“Kai, kenapa kamu jadi susah untuk dihubungi belakangan ini?” suara Dias terdengar tajam di seberang telepon. Kaisar melonggarkan simpul dasinya dengan kasar, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi kerjanya. Meeting yang tak hanya menyita waktu tapi juga tenaganya membuat tubuhnya lemas tak bertenaga. “Aku sibuk, Dias.” “Sibuk ngapain? Sibuk ngurusin istri kamu?” nada sinis itu menusuk telinganya. “Sudahlah, Di. Kenapa harus bawa-bawa Alea?” Kaisar memejamkan mata. Suara perempuan itu sudah cukup membuat kepalanya pening, apalagi kalau ditambah menyebut nama Alea. “Kenapa? Kamu juga kenapa harus selalu bela dia, Kai.” Kaisar menggertakkan gigi. Ada rasa ingin membantah, tapi suaranya tercekat. “Di, cukup. Jangan bahas dia lagi. Alea sudah pergi.” Hening. Beberapa detik kemudian, terdenga

