Sudah beberapa hari Kaisar menghilang dari Dias. Pagi datang, malam berlalu, tapi tak sekalipun pria itu muncul di hadapannya. Padahal mereka berada di kantor yang sama — satu gedung, satu lantai, bahkan satu perusahaan yang sama. Tapi seolah dunia memisahkan mereka dalam dua dimensi berbeda. Setiap kali ponselnya bergetar, Dias berharap nama Kaisar muncul di layar. Namun yang muncul hanyalah notifikasi promosi atau pesan hutang yang menagih jatuh tempo. Teleponnya tak diangkat, pesannya tak dibalas. Semakin hari, perasaan takut dan khawatir merayap. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Kaisar menatapnya dengan wajah kecewa ketika mengetahui soal hutang-hutang yang selama ini ia sembunyikan. Tatapan itu menusuk seperti pisau—tajam, dingin, tapi menyakitkan karena penuh kebisuan. Sejak h

