Bertemu Kembali
Akhir pekan adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang, termasuk Dichi. Wanita cantik yang menyandang gelar sebagai seorang janda diusia mudanya.
Dichi dikaruniahi seorang putri yang cantik jelita dan juga pintar, gadis kecil itu bernama Celina Nagina. Diusianya yang sudah menginjak tiga tahun Celina sudah cukup pandai berbicara.
“Mommy, Celina mau turun.”
Dengan suaranya yang begitu menggemaskan, Celina meminta Dichi agar menurunkannya dari troli yang ia naiki sekarng.
“Oh Sayangnya Mommy mau turun ya, mau lari-lari?” kata Dichi.
“Iya, Celina mau turun Mommy.”
“Oke deh.”
Dichi langsung mengangkat putrinya yang menggemaskan itu, lalu ia menurunkannya dari troli.
“Ingat apa kata Mommy, jalan dengan baik dan harus hati-hati ya,” ujar Dichi menasihati sang putri.
“Siap Mommy.”
Dichi tersenyum, rasanya sangat bahagia bisa mendapatkan malaikat kecil yang begitu pintar seperti Celina.
Menurut dokter anak yang pernah Dichi temui, dokter itu mengatakan kalau Celina adalah anak yang cerdas. Dia jauh lebih dewasa dari anak-anak seusianya pada umumnya. Bahkan Celina sudah mulai berjalan sejak usianya masih delapan bulan. Meskipun masih dua atau tiga langkah, tapi Celina tidak merangkak seperti bayi pada umumnya.
“Celin, Mommy duduk di sini ya.” Dichi memberitahu putrinya kalau dirinya duduk di salah satu kursi yang ada di taman.
Sementara itu di salah satu rumah mewah, seorang laki-laki tampan tengah mendengarkan laporan dari anak buahnya.
“Pak, saya sudah berhasil menemukannya. Dia sedang bermain di taman bersama putrinya yang bernama Celina,” kata Axel.
“Putrinya? Dia menikah lagi, siapa laki-laki yang menikahinya?” Dengan raut wajah marah dan penuh kecewa, Mickael bertanya kepada sekertaris pribadinya.
“Saya kurang tahu Pak, tapi dari informasi yang berhasil saya dapatkan Ibu Dichi tidak penah menikah lagi,” jelas Axel.
“Jangan mengada-ngada kamu, kalau dia tidak menikah lagi lalu dari mana dia mendapatkan seorang putri? Tidak mungkin dia mengadopsi anak dari panti asuhan sedangkan dia belum menikah,” protes Mickael.
“Kalau itu saya kurang tahu Pak, tapi informan yang saya temui mengatakan kalau itu adalah putri kandung Ibu Dichi,” jelas Axel lagi.
“Kalau begitu antar saya ke taman itu sekarang juga,” kata Mickael memberikan perintah.
“Baik Pak, saya siapkan mobil terlebih dahulu. Permisi Pak.”
Axel langsung berlalu dari hadapan Mickael, seperti yang diperintahkan oleh Mickael dia langsung menyiapkan mobil.
Sepuluh menit waktu yang harus ditempuh oleh Mickael dan Axel dari rumah sampai ke taman itu. Untung saja mereka belum kehilangan Dichi, dia dan putrinya belum pulang dan masih bermain di sana.
“Bapak mau turun sekarang?” tanya Axel.
“Tidak, saya mau di sini dulu, saya masih ingin memperhatikan dia lebih lama lagi,” jawab Mickael.
Mickael yang biasanya selalu tegas tiba-tiba menjadi melow saat sudah melihat wanita yang ia cintai. Iya wanita itu adalah Dichi, mantan istrinya yang ia tinggalkan begitu saja.
“Celina, kita pulang sekarang ya. Sudah semakin panas, karena mataharinya sudah semakin tinggi,” ujar Dichi.
“Iya Mommy, Celin juga sudah lelah,” jawab Celin dengan suara khasnya yang menggemaskan.
“Maaf Pak, sepertinya mereka akan pulang.” Axel mengingatkan Mickael, dia memberitahu kalau Dichi hendak meninggalkan taman itu.
“Ikuti dia, aku ingin berbicara dengannya tapi jangan di sini, di tempat yang tidak terlalu ramai,” ujar Mickael.
“Baik Pak.”
Dichi berjalan kaki menuju apartemennya, sementara Celin sendiri ia letakkan di troli dan ia dorong. Karena apartemen tempat tinggal Dichi memang tidak jauh dari taman itu. Sebenarnya Celina terus meminta agar Dichi mengijinkannya berjalan kaki saat pulang, tapi Dichi sama sekali tidak memperbolehkannya.
“Seperti ada yang mengikuti aku di belakang,” guman Dichi.
“Kenapa Mommy?” tanya Celina yang tidak sengaja mendengar ucapan Dichi.
“Tidak Sayang, tidak ada apa-apa, Mommy cuma bernyanyi saja tadi.” Dichi terpaksa berbohong sebab dia tidak mau kalau Celin ikut parno dan khawatir.
“Sepertinya mobil itu mengikuti aku dari tadi,” batin Dichi.
“Maaf Pak, sepertinya Ibu Dichi sadar kalau sedang kita ikuti,” ucap Axel.
“Tidak apa-apa, lanjutkan saja sampai kita menemukan tempat yang tidak terlalu ramai orang,” jawab Mickael.
“Baik Pak.”
Sayangnya kali ini rencana Mickael harus gagal, sebab Dichi yang curiga dengan mobilnya tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.
Dichi sengaja berhenti di tempat yang ada beberapa orang, meskipun tidak terlalu ramai setidaknya kalau terjadi apa-apa dengan dirinya dan Celin masih ada orang yang mungkin akan menolongnya.
“Sudah aku duga, mobil itu pasti mengikuti aku,” guman Dichi ketika mobil yang mengikuti dirinya sejak tadi berhenti tepat di belakangnya.
Awalnya Dichi berniat ingin menegur orang yang ada di dalam mobil itu, namun sayangnya saat dirinya menghadap ke belakang dia melihat laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya.
“Mickael,” guman Dichi menyebutkan nama sang mantan suami yang kini ada tepat di hadapannya.
“Dichi,” panggil Mickael dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Dengan terburu-buru, Dichi langsung memegang erat troli Celina dan mendorongnya dengan tergesah-gesah.
“Dichi.”
Mickael yang tidak mau kehilangan jejak Dichi lagi, dia langsung mengejar wanita itu.
“Dichi tunggu Dichi.”
Akhrinya usaha Mickael tidak sia-sia, dia berhasil mengehntikan langkah Dichi dan menahannya agar tidak pergi lagi.
“Lepaskan tangan aku,” bentak Dichi dengan cukup keras, bahkan Celina sendiri sampai terkejut mendengarnya.
“Mommy, siapa Om ini? Terus kenapa Mommy jadi marah?” Dengan wajah polosnya, Celina bertanya kepada sang mama.
“Tidak Sayang, Mommy tidak marah,” kata Dichi berbohong.
“Dichi, aku mau bicara sama kamu sebentar saja. Aku mohon Dichi.”
Mickael memohon kepada Dichi, bahkan dia memasang wajah memelas agar Dichi mau menuruti keinginannya.
“Bicara apa lagi, sepertinya sudah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Semuanya sudah jelas, dan maaf sekali aku sibuk,” ujar Dichi dengan dingin.
“Dichi, ini semua salah paham, kamu harus mendengarkan aku dulu Dichi aku mohon.” Dichi tidak menggubris ucapan Mickael, dia hendak melangkahkan kakinya namun langsung di cegah oleh Mickael. Dia bertekut lutut tepat dihadapan Dichi dan memohon kepadanya.
“Aku mohon Dichi, dengarkan dulu penjelasan aku.”
Seorang Mickael, direktur utama perusahaan besar dan ternama bertekut lutut dihadapan seorang wanita biasa.