampiri pria bermata abu - abu yang baru saja melepaskan cengkraman di rahangnya dengan kasar. Mendapat lirikan tajam dari Marcella membuat Ricardo, tangan kanan dari Aldred sedikit berbalik menatap Marcella sebelum mengembalikan fokusnya ke arah Aldred yang kini juga menatap nya, menunggu laporan. "Ada apa ?" "Kurasa kita harus segera pergi dari sini, keadaan di luar mulai tidak terkendali." lapor Ricardo membuat Aldred menggeram marah sebelum berbalik menatap Marcella yang hanya memasang wajah datar, sepertinya agensinya telah mengirim bantuan. "Apa kau meminta bantuan ?!" hardik Aldred didepan wajah Marcella dengan keras membuat perempuan didepannya hanya mengkerutkan kening. "Bagaimana cara nya ? Aku sedari tadi disini. Didepanmu." "Atur jalan keluar." Perintah Aldred membuat Ricardo mengangguk sebelum berbalik pergi, mengumpulkan semua pria yang bearada di dalam apartemen yang dilengkapi senjata untuk mendekat, memberi perintah. Tidak mencengkram rahang Marcella lagi membuat Aldred kembali membungkukan badanya untuk menutup jarak wajah di antara dirinya dan Marcella yang masih saja duduk di kursi, mencengkram kuat kedua bahu perempuan bermata cokelat pekat itu sebelum kembali menggerem. "Sebaiknya setelah ini kau membuka mulutmu." terlihat tatapan Aldred yang turun menatap bibir Marcella yang terlihat berwarna kemerahaan cerah, normal. "Sebelum kurobek menjadi dua mulut cantikmu itu." sambung nya. Mendengar ancaman yang diberikan kepadanya membuat Marcella membentuk sebuah senyuman di bibirnya, sebelum mengangkat kedua tangannya untuk menyingkirkan kedua tangan Aldred yang mencengkram bahunya dengan kasar. "Pikirkan saja caramu untuk keluar lebih dahulu secara hidup - hidup dari sini." balas Marcella membuat Aldred kembali menegakan tubuhnya dengan kedua tangan nya yang dimasukan kedalam kedua saku celana nya, terlihat angkuh terlebih dengan senyuman sinis yang terpasang di bibirnya mendengar ucapan Marcella. ¤¤¤ Keadaan menjadi kacau, orang - orang didalam ballroom apartemen terdengar berteriak saat Russel telah keluar dari tangga darurat dengan orang - orang yang mengejarnya saling menembakan peluru. Membuat seisi orang didalam ballroom berteriak panik saat suara tembakan terus menerus terdengar. "Keluar dari sana. Bantuan bersenjata sudah datang." kembali suara dari wirelles yang dipakinya terdengar saat dirinya masih saja terus berlari hingga ke ballroom apartemen. DOR Russel kembali menembakan peluru terakhirnya saat seseorang akan menembakinya, membuatnya dengan cepat menembak orang tersebut lalu menghilang dibalik kerumunan orang yang panik berusaha menyelamatkan diri. Dengan terus berjalan melawan arus orang - orang yang berkeliaran berusaha mencari jalan keluar, Russel kembali menekan wirelles yang berada di telinga nya "Kupikir akan sedikit sul--" ucapan nya terhenti saat melihat seseorang berdiri didepan nya menembak peluru kearahnya. "Menunduk !" secara spontan dirinya menunduk, membiarkan peluru tersebut melesat melewati dirinya. Dirinya berbalik menatap kebelakang saat agen didepannya melepaskan peluru ke seseorang di belakang nya. Terlihat salah satu pria yang mengejarnya itu tertembak tepat di dadanya dan kini merosot terjatuh. Dengan cepat Russel menghampiri para agen - agen lainnya yang datang untuk membantu, sedangkan para agen - agen tersebut mengcovernya agar tidak tertembak. "Apa pistol tersebut masih ada pelurunya ?" tanya salah seorang agen dengan berteriak keras yang masih saja mengacungkan senjatanya dengan terus menembak. "Pelurunya telah habis." ucap Russel sebelum melempar kesembarang arah pistol tersebut. "Hey, tangkap ini." teriak seseorang dari arah belakang yang terlihat menlemparkan senapan laras panjang kearahnya itu M16, dengan gesit Russel menangkapnya . "Jadi kita akan kemana ?" tanya seorang agen yang masih mengawasi pergerakan setiap orang, berjaga - jaga jika seseorang datang untuk menembak. "Lantai 6. Marcella ada disana." balas Russel berasamaan dengan melepas tembakannya saat melihat salah satu komplotan pria yang mengejarnya mendekat. "Kurasa terlalu berbahaya untuk kita ke atas. Mereka pasti akan keluar karena mereka sudah terkepung, bagaimana jika kita melakukan penyergapan di luar saja." "Benar. Terlalu banyak warga disini." Mendengar ucapan agen lainnya membuat Russel menyetujuinya. Melakukan penyergapan diluar gedung. ¤¤¤ "Kita bisa mulai bergerak sekarang." lapor Ricardo membuat Aldred yang sedang menghitung jumlah pelurunya itu berbalik menatap tangan kanan nya sebelum kembali berbalik menatap Marcella. "Bawa dia." perintahnya kearah Marcella membuat dua bawahannya segera berjalan mendekati Marcella dan menggeretnya berdiri dari kursi. Marcella yang hanya digeret dengan paksa diam saja, membiarkan bawahan dari pria tersebut memegang kedua lengannya erat. Pintu apartemen di buka membuat suara tembakan tidak terdengar hingga saat pintu darurat kembali dibuka suara tembakan yang memantul terdengar naik, menghampiri telinga mereka. 4 bawahan dari Aldred berjalan lebih dahulu sebelum Ricardo dan disusul dengan Aldred dan yang terakhir Marcella bersama 2 orang pria di kanan kiri, menahannya. Mereka terus berjalan dengan hati - hati menuruni tangga secara teratur bahkan berusaha untuk tidak menimbulkan suara sama sekali, terdengar suara tembakan yang semakin nyaring saat mereka hampir mendekati ballroom hotel. Pria bermata abu - abu itu hanya berdecih jengkel saat melihat mayat dari bawhannya yang tergeletak bersimbah darah akibat peluru yang mengenai mereka di area vital. Bahkan terlihat pria tersebut masih saja melampiaskan kejengkelan nya dengan menendang tubuh mereka untuk menyingkir dari jalannya ataupun menginjak tubuh bawahannya yang tidak bernyawa lagi. Membuat Marcella yang melihatnya hanya mengernyit tidak suka dengan pria bemata abu - abu didepannya yang jalan lebih dahulu. Suara tembakan yang awalnya terdengar sangat kencang itu mulai hilang secara perlahan - lahan, hingga tidak terdengar lagi. Tepat saat mereka telah mencapai pintu terakhir yang langsung akan menghubungkan mereka dengan ballroom hotel. Keadaan yang menjadi hening itu justru membuat suasana semakin tegang dibanding saat suara ribut akibat tembakan dan teriakan panik itu terdengar.  *** Dengan perlahan mereka berjalan dikeluar melewati pintu dengan masing - masing senjata yang sudah mengacung kedepan. Marcella menggerakan matanya kesana kemari di dalam ballroom mencoba mencari petunjuk keberadaan dari agen - agen yang telah dikirim oleh agensinya. Yang dilihatnya hanya sekumpulan bawahan Aldred yang saling tergeletak lemah dibawah lantai dengan darah yang sedikit berserakan, berbanding terbalik dengan bawahan nya yang di tangga. Tertembak mati. Sepertinya agennya hanya melumpuhkan para bawahan yang dimiliki pria bermata abu - abu ini. Hal tersebut terlihat saat bawahan milik pria tersebut masih bernafas meskipun tidak sadarkan diri lagi. Mereka masih bisa diselamatkan. Agen C.I.V tidak bisa melanggar protokol yang jelas tertera bahwa mereka tidak bisa membunuh warga saat diluar misi negara. Mereka hanya bisa di izinkan untuk membunuh banyak orang saat mereka menjalankan misi yang diberikan negaranya, bukan nenyelamatkan seorang agen. Melihat bawahannya masih banyak yang bertahan dan hanya tertembak di bagian lengan dan kaki, membuatnya membuka suara saat melihat Ricardo memberi perintah kepada 4 pria didepan nya untuk membereskan mereka. Mereka tidak boleh meninggalkan petunjuk sedikitpun terlebih meninggalkan seorang informan yang bekerja langsung kepada mereka, tapi terlalu membebani juga bagi mereka untuk membawa yang sudah tertembak tersebut. Jadi lebih baik menghabisinya ditempat. "Kita tidak punya waktu untuk itu, Ricardo. Mereka pasti masih berada disekitar sini. Kita akan mengurus mereka semua nanti setelah keluar dari sini." perintah Aldred membuat Ricardo menarik kembali perintahnya kepada 4 orang bawahannya. "Apa kita akan keluar melalui pintu depan ?" "Ya. Saya sudah mengurusnya. Meskipun begitu kita harus terus berhati - hati." mendengar penjelasan Ricardo membuat Aldred mengangguk sebelum kembali mengambil langkah. Pintu ballroom hotel telah dibuka lebar membuat mereka kembali melangkah keluar dengan hati - hati. Keadaan di luar hotel telah sepi, sepertinya mereka telah berhasil mengevakuasi warga dari tempat ini dan telah memblokir jalan agar tidak ada kendaraan yang lewat. "Kemari." ucap Ricardo kepada seseorang melalui wirelles yang dipakainya. Tidak lama mereka menunggu sebuah mobil berwarna hitam terlihat berlari dengan kecepatan arah tinggi ke arah mereka membuat mobil tersebut mengeluarkan decitan ban saat direm dengan tiba - tiba tepat didepan mereka. DOR Sebuah tembakan yang diluncurkan tepat keraah ban mobil tersebut terdengar sangat keras memekakan telinga terlebih saat ban tersebut meledak. Membuat Ricardo dengan gesit menutup pintu mobil dengan keras bersamaan dengan dirinya yang refleks mundur saat mendengar suara tembakan. Suara derap kaki yang banyak membuat Aldred beserta bawahannya mundur mencoba melindungi dirinya dari tembakan. Secara gesit mereka berdiri saling membelakangin. Aldred beserta 3 bawahannya mengangkat senjatanya tepat kesebalah kanan sedangkan Ricardo mengangkat senjatanya tepat kearah kiri. Saling membelakangi dan berhadapan langsung dengan agen - agen yang juga telah mengepung mereka dengan senjata yang mengacung pada mereka. Marcella menatasp seorang agen yang telihat menatapnya,untuk memastikan dirinya. Sepertinya mereka agen yang dikirim untuk mengkonfirmasi sinyal Red Code yang dikirimnya. "Apa mereka semua sudah siap ?" tanya Aldred yang pastinya ditujukan kepada Ricardo, tanapa menurunkan kewaspadaannya dari 3 pria  didepannya. Russel membidik tepat kearah Aldred yang diasumsikannya sebagai ketua dari mereka semua. "Sebaiknya lepaskan perempuan tersebut dan kami akan membiarkanmu pergi." Mendengar negosiasi yang dilemperkan oleh Russel membuat Aldred tersenyum meremehkan dengan mata yang menajam. "Kalian berbohong. Ban mobilnya telah kalian pecahkan." sinis Aldred membuat Russel menipiskan bibirnya. "Bersiap menembak." gumam Russel memberi perintah saat tahu negosiasinya ditolak, membuat ke 6 agen bersiap menarik pelatuk yang berada tepat di ujung jarinya. "Tembak." entah perintah tersebut sikeluarkan oleh Aldred ataupun oleh Russel, seketika suasana menjadi berantakan di iringi dengan suara tembakan yang terdengar memekakakn telinga, bersamaan dengan Marcella yang cepat menendang bagian belakang paha salah satu penjaga yang berada disampingnya, lalu menarik tangan tersebut ketas saat pria tersebut segera berbalik akan menembakinya, Melepaskan tembakan tersebut ketas. Sebelum kembali menendang perut nya hingga pria tersebut terjatuh dan merebut pistol yang berada ditangan nya. Keadaan menjadi kacau, tidak menunggu lagi membuat Marcella mulai menembaki bawahan pria bermata abu - abu tersebut. Keadaan mulai semakin tidak terkendali saat 2 orang agen yang bertugas jatuh dengan kepala yang tertembak peluru tepat dikepalanya. Membuat Marcella mencari kesegala arah gedung dan menyadari bahwa seorang penembak runduk yang pastinya komplotan dari Aldred itu yang menembaki agen lainnya tanpa mereka sadari. "PENEMBAK RUNDUK." teriak Marcella bersamaan dengan dirinya yang kini mengarahkan tembakannya keatas gedung, mencoba menembaki pria tersebut. Mendengar ucapan Marcella membuat Russel mengikuti arah pandang perempuan tersebut yang memperlihatkan nya kepada seorang pria yang tidak terlihat wajahnya itu sedang mencoba membidik kepala mereka. Yang kali ini sepertinya kesusahan karena mereka terus bergerak, tidak bisa menentukan bidikannya terelebih saat Marcella yang mencoba menembaki kembali dirinya. Aldred menepis tangan Marcella dengan kasar membuat senjata digenggamannya tertepis jatuh saat mencoba membidik penembak diatas gedung tersebut. Melayangkan tinjuannya kearah Aldred membuat pria tersebut dengan cepat menangkisnya sebelum kembali mengarahkan pistol miliknya kearah Marcella yang diam mematung. Sebelum sebuah peluru akan dilepaskan kearah pria bermata abu - abu yang langsung diperingati oleh Ricardo, membuatnya berbalik kembali menembaki agen - agen lainnya. Melihat Aldred yang kembali fokus menembak kearah lainnya membuat Marcella bersiap mengambil kembali senjata yang berada di bawah tanah tersebut, sebelum sebuah peluru menggeser senjata tersebut mundur dari jangkauannya membuat Marcella menarik tangannya gesit. 'Sial.' Maki Marcella saat tahu bahwa tangannya hampir saja tertembak oleh penembak runduk tersebut. Dengan gesit Ricardo menunduk mengambil senjata yang masih tergeletak tepat dibawah Marcella sebelum melemparnya senjata tersebut kearah Aldred yang langsung ditangkapnya.  Membuat pria bermata abu - abu itu kini memegang 2 senjata ditangannya. Russel memberikan Marcella kode untuk berlari diujung gang "Disana ada sebuah mobil. Kita harus pergi sekarang." ucap Russel dengan terus menembak. Mengangguk mengerti membuat Marcella mulai berlari pergi sesuai yang diperintahkan oleh Russel kepadanya diikuti dengan ke 4 agen lainnya dibelakang, mencoba memblok tembakan. Keadaan mulai menjadi tidak seimbang bagi Aldred saat hanya tersisa 3 orang diantara mereka. Sementara dirinya mulai kehabisan peluru membuatnya berbalik menatap keatas gedung, menatap penembak runduk yang kesusahan menentukan targetnya itu. Dengan kasar Aldred melempar senjatanya sebelum menarik paksa wirelles dari telinga Ricardo dan memakainya. "APA YANG KAU LAKUKAN?!" murka Aldred tepatnya kearah penembak runduk tersebut dengan terus menatap tajan keatas gedung. "Maafkan saya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN