Dalam kesunyian, terdengar rintihan daun daun yang dipaksa jatuh berguguran dari ranting. Suara jatuhnya daun daun bergesekan dengan udara dan angin yang diakibatkan oleh ajian Aji Wereng, hingga menciptakan simfoni lagu syahdu. Gerakan tangan Aji Wereng begitu lembut memukau layaknya seorang penari yang bermain dengan jemari lentiknya. Sesekali nampak Aji Wereng memejamkan mata, menghayati perasaan galau, bimbang, resah yang berkecamuk dalam hati.
"Tidak bisa dibiarkan terus,"gumannya seraya menghentikan ajian. "Ini hanya perasaan sesaat. Dari awal sampai akhir nanti, aku hanya mencintai Ayu Sedasih."putusnya, tanpa menyadari bahwa perasaan yang baru muncul itu sudah menguasai hatinya. "Aku harus menuntaskan dendam ini secepat mungkin agar aku bisa menjauhinya. Baiklah, ayo kita lakukan sekarang!"
Wuusshh! Seketika sosoknya menghilang dalam kegelapan malam.
Tak lama kemudian, dduuarr! Aji Wereng menerjang ajian pelindung yang sudah dipasang Badra hingga menimbulkan suara dentuman yang menggelegar keras.
"Akhh!" Suara dentuman itu berakhir dengan jeritan Dhie.
Wuussh! Wusshh!
Aji Wereng melayang keluar dari jendela kamar seraya memanggul tubuh Dhie yang dililit selimut.
Krek! Wuusshh!
Disusul bayangan Badra yang menyusul melesat mengejarnya.
"Hai tunggu aku!"teriak Mak Lampir, panik. "Dasar Hama Wereng s****n! Bikin gara-gara aja. Awas kalau ketangkap, direndos siah ku aing!"makinya kasar, kesal karena tidur cantiknya terganggu. "Ayo Putih! Hiaattt!" Mak Lampir menyambat Harimaunya sebelum menghilang. Lalu, bruk! Bummn! Dinding dan atap kamar Dhie rubuh seketika. Yang masih nampak berdiri hanya bagian rumah lainnya.
Dalam rentang waktu berurutan, tiga sosok bayangan saling mengejar. Hembusan angin malam terbakar habis oleh panasnya energi yang mereka keluarkan. Sosok bayangan mereka hanya nampak seperti kilatan kilatan cahaya diantara Bintang.
"s****n!" Bruk! Aji Wereng berkelit menghindari pohon yang rubuh terkena pukulan jauh Badra.
Wuussshh! Hiiat!
"Lepaskan dia!" Badra berhasil menghadang Aji Wereng.
Perlahan tubuh mereka turun menginjak bumi. Aji Wereng menurunkan Dhie dari bahunya lalu menjadikannya tameng. Terlihat wajah Dhie yang pucat pasi dan memerah.
"Badra."lirih Dhie, tak berdaya.
"Majulah."tantang Aji Wereng.
"Kau?! Hiaatt!" Badra langsung melepaskan jurusnya. Tapi kemudian menariknya kembali karena Aji Wereng selalu menahan serangannya dengan tubuh Dhie.
"Ha ha ha! Hanya segitu kemampuanmu, Badra? Dasar payah!"
"Pengecut kau!"
"Sekarang giliranku. Terimalah ini! Hiaattt!" Aji Wereng balik menyerang dengan tetap menjadikan Dhie tamengnya. Pertempuran diantara keduanya berlangsung tidak seimbang.
Buk! Buk! Buk!
Beberapa kali Badra pun terkena pukulan Aji Wereng.
"Akhh!"
"Rasakan ini! Hhiiiaattt!" Bugghh! Bugh! Serangan Aji Wereng bertubi-tubi menghantam tubuh Badra.
"Badraaaa!!"
"Ha ha ha!"
"Cih! Beraninya dibelakang perempuan!"desis Badra. "Kenapa tidak sekalian saja kau pake rok?! Biar jadi perempuan jadi-jadian!"
"Bicara saja semaumu! Aku tidak peduli! Ha ha ha!" Bug! Bug! Bug!
"Hookh!" Mulut Badra mengeluarkan darah. Tapi Badra langsung menyekanya.
"Ha ha ha! Ayo maju lagi!"
"Jangan hiraukan aku, Badra! Lakukan saja. Serang dia!"teriak Dhie, tak tega melihat Badra yang menjadi bulan-bulanan Aji Wereng.
"Baiklah." Badra mengumpulkan sebagian energi dalam kepalan tangan kanannya dan bersiap menyerang Aji Wereng.
"Akhh!" Tapi gagal, Aji Wereng terlebih dahulu melemparkan tubuh Dhie ke atas.
"Dhie!" Badra melesat hendak menyelamatkan Dhie. Namun Aji Wereng tak tinggal diam, hhiiatt! Buk! Aji Wereng menyerang Badra dengan kekuatan penuh hingga tubuh Badra pun terbanting jatuh ke bumi.
"Akhh!" Tubuh Dhie membentur pohon pohon dan berakhir diantara batang pohon yang rapuh. Krek! Batang pohon itu tak bisa bertahan lama. "Ya Allah ya Robb. Selamatkan hambaMu yang lemah ini. Hamba yakin ini hanya kesalahan teknis saja. Kuatkanlah batang pohon ini ya Allah karena toh berat badan hamba tak berat-berat amat, masih cukup ideal...sedikit lagi."ucap Dhie, berdoa seraya memejamkan mata, karena tak sanggup jika harus melihat ke bawah.
"Sudah berdoanya?"
"Heh?" Mata Dhie langsung terbuka mendengar suara mak Lampir. "Eemmaakk...kk!!"jeritnya, senang. Tapi jeritan itu langsung berhenti ketika sadar apa yang ada dihadapannya. Mak Lampir berdiri diatas sapu lidi, melayang-layang seperti penyihir yang ada di negeri Harry Poter. "Ohh tidak." Dhie menggelengkan kepala, tak percaya. "Mak sudah mati?!" Dhie kembali histeris. "Sekarang Mak gentayangan? Saking soulmatenya sama sapu lidi, gentayangan pun harus pakai sapu lidi. Ya Allah Mak, kembalilah ke alammu dengan tenang." Pletak! Kening Dhie langsung disentil. "Aoww!"
"Sembarangan kalau ngomong!"
Krekk! Krakk! Batang pohon itu pun patah.
"Akhh!" Tubuh Dhie meluncur jatuh.
"Hiaattt!" Buk! Mak Lampir ikut meluncur dan memukul pelan tubuh Dhie agar terpental lagi ke atas. Ketika melewatinya, Mak Lampir menarik salah satu ujung selimut hingga lilitan itu terbuka. Tubuh Dhie pun berputar dan kembali meluncur jatuh.
"Akhh Makkk!" Sebelum menyentuh tanah, Mak Lampir menangkap tubuh Dhie dan menjejakkannya ke tanah dengan seimbang. "Alhamdulillah." Dhie menghela nafas lega.
Buk! Buk! Buk!
Sementara itu pertempuran diantara Badra dan Aji Wereng masih berlangsung sengit. Saat melihat kesekeliling, tempat itu sudah tak berupa lagi. Pohon pohon jatuh tumpang tindih, belum lagi daun-daun dan batang pohon yang berserakan dimana-mana.
"Aduh gawat! Kalau ketahuan sama pecinta lingkungan bisa dituntut nih dengan pasal perusakan lingkungan secara sengaja." Dhie masih bisa memikirkan keadaan disekelilingnya. "Hahh lagian kok aku bisa kebobolan dua kali yah? dulu Badra, eh sekarang Mak Lampir. Tidak setia kawan, punya rahasia diumpetin sendiri. kelihatan banget kalau aku sebenarnya gak kenal mereka dengan baik. Hahh nyebelin pisan."sewotnya.
"Tunggu disini."perintah Mak Lampir pada Dhie. "Hei Hama Wereng!"teriaknya, menggelegar. Tanpa menunggu lagi, Mak Lampir melompat masuk ke arena pertarungan Badra dan Aji Wereng.
"Ka..kau!" Sesaat Aji Wereng tergagap, kaku. Tuh kan, salah tingkah.
"Pikaseubeuleun siahh! Rasakeun yeuhh! Hiaatt!" Mak Lampir langsung menyerang Aji Wereng.
"Ee, hentikan!" Aji Wereng belum siap.
"Terima ini!" Bak! Buk! Bak! Buk! Aji Wereng menahan serangan dengan grogi.
"Hhiiiaatt!" Badra tak membuang kesempatan menyadari kekakuan Aji Wereng dalam menghadapi Mak Lampir. Badra pun meningkatkan serangannya. Kini Aji Wereng nampak kewalahan menghadapi mereka. Sesekali Aji Wereng kehilangan konsentrasi saat berhadapan dengan Mak Lampir. Yang terlihat adalah gerakan-gerakan Mak Lampir saat menari, bukan jurus-jurusnya yang mematikan. Aji Wereng seakan sedang berhalusinasi saja.
"Berhenti Ayu Sedasih!"geramnya, menyuruh Mak Lampir berhenti menyerangnya.
"Hah, siapa?" Mak Lampir berhenti menyerang.
"Dia bukan Ayu Sedasih! Mimpi saja kau!"ejek Badra.
"Eeh, maksudku siapa namamu sebenarnya?"tanya Aji Wereng.
"Nyai Rengganis."jawab Mak Lampir, bingung kenapa Aji Wereng malah menanyakan namanya. "Memangnya kenapa?"
"Mungkin dia menyukaimu, Mak!" Badra masih tetap mengejek Aji Wereng.
"Diam kau! Hiiaattt!" Aji Wereng kembali menyerang Badra. Mak Lampir pun tak tinggal diam, ia kembali menyerang Aji Wereng. Meski seringnya Aji Wereng hanya bertahan menghadapinya, tidak menyerang habis-habisan seperti pada Badra. "Maafkan aku, Nyai!"
Wuuusshhh! Buughk!
Aji Wereng mendorong Mak Lampir hingga terpental jauh, lalu melesat melayang ke langit. Dan sswiiinnggg! Jemarinya melesatkan sesuatu kearah Dhie dengan sangat cepat.
"Tiiiddaaakkk!"jerit Mak Lampir.
"Awass Dhie!"teriak Badra.
"Akhhh!!" Bruk! Terlambat. s*****a itu tepat mengenai d**a Dhie.
"Dhiee!" Badra berlari ke arah Dhie yang sudah terjatuh. "Dhie?!" Belati kecil tertancap didada Dhie dan lukanya mulai mengeluarkan darah.
"Badra, aku suka bermain oli, bukan darah... Aku tidak suka darah hiks."lirih Dhie, menatap sayu. "Huuueekk!"
"Bertahanlah!" Badra mengangkat tubuh Dhie lalu melesat pergi, membawanya jauh dari arena pertarungan. "Aku serahkan dia padamu, Mak!"
"Ha ha ha sebentar lagi dendamku terbayarkan!"tawa Aji Wereng, puas.
"Dasar pengecut kau!!" Mak Lampir bangkit dan menyerang Aji Wereng lagi.
Aji Wereng menahannya sebisa mungkin. Yang satu terus menyerang, yang satu lagi terus bertahan. Aji Wereng sungguh tak bisa melakukannya. Semakin dipaksakan, hatinya semakin sakit.
"Berhenti!" Krap! Dalam satu waktu, Aji Wereng berhasil mencengkram kedua tangan Mak Lampir yang hendak menyerangnya. Menguncinya ke belakang. "Hentikan. Aku tidak bisa melukaimu."ujar Aji Wereng, akhirnya.
"Hahh?" Mak Lampir menatap bingung. Apalagi saat kedua tangannya diturunkan lalu digenggam dengan erat oleh Aji Wereng.
"Aku tak bisa menahannya lagi." Aji Wereng menatap sendu. "Maafkan aku, Ayu Sedasih. Aku bersalah padamu, tetapi hati ini tak bisa dibohongi lagi. Maafkan aku." Aji Wereng seakan bicara dengan dirinya sendiri.
"Apa yang kau bicarakan?! Ngomong sorangan kayak orang stres! Teu ngarti ah."
"Begitupun aku." Aji Wereng tersenyum lirih. "Aku tidak bisa mengerti dengan hatiku yang berpindah pemiliknya secepat ini. Kemarin hatiku miliknya, dan sekarang hatiku milikmu." Cup! Lalu Aji Wereng mencium tangan Mak Lampir yang masih digenggamnya.
"Hiihh!" Seketika juga Mak Lampir bergidik jijik. "Hei Hama Wereng! Kasurupan nya?! Lepaskan tanganku!" Dengan paksa Mak Lampir menarik tangannya.
"Nyai Rengganis,"panggil Aji Wereng, mengalun lembut. "Aku....tresno karo kowe."ucapnya, pelan.
"Hah? Si Tresno? Tukang Tahu dipasar? Digondol Kalongwewe gitu?" Mak Lampir tak mengerti.
"Aku... tresno karo kowe, aku cinta sama kamu."ulang Aji Wereng, terdengar jelas oleh Mak Lampir.
Krik! Krik! Krik!
Sesaat keadaan menjadi sunyi. Lalu seakan mendapat pencerahan, mak Lampir mulai mengerti apa maksud dari perkataan Aji Wereng.
"Akhhh!!! Teu sudi siahh!!"
Mak Lampir pun langsung kabur terbirit-b***t dengan ajian terbang sapu lidinya.
-----