Empat jam sudah berlalu tapi lampu merah itu masih menyala. Badra, Mak Lampir dan Kenken menunggu dengan tenang, meskipun dalam hati mereka ketar ketir cemas memikirkan Dhie. Hanya Joan yang mondar mandir di depan ruang operasi, gelisah. Joan yang sudah memaksa Badra untuk membawa Dhie ke rumah sakit. Menyaksikan sahabatnya pulang bersimbah darah dengan belati yang masih menancap di d**a, membuatnya panik bukan main. Dan entah keajaiban darimana, tiba-tiba Kenken datang menawarkan bantuan gratis, rumah sakit dengan semua fasilitas dan pelayanan VIP. Bahkan dokter bedah yang mengoperasi Dhie pun dilakukan oleh dokter bedah terbaik, yang tak lain adalah ayah Kenken sendiri. Sungguh kejutan yang tak terduga. Bip! Akhirnya lampu merah itu padam. Sontak semuanya bergegas mendekati pintu, men

