"Sandra, kamu kenal sama anak Tante Maya?" Suara berat mama mertua membuyarkanku dari lamunan. Dalam seketika, aku menoleh menatap wajah mertuaku yang dari raut wajahnya tampak menyimpan sebuah tanda tanya besar. "I-iya, Ma, Sandra kenal." Aku tergagap menjawab pertanyaan mama suamiku. Dalam seketika, Nyonya Airin Wardhana—alias mama mertua menampilkan raut wajah tak suka ketika aku mengungkap memang mengenal anak Tante Maya. Sementara, entah untuk alasan apa Tante Maya mengulas senyum menyambut jawabanku. "Sandra, kok, bisa kamu gabung sama mama-mama sepuh ini?" Lelaki menyebalkan yang ternyata tak lain adalah anak Tante Maya, berjalan mendekat ke arah di mana para sosialita berusia matang berkumpul. Aku jadi salah tingkah. Ah, dia in, di mana saja selalu tak pernah bisa jaga omongan.

