Mimpi yang aneh, benar benar aneh. Tapi kenapa rasanya begitu nyata? Kedua lengan Dhie benar benar terluka, ada bekas cakaran dan juga lecet. Dikakinya pun ada luka terbakar, sedikit melepuh. Tapi Dhie tak berani bertanya, hanya lirik lirik saja pada mak Lampir yang tengah mengobati lengannya. Dan bukannya tidak tau, mak Lampir pun hanya pura pura tidak tau. Tidak mungkin memberitau Dhie kalau ia dan Harimau Putih yang telah menyelamatkannya dari ilusi mimpi.
Brakk!
Keduanya dikagetkan dengan bunyi pintu yang dibuka kasar. Badra dan Joan masuk bersamaan. Badra dengan wajah datarnya dan Joan dengan cemberutnya.
"Dhie!! Apa kau baik-baik saja?!"cecar Joan. "Harusnya kemarin aku tidak meninggalkanmu. Tau ada p****g Beliung tapi masih saja ingat barang yang ketinggalan! Lihat nih! Sampai luka-luka begini. Kualat sih gak nurut."
"Iya, maaf." Dhie hanya meringis saja.
"Badra, apa kau sudah melakukan apa yang ku minta?" Mak Lampir menoleh pada Badra.
"Sudah, mak."angguk, Badra. Tadi ia baru saja selesai memasang ajian pelindung disekitar rumah. Itu pun harus kucing-kucingan dengan Joan. Karena sejak Joan datang, bukannya masuk menengok Dhie, Joan malah terus menempeli Badra.
"Bagus. Itu akan menyulitkannya kalau nekat menerobos masuk."
"Ya. Semoga nyawa Dhie tidak terancam lagi."
"Bukan nyawa Dhie yang terancam, tapi aku!"sela Joan, kesal. "Aku!"
Mak Lampir dan Badra saling menatap bingung. Tidak tau apa maksud Joan.
"Aku kan sudah bilang kalau Mak jangan mengajari Badra jadi genit. Tuh liat sekarang, Badra kegatelan nebar pesona dimana-mana!"lanjut Joan, membuat mak Lampir dan Badra tersenyum lega.
"Yang benar?" Dhie nampak tak percaya.
"Iya. Tadi aku liat dia asyik ngobrol sama cabe-cabean di warung sono, itu lho warung pinggir rel."
"Apa itu benar, Badra?" Dhie melotot pada Badra.
"Tadi aku memang beli cabe-cabean disana."ujar Badra, salah menangkap maksud Joan.
"Tuh kan!" Joan makin sewot. "Ini semua salah Mak! Tanggungjawab pokoknya!"
"Ishh enak saja."delik mak Lampir. "Memangnya dia hamil sampai aku harus tanggungjawab segala. Sori yah."
"Bukan tanggungjawab yang itu, Mak!"protes Joan.
"Yah biarinlah!"elak mak Lampir. "Badra itu laki-laki tulen, sudah nalurinya dari sono punya nafsu kalau liat cewe cakep."
"Iya, tapi gak usah kegatelan juga kali." Bibir Joan sampai manyun.
"Badra dengar yah, daripada beli cabe-cabean mending kawin eh nikah sekalian, biar gak dosa."ujar Dhie, malah membuat Badra semakin bingung. Dalam pikirannya, sejak kapan beli cabe harus nikah dulu?
"Kenapa?"tanyanya, polos. "Ini hanya cabe-cabean."
"Ishh! Cabe-cabean itu kebanyakan onderdilnya terbuka, udah longgar, udah pada turun mesin malah. Terlalu sering gonta ganti oli laki laki mesum."jelas Dhie, malah ngawur. Pletak! Jitakan langsung mendarat dikepala Dhie. "Aow! Kenapa menjitakku?"
"Dia itu manusia, Dhie. Bukan mobil atau kendaraan roda dua."rutuk Joan.
"He he lupa." Dhie hanya cengengesan.
"Tapi aku terlanjur beli cabe-cabeannya 3."
"Apa?! Tiga?!" Dhie dan Joan terlonjak kaget.
"Iya. Nih," Badra mengeluarkan 3 bungkus plastik kecil yang diikat satu. "Katanya ini cabe Keriting, cabe Tanjung dan cabe Gendot."jelas Badra.
Dhie dan Joan melongo bodoh, ternyata versi Badra memang cabe beneran. Bukan cabe-cabean versi mereka.
"Bhuhaha ha ha." Mak Lampir tertawa puas.
"Alhamdulillah ya Allah!" Joan langsung memeluk Badra dengan erat. "Terima kasih Engkau masih melindungi pujaan hatiku dari godaan Mak Lampir yang terkutuk. Badraku masih suci, polos dan ganteng."kedipnya, masih sempat menggoda nakal.
"Prett!"cibir Dhie.
"Awas kau yah!" Mak Lampir pura-pura marah. "Pulang sana!"usirnya.
"Usir saja, Mak. Biar semua jengkol dan Urap Sampeu kita aman."dukung Dhie.
"Sori yaw tidak level!"
"Tapi hari ini kan Mak cuman masak oseng peda pedas,"sela Badra.
"Asikk! Ayo Mak, kita makan!" Dhie bangkit dan langsung menarik Mak Lampir keluar kamar.
"Aku suapi yah? Tanganmu kan masih sakit." Badra bergegas menyusul Dhie.
"Tidaakk! Jangan lakukan itu, Badra. Kau akan melukai hatiku!"jerit Joan, melow. Tapi Badra menolehpun tidak, leumpeung saja. Mereka jalan menuju meja makan.
Meski sederhana, dimeja makan sudah terhidang beberapa menu. Oseng peda, tahu goreng, kerupuk dan tentu saja sambal terasi made in Mak Lampir yang level kepedasannya sudah terkenal sampai ke Dayeuhkolot.
"Oh tidak," Joan langsung ngiler melihat sambal. "Ohh tidak, jangan biarkan ada sambal terasi diantara kita." Joan duduk mendahului yang lain.
"Katanya tidak level."ejek Dhie.
" He he he ada sambal terasinya." Joan hanya nyengir saja.
"Kalian makan saja dulu, aku mau ke belakang sebentar." Mak Lampir meninggalkan Dhie dan Joan diruang makan. Tanpa diminta, Badra mengikuti Mak Lampir ke halaman belakang.
Meski tidak bicara, Mak Lampir bisa menebak apa yang diinginkan Badra. Mak Lampir sengaja menjauh dari Dhie agar mereka bisa bicara dengan tenang.
Langit sore mulai dihiasi senja. Temaram seiring sinar Matahari yang mulai meredup. Seakan meninggikan harapan mereka akan ketidakpastian yang harus dialami Dhie. Hari ini Dhie masih bisa mereka selamatkan, entah kalau esok. Mimpi yang dialami Dhie bukan sekedar mimpi, tapi sebuah ilusi nyata yang berasal dari ajian yang dimiliki Aji Wereng. Badra saja sulit untuk menembusnya. Tapi untunglah mak Lampir bisa, meski dengan begitu semua rahasianya terbongkar oleh Badra.
"Kau tidak ingin bertanya siapa aku sebenarnya?" Mak Lampir menoleh pada Badra yang terdiam dari tadi.
"Tidak."
"Juga tentang Harimau Putihku?"
"Tidak."
"Kenapa? Bisa saja aku ini musuh dalam selimut. Atau... Siluman Harimau yang sedang mengincar mangsanya."
"Mungkin saja,"lirih Badra seraya menerawang jauh. "Tapi Mak adalah orang yang sudah merawat dan menjaga Dhie selama ini. Kalau Mak berniat jahat, sudah dari dulu Mak mencelakai Dhie, jauh sebelum ada aku. Tapi Mak malah mati-matian bersamaku ikut menyelamatkannya."tutur Badra tanpa ragu. Mendengar itu Mak Lampir tersenyum tipis.
