Ceklek!
Mak Lampir keluar dari kamar sambil menguap. Kedua tangannya direntang lebar, digerakkan memutar ke atas ke bawah biar otot-otot yang kaku setelah tidur menjadi lemas kembali. Tapi kemudian Sepasang matanya langsung melotot kaget begitu melihat kenyataan didepannya.
Tarik nafas...
Hembuskan perlahan
Tarik nafas lagi
Hembuskan
Tarik nafas lagi
Semoga tidak ada yang keluar dari lubang bawah.
Tahan sebentar,
Hembuskan...
"Aakkhhhh!!"
Teriakan mak Lampir pecah melihat keadaan ruang tamu yang semerawut awut-awutan Parah. Padahal cuma ditinggal tidur siang sebentar tapi keadaan rumah sudah kacau. Masih mending kapal pecah, ini mah lebih mendekati buntelan TPS Bantargebang yang baru meledak. Sepertinya hari ini akan ada korban baru.
"Siapa yang melakukannya?! Siaappaaa??!!"gelegarnya, menyaingi suara petir disiang bolong.
Sementara makhluk yang berada di ruang tamu, terpaku diam saking kagetnya. Gerakan mereka terhenti, tatapan mata mereka terpaku semua pada mak Lampir yang berdiri di depan kamarnya. Sepertinya waktu mendadak berhenti.
Tangan Dhie yang memegang keripik singkong masih terhenti didepan mulut. Kenken yang sedang serius membaca buku berdiri kaku melihat mak Lampir. Dan Joan yang duduk dibelakang Badra, terdiam dengan tangan yang sedang mengepang rambut panjang Badra.
Hanya Badra yang terlihat tenang duduk sambil melipat kedua tangan didada. Malah Badra tersenyum geli melihat penampilan bangun tidur mak Lampir yang acak kadut, persis penyanyi rock era 80-an yang lagi konser pakai daster gombrang.
"Kalian?! Benar-benar yah..."dengus mak Lampir, menahan geram. "Siapa yang menyuruh kalian mengacaukan rumahku?! Siapaaa?!""
Bukannya menjawab, mereka malah saling menatap satu sama lain, saling memberi kode lalu serempak mengarahkan telunjuknya pada Badra.
Eh?
Tentu saja Badra yang tadinya tenang jadi kaget.
"Badra!! Kurang asem yah kamu!"pekik mak Lampir, kembali menggelegar. "Rasakan pembalasanku!!"
"Heh?" Badra yang tak berdosa hanya bisa melongo melihat mak Lampir mulai pasang kuda-kuda.
"Kaburr!!" Dhie menarik tangan Badra secepat kilat, menyeretnya lari menjauh dari amukan Mak Lampir.
"Kaburrr Ken!!" Joan ikut panik.
"Cepetan!"
Gedebug! Dugh!
Joan dan Kenken pun terpontang panting lari meski harus jatuh bangun dan kejedot meja dulu, tak apa, yang penting lariiiii!
"Dasar bocah edan smua!! Jangan kabur! Woii! Berhentiiii....!"
Mak Lampir mengambil sapu lidi lalu dengan kekuatan penuh berlari mengejar mereka. Tekadnya sudah bulat, bocah bocah nakal itu harus merasakan jurus sapu lidi karena sudah berani membuat rumahnya berantakan.
Tiga jam sebelumnya...
Tiga manusia itu masih terbuai dalam kubang sejarah di perpustakaan. Semakin banyak yang dibaca, semakin besar rasa ingin taunya. Dhie khusyu membaca sambil menggali lubang dihidung, mencari setitik ilmu plus setitik upil. Joan membaca dengan mulut komat kamit, meresapi kalimat demi kalimat dengan rasa permen mentol yang terkulum dalam mulut. Hanya Kenken saja yang serius luar dalam menghayati bacaan sampai keningnya berkerut berlipat-lipat.
"Hahh bikin pusing nih orang-orang."rutuk Joan seraya menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tadi mereka meragukan terjadinya perang Bubat, sekarang malah mempertanyakan keabsahan wilayah kekuasaan Majapahit. Apa ga pusing gitu pro kontra terus? Ayolah! Ini tuh kejadiannya sudah dari jaman baheula, masa harus nyari kuburan Gajah Mada dulu buat klarifikasi."omelnya.
"Emang ada kuburan Gajah Mada?"lirik Dhie.
"Tauk. Biar mereka cari sendiri, klo perlu dari ujung Sabang sampai Merauke tuh."
"Sgitu aja kok repot." Kenken mendekap kedua tangannya didada. "Wajar ada pro kontra. Tiap orang kan punya pemikiran sendiri, punya pendapat sendiri. Asalkan disampaikan dengan cara yang sopan dan benar, sah sah saja."
"Oh ya?" Joan mendelik sebal pada Kenken. "Coba jelaskan pemikiran anda mr. Smart tentang masalah ini. Sepertinya dari tadi anda yang paling serius baca."
"Iya, sok ieh banget nih. Jawab tuh pertanyaan miss Dos Lotus."sela Dhie yang seketika juga mendapatkan jitakan spesial dari Joan. Pletak!
"Aow!"
"Kalo aku miss Dos Lotus, kau apa?" Giliran Dhie yang kena delikan Joan. "Otakmu itu lebih parah dari jaman Dos Lotus, secaranya yah otakmu itu hasil rekonsiliasi tukang bajakan."
"Hikss teganya dikau padaku..." Dhie mulai melow. "Bang Kenken, Hayati sakit hati nih...tolong diback up dong."adunya, sok sedih. Melihat itu Joan hanya memeletkan lidahnya pada Dhie. Jijay.
"Tenang saudara-saudara! Nih dengerin yah."ujar Kenken.
"Sok! Wilujeung mr. Smart!"
"Wilayah kekuasaan Majapahit berkaitan erat dengan Mitreka Satata. Mitreka Satata inilah yang menyebabkan munculnya dua pandangan tentang cakupan wilayah yang dikuasai Majapahit. Mitreka Satata sendiri artinya kerjasama." Kenken mulai menjelaskan dengan gayanya yang cuek tapi serius.
"Pendapat pertama bilang kalo daerah-daerah di Nusantara melakukan kerjasama dengan Majapahit dalam menyediakan pelabuhan bagi pedagang dari seluruh Nusantara, termasuk yang dari Cina bahkan Arab. Ini artinya Majapahit tidak benar-benar menguasai Nusantara. Sementara pendapat kedua berpegangan pada kakawin Negarakertagama, yang didalamnya jelas disebutkan bahwa Mitreka Satata Majapahit adalah negara-negara asing yang ada diluar Indonesia, seperti: Cina, Campa, Kamboja dan Yawana. Negara-negara ini punya kedudukan sederajat dan tidak diwajibkan membayar upeti. Sementara daerah di Nusantara yang berada dalam kekuasaan Majapahit wajib membayar upeti."
Prok! Prok! Prok!
Penjelasan dari Kenken disambut tepuk tangan yang sangat meriah oleh Dhie dan Joan.
"Sssttttt!!! Jangan berisik!!"
Dhie dan Joan pun langsung menurunkan kedua tangan ke bawah meja begitu mendapatkan protes dari orang-orang yang ada diperpustakaan.
"Sstt Dhie, apa kau mengerti yang dikatakannya?" Joan menyikut lengan Dhie, setengah berbisik.
"Hmm tidak tuh."sahut Dhie, leumpeung saja.
"Hi hi hi sama."
Ternyata penjelasan dari Kenken hanya lewat doang. Beda dengan Kenken yang bersemangat empat lima panjang lebar menjelaskan.
"Tidak hanya sekarang, dari jaman dulu pun kisah penaklukan Nusantara oleh Majapahit sudah digunakan oleh Muhamad Yamin untuk menyatukan dan mempererat para pemuda Indonesia saat memperjuangan kemerdekaan. Bahkan Belanda pun pernah menggunakan peristiwa perang Bubat untuk memecah belah bangsa ini, yang kita kenal dengan istilah...,"
"Devide at impera!!"sahut Joan dan Dhie, kompak. "Yeayy!" Mereka bertos ria untuk merayakannya.
"Cih! Yakin deh nilai sejarah kalian dulu pasti dibawah 7. Jawab segitu saja senang."olok Kenken. Tapi Joan dan Dhie tidak peduli. "Sekarang giliran miss rekonsiliasi untuk menjawab pertanyaan miss Dos Lotus diawal tadi, siapa Badra?"
Dhie langsung menggaruk kepalanya yang emang ketombean. Bingung harus menjawab apa. Tapi kalo tidak dijawab, nyawanya bakal terancam. Lihat saja, Joan sudah melotot garang, siap menerkamnya hidup-hidup.
"Badra itu...laki-laki yang datang dari jaman dulu, emm tepatnya dari jaman kerajaan Majapahit."jawab Dhie, akhirnya.
Krik...krik...krik...
Suasana hening. Dhie menatap Joan dan Kenken yang mematung diam setelah mendengar jawabannya. Lalu,
"Ha..ha...ha...!!" Joan dan Kenken tertawa terpingkal-pingkal. Mereka tak percaya.
Hahh. Bagai buah simalakama. Jujur salah. Bohong? Lebih salah. Jadinya serba salah. Padahal Dhie sudah berusaha dari lubuk hati yang terdalam untuk bicara jujur pada sahabatnya. Tapi apa mau dikata, kedua sahabatnya tak percaya. Laki-laki dari jaman Majapahit? Yang benar saja.
"Hei kalian! Ini tempat baca, bukan tempat ngerumpi. Kalau mau ngerumpi sana keluar!"omel petugas perpustakaan, galak.
"Maaf, bu. Lupa!" Dhie hanya nyengir.
Lalu mereka pun bergegas membereskan buku yang berserakan di meja.
"Ayo Jo! Kita bawa Dhie ke jalan Riau!"ajak Kenken sambil berdiri dan mulai menyeret Dhie untuk jalan. Joan mengikuti saja.
"Ke BIP?" Mata Dhie berbinar senang.
"Bukan. Ke Rumah Sakit Jiwa!"
Dhie langsung cemberut. Dasar Kenken Sureken, pikaseubeuleun. Seenaknya saja kalo ngomong.
"Kita ke rumah ustad Samsudin saja biar dirukiah."ujar Joan, membuat bibir Dhie semakin mengkerut.
"Ide bagus."angguk Kenken.
"Ih malas dech. Ya sudah kalau tidak percaya."sungut Dhie sambil menghentakan tangan Kenken lalu melangkah pergi meninggalkan sahabatnya yang masih cekikikan.
"Duh begitu aja ngambek!"
"Biarin!"
"Tungguin dong Dhie!"
"Ogah!"
"Klo sering ngambek ntar dikutuk jadi bebek lho sama mak Lampir!"
------