Mbak Kun

1106 Kata
Angela tersenyum lebar menatap pakiran kantornya yang masih sepi, hari pertamanya membawa motor ke kantor dan ia mungkin orang pertama yang datang. Setelah mengabsen, Angela segera masuk ke lift. Masih sepi, jelas ini masih jam setengah tujuh pagi, ia terlalu bersemangat. Angela bersenandung kecil, sambil menenteng tas kain yang berisikan makan siangnya.. Mamanya masih setia menyuruhnya membawa bekal makan siang. Jangan tanyakan Angelo, adiknya itu bahkan merengek meminta dibuatkan bekal, katanya biar uang jajannya aman. Sampai di mejanya, Angela segera menghidupkan PC masih ada waktu sejam untuk bekerja, Angela memilih untuk menelpon Angelo, adiknya itu pasti belum bangun. "Angelo!" Pekik Angela senang saat panggilan di terima oleh adiknya, ada yang aneh di sebrang sana terdengar suara bising. Angelo sudah bangun? Kok bisa? "Lo dimana?" Angelo nampak menguap pelan, lelaki itu nampak membalikan kameranya, Angela tertawa. "Lo di pasar?" Tanya Angela sambil menaruh ponselnya di meja. "Sialan, tau gini mending gue anterin lo deh, daripada ikut mama kepasar. Ganteng-ganteng jadi babu." Tawa Angela kembali pecah mendengar gerutan Angelo. "Rasain-- gue seneng lo jadi babu." Angelo mengerucutkan bibirnya, lelaki itu langsung mematikan sambungan teleponnya. "Kesambet apa kamu? Pagi-pagi ketawa sendiri." Tawa Angela terhenti, gadis itu menoleh ke belakang, ia terkejut setengah mati melihat Mangata berdiri di belakang kursinya. "Pak-- Pak Gata. Pagi pak." Angela segera berdiri. Mangata menaikan sebelah alisnya. "Kamu mimpi apa semalam? Kepagian banget." Lelaki itu berkomentar. Angela diam. "Ehh kamu nggak gila kan? Tadi saya denger kamu tertawa terbahak-bahak. Saya kira kamu mbak kun penunggu sini." Mata Angela membola mendengar Mangata menyamakannya dengan Mbak kun. "Saya masih waras pak, tadi saya VC sama saudara saya." Mangata menaikan sebelah alisnya. "Mungkin bapak yang tidak waras, penampilan bapak seperti orang yang baru pulang dari klub malam." Mangata tertegun sejenak, lelaki itu mendadak mengingat kondisinya yang mengenaskan, setiap merindukan wanitanya Mangata pasti akan berteman dengan minuman keras sepanjang malam, dan bekerja tanpa mengenal waktu hanya untuk menghilangkan rasa rindu itu. "Pak?! Pak?! Pak Gata? Pak Gata kesambet mbak kun?!" Teriak Panik Angela, gadis itu ketakutan melihat tatapan mata Mangata yang kosong. Angela menatap segala penjuru ruangan, matanya berbinar setelah melihat botol air mineral di atas meja Sumi. Dengan cepat gadis itu mengambil botol itu dan tanpa aba-aba ia langsung membuka tutup botolnya, lalu menyiram wajah Mangata. "Sialan! Apa yang kau lakukan!" Teriak Mangat kesal, lelaki itu mengusap kasar wajahnya. Ia tau diri belum mandi, tapi kenapa ia harus di siram oleh anak buahnya. "Eehh, kok bapak marah sih. Saya tuh nyelametin bapak dari pengaruhnya mbak kun. Bapak kesambet tadi, bengong, tatapan matanya kosong." Angela menyelemparkan botol plastik itu ke dalam tong sampah, namun meleset sedikit. Mangata berdecak, lelaki itu menatap tajam Angela. "Saya bos kamu," ujar Mangat dingin. "Terus masalahnya apa pak? Saya bersikap sopan kok. Ya bos lagi kesambet, ya saya bantu nyadarin, untung bapak langsung sadar pas saya siram, kalau nggak kan berabe pak." Angela tidak mau kalah, ia tidak ingin di salahkan. "Kan bagus kali pak, bapak sekalian mandi." Mangat menggeram pelan, lelaki itu memijat dahinya. Suara aneh terdengar, membuat tawa Angela pecah. "Pak Gata udah nggak makan berapa hari?" Tanyanya setelah tawanya reda. "Dari kemarin," sahutnya tak acuh, tanpa sengaja Mangata melihat tas kain milik Angela. "Itu apa?" Mangata menunjuk tas kain yang ada di atas meja Angela. "Makan siang saya pak, saya udah sarapan di rumah tadi," jawab Angela. "Makananya boleh buat saya? kelamaan kalau saya suruh kamu buat beli sarapan." Matanya Angela melotot menatap Mangata. "Nggak boleh pak, itu makan spesial buatan mama." Angela mengelengkan kepalanya, nanti siang ia makan apa dong, siang-siang ia malas keluar, panas. "Nanti saya pesenin makanan lewat gofood. Itu buat saya." Angela mengusap tengkuknya pelan, ia bimbang. "Apapun yang kamu mau saya bayar." Angela menganggukan kepala antusias, kapan lagi ia bisa makan enak tanpa harus berbagi dengan Angelo. "Deal pak." Angela menyerahkan tas kainnya, lalu mendorong Angelo supaya masuk ke dalam ruanganya. Mangata menyeringai pelan, ada sesuatu hingga ia tertarik dengan makan siang Angela. "Pak ingetin saya buat ngambil tupperwarenya ya, bisa-bisa saya di usir mama nggak bawa tupperwarenya pulang." Teriak Angela sesaat sebelum pintu ruangan Mangata tertutup rapat. Menaruh tas kain milik Angela di atas mejanya, Mangata memilih untuk membersihkan diri di kamar pribadinya. ➿➿➿ Jantung Mangata berdebar kencang, mendadak ia mual, padahal suhu AC ruangannya berada di suhu terendah, namun keringat dingin bermunculan di dahinya. Baru mau makan masakannya saja ia sudah panas dingin begini, apalagi ia benar-benar ketemu dengan anak magang itu, bisa-bisa Mangata mati. Membuka tutup tupperware itu, lelaki itu menelan salivanya kasar. Sialan reaksi tubuhnya tadi tiba-tiba hilang, digantikan rasa yang membuatnya membuncah senang. "Kerja yang rajin sayang, jangan lupa bersyukur dan selalu berterima kasih pada Tuhan." Dari Mama kamu yang paling cerewet Mangata mengambil note yang di tuliskan mama Angela, lelaki itu mengusap pelan tulisan itu, masih sama. Suara perutnya membuat Mangata tersadar, lelaki itu segera memakan bekal milik Angela, menunya sederhan. Nasi merah, lauknya tempe dan tahu di kecapi dan sayur toge yang di tumis. Aku nggak bisa masak lho, apa bapak yakin mau memperistri saya... "Dulu saat belum bisa masak aja aku sudah jatuh cinta sama kamu, apalagi sekarang Mala, masakan kamu membuatku jatuh untuk kesekian kalinya lagi." Mangata bergumam lirih, sekejap semua makan itu sudah berpindah ke dalam perutnya. "Pak Gata--" suara intercome-nya berbunyi. "Iya." "Saya Angela pak, tadi di dalam kotak makannya ada note nggak? Ntar siang saya mau buat story IG, buat bukti kalau saya makan bekalnya." Mangata menaikan sebelah alisnya. "Ada kok, tapi sudah saya buang." Bohong, Mangata hanya ingin mengerjai Angela. "Aduh! Pak Gata kok gitu sih! Mati saya pak!" Teriak gaduh Angela, suara gadis itu tidak terdengar lagi, namun belum sempat Mangata memperbaiki posisi duduknya, pintu ruanganya tiba-tiba di buka dengan kasar. "Arggh! Aish, pak Gata tadi bohongkan? Note sama Tupperware itu hidup saya lho pak, bapak jangan ngelunjak gitu, udah saya kasi makanan, kenapa note-nya di buang sih." Mangat diam, raut wajah keras dan dingin. "Ya Tuhan, ini masih pagi pak, nggak baik bohongin anak kecil." Angela menghentak-hentakan kakinya kesal. "Siapa yang anak kecil?" Tanya Mangata. Angela menyipitkan matanya. "Sayalah pak, bapakkan udah tua." Mangata ternganga, anak siapa ini. "Pak Note yang tadi mana pak, saya butuh banget, nanti mama saya bisa marah kalau saya nggak share note yang dia buat." Mangata terkikik pelan, lalu mengambil note yang dia simpan tadi. "Mama kamu cerewet ya?" Angela mengangguk singkat. "Bapak baca note-nya ya, ya gitulah pak, nasib punya emak singel." Angela terkekeh pelan. "Singel?" Ulang Mangata. "Orang tua tunggal pak," ucap Angela tak acuh. "Misi pak, kerjaan saya banyak nih." Angela segera undur diri, ia menghela napas panjang, Nggak dirumah di kerjain Angelo, di kantor ia dikerjain pak Bos. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN