23. Tak Terduga

1418 Kata

Lima tahun kemudian.... "Badraaaaaa!!!" Suara Mak Lampir menggelegar, kesal. "Kebiasaan tuh anak! Cuek bebeknya minta ampun! Duhh Gustiiiii! Tobat dah!"keluhnya sambil menyeka keringat didahi. "Awas saja kalau ketemu! Direndos siah sampe...," Mak Lampir dengan cepat menutup mulutnya. Hampir saja kelepasan ngomong jelek tentang Badra. Sabar. Sabar. Orang sabar kuburannya lebar. Orang sabar tidak pernah ngomong kasar. "Sampe jadi imam besar di Masjidil Haram dah!"tuntasnya, menghela nafas lega. "Aamiin ya Allah!" "Ucapan itu doa, Mak. Sip!" Terdengar suara Ken dibalik sofa besar ruang tamu. "Kamu juga pikaseubeuleun! Sudah tau aku teriak-teriak dari tadi nyariin Badra. Kamu malah diam aja. Senang yah aku darah tinggi?!" Ken langsung kena semprot. "Darah tinggi tidak akan, tapi kalau nada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN