POV ARYAN Aku mengusap wajah kasar lantas menutup mata saat Mama dengan lantang berucap lebih baik mati jika aku tetap bersikeras memilih Mela. Ya Tuhan, bukankah ini sebuah kegilaan? Mama benar-benar telah sukses menjebakku dalam situasi sulit. Tak adakah pilihan yang lebih manusiawi? Sedangkan hati ini sudah terlanjur nyaman pada satu hati. Haruskah aku mengorbankan cinta untuk Mama? "Sebenarnya, siapa orang tua Mela di masa lalu Papa dan Mama? Kenapa Papa dan Mama sampai sebenci itu pada mereka?" Aku menuntut jawaban dengan kesal karena merasa semua ini tak adil bagiku. Ya, rasanya mereka terlalu diktator dan tak menjunjung tinggi tentang hak asasi manusia untuk dicintai dan saling mencintai? Hanya karena trauma masa lalu dan mereka memintaku mengakhiri kisah cintaku bersama sang p

