104. Alea Harus Kuat

1483 Kata

“Kai, kenapa kamu jadi susah untuk dihubungi belakangan ini?” suara Dias terdengar tajam di seberang telepon. Kaisar melonggarkan simpul dasinya dengan kasar, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi kerjanya. Meeting yang tak hanya menyita waktu tapi juga tenaganya membuat tubuhnya lemas tak bertenaga. “Aku sibuk, Dias.” “Sibuk ngapain? Sibuk ngurusin istri kamu?” nada sinis itu menusuk telinganya. “Sudahlah, Di. Kenapa harus bawa-bawa Alea?” Kaisar memejamkan mata. Suara perempuan itu sudah cukup membuat kepalanya pening, apalagi kalau ditambah menyebut nama Alea. “Kenapa? Kamu juga kenapa harus selalu bela dia, Kai.” Kaisar menggertakkan gigi. Ada rasa ingin membantah, tapi suaranya tercekat. “Di, cukup. Jangan bahas dia lagi. Alea sudah pergi.” Hening. Beberapa detik kemudian, terdenga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN