Dhie berjalan terburu-buru menelusuri lorong perpustakaan. Kenken dan Joan mengikuti dari belakang dengan jarak yang cukup jauh.
Wuussshhh!
Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam datang menerjang Dhie, menangkap tubuhnya lalu menariknya melayang melewati pagar pembatas koridor dan braakk! Menerobos dinding kaca gedung perpustakaan.
"Akhhh!"
Dhie shock. Wajahnya pucat pasi. Membeku. Merasakan tubuhnya ditarik paksa tanpa ampun oleh seseorang yang tak tau datangnya dari mana.
"Akhhh!!" Jeritan histeris terdengar ramai. Orang-orang yang melihat kejadian itu hanya bisa berteriak histeris.
"Dhie?!!" Joan dan Kenken tersadar dari shocknya.
"Kejar Ken!"
"Ayo!!"
Mereka berlari sekuat tenaga agar bisa menolong Dhie, tapi entah kenapa usaha mereka hanya nampak seperti gerakan slow motion dalam film action saja.
Sementara, sosok hitam yang menangkap Dhie berputar putar di langit laksana angin p****g beliung yang sedang menari, lalu dengan tiba-tiba melepaskan cekalannya.
"Aakkhhh!!" Dhie menjerit histeris saat tubuhnya dilepas begitu saja di udara. Secepat angin, secepat itu pula Dhie merasakan terjun bebas menuju bumi.
Ya Allah pikiran Dhie langsung kosong
Pasrah deh...
Langsung mati kayaknya...
Mati?
Tidaakkk...
Eh jangan dulu deng, Dhie belum mau mati. Kredit hp belum lunas, judul skripsi belum di acc, belum jadi sarjana, belum jadi orang kaya, belum nikah, belum ngeberangkatin mak Lampir naik haji, pokoknya belum segala-galanya. Gak nawar sih ya Allah, tapi kalau bisa milih, Dhie kepingin mati nanti aja kalau pas lagi shalat, tadarus atau sedekah. Kalau Dhie mati sekarang, gimana nasib cerita ini? Please...Dhie masih ingin hidup.
Banyak hal yang tiba-tiba terlintas dalam benak Dhie. Meski agak konyol tapi memang itu yang terpikirkan. Hingga,
"Tutup matamu." Bisikan itu terdengar jelas ditelinga.
Dhie menutup mata. Menyerahkan kehidupan dan kematiannya pada Yang Maha Kuasa. Kun Payakun...
Krapp!
Sebuah pelukan kokoh melindungi tubuh Dhie. Memeluknya erat, menjaganya dengan segenap jiwa. Perlahan, Dhie merasakan angin tak begitu kejam lagi menyambut tubuhnya. Ketakutan dan kematian yang sedari tadi dirasakannya mulai luruh dan menjauh. Hanya aroma kayu dan tanah yang tercium, seakan berhembus tepat didepannya. Dhie bernafas lirih saat kedua kakinya kembali menyentuh tanah dengan selamat.
"Kau tidak apa-apa?"
Suara itu? Dhie mengenali suara itu.
"Ba...dra?" Kedua mata Dhie menatap tak percaya. Ternyata Badra yang sudah menyelamatkannya. Tapi, bagaimana bisa Badra ada disini?
"Ha...ha...ha...!"
Suara tawa bergema menyakitkan.
"Jangan panggil aku Aji Wereng jika tak bisa membunuhmu putri!"
Dhie merinding mendengar ancaman itu. Tubuhnya gemetar lagi. Entah kenapa, Dhie merasa ancaman itu ditujukan padanya.
"Tunggu disini." Badra mendorong tubuh Dhie menjauh dibelakangnya. Lalu shuutt! Tubuhnya berlari melesat dan melayang, mengejar sesosok bayangan.
Dhie terpana diam dengan tubuh yang masih gemetar ketakutan, menyaksikan bagaimana dua sosok bayangan hitam bertarung di udara, beradu jurus mematikan.
Semakin lama pertarungan diantara mereka semakin sengit.
Dua sosok laki-laki kekar saling menyerang dan bertahan silih berganti dalam gempuran jurus-jurus secepat kilat. Mereka mulai menapaki bumi, memaksa daun-daun kering berguguran dan debu berterbangan.
"Kau bodoh! Mau saja kau dipermainkan oleh patih Gajah Mada. Seharusnya kau biarkan aku membunuh titisan putri itu!"sungut laki-laki bernama Aji Wereng disela serangannya menggempur Badra.
"Ternyata laki-laki bertopeng itu kau, Aji Wereng!"
Badra mengenali dari suaranya. Dan bagaimana Badra bisa lupa kalau sebenarnya mereka saling mengenal meski hanya sebatas nama. Mereka berasal dari guru yang berbeda, kelompok prajurit yang berbeda, dan memiliki teman pergaulan yang berbeda pula.
"Kau akan menyesal, Badra! Gadis itu sama sekali tak berguna untukmu!"
"Itu bukan urusanmu!"
"Apa yang sebenarnya kau lindungi? Nama baik patihmu atau nyawa gadis itu?"
"Itu juga bukan urusanmu!"
"Cihh! Kau lindungi gadis itu juga percuma. Toh pada akhirnya putri Dyah Pitaloka mati dan Sri Sudewi tetap menjadi Paduka Sori raja Majapahit." Aji Wereng terkekeh mengejek Badra. "Ayahnya saja yang terlalu bermimpi besar ingin meraih bulan, padahal sang bulan sudah ditetapkan dari dulu. Pertumpahan darah itu tidak akan terjadi kalo dia mau menerima posisinya hanya sebagai selir raja."
"Cih! Dasar cerewet!"
"Ayolah. Terima saja kenyataannya. Meski bukan Oleh Gajah Mada, putri Dyah Pitaloka akan tetap mati. Entah itu dalam perang, entah itu karena konspirasi politik istana. Kau sendiri tau kehidupan di istana itu sangat kejam."
"Sepertinya mulutmu terlalu besar Aji Wereng! Cciiaaattt!" Badra mempercepat serangannya pada Aji Wereng.
"Akh!" Aji Wereng menjerit pelan saat pukulan Badra bertubi-tubi mengenai dadanya. Bukk! Tanpa bisa ditahan tubuhnya jatuh terhempas ke bumi. Tapi dengan ringannya Aji Wereng kembali berdiri. "Kau sungguh naif, Badra. Apa kau pikir mereka akan membiarkan trah Rajasa jatuh ke tangan orang luar? Ckckk tidak akan. Itulah sebabnya Hayam Wuruk dijodohkan dengan saudara sepupunya sendiri. Sekarang biarkan aku membunuh gadis itu agar tidak ada lagi urusan diantara kita, Badra!"
"Tidak akan! Langkahi dulu mayatku!"
"Kau benar-benar keras kepala!"
"Aku tidak peduli! Dan aku juga tidak tertarik mengurusi politik kerajaan atau kekuasaan segelintir orang yang ingin memecah belah Majapahit."elak Badra dengan datar. Sama sekali tak terpengaruh omongan Aji Wereng. "Tugasku melindunginya dan akan ku pertaruhkan meski nyawa imbalannya!"
"Baiklah. Terserah padamu saja." Aji Wereng tersenyum mencibir pada Badra. "Kau memang bodoh dan teruslah menjadi orang bodoh. Seumur hidup pun kau hanya pantas menjadi prajurit rendahan!"
"Aku memilih bodoh tapi lurus daripada pinter tapi sesat."
"Ya ya terserah apa katamu saja. Tapi ingat, aku tidak akan berhenti sebelum bisa melenyapkan gadis itu. Nyawa dibayar nyawa, darah dibalas darah. Sampai bertemu lagi Badra!" Shuutt! Dalam skali gerakan, tubuh Aji Wereng menghilang dari hadapan Badra.
Belum juga Badra menarik nafas lega, teriakan dan serangan datang tiba-tiba menghampirinya,
"Dasar penjahat!! Menyingkir dari sini! Tak kan ku biarkan kau menyakiti Dhie!!" Jari telunjuk Joan mengarah tepat ke wajah Badra.
"Menyerah!!" Kenken menarik kedua tangan Badra lalu mencekalnya ke belakang. Susah payah Kenken menahan Badra sementara yang ditahannya tetap berdiri santai. Tak seincipun tubuh Badra bergeser dari tempatnya. "Cepat telepon polisi Jo!"
"Eh i..ya." Joan sibuk mencari ponselnya dalam tas.
"Tunggu!"Dhie tersadar dan langsung berteriak pada Joan. "Jangan panggil polisi. Dia...dia...temanku. Dia yang tadi menolongku..."jelasnya.
"Hah?" Untuk sesaat Joan dan Kenken hanya saling pandang. Tak percaya.
"Dia Badra, orang yang ku ceritakan tadi di perpustakaan."
Joan dan Kenken menatap Dhie penuh curiga.
"Ah terserah kalian mau percaya atau tidak, aku tak peduli. Ayo Badra!" Dhie melepaskan tangan Kenken lalu menarik Badra untuk mendekat padanya. Sementara Joan dan Kenken masih saling pandang. Jadi bingung sendiri.
"Kau tidak apa-apa?"tanya Badra.
"Sedikit shock, tapi tidak apa-apa."
"Syukurlah. Kalau terlambat sedikit saja, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."lirih Badra, jujur.
"Sekarang ceritakan padaku, kenapa kau bisa ada disini?" Dhie balik bertanya sambil menyeret Badra untuk pergi.
"Insting."
"Aku tidak percaya. Pasti kau diam-diam mengikutiku, kan?"todong Dhie.
"Insting dan juga mengikutimu. Aku kan harus selalu waspada, Dhie."sahut Badra, mencari aman.
"Huawalah alasan!"
"Itu benar."
"Oke. Lalu, siapa laki-laki itu?"
"Laki-laki yang mana?"
"Yang tadi ingin membunuhku. Jangan pura-pura deh!"
"Dia...Aji Wereng."jawab Badra, ragu.
"Dan...kenapa dia ingin membunuhku?"
"Itu karena kau tit,.."
"Dhiee!!" Joan memeluk Dhie dari belakang. "Aku percaya deh. Suerr!"bujuknya sambil memasang pupy eyes.
"Iya Dhie. Kami tadi cuman kuatir aja ngelihat kamu tiba-tiba diculik."susul Kenken.
"Iya Dhie. Kalau kamu diculik kan berabe, dunia bakalan sepi, ibaratnya nih hidup kami tanpamu itu bagaikan laut tanpa garam, Dhie. Hambar."
"Iya iya. Udah, gak usah diperpanjang lagi." Akhirnya Dhie tersenyum juga.
Diam-diam Badra menghela nafas lega. Belum saatnya Dhie tau maksud Aji Wereng yang sesungguhnya. Tapi entah esok entah nanti, mereka pasti akan bertemu.
"Ini yang namanya Badra, Dhie?"lirik Joan, tanpa malu langsung mengedipkan mata genitnya.
"Iya."
"Oalah gantengnya!"puji Joan, langsung menempel pada Badra. Dengan kikuk Badra berusaha menepis tangan Joan yang gemas mencubiti d**a dan lengannya. Ken diam saja menahan cemburu.
Sementara diam-diam Dhie menatap Badra penuh tanda tanya. Apa yang dilihatnya tadi sungguhan, kan? Bukan syuting drama laga atau prank action-action begitu. Tapi kalau sungguhan, kok bisa Badra melesat ke udara, melayang-layang dengan cepat? Jangan-jangan....
--------