Bagian 2: Pria Dari Masa Lalu

1373 Kata
#Kontes Menulis Innovel II - The Girl Power Sebagian luka mudah disembuhkan tanpa meninggalkan bekas. Sebagian lagi terlalu dalam untuk ditambal. Meskipun sudang mengering, sakitnya masih terasa saat disentuh. *** “Tunggu.” Sebuah teriakan menghentikan pergerakan Resha. Itu bukan suara kasir, melainkan suara seorang laki-laki dewasa yang berjalan menerobos antrian. Laki-laki itu berjalan menuju ke depan kasir sambil meminta izin pada orang-orang yang sedang mengantre agar memberinya jalan, “Permisi, itu istri saya, saya harus membayar belanjaannya.” Resha membelalakkan matanya sepersekian detik sebelum akhirnya kembali menguasai diri. Laki-laki ini, pria yang sedang menerobos antrean adalah pria dari masa lalu yang tidak ingin ia temui. Apakah ini kebetulan? “Tambah ini ya, sekalian saya bayar dengan belanjaan istri saya,” ucap pria itu pada kasir. “567.000 ditambah 105.000, total 672.000 ya Pak.” Ingin rasanya Resha berlari kencang meninggalkan tempat itu. Namun, dia juga tahu betul bahwa itu tidak akan berguna sama sekali. Apalagi sekarang mereka menjadi tontonan beberapa orang yang sedang mengantre. Selain itu, dia mau kabur kemana? Seorang Randi Pratama akan dengan sangat mudah menemukannya selama mereka masih berada di kota yang sama. Tidak akan sulit bagi pria itu untuk mencari seseorang di kota sekecil ini. Randi menyodorkan kartu. Setelah semua belanjaan dimasukkan ke dalam tas belanja, Resha memasukkan kembali ke troli. Tidak akan kuat jika harus dijinjing sampai depan supermarket. Resha berpindah sedikit menjauh dari kasir untuk memberi ruang dan menunggu pria itu selesai. “Terima kasih,” ucap Resha berusaha menahan gugup saat pria itu berjalan mendekat kearahnya. Pria itu sudah menyelesaikan pembayaran. “Saya harus transfer ke mana ini?” Imbuhnya. “Khanza Aresha, kan?” Cara pria itu bertanya tidak lagi ramah seperti saat bicara pada kasir tadi. Mata elang itu menatap tajam sambil menunggu jawaban. Ini hanya pertanyaan basa-basi, dia tau betul siapa wanita yang ada di hadapannya ini. “Maaf, Anda salah orang,” jawab Resha tegas. “Belanjaan saya tidak sedikit. Saya harus membayar Anda kembali. Nomor rekeningnya berapa?” Bukannya langsung menjawab pertanyaan, pria itu justru berkata lirih, “Saya tidak mungkin salah mengenali kamu.” Tatapannya masih dingin. Seolah ada sedikit kemarahan di sana. “Saya tidak hapal nomor rekening.” Ucap pria itu, akhirnya memberi jawaban atas pertanyaan Resha yang tadi dianggurkannya. “Kamu masukkan nomor handphonemu ke sini, nanti saya akan kirim nomor rekening.” Dia mengeluarkan benda segi empat panjang dari kantung jaket. “Oh, hmmm, saya baru beli nomor ini jadi tidak hapal.” Jawab Resha. Trik murahan. Siapa pun tau bahwa ada cara melakukan pengecekan nomor walaupun kamu tidak hapal nomormu. Lelaki itu mengulurkan tangannya, “Kalau begitu, kemarikan handphone-mu.” “Anda berniat melakukan panggilan dari handphone-ku ke nomor Anda?” Randi mengangguk. “Karena baru beli, pulsanya nol. Tidak bisa melakukan panggilan dari nomor ini.” Imbuh Resha. Ketenangannya mulai pudar, berganti gugup yang semakin sulit disembunyikan. Pria itu tersenyum, bukan senyum yang bagaimana, melainkan senyum mencemooh untuk alasan yang Resha berikan. Senyum itu sedikit miring dan terdengar kata cih lirih. Bahkan tanpa pulsa, panggilan bisa tetap terdeteksi di nomor tujuan. Selain itu, bahkan ada layanan tagihan di bayarkan oleh si penerima. Sialnya, Resha baru menyadari kebodohannya setelah melihat ekspresi pria itu. Randi terlalu pintar untuk dapat dibodohi Resha. Seorang direktur yang sudah terbiasa menemukan alternatif solusi ketika sebuah proyek yang ditanganinya tidak berjalan mulus. “Tadi kamu berniat menggunakan internet banking, apakah nomor itu sudah bisa akses internet?” Pertanyaan ini disampaikan dengan nada yang sangat tenang, tidak terburu-buru sama sekali. Sedangkan Resha menjawab dengan sangat cepat, terlalu cepat sehingga tidak memahami kemana arah pertanyaan pria itu. “Tentu saja.” Dia menganggukkan kepala dua kali. “Kalau begitu, kita bisa menggunakan kode QR aplikasi w******p. Kemarikan handphonemu.” Kena deh. Alasan apalagi? Tidak ada alasan masuk akal yang muncul di kepala wanita cerdas ini. HP tertinggal? Jelas-jelas tadi ada di genggaman tangannya. Gontai tangan Resha meraih ponsel di dalam tasnya lalu meletakkan di telapak tangan pria itu yang sudah terulur menunggu. Tak butuh waktu lama, nomor mereka terdaftar di hp masing-masing. “Mulutmu mengatakan kalau kamu bukan Khanza Aresha, tapi sepertinya HP-mu tidak setuju.” Ucap Randi begitu nomor Resha sudah terdaftar di kontak hp-nya dengan mengarahkan layar ke arah Resha. s**l. Ya, Randi adalah laki-laki dari masa lalu Resha yang tidak ingin ia bawa ke masa sekarang, apalagi masa depan. Untuk saat ini itulah yang dia inginkan. Entahlah jika takdir mempermainkannya, lagi. “Mama buruaaaaan,” rengek Dika sambil menggoyangkan gamis Resha. “Maaf, saya buru-buru. Saya tunggu nomor rekening Anda.” Ucapnya sambil sedikit menundukkan kepala. Ucapan Randi sama sekali tidak ia gubris. Randi membiarkan Resha pergi. “Kita akan bertemu kembali,” ucapnya. Segera ia raih handphone, mengetikkan sesuatu, lalu mengirimnya. [Saya ingin kamu bayar cash. Temui saya besok di Red Cafe, tidak jauh dari supermarket ini pukul 4 sore.] Resha mengetikkan balasan saat sudah menaiki taksi. [Pembayarannya bisa saya transfer saja. Saya tidak memiliki alasan lain untuk harus bertemu Anda secara langsung. Saya tunghu nomor rekening Anda.] Randi berdecih membaca pesan balasan itu. [Jangan paksa saya untuk membuat hari ini menjadi hari terakhirmu bertemu dengan bocah kecil itu.] Apakah ini ancaman? Apa-apaan pria ini? Resha menghela napas berat setelah membaca pesan itu. Tidak ada cara menghindar. Masalah ini akan ia hadapi besok. [Baiklah, saya akan menemui Anda besok.] Ibu manapun tak akan sanggup menjadikan perpisahan dengan anaknya sebagai taruhan atas permasalahannya. Dan orang dewasa yang menjadikan anak sebagai ancaman benar-benar orang yang picik. Saat ini mereka tengah bersiap akan tidur. “Mama, istri itu apa?” Tanya Dika. Dari mana bocah ini mendengar kosa kata itu? “Kalau nanti Dika sudah dewasa lalu menikah, maka wanita yang menikah dengan Dika itu disebutnya istri, sayang. Dika dengar dimana?” “Om yang tadi bantu bayar belanjaan Mama bilang kalau Mama itu istrinya.” Deg! Ada desiran yang menyentak kuat aliran darah Resha. Artinya dia papa Dika, Ma, kalimat lanjutan yang tertahan di hati Dika. Dia tidak melanjutkan karena wajah mamanya akan tampak murung tiap kali Dika membahas tentang papa. Papa Dika dimana, Ma? Pernah kalimat itu ia utarakan saat bully-an dari teman-temannya di nursery tentang papa tidak bisa lagi ditanggung bocah sekecil itu. Namun, Resha memilih tidak menjawab. Dia akan mengalihkan topik pembicaraan. Besok paginya, dia akan menemukan Mama dengan kondisi mata yang bengkak, seperti menangis semalaman. Bukannya ia tak mendengar rintihan, dia hanya pura-pura tidak mendengarnya. Situasi mendewasakan bocah itu lebih cepat sehingga dia berjanji tidak akan menanyakan perihal ayah lagi, meski sangat ingin. Di supermarket, pria yang membayar belanjaan mereka tadi malam, dia yakin adalah ayahnya. Hal yang paling membuat bocah itu yakin adalah kemiripan wajah mereka. Dika memang Randi versi kecil, persis. *** Resha tergesa menuruni taksi dan berjalan masuk kafe. Melayangkan pandangan, dia dengan mudah mengenali pria itu. Kok bisa? Bukankah mereka sudah lama tidak bertemu? Bukankah kamu tidak akan melupakan bekas jahitan operasi yang ada ditubuhmu meskipun bekas itu tidak tampak lagi setelah operasi plastik dilakukan? Itulah perumpamaan Randi bagi Resha. Sakit yang ditimbulkan memang tidak tampak, tapi Resha masih mengingat bagaimana kejadiannya. Secara tidak langsung dia akan mengingat pelakunya. “Maaf, saya sedikit terlambat.” Resha menggeser kursi dan duduk tanpa permisi. Ia langsung merogoh tas dan mengeluarkan uang sejumlah 567.000 yang sudah dimasukkan kedalam amplop. Meletakkan di atas meja lalu menggesernya ke arah depan, mendekati Randi. Pria itu hanya mengamati, meletakkan tangan kanan di dagu dan menumpunya di meja, "Seriously?" Alis matanya berubah tidak simetris. Resha tergagap. “Oh, iya, saya lupa. Ini tambahan seratus ribu lagi sebagai uang jasanya. Terima kasih banyak, Pak Randi.” Resha tau betul maksud Randi bukan itu, bukan biaya tambahan yang harus ia bayarkan. Namun pikirannya kacau karena gugup. Tak menunggu, Resha langsung berdiri dan hendak segera pergi. “Ingatan kamu sepertinya sudah kembali.” Pria itu mengejek. Barusan wanita itu menyebut namanya, padahal sejak pertemuan kemarin dia sama sekali tidak menyebutkan nama. Untuk sesaat pergerakan Resha terhenti, ucapan pria itu tidak ia gubris. Dia kemudian melanjutkan langkah. Hanya dua langkah sebelum akhirnya kembali berhenti karena ucapan pria itu. “Dika, anakku, kan?” Rahang wanita itu mengeras. Tangannya terkepal dengan buku-buku memutih. Inilah yang ia takutkan saat harus kembali ke tanah air. Bertemu pria ini. Pria yang telah meruntuhkan dunianya, impiannya, rencana masa depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN