Prank!
Suara gelas pecah dari lantai atas, terdengar sangat nyaring di telinga Vania juga Marta yang masih bermain dengan Sofia di lantai bawah. Tidak lama ia melihat Megan menuruni anak tangga dengan langkah kaki tergesa-gesa, bahkan ia tidak sedikit pun menoleh saat Sofia memanggil mommy-nya, alhasil gadis kecil itu pun kembali menangis.
"Mommy..."
Ia berteriak hendak berlari mengejar Megan yang berhasil digagalkan oleh Marta, lalu Vania meminta Marta membawa Sofia masuk ke dalam kamarnya.
Setelah Marta pergi membawa Sofia, suara berisik kembali terdengar dari lantai atas, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya, khawatir terjadi apa-apa, Vania pun naik ke lantai atas guna memastikan keadaan.
Sangat mengerikan. Gadis itu melihat Devan membanting semua benda yang ada di atas meja, memecahkan cermin, juga foto pernikahan yang menggantung di atas dinding tidak luput dari amarah seorang Devan.
Rasanya ingin sekali Vania masuk ke dalam, lalu memeluk Devan hanya untuk menenangkan, akan tetapi halitu tidak mungkin ia lakukan, mengingat posisi dia di sana hanya sebatas menumpang yang tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam masalah pemilik rumah, sehingga ia pun memilih pergi dari sana, kembali ke lantai bawah, lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa om Dev semarah itu? kesalahan apa yang tante Megan lakukan? aku jadi takut, jangan-jangan mereka ribut karna aku tinggal di sini, apa sebetulnya tante Megan keberatan?" pikir Vania.
Beberapa hari pertama ia tinggal di sana, Vania tidak pernah melihat mereka bertengkar, walaupun Megan sering pulang larut, bahkan sampai pulang pagi sekalipun.
Namun, semakin diperhatikan, semakin hari pertengkaran mereka semakin menjadi, sehingga ia berpikir kalau kehadiran dirinya di sana menjadi penyebab pertengkaran mereka, tetapi pada kenyataanya adalah salah.
Karena Vania terus berpikir demikian, khirnya ia pun coba menghubungi sang ayah melalui panggilan telepon untuk mengatakan risalah yang sedang ia rasakan.
"Hallo, Ayah."
"Hai, Sayang. Apa kabar?" tanya sang ayah setelah telepon terhubung.
"Baik, Ayah. bagaimana kabar ayah sama bunda, sama Marcel?"
Marcel adalah adik laki-laki Vania yang berusia lima belas tahun, memiliki sifat urakan, sulit diatur, dingin, juga keras kepala.
Kembali pada percakapan antara Vania dengan Burhan.
"Baik, kami semua dalam keadan baik-baik saja, Nak."
Sejenak gadis itu terdiam, ingin bercerita, akan tetapi ragu, takut membuat semua orang khawatir.
"Kenapa, Sayang?"
Dengan diam tidak akan menyelesaikan masalah, tidak akan menemukan solusi, lalu gadis itu pun kembali bicara.
"Boleh Vania meminta sesuatu?"
"Boleh dong. Mau minta apa?" tanya sang ayah.
"Aku mau dicarikan apartemen baru, Ayah." Vania duduk di atas sofa, mencari posisi nyaman saat bicara dengan sang ayah.
"Apartemen?" Burhan menghentikan sejenak aktivitasnya setelah mendengar permintaan sang putri yang cukup mengejutkan.
"Iya, Ayah. Apartemen baru," lanjutnya lagi.
"Tapi kenapa? ko tiba-tiba?"
"Aku nggak nyaman tinggal di sini, om Dev sama tante Megan sering bertengkar," ungkap Vania atas ketidaknyamanan membuat ia harus mengatakan itu kepada sang ayah.
"Oh ya?" Burhan terkejut. Bukan karena baru tahu permasalahan rumah tangga mereka, Burhan terkejut karena sang putri mengetahui kalau Devan sering bertengkar dengan istrinya.
"Iya, Ayah. Boleh kan?"
Karena Vania terus merengek, akhirnya Burhan pun mengiyakan keinginan putrinya. "Nanti Ayah bicara sama Devan ya."
"Jangan, Ayah," tolak Vania cepat.
"Kenapa?"
"Om Dev nggak akan mau nyari, dia pasti ngelarang aku pindah," ujar Vania.
"Kalau bukan Devan siapa lagi, Nak?"
"Biar aku yang cari sendiri. Bagaimana?" tawar Vania.
Burhan merespon ucapan putrinya dengan sebuah tawa.
"Kamu mau cari ke mana? memang kamu tau tempatnya? kuliah aja masih diantar jemput Devan," ledek sang ayah.
"Nanti aku cari sama teman-teman kampus."
"You sure?"
"Iya, Ayah."
"Baiklah kalau itu bisa buat kamu tenang."
Vania tersenyum bahagia.
"Terima kasih, Ayah."
"Sama-sama, Sayang."
"Oh iya, bunda ke mana?" tanyanya lagi sebelum mengakhiri panggilan.
"Bunda lagi jadi guru, hari ini nilai ulangan adikmu anjlok, masa mata pelajaran Bahasa Indonesia nilainya lima," ungkap Burhan membuat Vania kembali tertawa.
"Ayah kan tau sendiri bagaimana kemampuan Marcel."
"Iya, tapi ya nggak lima juga kali, masa dia nggak tau apa jenis hewan mamalia? Marcel les juga loh, apa lagi kalau nggak les, bisa apa dia di sekolah? tau nggak yang buat ayah semakin kesal apa?"
"Apa?" tanya Vania penasaran.
"Di bilang sama ayah, mana Marcel tau, Marcel kan tidak menyusui, Ayah."
Vania tertawa terbahak mendengarnya.
"Ya ampun, anak itu emang nggak pernah berubah."
"Mangkannya sekarang bunda kamu lagi sibuk ngurusin Marcel, bebel banget lagian, aneh."
Burhan bicara dengan Vania cukup lama, duduk bersandar di atas kursi kebesarannya, sangking asiknya bicara dengan putri tercinta.
"Ayah jangan seperti itu, siapa tau Marcel punya keahlian lain dari nilai sekolahnya yang kurang memuaskan. Lagian maklumlah cowok, asal jangan salah pergaulan aja," ujar Vania.
"Iya, Ayah maklumi itu, kenakalan adikmu masih dalam batas wajar, dan kamu di sana, tolong jaga kepercayaan ayah sama bunda ya. Jangan sampai kamu kenapa-napa, apa lagi pacaran sama om-om."
"Ya nggak dong, Ayah. Masa Vania putri ayah yang cantik jelita juga pintar ini harus pacaran sama om-om."
"Siapa tau, lagi musim kan sekarang."
"Lagian ayah, jangan menyalahkan cinta jatuh ke hati siapa, kalau om-om nya baik, dan bertanggungjawab, kenapa enggak? kenapa harus anti?"
"Vania..." suara Burhan sedikit menekan.
"Kenapa, Ayah?"
"Kamu nggak lagi pacaran sama om-om kan?"
"Ayah, ya nggak lah, mau pacaran sama om-om siapa? di sini cuma ada om Dev, masa aku pacaran sama om Dev."
"Ouh, kalau itu nggak mungkin."
"Mangkannya," timpal Vania.
Asik berbincang dengan sang ayah, terdengar suara langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya, sehingga Vania pun harus mengakhiri percakapan dengan sang ayah.
"Ayah, sudah dulu ya. Nanti kita ngobrol lagi."
"Baiklah, nanti kamu kabarin ayah kalau sudah dapat apartemen baru."
"Iya, Ayah."
Panggilan telepon pun terputus, lalu Vania keluar dari kamar, melihat Devan berjalan ke arah ruangan yang dilengkapi dengan alat-alat olahraga yang biasa ia gunakan hampir setiap pagi.
Pertengkarannya dengan Megan kali ini membuat Devan benar-benar kacau. Disaat ia ingin memperbaiki hubungan, Megan malah membuat Devan semakin marah, dengan pilihan yang ia ambil, saat Devan memberikan pilihan antara pekerjaan dengan masa depan rumah tangga mereka, tanpa berpikir Megan memilih pekerjaan, lalu pergi meninggalkan rumah.
"Kamu keterlaluan, Megan."
Deru nafas Devan terengah-engah, juga keringat yang cukup deras mengalir di sekujur tubuhnya, terutama di bagian dadanya yang bidang, juga punggungnya yang lebar, terlihat begitu menawan saat memandangnya, Pria itu berlari di atas Treadmill dengan kecepatan 6 mph selama beberapa menit, selama itu juga Vania melihat kegiatan Devan dari luar.
Ini terlalu berlebihan, Devan bisa cedera kalau sampai diteruskan tanpa aturan, Hingga akhirnya ia pun terpaksa masuk ke dalam ruangan itu, berusaha menghentikan aktivitas Devan yang malah mempercepat kecepatan larinya.
"Om Dev."
Vania menyapa perlahan, tetapi Devan tidak mendengarnya, sehingga ia pun terus berjalan menghampiri Devan, berdiri di sebelahnya.
"Om Dev," panggilnya lagi.
"Kenapa?" Devan menjawab tanpa menghentikan langkah kakinya terus berlari.
"Ini berlebihan."
"Tidak," jawab Devan cepat.
"Nanti kaki Om terkilir."
"Biarkan."
"Om Dev, kenapa sih seperti anak kecil?" kesal Vania karena Devan tidak mau mendengar ucapannya.
"Kalau Om nggak mau berhenti, aku akan pergi," ancam Vania.
"Pergilah, tinggalkan om sendiri."
"Apa?"