Hari masih pagi tapi Dhie sudah sibuk di bengkel kampus. Tangannya sibuk berjibaku dengan perkakas dan peralatan service. Kalau sudah begitu, tidak ada seorangpun yang bisa mengalihkan perhatian Dhie.
Sementara ditempat yang tersembunyi, diantara rindang pepohonan besar, Aji Wereng mengawasi setiap gerak gerik Dhie. Suram, pekat, gelap, kesakitan, darah dan air mata, itulah yang terbayang dalam benaknya saat melihat Dhie. Aji Wereng tak bisa melupakan darah yang mengalir dari tubuh kekasihnya. Membayangkan kesakitan yang harus dirasakan kekasihnya saat merenggang nyawa, dirinya pun ikut merasa sakit.
Yang ditatap asyik saja dengan dunianya sendiri yaitu dunia kolong mobil rongsok. Sesekali kepala Dhie menengok ke kolong mobil lalu ke kap mobil dengan segala peralatan bengkel yang silih berganti berpindah ke tangannya. Wajahnya sudah corang coreng, baju prakteknya pun sudah berganti warna.
Wuusshh!
Aji Wereng yang bertengger di dahan pohon besar layaknya seekor burung Hantu, mengeliat pelan ketika hembusan angin datang menerpa tiba-tiba. Tanpa melepaskan pandangan dari Dhie, Aji Wereng mengayun tubuhnya menjadi berdiri tegak diatas dahan. Wuusss! dengan sekali menjentikan jari telunjuk, arah angin berbalik menyerang sosok bayangan yang berkelebat mendekatinya.
"Haittt!" Geramnya saat mendapat serangan tak terduga. Hanya dengan tangan kanan ia menangkis semua serangan yang datang, sementara tubuhnya tetap berdiri tegak tak terpengaruh. Lambat laun bayangan itu mulai melonggarkan kecepatan jurus-jurusnya hingga sosoknya pun mulai nampak jelas. "Kau sama saja dengan majikanmu, licik. Beraninya menyerang diam-diam."desis Aji Wereng, sinis.
"Cckk lihat siapa yang bicara? Cihh!" Badra balik mendesis sinis.
"Kalau bukan karena siasat licik, majikanmu itu sudah mati saat ini."
"Dan kau terlalu banyak membual seperti biasanya," Badra menatap remeh Aji Wereng. "Ketika berperang, cara apapun bisa saja dilakukan selama itu benar. Jadi hentikan saja omong kosongmu itu!"
"Ha..ha..ha.." Aji Wereng malah tertawa. "Apa menjebak lawanmu, menguburnya hidup-hidup dalam lubang, itu kau anggap benar?"
Badra terdiam, tak mampu menyanggah kebenaran yang sedang dibicarakan oleh Aji Wereng.
"Kalau saat itu patih Kebo Iwa tidak mengalah pada Gajah Mada, bisa dipastikan majikanmu itu akan mati."lanjut Aji Wereng.
"Kebo Iwa tau apa yang dilakukannya. Dia tidak picik sepertimu, mendendam hingga menembus waktu hanya untuk jasad yang sudah mati." Gantian Badra yang memanasi Aji Wereng.
"Badraaaaaa!"gelegar suara Aji Wereng. Wajahnya memerah marah, tangannya terkepal kuat. Badra telah membangkitkan lukanya. "Matii kauuu!!!"serunya, langsung menyerang Badra.
"Jangan bermimpi!!"
"Dasar prajurit rendahan! Mati saja kau!!"
Bluss! Bluuss! Wusshh!
Aji Wereng menyerang Badra bertubi-tubi. Mengakibatkan pohon-pohon disekitarnya bergoyang hebat seperti terkena angin puyuh. Aji Wereng mengejar Badra. Mereka saling berkejaran, melompat dari satu atap ke atap yang lain.
"Ayu Sedasih sudah mati, Aji. Sudah mati! Dia tidak akan hidup lagi meski kau menghabisi Dhie."teriak Badra, lantang. Badra sengaja memanasi Aji Wereng dan memancingnya menjauh dari Dhie.
"Darimana kau tau Ayu Sedasih kekasihku hekh?!"
"Aku tau. Bukankah kekasihmu itu seorang pelayan yang ditugaskan untuk melayani putri Dyah Pitaloka? Aku tau segalanya. Aku tau saat dia sekarat lalu mati!"
"Aakkhhh!!" Aji Wereng melolong kesakitan mendengar nama itu disebut Badra. "j*****m kau!"
Buk! Buk! Buk! Krek! Bbuumm!
Mereka beradu kekuatan, saling memukul kosong, saling menyerang. Dahan dahan yang terkena pukulan patah dan jatuh berserakan. Daun daun kering pun menggulung membentuk pusaran angin.
Badra dan Aji bertempur hingga melesat menuju langit. Mereka mulai mengeluarkan ajian ajian sakti. Hingga yang terlihat oleh mata hanyalah percikan api dan kilatan cahaya diantara gemuruh angin yang berdesing.
Sementara keadaan dibawah mereka hiruk pikuk kacau. Orang-orang berlarian menuju gerbang kampus untuk menyelamatkan diri.
"Dhie!"
Terlihat Joan berlari terpogoh-pogoh menghampiri Dhie. "Ayo kita pergi dari sini! Sebentar lagi bakal ada p****g Beliung!"
"Ee...,"
Tangan Dhie langsung ditarik begitu saja. Buummm! "Akhh!" Langkah mereka dihentikan oleh dahan pohon yang jatuh tiba tiba. "Jo..an, lebih baik kau pergi dulu. Aku ada yang ketinggalan dibengkel." Dhie melepaskan genggaman tangan Joan.
"Baiklah, jangan lama lama yah."
Setelah Joan pergi, Dhie meluaskan pandangannya. Dhie berlari menuju ke tempat yang lebih luas. Langkah kakinya gemetar seiring hembusan angin yang berputar semakin kuat. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang sedang terjadi. Ini bukan angin biasa yang terjadi karena kehendak alam, tapi rasanya ini ada hubungannya dengan Badra dan dirinya. Jangan-jangan Badra sedang bertarung lagi dengan seseorang. Gawat.
"Badraaa!!!" Teriak Dhie. "Aku tau kau ada disini! Badraa!"
Suara Dhie ditelan angin. Gelegar kilatan cahaya saling bersahutan di udara. Duarr duarr duarr! Dhie terus berjalan, sesekali kakinya terhenti untuk bertahan dari gemuruh angin. Tiba tiba,
"Rasakan pembalasanku!" Suara Aji Wereng terdengar keras dan wuusshh! Bughh! Tanpa bisa dihindari, Dhie terpental jauh terkena pukulan Aji Wereng.
"Akhh! Uhuk uhukk!"
Darah segar keluar dari mulut Dhie. Brakk! Tubuhnya merosot jatuh setelah menghantam pohon besar. Kepalanya terasa berputar dan semakin berputar pusing saat dalam sekali hentakan tubuhnya melayang dari tanah pindah ke pelukan Badra.
"Bertahanlah Dhie."bisiknya.
"Ha...ha..ha..!" Suara tawa Aji Wereng memekikkan telinga. "Kematian Ayu Sedasih akan setimpal dengan kematianmu tuan putri, kau dengar itu putri Dyah Pitaloka?! Mati! Rasakan ini ciiaatttt!" Tanpa menunggu lagi, Aji Wereng maju menyerang Badra yang sedang menggendong Dhie.
Buk buk buk! Wushh!
Badra menangkis semua serangan dengan satu tangan. Prioritasnya saat ini adalah menyelamatkan Dhie. Sementara rasa pusing dan sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, perlahan tubuh Dhie terkulai lemah dalam pelukan Badra, tak sadarkan diri. Akhirnya Badra mengerahkan seluruh tenaga dalam dikepalan tangannya yang bebas dan ciuungg buk! Menghantam d**a Aji Wereng dalam sekali pukul hingga Aji Wereng mundur beberapa langkah.
"Kita akan bertemu lagi, nanti..." Wusshh! Badra melesat pergi membawa Dhie jauh dari Aji Wereng.
"Badraaa! Pengecut kau!"
Teriakan Aji Wereng dianggap angin lalu oleh Badra. Yang terpenting saat ini adalah Dhie. Badra bergegas membawa Dhie ke tempat yang aman, kerumah mak Lampir.
Sesampainya disana, mak Lampir sudah menunggu kedatangan Badra dengan tenang. Tak ada rasa panik, cemas atau takut.
"Bawa dia masuk!"perintahnya. Badra pun bergegas membawa Dhie ke kamarnya.
Dengan telaten mak Lampir membantu Badra mengobati Dhie dengan tenaga dalamnya. Meski curiga dan penuh tanda tanya, Badra memilih untuk diam dulu. Ada saatnya nanti ia akan bicara dengan mak Lampir. Setelah selesai, mereka meninggalkan Dhie istirahat di kamar. Mak Lampir melanjutkan pekerjaannya didapur dan Badra memilih menyendiri di ruang tamu.
Mak Lampir menghela nafas panjang mendapati Badra termenung menatap jauh ke luar jendela. Matanya pun ikut menerawang jauh ke masa yang entah ada dimana.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Kebo Iwa dan gusti patih Gajah Mada."lirih Badra, tanpa menoleh ke mak Lampir yang berdiri dibelakangnya.
"Kebo Iwa?"
"Patih Kebo Iwa, patih dari kerajaan Bali Aga. Patih yang kesaktiannya tiada tanding, bisa dibilang hanya dia yang sanggup menandingi kesaktian Gajah Mada. Bahkan saat kerajaan Daha tunduk pada Majapahit, kerajaan Bali Aga tetap tidak mau tunduk menjadi kerajaan bawahan Majapahit."
"Kenapa Kebo Iwa bisa ada di Majapahit?"
"Dia datang untuk menikahi salah satu putri Majapahit, itu yang aku dengar."
"Lalu kedua patih itu bertempur dan Gajah Mada menang, begitu?"
"Entahlah, apa itu bisa disebut kemenangan atau penyerahan diri."elak Badra, lirih. "Patih Gajah Mada meminta Kebo Iwa menggali lubang tapi juga menguburnya hidup hidup. Tapi dengan kesaktiannya, Kebo Iwa bisa keluar. Mereka bertempur dengan sengit, sampai akhirnya patih Kebo Iwa mengalah dan mati ditangan Gajah Mada. Meski Kebo Iwa mengalah agar Gajah Mada dapat mencapai tujuannya untuk mempersatukan kerajaan kerajaan yang ada di Nusantara, Kebo Iwa pun sempat mengeluarkan sumpahnya pada Gajah Mada."
"Apa sumpahnya?"
"Meski berhasil bersatu tetapi Nusantara yang diperjuangkan oleh Gajah Mada akan dijajah oleh bangsa kulit putih dalam kurun waktu yang lama."
"Bangsa kulit putih hemm?" Mak Lampir menerawang jauh. "Bisa jadi Belanda, Inggris atau Jepang. Karena setauku Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun, lalu oleh Jepang selama 3,5 tahun. "
"Jadi sumpah Kebo Iwa nyata?"
"Bisa jadi."
Mereka terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga bulan pun perlahan ikut tenggelam dalam awan hitam yang kelam. Sepi, sunyi, senyap.