bc

Kembali Utuh Usai Runtuh

book_age12+
80
IKUTI
1K
BACA
drama
sweet
lighthearted
like
intro-logo
Uraian

Hidup Khanza Aresha yang awalnya normal dan baik-baik saja mendadak hancur sejak hari dimana ia mengantarkan berkas ke ruang direktur perusahaan tempat gadis itu magang dalam rangka penelitian pendahuluan tesisnya. Dunianya runtuh, semua berubah. Laki-laki itu mengambil hal yang sangat berharga baginya. Meninggalkan benih yang tidak dapat ditolak di dalam rahimnya.

Gadis itu menjadi ibu di usia muda, melewati kehidupan k***m seorang diri. Meski hancur, bermodalkan imannya, dia percaya bahwa Tuhan akan merangkul dan membimbingnya untuk melewati hari demi hari sampai akhir umurnya. Perlahan tapi pasti, dunianya kembali utuh.

Namun takdir kembali mempermainkannya, bertemu kembali dengan laki-laki itu. Badai seperti apa yang akan dilaluinya? Hidup memang tidak pernah mulus, selalu ada tanjakan dan turunan, suka dan duka, agar hidup itu berwarna.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bagian 1: Kembali Pulang
#Kontes Menulis Innovel II - The Girl Power Takdir kadang bisa selucu itu. Kamu tidak menemukan saat berusaha mati-matian mencari. Namun justru dipertemukan saat telah pasrah. *** Hari ini Resha kembali ke tanah air setelah enam tahun berlalu. Pesawat yang ditumpanginya sudah landing beberapa menit yang lalu. Dia menunggu beberapa saat agar tidak berdesakan dengan penumpang lain keluar pesawat. Beruntung nomor kursinya agak di depan sehingga turun pesawat melalui garbarata. Akan lumayan merepotkan jika dia harus turun pesawat melalui tangga dan harus turun ke landasan bandara. Ditambah cuaca kota Padang yang lumayan panas membuat Resha menggumam Alhamdulillah berkali-kali karena perjalanannya Allah mudahkan. Setelah mendapatkan bagasinya, Resha berjalan menuju pintu keluar kedatangan Minangkabau International Airport dengan mendorong dua koper berwarna hitam, miliknya dan Dika. Garis wajah asli Minang yang dimilikinya tampak jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Bagaimana tidak, perjalanan hidup mendewasakannya lebih cepat. Metamorfosa dari gadis manja menjadi wanita mandiri berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Ia tampak tetap modis dengan gaya jilbab terurai menutup d**a. Sebuah bros jilbab permata putih berbentuk kupu-kupu bertengger di bahu sebelah kirinya. Bentuk tubuh proporsional yang tertutup gamis melindungi wanita ini dari tatapan pria nakal yang jelalatan melihat wanita cantik. Ditambah pembawaannya yang anggun dan dewasa membuat orang-orang yang tak mengenalnya akan salah mengiranya sebagai gadis muda perawan. Seorang anak laki-laki yang memegang tangan kiri Resha membantu mematahkan sangkaan orang-orang itu. Iya, itu anaknya, Mahardika Akbar. “Ayo, Dika, jalannya coba agak cepat. Mama udah nggak sabar pengen istirahat,” ucapnya setengah memohon pada anak laki-laki itu. “Iya, Mama sayang. Ini aku udah cepat kok jalannya. Emang langkahku aja yang nggak selebar Mama,” bantahnya sedikit memanyunkan bibir. Padahal anak laki-laki itu berjalan sambil main game di hp sang Mama sehingga bocah itu tidak memperhatikan langkahnya. “Aduh,” Dika terjatuh karena tersandung kaki sendiri dan menabrak seorang wanita paruh baya. Resha dengan sigap membantu bocah nakal kesayangannya itu berdiri. “Maaf, Bu. Anak saya tidak memperhatikan jalan,” ucapnya sambil menangkup tangan di d**a dan sedikit menekuk kepala. “Tidak apa-apa, hal yang biasa, Nak….” Ibu tersebut menjeda seolah ingin tau nama. “Resha, Bu. Nama saya Resha. Dan ini anak saya, Dika.” Resha memberi kode pada bocah lima tahun itu melalui matanya untuk segera salam dan cium tangan. Meski hidup di luar negeri, tapi Resha mengajarkan anaknya adab islami. Dika maju dan mendongakkan kepalanya. Ibu itu tampak terkejut sepersekian detik. Namun masih dapat menguasai diri. “Oma, panggil saya, Oma Ririn,” ucapnya pada Dika dengan bibir bergetar. Resha sama sekali tidak merasa aneh. Hal yang biasa jika seorang nenek terkejut atau terharu melihat anak kecil, bisa jadi teringat cucunya atau malah teringat anaknya saat masih kecil. Entah alasan lainnya, yang mungkin sedang terjadi dengan wanita paruh baya yang ada di depannya saat ini. “Kami permisi, Bu,” potong Resha cepat sambil mengamit tangan Dika. Handphone yang tadi di tangan bocah itu dia ambil lalu dimasukkan ke dalam tas tangannya. Resha merasa sangat lelah dan butuh tidur. “Bund, sebelah sini,” teriak seorang pria sambil melambaikan tangannya. Bu Ririn yang berada tepat di belakang Resha saat melewati pintu keluar bandara segera membelokkan langkahnya menuju pria itu. Mereka berpelukan seolah sudah lama tidak bertemu. Padahal hanya berpisah satu minggu karena Bu Ririn harus menghadiri acara yang digelar oleh keluarga adiknya di Melbourne, Australia. Pria ini adalah Randi. Dan dia jelas mengenali wanita yang berada di depan bundanya tadi. Tidak mau terburu-buru, dia memilih bersikap tenang dan memberikan perintah pada seseorang melalui pesan untuk mengikuti Resha. Takdir kadang bisa selucu itu, bertahun-tahun Randi mencari keberadaan wanita itu. Ia bahkan mempekerjakan tiga orang, tim khusus, yang bertugas mencari keberadaan Resha. Namun hasilnya nihil. Sekarang, wanita itu sendiri yang menampakkan dirinya. Randi sempat terkejut melihat bocah kecil yang mengamit tangan Resha. Bentuk wajah yang sangat persis dirinya membuat Randi yakin bahwa ada hal yang akan menjembatani antara dirinya dan Resha yang tidak dapat terbantahkan. Tidak menunggu lama, mobil favorit sejuta umat berhenti tepat di depan Resha dan Dika. Travel, transportasi jemput dan antar alamat yang ada di kota Padang, yang sudah Resha pesan sebelum mereka take off dari bandara Melbourne. Setelah mengonfirmasi bahwa itu benar mobil pesanannya, Resha dan Dika masuk ke dalam mobil. Setelah menyebutkan tujuan mereka, wanita itu mencari posisi nyaman untuk tidur. Matanya sungguh tak bisa diajak kompromi lagi. Hanya setengah jam dari bandara, mereka sudah sampai di depan sebuah rumah ukuran sedang. Pemilik kontrakan tampak berdiri menunggu dan menyerahkan kunci ke tangan Resha saat wanita itu turun dari mobil yang mengantar mereka. Mengucapkan terima kasih yang kemudian hanya direspon senyum dan anggukan dari pemilik kontrakan tersebut. Resha membuka pintu lalu memasukkan barang-barang bawaannya. “Dika sayang, Mama capek banget. Kita istirahat dulu sebelum Mama beresin rumah ini nggak apa-apa kan?” Bocah itu mengangguk. “Sementara Mama tidur, nggak apa kalau aku main handphone kan, Ma?” Resha tersenyum dan mengelus kepala Dika. “Iya, nggak apa-apa. Jangan buka pintu rumah ya, siapa pun yang datang,” peringat Resha. Bocah itu mengangguk lagi. Adzan Ashar yang berkumandang dari pengeras suara Masjid yang tidak jauh dari rumahnya membangunkan Resha. Ternyata Dika ikut tertidur di sampingnya. Bagaimana tidak, perjalanan udara ditambah perjalanan darat sangat melelahkan. Resha turun dari ranjang dan bersiap menunaikan shalat Ashar. Resha sengaja memilih rumah ukuran sedang karena hanya akan ditinggali oleh dirinya dan Dika. Rumah kontrakan ini terdiri dari dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Rumah yang sederhana, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk membereskannya. Resha merapikan barang bawaan mereka kedalam lemari, beruntung rumah ini sudah dilengkapi perabotan sederhana seperti sofa, lemari, kompor, bahkan kulkas sehingga mereka tidak perlu repot untuk membelinya. Setelah Maghrib mereka menuju supermarket terdekat untuk membeli perkakas dapur dan bahan memasak. Banyak barang yang dibutuhkan. Bocah laki-laki itu terlihat sangat senang menemani mamanya belanja. Tentu saja tidak melelahkan sama sekali karena Dika duduk di troli supermarket yang didorong oleh Resha. Seperti biasanya, bukan menghadap ke depan, melainkan menghadap tubuh Mamanya sehingga setiap satu barang masuk ke keranjang, bocah ini akan mengeluarkan pertanyaan tentang itu apa, gunanya apa, kalau di rumah letaknya di mana, dan banyak lagi. Tentu saja harus dijawab oleh sang mama. Kebiasaan yang selalu mereka lakukan sudah sejak lama. Resha juga tidak merasa keberatan sama sekali meladeni bocah kecil itu. Dia sangat memahami hal itu bagian dari rasa ingin tahunya. Seperti biasanya, Resha selalu menyiapkan catatan belanja sehingga barang-barang yang dibeli sesuai kebutuhan. Dia juga seperti wanita kebanyakan yang suka lapar mata atau penasaran dengan kemasan makanan yang tampak unik. Adanya catatan bukan untuk menghentikannya membeli barang seperti itu, melainkan agar yang dibutuhkan tidak terlupa. Bagaimana nasib barang-barang unik tadi? Jika dirasa akan membutuhkannya, terkadang Resha tergiur juga. Resha mendorong troli belanja menuju kasir setelah semua dirasa cukup. Antrian tampak mengular. Wajar, libur akhir pekan. “Semuanya 567.000 ya, Buk,” ucap kasir. Resha membuka tasnya mencari dompet. Tangannya semakin cepat mengubek-ubek isi tas. Dompetnya tidak ditemukan. Resha menghela napas kasar. Bisa-bisanya dia meninggalkan barang sepenting itu saat memiliki niat untuk berbelanja. Benar-benar ceroboh. “Maaf. Dompet saya sepertinya ketinggalan, apakah saya bisa membayar melalui transfer via internet banking saja?” “Mohon maaf Ibu, pembayaran hanya bisa melalui cash, kartu kredit, atau kartu debit.” Ucap uni kasir itu sopan. Satu menit, dua menit. “Baiklah kalau begitu. Saya tidak jadi. Mohon maaf sudah merepotkan.” “Tunggu.” Sebuah teriakan menghentikan pergerakan Resha. Siapakah kira-kira?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
200.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.9K
bc

Kali kedua

read
219.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook