Perawan Palsu (6)

1241 Kata
Perawan Palsu (6) “Ibu, kaget saya, Bu. Ibu kok tumben pulang?” Ia bertanya sembari lekas berdiri menghormatiku. “Kamu apa-apaan, Nem ngajarin anak-anak manggil kamu Bunda?” “Eh, uhm, anu. Kita main boneka-bonekaan aja, Bu. Becanda aja. Ya ‘kan, Dek, Kak ….” Suaranya bergetar. “Yang bener? Tadi kamu ngomong serius, loch. Kamu beneran hamil?” Ia diam. “Iya, Ma. Bunda Inem tuh lagi ada dedeknya dalam perut. Sebentar lagi keluar, terus kita punya adek.” Si sulung menimpali. “Nem? Kok kamu diem aja? Apa kamu beneran hamil? Hamil sama siapa? Jawab jujur, Nem.” Masih tak menjawab. Tapi hanya dalam hitungan tiga detik dia sudah berlari ke kamarnya. Aku menghentak napas. Cemen sekali. Berani merebut suamiku, tapi menatapku pun tak sanggup. Andai kamu tahu, Nem. Perih dan kecewaku luar biasa sama kamu. Andai kamu tahu hancur hatiku tak terbilang gimana rasanya. Orang lain yang tak kukenal saja, bila dia merebut suamiku, jelas menyakitkan. Dan ini kamu yang ngelakuin, Nem. Kamu yang bahkan orang yang paling banyak kuhadiahi belas kasih. Sangat keterlaluan! “Mama sudah makan? Ayuk kita makan bersama!” ajak si sulung. Aku melepas napas satu-satu, berusaha meredam emosiku. “Baik, Ayuk sayang.” Kali ini kusuapi anakku satu-satu makan hingga kenyang. Setelahnya aku bercengkrama dengan mereka. Kemudian balik ke kantor kembali. Jujur, hatiku ketar ketir. Karena anak-anak masih bersama Inem. Itu jugalah yang membuatku masih sangat berhati-hati memperlakukan Inem. Karena keselamatan anak-anakku masih di tangannya. Malamnya, aku mengurung diri di kamar tamu. Mas Hangga tahu jika aku ada di kamar depan, berarti ada kerjaan lembur. Kumanfaatkan momen itu untuk melihat CCTV rumah ini yang sudah dikoneksikan ke gawai canggihku. Dari kamar ini aku bisa melihat kejadian tadi siang. Rupanya jam satu siang Mas Hangga datang kerumah ini. Beberapa menit setelah aku meninggalkan rumah. Dalam rekaman CCTV itu, kulihat anak-anak sudah tidur siang. Mas Hangga menggendong mereka satu-satu dan menindahkannya ke kamarku. Yu Siti hari ini kerja cuma setengah hari. Pas, rumah sepi, hanya ada dua orang dewasa itu yang bisa saja kembali memadu kasih di kamarku. Video menampilkan Inem yang tampak menangis di ruang keluarga. Tak rugi aku memasang CCTV canggih. Percakapan mereka sangat jelas terdengar. “Mas, tahu, apa yang istrimu katakan tadi? Dia sudah curiga aku hamil, lalu dia tanya apakah aku hamil dan siapa yang hamilin aku. Aku bingung, Mas, bingung mau jawab apa. Sementara sama kamu aku dilarang buka suara. Mau sampai kapan, Mas? Hu hu hu hu.” Ular itu tergugu. Mas Hangga hanya menghela napas. Duduk di sebelah Inem. Sesekali membelai rambut terurai itu. Hhhh …. Menjijikkan. “Kalau kamu nggak berani mengakuiku di depan istri dan keluargamu, Mas. Kita pisah aja. Akan aku gugurin kandungan ini. Aku kalo sudah nekat, Mas, ya, nekat.” Ular itu kembali tergugu, mengeluarkan nada-nada indah tangisan yang menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. “Kok gitu bicaranya, sich. Kamu sabar, Sayang. Mas ‘kan lagi berusaha. Sebenarnya Mas punya hadiah untuk kamu. Tapi sekarang belum waktunya Mas sampaikan.” “Alah, Mas, Mah, cuma janji-janji terus. Capek Inem, Mas. Apa karena Inem hanya seorang pembantu tak berharga. Jadi Mas permainkan, Mas. Iya, Mas? Jawab, Mas? Aku ini boneka kamu, ya. Yang bisa kamu pake cuma untuk seneng-seneng aja, tapi nggak ada tanggung jawabnya setelah itu!” Suaranya kali ini sedikit menghentak, namun tetap meninggalkan nada yang manja. Lagi, laki-laki itu membelai tubuh Inem yang memakai kaos tipis dan belahan d**a yang rendah. Aku sama sekali belum pernah melihat ia memakai baju itu. Pantas saja, Mas Hangga tergoda. Rupanya memang sudah diniatkan kalau sedang tidak ada aku di rumah. Ia menggoda Mas Hangga dengan memakai baju-baju tipis, transparang dan ketat! “Gini sayang. Mas itu sangat sayang sama kamu. Mas nggak mungkin sia-siakan kamu. Asal kamu nurut sama, Mas. Inem sabar dulu. Dalam waktu dekat apa yang Inem harapkan. akan jadi kenyataan. Mas sedang menyiapkan sesuatu.” “Apa itu, Mas.” Inem menghentikan tangisannya. “Adalah … Jangan sekarang kasih tahunya. Yang jelas, Mas masih mau menjalin hubungan panjang sama kamu. Nggak mungkin Mas setega itu ngelepas kamu, Nem. Kamu itu udah seperti candu bagi, Mas. Di kantor pun yang kebayang senyum kamu.” Lagi ia membelai rambut itu. “Tahu nggak sayang. Kamu itu sangat cantik. Mas nggak perduli siapa kamu, darimana latar belakangmu. Kalau sudah cinta ya cinta. Laki-laki itu begitu. Dia nggak butuh perempuan yang harus serba bisa, harus cerdas. Yang laki-laki butuhin itu ya, yang kalau diajakin nurut. Kalau dilihat ketawa, senyum. Itu udah surga bagi laki-laki, dan satu lagi, dia selalu ada saat laki-laki lagi pengen berduaan. Ya kamu udah menuhin semuanya, Nem.” “Ah, yang bener, Mas.” Wanita itu dengan genitnya senyum-senyum. Sayangnya senyum itu memang manis. Jelas ‘kan Mas Hangga yang tampan saja tergoda! “Ya, bener, dong.” Mas Hangga menarik tubuh Inem hingga mereka berpelukan. Dikecupnya jidat licin wanita itu. Lalu saling mengeratkan pelukan. Kubuang wajahku melihat itu. Rupanya mereka memang sudah saling mencintai. Aku beristighfar berkali-kali. Air mataku entah sudah sejak kapan jatuh. Rasa perih dan teriris menelisik dalam d**a. Terbakar, amarah, juga bersemayam di sana. Kuatkan hatiku ya Allah. Jangan rapuh, jangan lemah. Mas Hangga berdiri, lalu mengajak Inem berdiri. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang wanita ramping itu. Menggendongnya masuk kamar. Tentu adegan demi adegan dalam kamar tak akan luput juga aku abadikan. Rasanya ingin saat ini kulabrak mereka. Tapi entah kekuatan dan peyakinan dari mana, hatiku mengatakan jangan dulu, sabar dulu. Entah atas dasar apa juga hati kecilku mengatakan itu. Padahal sisi hati yang lain mengatakan sudah menyerah dan ingin melabrak dan meneriaki cacian sekencang-kencangnya ke wajah mereka. Meludahinya bahkan aku ingin akulah yang merajam mereka, melempari mereka dengan batu hingga merek berdua tewas di tanganku. Tapi lagi-lagi demi dua buah hatiku di rumah ini. aku mengalahkan egoku. Belum waktunya Karina, sabar dulu. Sabar untuk apa, sabar karena apa, Entah. Sisi terdalam hatiku seperti mengatakan sedikit lagi, tahan sebenetar, kamu harus melihat sesuatu kenyataan yang lebih dahsyat lagi. Kumatikan sambungan CCTV. Aku keluar kamar hendak melihat anak-anak yang tadi bermain dengan Papa mereka. Rupanya mereka telah tertidur bertiga setelah puas bermain. Mas Hangga memang sesayang itu pada anak-anak. Itulah kenapa ia ingin menambah satu lagi anak. Dan aku tak pernah mau meloloskan pintanya yang satu itu. Kulangkahkan kaki menuju ruang belakang. Terdengar suara Inem sedang bercakap-cakap. Sepertinya ia sedang bertelepon ria dengan seseorang. Kutajamkan pendnegaran ke arah daun pintu kamarnya. Suaranya sedikit berbisik. Tapi karena tak ada kebisingan, aku cukup bisa mendengarnya. “Ya, kamu harus pinter-pinterlah gimana supaya bos kamu percaya. Aku aja waktu pertama kali bosku nyobain. Dia bahagia banget, karena berhasil menjebol keperawananku katanya.” Lalu ia terkikik. Apa maksudnya?! “Iya, beneran suwer,” lanjutnya. “Hizzh, kamu kok nggak percaya. Ya memang berdarah. Meski nggak perawan kan sekarang mah gampang. Beli darah perawan online. Sini aku ajarin. Jadi beli aja darah perawan online. Nanti aku pesenin. Nah pas mau dipake, selipin ke dalam. Beres, deh perawan lagi. Nah sehari sebelumnya, kamu minum rebusan sirih yang banyak, biar keset.” Astagfirullah. Dadaku berdenyut hebat. Jadi dia maksudnya sedang mengajari temannya melakukan hal yang telah dia lakukan sama Mas Hangga. Fix, Mas Hangga dibohongi seolah-olah perempuan licik ini masih perawan. Rupanya permainan Inem sudah segaek itu. Ya Allah, aku mengusap wajah. Jadi wanita ini sebenarnya siapa? Kenapa semahir itu dia bersandiwara! “Inem, buka pintu!!!” teriakku dari luar. TBC tinggalkan jejak love dan komen, terima kasih sdh membantu penulis tumbuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN