Perseteruan Aksa-Hangga Tau darimana dia kalo aku ada di daerah ini. Hebat banget bisa aja nemuin aku. Tapi ngapain, sich, dia kolokan gitu. Pake ngikutin, kaya’apaan aja. Sekali lagi kulihat, dia seperti menunjuk-nunjuk, entah apa. Kutatap matanya dengan pandangan tak suka, biar dia sadar, aku nggak perlu di intai-intai gitu. Lalu kuhadapkan pandangan kedepan. Tak perduli dai terus memberi isyarat entah apa. “Rin.” “Hmm.” “Kok jadi diem.” “Ehmm. Enggak.” Aku berusaha mengembalikan fokus hati. “Jadi, kalo ada reuni-reuni sekolah gitu, kamu masih ikut, Sa?” “Udah, nggak juga. Makin ke sini makin hanyut sama kerjaan. Kadang nggak tau, nggak pernah dikasih tau juga sama mereka.” “Sama dah, kita.” Aksa terkekeh. Mobil bermanuver ke kiri. Kulirik mobil Mas Hangga, masih mengikut

