Test Pack ART-ku (5)
#Testpack_Inem
#Testpack
Panggil Aku Bunda
“Kamu kenapa, Mas? Kok kaget begitu?”
“Ya, ya, ya Mas kaget, dia manggil siapa, sich?”
Mas Hangga membentangkan kedua telapak tangannya dengan ekspresi tak paham.
“Dah, Dek. Mas berangkat ke kantor, dulu.”
Secepat kilat ia meninggalkan meja makan menuju garasi. Terdengar mobil dipacu dengan sangat kencang meninggalkan rumah.
Aku menghela napas.
Ternyata kamu belum siap memperkenalkan Inem kepadaku, Mas. Itulah kenapa kamu hanya berani menjalin hubungan dengan seorang ART. Keinginan kamu punya istri lebih dari satu besar, libido kamu juga besar, sayang nyali kamu ciut, Mas. Meski kini kamu sudah punya bisnis yang menghasilkan pundi-pundi uang besar, tapi aku juga bukan wanita sembarangan yang kamu nikahi. Lalu seenaknya rumah tangga ini kamu bikin main-main demi memuaskan kebutuhanmu yang tak berkesudahan bila dituruti itu. Kamu memang romantis, kamu baik, tapi kamu juga begitu mudah mengumbar cinta dan kasih sayang kepada yang lain!
Aku melanjutkan sarapanku yang tersisa sedikit lagi.
Inem melangkah masuk kamar.
Setelah selesai sarapan.
Aku bangkit dan menyambar kayu putih di sudut meja makan.
Melihatku masuk Inem menaruh gawainya di meja dengan terbalik, kelihatannya habis membaca pesan seseorang. Siapa lagi.
Aku mengambil beberapa tetes minyak kayu putih dan mengusapkannya ke leher, dan punggung Inem yang sebenarnya dari awal sudah kuanggap adikku sendiri. Ya, adik yang kemudian kurang ajar karena berhasil membuat Mas Hangga jatuh dalam pelukannya.
“Kamu masuk angin ini, Nem. Nanti minta kerokin Yu Siti atau Yani. Makanya jangan bergadang terlalu malam. Kamu semalam ngapain aja nggak tidur?”
Tubuh Inem menegang mendengar pertanyaanku. Sayangnya wajah manis itu menunduk sehingga aku tak bisa melihat bagaimana reaksi matanya.
“Ee, enggak bergadang, kok, Bu.”
“Yakin nggak bergadang? Semalam Ibu sampai beberapa kali kebangun denger kami kayak lagi ngobrol sama orang.”
Tubuh Inem lebih menegang lagi, terlihat urat lehernya yang seperti senar harpa yang terbetot.
“Oh, cuma sebentar kok, Bu. Telpon Mamak di kampung.”
“Malam-malam, Neng telepon orang tua? Jam satuan, loch.”
“Ibu beneran denger Inem teleponan?”
“Ya, kenapa?”
Ia diam.
“Jadi pacar kamu siapa? Anton atau Tikno?”
Aku mengalihkan ketegangannya.
Ia yang sedari tadi seperti menahan napas, kemudian melepaskannya perlahan.
“Kok diem? Apa dua-duanya pacar kamu?”
“Ih, Ibu.”
“Loch, apa Bapak juga pacar kamu?”
Aku menatapnya tajam. Ia menunduk.
“Terus kenapa tadi kamu manggil, Mas, Mas, ke Bapak? Manggil Bapak?”
“Enggak, kok, Bu. Tadi saya hanya lagi kalut aja muntah-muntah.Jadi manggil … Ee, manggil ... Mas Anton.”
Ia tampak ragu menyebut nama itu.
“Anton siapa kamu? Pacar?”
Ia mengangguk ragu.
“Oh, jadi jelas, ya, pacar kamu Anton. Hati-hati, kalau pacaran. jangan terlalu jauh, apalagi sampai mau diajak begituan. Nanti hamil baru berabe, kalau dia nggak mau bertanggung jawab!”
“Nggak, kok, Bu.”
“Ya soalnya Ibu kaget, kamu mual muntah kok manggil Mas, Mas. Ibu sampe heran, Ibu kria kamu manggil Bapak.”
Inem menggeleng perlahan. Wajahnya berubah murung.
Aku heran, kenapa dia tadi bisa senekat itu menyebut kata ‘Mas,’ yang jelas ditujukan untuk Mas Hangga. Dan anehnya sekarang dia mengkerut seperti itu. Aku pikir dia akan berani jujur padaku. Ternyata nggak sama sekali. Apa karena dia sudah diancam oleh Mas Hangga melalui pesan.
“Nem, kalau kamu pergi jaga anak-anak di Mall, jangan sampai ditinggalin lagi kaya kemarin, ya. Di titipin Mbak siapa itu kemarin namanya? Asih, ya?”
“Oh, iya, Bu, Asih. Ya, Inem cuma sekali aja, kok, Bu.”
“Ya, Oke, Ibu berangkat kerja dulu, besok Ibu mau nambah satu orang lagi yang kerja di sini buat jagain Sefina dan Hanifa, biar kamu nggak terlalu capek dan kesepian. Nanti tidur berdua di kamar ini sama kamu, ya?”
“Eh, Ibu, kenapa ditambah? Saya sendiri juga nggak apa-apa, kok. Masih bisa urusin si Kakak dan Adek.”
“Kenapa, Nem, kok kamu nggak setuju?”
“Eh, ya, terserah, Ibu, sich. Inem cuma saran.” Rambut hitam panjang sebahunya sedikit terhentak.
Aku tak melanjutkan pembicaraan. Jelas ia tak mau ada orang lain di rumah ini yang membuat kedekatannya dengan “suami tercintanya’ itu nantinya akan terganggu.
“Ya sudah, Ibu mau berangkat kerja dulu, Nem. Uang jajan di tempat biasa. Bonus buat kamu Ibu tambah, ambil aja, ya.”
Lalu aku pergi meninggalkannya.
Baru sampai pintu garasi, aku mendengar ia mengumpat keras. “Sialan!”
Ck ck ck ck, jadi ternyata Inem tak selugu yang aku kira.
***Ajt
Pukul sepuluh, aku mengendap kembali di pekarangan rumahku.
Ingin tahu apa yang Inem lakukan jam segini.
Kuintip jendela kamarku yang tadi pagi memang sengaja kusibak lebar.
Inem sedang duduk bersama anak-anak sembari memegang boneka masing-masing.
“
Mbak Inem, pegang boneka yang besar. Mbak jadi kakaknya kita berdua. Aku dan Nifa jadi adeknya.”
“Asyiik, aku dipanggilnya Angel aja, ya, aku suka nama Angel,” kata si kecil.
“Boleh-boleh,” balas si Kakak.
“Nah kalau Mbak, sebaiknya jangan dipanggil Mbak lagi. Kalian berdua panggil Mbak dengan sebutan ‘Bunda,’ ya .... Mulai sekarang biasakan panggil ‘Bunda,’” ucap Inem sambil menunjukkan telunjuknya ke arah anak-anakku.
“Emmh, gitu. Jadi mulai sekarang kami panggil Mbak dengan sebutan Bunda?”
“Iya, bukan cuma saat mainan. Saat udah selesai mainan, pun. Panggil Mbak ‘Bunda’ mulai sekarang. Cuma kalau sudah ada Mama, panggilnya Mbak dulu, oke anak-anak?”
“Kok gitu, Mbak? Kan kalau udah selesai boneka-boneka’annya berarti ya udahan. Kok masih dipanggil Bunda, kan Mbak Inem Mbak yang ngasuh kami.” Si Kakak yang sudah nalar mencoba mengkritisi.
“Hizzh, kalian, nich. Mbak ini sebentar lagi juga akan jadi Bunda kalian. Kalian mau kan punya adik kecil lagi? Mau kan di rumah ini ada bayi lucu di keranjang bayi, terus bisa dimain-mainin gemes?”
“Ihh, mau banget! Aku mau punya adek lagi. Beneran Mbak bisa kasih Fina dan Nifa adek bayi beneran bukan bo’ongan?”
“Ya beneran, nih lihat perut Mbak besar ‘kan? Nah itu tanda ada dedeknya. Ini adek kalian. Nanti lama-lama brojol jadi bayi, dech. Jadi adik kalian yang lucu di rumah ini.”
“Wowww, amazing aku mau aku mau, yes yes yes!” ujar Refina kegirangan.
Si kecil Hanifa melonjak ikut girang.
“Asik, adek bayiii, adek bayi, asiik,” ucapnya.
Keterlaluan Inem, dia sudah berani menjelaskan tentang kehamilannya pada anak-anakku. Jelas anak-anak suka, karena mereka memang ingin sekali aku hamil dan memberi mereka adek kecil lagi. Tapi apa yang Inem lakukan sudah diluar batas. Anak-anak tak sepatutnya tahu soal ini.
“Nah, jadi mulai sekarang, kalian panggil Mbak dengan sebutan Bunda, ya. Oke?”
“siap, Bunda!” ujar kedua anak-anakku serentak.
“Nah, sekali lagi, jadi kalian mulai sekarang harus panggil Mbak dengan sebutan apa?”
“Bundaaa!” balas anak-anakku kompak.
Lalu Inem meminta kedua buah hatiku untuk mengelus-elus perutnya yang kuperkirakan sudah menginjak kehamilan tiga bulan.
“Jadi beneran, ya Bunda, dalam perut Bunda ada dedeknya?”
tanya si kecil.
“Iya, ini adek kalian. Mbak ini Bundanya kalian sekarang,” ucapnya.
“Assalamualaikum,” ucapku.
“Eh, Mama datang.” Kedua anakku berhamburan memelukku.
Inem terlonjak. Seketika tubuhnya berbalik, menatapku nanar.
Aku balas menatapnya dengan picingan mata tajam. Kena kamu, Nem!
To Be Continued.
Trmksh teman2 sdh setia menanti cerita Test Pack Ini. yuk follow akun i********: Asa Jannati, akan ada info update soal cerita ini di sana.