16. Mendem

1320 Kata

"Aku bertemu dengannya."lirih Dhie, lemah. Seluruh alat bantu yang menempel ditubuh sudah dilepas, tapi keadaannya masih lemah. Racun itu masih terus bekerja dalam tubuhnya, menggerogoti pelan-pelan. "Siapa?" Badra mengenggam tangan Dhie, erat. "Patih Gajah Mada." Dhie melihat mata Badra yang berkilat senang saat nama majikannya disebut. "Sungguh, auranya luar biasa. Aku baru percaya kalau ada orang yang dilahirkan untuk jadi pemimpin dan penakluk seperti dia. Kini, aku mengerti mengapa kau begitu mengaguminya." "Apa dia menitipkan pesan untukku?" "Tidak. Dia hanya mengatakan kalau kau akan selalu ada didekatku."senyum Dhie, membuat Badra ikut tersenyum pula. "Istirahatlah."ujar Badra. "Aku akan ada disini menjagamu." "Tapi Badra," ucap Dhie, tak tertahan. "Sungguh, aku bukan putr

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN