"Lo nggak ngerayu CEO-nya kan?" Tanya Angelo kesekian kalinya, setelah melihat sepeda motor Angela, sepeda motor keluaran terbaru, cc motornya hampir 150.
"Gue cuma dikasi, ya terima aja," jawab Angela tanpa memperdulikan kelakuan Angelo seperti orang yang tidak pernah melihat sepeda motor.
"Untung merek motornya sama kayak motor gue, nanti kalau lo servis barengan ya." Angela mengangguk, masalah ke bengkel sepeda motor Angelo harus selalu di temani dirinya.
"Iya, mama kemana?" Semenjak tiba di rumah Angela tidak melihat sang mama, surya pun mulai hilang di ufuk barat.
"Biasa, ngecek barang baru." Angela melemparkan botol plastik bekas ke arah Angelo. "Aduh! Lo kenapa sih."
"Lo nggak ada niatan bantu mama gitu?" Tanya Angela, ia kasihan dengan mamanya, wanita itu banting tulang untuk menghidupi mereka.
"Siapa bilang gue nggak bantu mama? Lo nggak lihat nih bahu gue pake koyo, belum lagi tadi habis diurut." Protes Angelo, Angela terlalu sibuk, sampai-sampai tidak melihat story WA yang ia buat.
"Mama lagi input faktur pembeliannya aja, ya kali gue bantu. Lo nggak inget gue pernah bantu, baju cuma dua lima lusin, gue masukin dua ratus lima puluh." Angela terkikik pelan, ia mengingat kejadian itu, sampai-sampai mamanya harus menghubungi programer untuk memperbaiki stok.
"Buat mie enak nih, mumpung mama nggak ada," gumam Angela.
"Buatin gue satu, mienya dua, telurnya tiga." Angela memutar bola matanya malas, adiknya tuh nggak tau malu, udah dibuatin malah minta yang aneh-aneh. "Cabenya tiga, ntar isin pak coy ya, gue panenin di kebun belakang." Belum sempat Angela memprotes Angelo sudah melesat pergi ke taman belakang, yang memang berisikan tanaman sayur hidroponik.
"Loh kok mienya jadi satu!" Pekik Kesal Angelo saat melihat mie yang sudah tersaji di mangkuk besar di meja makan.
"Malas gue cuci piring banyak-banyak, lo juga nggak bakalan bantu," sahut Angela sambil memberikan Angelo sendok dan garpu.
"Ya kali, kita makan semakok berdua," gerutu Angelo lalu menghempaskan pantatnya di kursi. "Yaelah, dari dalam perut mama kita juga berdua terus kali." Angela terkikik geli, Angelo mencibirnya pelan.
"Doa dulu." Angela mengingatkan Angelo untuk berdoa, setiap makan apapun itu harus berdoa, berterima kasih pada Tuhan, karena masih bisa makan.
"Nanti pas dies natalis kampus gue, lo dateng ya." Gerakan sendok Angela terhenti. "Lo jadi sie apa sekarang?" Kalau tahun lalu Angelo menjadi sie perlengkapan, namun tahun ini dia naik pangkat kayaknya.
"Jadi sie acara," ucap Angelo bersemangat. "Sukses ya, lo pasti bakalan sibuk terus." Ada nada kesedihan di suara Angela. "Lo jangan sedih, habis acara ini kita jalan-jalan." Angelo mengerti perasaan Angela, kakaknya itu tidak bisa tidur tanpa tepukan di punggunya, kalau ia pulang larut malam terus, Angela pasti susah tidur.
"Apa hubungannya." Angelo terbahak, kadang Angela tidak mau mengakui ia ingin bermanja-manjanya dengan Angelo. "Nanti gue ajak ke Bandung deh, naik motor." Mata Angela melotot menatapnya, "tiga bulan yang lalu lo ngajak ke puncak, lo ninggalin gue di pom bensin."
Ceritanya tuh gini, tipe tangki motor Angelo itu ada di depan, tanpa turun dari motorpun bisa diisi sama petugasnya, nah dengan polosnya Angela malah turun, Angelo tidak menyadarinya, karena ditatap aneh sama orang-orang Angela memilih pergi ke toilet, belum ada sepuluh menit.
Angela memutuskan keluar, dan Angelo sudah tidak ada di area pom bensin, adiknya itu benar-benar tidak sadar kalau dia turun, dengan kesal Angela menelpon Angelo, namun tidak ada jawaban, ya jelas ponsel Angelo berada di dalam tasanya, dan adiknya itu pasti tidak mendengarnya, Angela putus asa, mau menangis pun ia tidak bisa.
Tak ada cara lain, akhirnya Angela memesan grab untuk sampai dirumahnya, tiga kali di cancel drivernya karena kejauhan, akhirnya ada satu yang driver yang mau mengatrakannya sampai di salah satu cabang toko pakaian mamanya, lumayan dekat jaraknya dari pom bensin itu, kalau pulang kerumahnya terlalu jauh, lebih baik menunggu Angelo di toko, dari pada di pombensin.
"Itukan salah lo sendiri, lo terlalu polos, udah tau tangki ada di depan masih juga turun," seru Angelo, ia tidak ingin dijadikan tersangka, salahkan kakaknya yang terlalu polos.
"Itu nggak sopan tau, gue menghargai petugas pom bensinya, dan kalau terjadi apa-apa gue kan cepet menyelamatkan diri, ya gitu ujung-ujung di tinggal." Angela ingat, Angelo memarahinya, sesaat setelah lelaki itu menyadari kalau dia hilang, umpatan tak jelas terdengar saat Angelo menelponnya. Ujung-ujung Angelo yang di marahi sang mama karena membiarkan Angela tertinggal.
"Terserah, kalau gue membela diri pasti bakalan terus disalahin." Angela tertawa, tentu karena wanita selalu benar.
"Santi nanyain lo terus," tak ada respon yang berlebih dari adiknya, malah lelaki itu makan asik memakan mienya.
Angelo tipe laki-laki yang hobby goshting, yang jadi masalahnya Angela yang selalu di jadikan kambing hitamnya.
"Tinggal lo blokir nomernya, Hidup itu harus dibuat mudah," seru Angelo, lelaki itu menaik turun kan alisnya. Ia masih ingin sendiri, saat pertama kali chat dengan stranger sih asik, lama kelaman ia bosan juga, dan ia memilih goshting.
"Dari semi play boy jadi tukang ghosting, lo maunya apasih?" Keluh Angela. Dulu saat SMA Angela selalu menjadi korban kelakuan Angelo, banyak gadis-gadis mencaci memakinya, karena di putuskan Angelo, ada juga yang mendekatinya hanya untuk menjadi pacar Angelo.
Tidak ada enaknya memjadi saudari kembar Angelo.
"Mumpung masih muda, gue mau coba-coba segala hal yang masih dalam batas aman, jangan ceramahin gue, mama udah kasih lampu ijo." Angela mendengus kesal, sialan Angelo. Angelo pernah meminta ijin ke mamanya, itu saat smp kelas dua, saudaranya itu meminta ijin berkelakuan nakal, biar berwarna hidupnya katanya. Mamanya tidak pernah mempermasalahkan kelakuan Angelo itu, asalkan kegiatannya itu tidak mengarah ke hal-hal negatif, satu lagi jangan buat anak orang positif juga, itu beda cerita.
Setelah itu, mamanya menerima tiga kali surat panggilan kesekolah karena kelakuan Angelo, itu saat SMP.
Saat SMA itu beda lagi ceritanya, setiap tri wulan mamanya pasti akan kesekolah,mengahadap guru BK, mamanya tidak marah, namun yang marah itu neneknya, wanita tua itu malu atas kelakuan Angelo. Namun satu hal yang Angelo bisa pertahankan adalah juara umum 1, adiknya itu tidak tergoyahkan, senakalnya dia, sesuka hatinya bolos, senaknya tidur didalam kelas, masih juga dia bisa juara umum 1.
"Kamu boleh nakal, asal juara 1 terus." Angela tentu mengingat hasil nguping pembicaraan Angelo dengan mamanya, syarat nakal dari sang mama adalah juara 1, Angelo tentu bisa mempertahakannya.
Tanpa belajar Angelo bisa juara, tidak seperti Angela yang harus susah payah ikut bimbel sana sini, supaya bisa mengikuti langkah Angelo, namun sayang mereka berbeda, ia hanya sanggup masuk sepuluh besar di kelasnya, setidaknya mamanya tidak membanding-bandingkan dengan Angelo.
Masalahnya datang saat ia mau kuliah, mamanya ngebet Angela harus masuk ke dokteran, saat itulah Angela dibanding-bandingkan dengan anak tetangga mereka yang lolos beasiswa kuliah Kedokteran, ya Tuhan mamanya itu tidak mau kalah dengan para tetangga. Dasar emak-emak.
"Lo tau, kalau anak ibu Tira yang lagi satu masuk FK." Angela tersedak, sungguh, hidungya terasa terbakar, karena kuah mie yang cukup pedas, dengan telaten Angelo mengambilkan Angela air minum dan tisu. Menunggu 15 menit akhirnya Angela tidak tersedak lagi, wajahnya memerah dan matanya berair.
"Lo jahat banget sih." Keluhanya pada Angelo. "Sorry, mana gue tau lo bakalan tersedak."
"Maksud lo si Tena tu? adiknya Tami, yang lo suka banding-bandinggin sama gue?" kedua nama yang Angela sebut adalah anak tetangga yang masuk FK karena beasiswa, anak yang dibanding-badingkan sang mamadan Angelo dulu.
"Iya, gue baru tau kemarin. emang gila kakak adik tu. tapi lo harus tennagtenang, mereka nggak punya saudara tampan dan bengal kayak gue..." Angelo menepuk dadanya bangga, ya Tuhan bisakah Angela menyiram Angelo dengan kuah mie yang mereka makan.
TBC...