"Yah. Meski kita berasal dari dua trah yang berbeda, tetapi tujuan kita sama yaitu melindungi Dhie. Kau karena Gajah Mada, dan aku karena Silihwangi."
"Oh, ternyata begitu yah." Badra baru mengerti kenapa Dhie bisa berada didekat Mak Lampir.
"Yah dan cepat atau lambat, Dhie akan mengetahui rahasiaku."lirih Mak Lampir, berubah sendu. "Jika saat itu tiba, ku harap si Putih tidak akan pergi meninggalkanku."
"Kenapa begitu?" Badra heran.
"Karena...tidak ada yang abadi di dunia ini. Jika saatnya tiba, semua akan kembali pada pemilikNya."
Tes tes tes
Rintik hujan mulai turun. Mak Lampir menarik selendang yang dipakai sebagai penutup kepalanya dari tadi. Kakinya melangkah ke tengah halaman rumah yang terbuka. Selendang ia sampirkan di kedua bahunya hingga menutupi d**a. Dan entah dari mana asalnya, tangan kanan mak Lampir sudah memegang sebuah topeng. Lalu topeng itu pun dipakainya.
Badra hanya diam menyaksikan Mak Lampir yang mulai bergerak menari. Berbeda dengan kesehariannya yang galak, gerakan tarian mak Lampir begitu luwes, gemulai, lemah lembut, penuh penjiwaan. Bahkan hujan pun seakan ikut menari dengan dirinya.
"Hujan."
"Hujan datang untuk mengiringiku. Biarkan saja, Badra."
"Apa Mak juga seorang penari?" Badra terpesona dengan gerakan Mak Lampir yang kadang terlihat gagah dan kadang terlihat lemah lembut.
"Bukan. Tapi, aku suka menari kalau hati sedang sedih. Membiarkan diriku menjadi orang lain meski hanya sebentar."
"Tarian apa yang sedang Mak lakukan?"
"Ini adalah tarian Topeng Kuncaran. Tarian ini menyiratkan dendam kesumat seorang Raja pada wanita karena cintanya ditolak." Mak Lampir menjelaskan makna tariannya pada Badra. "Sama seperti Aji Wereng, rasa sakit karena cinta begitu mengakar. Bedanya, sang Raja ditolak dan Aji Wereng ditinggalkan."
"Rasa yang menyedihkan."
"Itu benar. Sedih, terluka lalu mendendam. Hanya saja tidak semua orang menyadarinya. Mereka berdalih rasa itu sebagai cinta."
"Kurasa...dia mulai menyadarinya."guman Badra dengan pandangan yang jauh ke depan. Ke sebuah atap gedung tertinggi yang dari rumah Mak Lampir hanya terlihat puncaknya saja. Dan memang disana ada satu sosok yang dari tadi mengawasi mereka.
Sosok itu adalah Aji Wereng, yang hanya bisa melihat dari kejauhan karena ajian pelindung yang dipasang Badra.
Deg deg deg
"Kenapa jantungku berdebar melihatnya menari?"
Tangan Aji Wereng gemetaran saat menyentuh dadanya. Merasakan getaran yang menyengat bagai arus listrik mengalir dalam tubuhnya.
Deg deg deg
Setelah sekian lama terhenti, debaran itu datang lagi saat melihat tarian mak Lampir.
"Ya Tuhan...." Dan sekarang Aji Wereng terkesima melihat senyuman Mak Lampir. Kenapa sekarang Mak Lampir terlihat sangat cantik yah?
Deg deg deg
"Tidak mungkin,"lirih Aji Wereng, tidak ingin mempercayai perasaannya yang mendadak. "Tidak mungkin ini cinta...."
Deg deg deg
-----