"Shits!" Mak Lampir dan Badra bergegas masuk ke kamar Dhie saat merasakan hawa aneh datang dan melingkupi seisi rumah.
"Aku saja yang pergi. Kau berjaga disini!"
"Baik, bersiaplah!"
Mak Lampir duduk bersila. Kedua tangannya bergerak keatas menyiapkan raganya lalu turun ke d**a bersemedi. Badra menyusul duduk dibelakangnya dan dengan sekali hentakan, kedua tangannya mengalirkan energi ke dalam tubuh mak Lampir.
Sukma mak Lampir pun mulai masuk ke alam mimpi Dhie...
"Dimana ini?"
Dhie tak bisa mengenali tempatnya berada. Sejauh mata memandang, kabut putih menyelimuti alam di sekitarnya. Terdengar hawar hawar suara gending Jawa mengalun indah, lalu ada suara air terjun yang bergemuruh jatuh memecah bumi.
Entah apa yang terjadi tapi Dhie tak bisa mengingatnya. Bahkan pakaian yang dikenakannya juga terasa aneh. Sejak kapan coba Dhie punya Kebaya jaman tempo dulu dan samping jarit? Bisa dibilang koleksi baut Dhie lebih banyak dari koleksi jeans robeknya. Jadi Kebaya sama sekali jauh dari kebiasaannya.
Eeaakk eeaakkk!
Tiba tiba muncul seekor burung Gagak dari langit, langsung menyerang Dhie.
"Akhh!"
Dhie mencoba menghalau. Sreett srett! Tapi justru kedua tangannya terkena cakaran. Dhie pun terpogoh pogoh melarikan diri. Sesekali ia terjatuh. Kedua lengannya memerah, perih, lecet, berdarah. Tapi Dhie terus berlari hingga langkahnya terhenti disebuah taman yang indah. Disana, terlihat seorang gadis muda sedang menari di iringi gending kerajaan. Gerakannya begitu memukau, membuat Dhie terkagum kagum.
"Namanya Ayu Sedasih."
Dhie menoleh kaget. Tiba tiba disampingnya telah berdiri lelaki muda yang gagah. Seperti Dhie, lelaki itu memuja sang penari.
"Kau?" Dhie mengenalnya. Laki laki itu adalah Aji Wereng, sosok yang pernah dilihatnya bertarung dengan Badra.
"Dia gadis tercantik yang pernah ada. Sopan, lembut, keibuan, begitu penyayang dan baik hati. Dia abdi dalem kesayangan Tribhuwanatungga Dewi, hobinya menari dan suka sekali mendengarkan gending Jawa. Dia...kekasihku." suaranya berubah sendu. "Seharusnya kami sudah menikah, punya anak banyak dan hidup bahagia. Tapi karena kau, kau..." sorot matanya memerah, menatap penuh amarah pada Dhie. "Dia mati mengenaskan!!! Apa kau lupa? Kau telah membunuhnya di pesanggrahan lapangan Bubat!"
"A..aku?" Dhie menunjuk dirinya sendiri. Tidak mungkin. Mengenalnya saja tidak, lalu bagaimana mungkin ia membunuhnya? Dhie tidak percaya.
"Kau!!" Pekik Aji Wereng, suaranya bagai guntur yang memekikkan telinga. "Karena kau tuan putri Sunda yang egois, dia mati mengenaskan. Seharusnya kau biarkan dia pergi karena dia tidak bersalah!"
"Ta..tapi,"
"Dan sekarang kau harus membayar nyawanya! Aku akan membunuhmu!"
"Akhh!" Dhie berlari menjauh.
"Larilah sejauh mungkin ha ha ha!"
Wuussshh.
Dengan mudah Aji Wereng mengeluarkan ajian pengikatnya. Dan dalam seketika tubuh Dhie kaku, tak bisa bergerak.
Wuusshh.
Daun daun kering berjatuhan dari semua pohon yang ada di taman. Perlahan berputar beterbangan, menggumpal menjadi satu lalu byuurr jatuh di atas tubuh Dhie. Semakin lama semakin banyak hingga menutupi tubuh Dhie dan hanya menyisakan kepalanya saja. Kemudian Aji Wereng menjentikkan jarinya sambil tertawa puas.
"Ha ha ha! Aku akan membakarmu hidup-hidup!"
"Tiiddaakk! Aakkhh" Dhie menjerit kesakitan, tapi badannya tidak bisa digerakkan sedikitpun. Tak lama sepercik api muncul dan mulai membakar daun daun itu. "Hu hu huu aku tidak bersalah, tolong lepaskan aku."
"Darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa. Setelah kau mati, baru dendam ini berakhir! Ha ha haa!"
"Hu hu hu lepaskan aku!" Dhie menangis tak berdaya diantara gelak tawa Aji Wereng.
"Ha ha ha mati saja kau!"
Api mulai membesar, asap pun mulai membumbung tinggi. Dhie terbatuk batuk, tangisnya pecah dalam diam. Rasa panas sudah tak bisa ditahannya lagi. Perlahan Dhie menutup mata, pasrah.
Aaauuummm
Siauww siauuww angin kencang datang seketika memadamkan api, menghempaskan daun daun ke udara.
Geeerrrggmm
Geraman Harimau terdengar mendekat, Aji Wereng repleks mundur dengan kuda kuda yang siap menyerang.
Aauummn
Seekor Harimau Putih muncul dari dalam putaran angin yang mereda. Brukk! Seketika juga tubuh Dhie jatuh tak berdaya, tak sadarkan diri.
"Sakit hati boleh, tapi kalau sudah membabi buta, mendendam hingga ke tulang sumsum, itu artinya hatimu yang sudah sakit." Dari belakang Harimau datang menyusul mak Lampir, lengkap dengan roll-an rambut dan daster gombrangnya.
Aauuummmn
"Kau??" Aji Wereng kaget.
"Lupakan dendammu. Mati, jodoh, rejeki, sudah diatur Sang Pencipta. Yang sudah mati relakan saja. Kita yang masih hidup harus bersyukur karena masih diberi hidup."
"Kau?? Siapa kau sebenarnya?!"
"Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya remehan oreo yang kebetulan tercecer didekat gadis itu."sahut mak Lampir, tenang.
"Cih! Sok merendah!" Aji Wereng menduga kalau mak Lampir punya ilmu yang cukup tinggi sampai bisa masuk ke alam mimpi buatannya.
"Ya sudah kalau tidak percaya."
Aauuuummmn
Harimau itu merangsek dan mengitari mak Lampir. Seakan-akan sedang berjaga melindungi majikannya.
"Lepaskan gadis itu. Nanti kau bisa curhat tentang kekasihmu padaku. Siapa tau hatimu akan tenang lalu merelakan kematiannya."
"Tidak!!" Tolak Aji Wereng, lantang. "Aku tidak akan rela sebelum kematian Ayu Sedasih terbalaskan!"
"Dasar keras kepala!"rutuk mak Lampir, kesal. Padahal ia sedang memasang kode membujuk, tapi penolakan Aji Wereng membuatnya kesal. "Baiklah kalau itu maumu, aku tidak akan ceramah lagi. Tapi mungkin kau harus berhadapan dulu dengan si Putih."
Aaauummm
Harimau Putih itu mengaum sambil mengibaskan ekornya. Aji Wereng tau dengan jelas itu bukan Harimau biasa. Auranya terasa sekali. Tapi mundurpun tidak ada dalam kamusnya.
"Katakan, apa yang kau inginkan agar membiarkanku membunuhnya?" Aji Wereng pun mencoba berkompromi dengan mak Lampir.
"Wahh kau menantangku." Mak Lampir terkekeh geli.
"Kenapa tidak? Seorang pengikutpun bisa jadi pengkhianat jika ada yang lebih menguntungkan."
"Hmm benar juga sih." Mak Lampir sependapat dengan Badra. "Baiklah. Kalau kau bisa memenuhinya, aku akan menyerahkan nyawa gadis itu padamu dengan tanganku sendiri."
"Katakan, apa maumu?"
"Aku ingin dibuatkan seribu Candi dalam semalam!"ucap mak Lampir, lantang.
"Hah?" Aji Wereng kaget.
"Eh jangan itu," Belum juga Aji Wereng pulih dari keterkejutannya, mak Lampir sudah berubah haluan lagi. "Hmm kau buatkan saja aku seribu Odong Odong dalam semalam. Bagaimana? Bisa?"
"O...dong-odong??"
"Iya, Odong-odong yang suka dinaikin anak-anak!"
"Seribu Odong-odong??! Kau gila!"
"Lho, tadi nanya sekarang malah dibilang gila."
"Yang benar saja!!"
"Heh, dengar yah, kalau setoran satu Odong Odong 30 ribu sehari berarti aku bisa dapat 30 juta dalam sehari. Aku bakal cepat kaya tau!"jelas mak Lampir, tak peduli dengan tatapan aneh Aji Wereng. Yang ada dipikirannya memang uang, hanya uang, uang is number one.
"Otakmu sudah rusak sepertinya. Aku memang punya ilmu tapi aku bukan Jin! Dasar gila!"
"Ee..tengteuingeun. Tadi nantang, sekarang ngejek!"pelotot mak Lampir.
Geeerrrrggmm
Aji Wereng mundur perlahan saat Harimau itu merangsek mendekatinya.
"Yaa pikir saja sendiri!" Aji Wereng tak mau kalah.
"Alah bilang saja kau tidak bisa memenuhi keinginanku. Gitu aja kok repot!"
"Dasar cerewet!" Aji Wereng kehabisan kata-kata untuk berdebat dengan mak Lampir.
"Serang dia, Putih! Lumayan buat makan malam nanti!"
"Kau??"
Aji Wereng mati kutu. Sebenarnya ia bisa saja meladeni Harimau itu, tapi pasti akan kalah. Sebagian besar energinya sudah tersedot untuk menarik Dhie ke alam mimpi buatannya. s**l. Aji Wereng tak mau kalah sia-sia.
"Baiklah! Hari ini dia selamat."ucapnya terpaksa. "Tapi aku bersumpah, jika aku akan langsung membunuhnya dipertemuan berikutnya! Camkan itu!"
Aji Wereng mengultimatum mak Lampir lalu wuussshhh! secepat kilat menghilang bagai bayangan.
"He he he dasar lalaki, gengsi digedein. Bilang saja ngalah, pake ngancam segala." Mak Lampir terkekeh pelan. "Ayo Putih!"
Mak Lampir mendekati tubuh Dhie yang terkulai di tanah. Dan si Putih pun langsung mengendus-ngendus tubuh Dhie, menjilati wajah Dhie tanpa henti.
"Ya ya, aku tau kau merindukan majikanmu yang sebenarnya."
Aauuummmn
Si Putih hanya mengaum dan kembali menjilati wajah Dhie.
"Ishh! Hentikan! Kau membuatku cemburu saja." Mak Lampir pura-pura cemberut. Lalu dengan perlahan ditariknya tubuh Dhie ke dalam pelukan. "Sekarang pergilah Putih, dia sudah tak apa-apa."
Aauummm
Harimau itu seakan mengerti. Mengangguk pelan lalu berbalik perlahan meninggalkan mak Lampir dan Dhie.
Mak Lampir tersenyum lirih lalu trek! Menjentikkan jari. Mengembalikan alam mimpi ke alam nyata. Perlahan keadaan disekitarnya pun berubah, kembali ke kamar Dhie.
"Apa dia baik-baik saja?" Badra menyambut dengan cemas.
"Terluka sedikit"
Badra membantu mak Lampir menidurkan Dhie kembali. Dilihatnya beberapa kulit dibagian kaki Dhie melepuh. Meski terluka tapi kali ini Dhie selamat. Entah nanti.....