Terciduk

1077 Kata
Secara tidak langsung Vania menganggap kalau Devan sudah mengusir dirinya, jadi untuk apa dia tetap berada di sana? tidak ada yang perlu dipikirkan lagi bukan? apa lagi mempertimbangkannya. Sakit, sangat sakit. Vania tidak menyangka Devan akan mengatakan itu, mengusirnya hanya karena ia meminta Devan untuk berhenti berlari di atas Treadmell, itu pun karena dia sangat mengkhawatirkan dirinya. "Apa aku salah?" Vania mendengus seraya mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari. Entah akan pergi ke mana, yang jelas langkah pertama yang harus ia lakukan saat ini adalah pergi dari apartemen, dan jangan pernah berpikir untuk kembali. Ia semakin yakin dengan apa yang sudah ia katakan kepada ayahnya tadi, kalau kehadiran dirinya benar adalah sebuah beban untuk Devan, dan pergi dari sana adalah keputusan yang sangat tepat. Namun, saat Vania akan menyeret koper, ia melihat Devan sudah berdiri di ambang pintu sambil melipay kedua tangannya di d**a. "Mau ke mana?" tanya Devan. Vania memalingkan wajahnya ke arah lain, malas menjawab pertanyaan konyol yang jelas-jelas dia tahu apa jawabannya. "Pake tanya lagi, bukannya tadi dia yang mengusirku?" Vania menggerutu, tetapi Devan malah tersenyum mendengarnya. "Marah ya?" "tanya lagi? jelas lah," batin Vania. bukan hanya marah, lebih tepatnya sakit hati, sangat menyakiti hati. Vania masih berdiri di samping koper, lalu Devan masuk ke dalam menghampiri dirinya. "Maafin om, ya!" "Maaf untuk apa?" ketus Vania tanpa melihat ke arah Devan. "Maaf soal kejadian tadi, bukan maksud om mengusir kamu, om cuma tidak mau kamu melihat wajah om. Bukannya kamu pernah bilang kalau om sangat menakutkan kalau sedang marah?" Sangat ingat, kejadian itu baru tadi pagi, bagaimana gadis itu bisa melupakannya? dan saat itu wajah Devan memang sangat mengerikan, wajahnya merah, rahangnya mengeras menahan emosi. Bahkan sampai sedetail itu Vania mengingatnya. "Nia..." panggil Devan untuk yang kesekiankalinya, tetapi gadis itu masih diam enggan untuk menyahuti panggilan Devan. "Mau kan maafin om?" "Ntahlah," jawabnya singkat. "Kenapa begitu? kamu mau om melakukan sesuatu?" tawar Devan sebagai keseriusan dirinya meminta maaf. "Iya. Aku minta om jangan menghalangi jalanku, aku mau pergi." Kali ini gadis itu memberanikan diri menatap wajah Devan, bahkan dari jarak yang cukup dekat. "Kamu mau meninggalkan om? meninggalkan Sofia juga?" "Om yang meminta aku untuk pergi," timpal Vania semakin kesal. "Om kan sudah bilang, om tidak bermaksud seperti itu." "Tapi Om sudah mengatakannya." "Oke, biarkan om menebus kesalahan yang sudah om lakukan." Vania bergeming, melirik Devan dengan ujung matanya. "Bagaimana kalau kita pergi nonton bioskop?" tawar Devan, tidak sama sekali, jelas Vania menolaknya. Namun, ada suara lain yang menyahuti ucapan pria itu, siapa lagi kalau bukan putri tercintanya, Sofia. "Daddy, sofia mau!" Semua menoleh ke arah sumber suara, lalu gadis kecil itu pun berlari masuk ke dalam menghampiri mereka. "Kapan kita akan ke bioskop, Daddy?" tanya Sofia sangat antusias. "Sekarang juga boleh. Ajak tante Vania!" Adakah cara lain untuk menolak ajakan anak kecil itu? bahkan berpikir keras sekalipun tidak ada kata lain selain iya aku setuju, dan meninggalkan koper besar itu di dalam kamar adalah pilihan yang harus ia ambil. Mereka pergi ke sebuah mall terdekat, menonton bioskop animasi, dan cukup menyenangkan dari pada harus menonton film actian yang mengerikan, atau film horor yang menegangkan, apa lagi drama romantis yang membuat hati melayang. Ah, sepertinya tidak, mereka bukan sepasang kekasih, drama romantis tidak cocok untuk mereka. Selesai menonton bioskop, Devan mengajak dua gadis itu untuk makan di sebuah restoran, memesan apapun yang mereka inginkan bahkan nasi goreng kesukaan Vania pun tersedia di sana. Senyum Vania terus mengembang, hal itu membuat Devan begitu sangat bahagia. "Teruslah bahagia seperti ini," ungkap Devan sambil menatap wajah Vania, saat gadis itu menoleh ke arahnya, Devan mengalihkan pandangannya ke arah Sofia. "Kenapa?" tanya Vania. "Tidak." "Om bicara padaku?" "Tidak, Nia." "Tadi aku dengar, Om." "Om hanya merasa bahagia melihat kamu tersenyum lagi, dan perlu kamu tau, Vania. Ternyata wajah kamu itu sangat menakutkan juga kalau sedang marah." "Tidak, aku tetap cantik," selak Vania. Devan tertawa terbahak. "Kamu memang cantik, tapi sangat menakutkan." "Om Dev..." Vania menggeram. Devan pun mengalah. "Baiklah, baiklah." Malam yang cukup menyenangkan, terlepas dari permasalahan rumah tangga yang tengah Devan hadapi, tidak membuat ia harus terpuruk, atau meratapai hidup karena sang istri ternyata lebih memlih pekerjaan dari pada rumah tangga yang sudah terjalin selama sepuluh tahun, bahkan sampai memiliki putri cantik seperti Sofia. Selesai dengan makan malam, Vania izin ke toilet sebelum meninggalkan restoran. Namun, saat ia akan kembali, gadis itu melihat Megan sedang duduk dengan seorang pria, bahkan ia juga melihat pria itu mencium singkat bibirnya. Vania terkejut, begitupun dengan Megan yang melihat kehadiran Vania di sana, saat Vania akan berlari, saat itu juga Megan menarik tangannya. "Tante..." lirih Vania. "Apa yang kamu lihat?" bisik Megan di dekat telinga Vania. "Tidak ada, Tante." Suara Vania bergetar, jelas Megan tahu kalau gadis itu sedang berbohong. "Jangan memancing emosiku, Nia. Katakan apa yang kamu lihat?" ucapnya semakin menekan, lalu Leo berdiri menghampiri sang kekasih. "Megan dia pasti datang bersama suamimu, hati-hati mungkin sekarang dia ada di sini." Mata mereka berkeliling mencari keberadaan Devan, tetapi tidak ditemukan, lalu kembali bicara kepada Vania. "Kamu datang bersama siapa?" tegas Megan. "Aku..." "Dia datang bersamaku." Semua orang menoleh ke arah sumber suara, betapa terkejutnya saat melihat Devan berada di sana, bahkan bersama putrinya. "Mommy..." teriak Sofia. "Sofia...?" Saat genggaman tangan Megan melonggar, Vania segera melepaskan tangannya, lalu berlari ke arah Devan. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Devan khawatir, ia melihat pergelangan tangan gadis itu memerah, membuat amarah seorang Devan semakin menjadi. "Tidak apa-apa, Om." "Ayo kita pergi dari sini!" ajak Devan seraya menggandeng tangan Vania, juga menggendong sofia. "Daddy, mommy?" rengek Sofia. "Mommy tidak akan pulang, mommy sedang bekerja." "Aku bisa jelaskan!" triak Megan mengukuti langkah kaki mereka dari belakang. "Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun. Semua sudah jelas." "Tidak, Dev. Kamu salah paham, jangan mau terhasut dengan semua omongan Vania. Dia salah." Seketika Devan menghentikan langkahnya, lalu meminta Vania membawa putrinya keluar dari restoran lebih dulu. Setelah mereka pergi, Devan kembali bicara dengan Megan. "Siapa yang menghasut, lalu siapa yang terhasut? aku? aku tidak perlu mendengarkan apa kata orang, aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, Megan. Kamu berselingkuh, dan sekarang kamu mau menyangkalnya?" "Heh, Devan. Seharusnya elo ngaca, kenapa sampai istri loe itu selingkuh, itu semua karena kesalahan elo sendiri," selak Leo ditenggah-tengah berdebatan mereka. "Diam, Leo!" bentak Megan. "Tapi itu kenyataannya, Sayang. Devan tersenyum ketir, menatap mereka berdua secara bergantian. "Iya, ini memang kesalahan saya, saya salah memilih pasangan, karena sampah seperti wanita ini, tidak pantas menjadi istri saya." "Devan!" suara Megan membentak. "Bersiaplah, besok pengacaraku akan mengurus perceraian kita."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN