2. A K A D

1314 Kata
Aku melihat ke arah cermin di depanku. Wajah yang dipantulkan di cermin itu terlihat berbeda, seperti bukan diriku. Manglingi kalau kata perias yang disewa bunda dari kota sebelah.  "Ayune nduuk." Bisik si ibu perias sambil memberikan sapuan terakhir blush on untuk menyempurnakan penampilanku.  "Maturnuwun ibu." Jawabku sambil tersenyum kecil. Sebuah senyuman tidak tulus, senyum palsu yang kupaksakan untuk hadir sebagai tanda terima kasih.  Ibu perias kemudian mulai membereskan peralatan make upnya. Tinggallah aku duduk diam di depan cermin, sambil melihat pantulan itu.  Bapak, ibu, andai saja bapak dan ibu ada di sini, pasti aku akan menikah dengan Mas Fadly, lelaki yang aku cintai. Bukanlah Mas Rendra, lelaki sombong dan kaya raya dari kota yang aku bahkan tidak kenal dengan baik. Tapi ini sudah merupakan keputusanku, sebagai tanda bakti pada bapak dan bunda yang telah menggantikan tugas kalian untuk merawatku. Insya Allah aku kuat. Aku akan mampu untuk menghadapi ini semua. Toh selama ini aku telah terbiasa dengan kenyataan pahit kehidupan sejak ditinggal kalian, bapak, ibu dan Mbak Murni. Kehilangan kalian adalah kehilangan kebahagiaan untukku.  Aku bagai robot dalam menjalani hidup ini. Kukira dengan hadirnya Mas Fadly, hidupku yang hanya tahu dua warna hitam dan putih, akan berubah menjadi lebih berwarna. Nyatanya, pelangi itu hanya hadir dua tahun saja, karena mendadak pelangiku menghilang saat bunda berkata bahwa aku harus menjadi ibu pengganti bagi Aliesya. Menjadi ibu sambungnya, menggantikan Mbak Keyna. "Nduk, jangan menangis. Nanti make up luntur. Ibu dengar kabar selentingan kalau kamu terpaksa menjalani pernikahan ini. Pernikahan siri pula. Tapi ibu berdoa untukmu, untuk kebahagiannmu. Semoga kamu akan mendapatkan kebahagiaan bersama suamimu." Ibu perias melap air mata yang tanpa aku sadari meluruh di pipiku. Membayangkan ibu dan Mbak Murni, selalu saja membuatku menangis.  "Inggih bu." Jawabku.  "Nah itu kamu sudah sah menjadi seorang istri. Sepertinya pak penghulu dan para saksi juga sudah berkata sah. Sebentar lagi bundamu akan ke mari untuk menjemputmu. Jangan lupa tetap tersenyum ya nduk. Tabah dan tetap berdoa, nuwun Gusti Allah agar kamu tetap bahagia." Ibu perias tetap menyemangatiku. Aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat, ada beberapa, jadi tidak hanya satu orang yang datang ke kamarku ini. Aku menahan nafas, akhirnya saat ini datang juga. Saatnya aku menjadi seorang istri dari seorang lelaki, walau secara siri. "Ibu... ibu cantik sekali." Kudengar suara Aliesya, begitu pintu kamarku terbuka. Gadis berusia sebelas tahun itu kemudian berlari kecil dan langsung saja menggamit tanganku dengan bahagia. Gadis cantik, sepertinya mamanya dan memiliki kemampuan khusus, yang membuatnya dianggap aneh oleh teman-teman sebayanya. "Terima kasih sayang. Kamu juga cantik sekali Aliesya." Jawabku dengan senyum yang kupaksakan. "Ren, kamu mirip sekali mbakmu. Apalagi saat didandani seperti ini. Kamu semakin mirip dengan Keyna." Bunda menangis saat melihatku dengan seksama. Tadi memang ibu perias sempat berkata bahwa selintas aku sangat mirip dengan Mbak Keyna. Bunda mengulurkan tangannya dan aku tidak mungkin menolak uluran tangan itu. Sudah sah secara agama aku menjadi istri Mas Rendra. Tidak mungkin aku kabur dari pernikahan terpaksa ini.  Aku mengambil nafas panjang, berucap bismillah dalam hati kemudian melangkahkan kakiku ke arah ruang tamu. Aku diapit oleh bunda dan Alesya, membuatku berpikir mereka takut aku akan lari dan kabur dengan Mas Fadly. Oiya aku sudah bilang ke Mas Fadly, aku melarangnya datang ke rumah saat hari ini datang. Agar aku tidak goyah, dan melarikan kakiku ke arahnya, kemudian meninggalkan malu dan nama buruk bapak dan bunda.  Aku berjalan dengan menunduk, tidak lepas istighfar dalam hati, berdoa semoga pernikahan yang aku jalani akan amanah. Menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warohmah, layaknya doa yang selalu dipanjatkan kepada pasangan pengantin baru yang saling mencintai.  "Papa, ini ibu pah. Lihat, ibu cantik sekali kan?" Aku masih bisa mendengar suara Aliesya yang berkata dengan nada gembira pada Mas Rendra.  Mata kami bersirobok. Untuk sesaat aku sempat melihat Mas Rendra yang terkejut melihatku berdandan. Mungkin dia melihat sosok Mbak Keyna padaku. Karena ini pernikahan di bawah tangan, sebuah pernikahan siri, jadi tidak ada acara tanda tangan dokumen-dokumen negara, dua buah buku nikah keramat. Buku berukuran saku yang menjadi idaman semua perempuan dan lelaki yang saling mencintai dan bersumpah di hadapan Tuhan dan saksi juga negara.  Tidak ada itu padaku. Mas Rendra hanya menyematkan sebuah cincin berlian yang sangat cantik di jari manisku. Bukan cincin berlian yang aku inginkan. Jika boleh memilih, aku akan memilih sebuah cincin perak tapi bertulis nama Mas Fadly, dibanding cincin berlian bertuliskan nama lelaki lain. Sudah itu saja. Selain kecupan kilat di keningku oleh Mas Rendra, tidak ada lagi seremoni lainnya.  Saat ini acara santai. Kami dipersilakan untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh bunda. Aku menyapu ruangan yang disulap mendadak untuk menjadi tempat acara nikah. Tidak banyak yang hadir. Hanya keluarga inti dari bapak dan bunda, tetangga sekitar dan juga keluarga Mas Rendra. Tidak sampai tiga puluh orang, selain juga sedang pandemi COVID19, ini juga merupakan acara akad nikah sederhana. Walaupun aku tidak pernah memimpikan akan ada pesta mewah pada pesta pernikahanku, tapi  aku juga tidak pernah membayangkan akan menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai. Aku tahu diri, siapa aku di keluarga ini.  Aku tidak melihat sosok Kak Felicia. Yang aku heran kenapa dia mau saja dimadu bahkan olehku sekalipun, si bocah ingusan? Mama Mayang bilang, Felicia bahkan yang mendorong Mas Rendra untuk mempercepat akad pernikahan kami. Aku duga itu agar dia segera terbebas dari Aliesya.  Tapi mataku terpaku pada satu sosok nun di kejauhan. Aku tahu pasti itu adalah Mas Fadly. Aku menggeleng saat kaki Mas Fadly melangkah maju. Beruntung Mas Fadly berhenti, tidak melanjutkan niatannya menuju ke arahku.  Maaf Mas, maafkan aku!  Tapi itu hanya mampu aku sampaikan dalam hati saja. Karena tiba-tiba Aliesya hadir di hadapanku dan tersenyum ke arah kananku. Aku sampai menoleh ke arah kananku, karena aku duduk sendirian, tidak ditemani siapapun. Kuhela nafas, inilah yang membuat keponakan cantikku yang sekarang resmi menjadi putri sambungku, dijauhi oleh teman-temannya. Dia indigo dan juga PDD NOS. Seseorang didiagnosis PDD-NOS bila memiliki gangguan dalam keterampilan sosial, ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, masalah komunikasi verbal atau nonverbal. PDD NOS singkatan dari Pervasive Developmental Disorder Not Otherwise Specified. Jadi Aliesya selain menderita ketidakmampuan berinteraksi dengan orang lain ditambah pula dia indigo. Membuatnya dipandang sebagai gadis aneh oleh teman sebayanya. "Ada apa Aliesya? Kamu lihat apa?" Tanyaku yang memang sudah tahu apa kondisi spesial pada anak sambungku ini. "Iya mama, nanti Liesya bilang sama ibu. Mama jangan khawatir, ibu akan menjagaku menggantikan mama." Aku masih mendengar suara lirih Aliesya yang bercakap-cakap dengan 'sesuatu'. "Liesya sayang... Kamu bicara dengan siapa nak?" Tanyaku lembut. Aku sudah menduga dia berbicara dengan siapa, tapi tetap saja kutanyakan. "Dengan mama, bu. Mama bilang ibu cantik sekali. Mama berpesan agar Liesya jangan menangis lagi karena sekarang sudah ada ibu yang menjadi pengganti mama." Jawab Aliesya, dia meregangkan tangannya kemudian memelukku erat. Aku tersenyum kecil. Kuusap rambut hitam Aliesya yang melebihi bahunya. Kubisikkan padanya kalimat yang sering aku ucapkan padanya, dan ini salah satu alasanku mau menerima ide bunda menjadi ibu sambung Aliesya. Aku ingin putri sambungku ini menjadi normal layaknya anak-anak lain, bisa berinteraksi dengan teman sebaya dan punya teman. "Liesya sayang, bilang sama mama untuk tidak khawatir lagi karena sekarang ibu yang akan menjaga Liesya. Mama tidak perlu datang-datang lagi karena sekarang Liesya bersama ibu ya nak." Kataku dengan tersenyum. Aliesya mengangguk dan kembali bercakap-cakap dengan 'sesuatu' itu. "Sudah ibu. Mama mengangguk dan sudah pergi, tidak akan datang lagi katanya." Sekarang ganti terbit senyum di bibir Aliesya. Aku mendesah pelan. Sudah dimulai tugasku menjadi seorang ibu sambung bagi putri yang juga keponakankku ini. Hidupku memang sudah diatur untuk seperti ini. Kebahagiaanku adalah nomer sekian karena aku harus mengutamakan kebahagiaan orang lain, bapak dan bunda yang telah merawatku. Kulihat tidak jauh dari dudukku, Mas Rendra melihat ke arah kami berdua dengan tatapan datar.  *** Itu yang dipikirkan oleh Renata, Rendra menatapnya datar. Renata tidak tahu apa yang ada dalam hati Rendra. Dia melihat wajah cantik Renata saat ini seperti melihat wajah almarhum istrinya saat mereka menikah dua belas tahun lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN