Selesai dengan kegiatannya, Vania berbaring di samping sang suami dengan menjadikan lengannya sebagai bantalan, lalu Devan menutup tubuh polos mereka dengan selimut sambil berbincang hangat. "Hubby," panggil Vania. "Iya, Sayang?" saut Devan. "Apakah kamu marah?" tanya Vania seraya memainkan jarinya di atas d**a Devan yang bidang. "Marah kenapa?" "Karna aku meninggalkan Sofia bersama bunda. Bukan aku tidak mengajaknya, Sofia menolak ikut denganku," pungkas Vania khawatir Devan akan marah. "Tidak, Sayang. Itu kan keinginannya sendiri." Devan mencium puncak rambut sang istri, seraya mengusap bahunya. "Iya, sama Marcel apa lagi, Sofia sangat dekat dengan Marcel, mau sekolah saja harus main petak umpet dulu, kalau nggak kayak gitu Marcel tidak bisa berangkat sekolah. "Benarkah?" tanya D

