"Kamu ngapain Njel?" Angela melirik tajam Sami yang baru datang. "Lagi main masak-masakan sama mbak kun." Jawab Angela asal, udah dilihat lagi pegang pengepelan, Sami malah nanya lagi ngapain. Suara tawa Sami terdengar, "Mbak kunnya numpahin minyak ya? Kamu sampai keringetan gitu, padahal cleaning servis disini udah rajin-rajin ngepelnya." Angela mendengus kesal.
"Itung-itung buang kalori mbak." Angela kembali mengepel, ini akibat bertindak dengan ceroboh, niat hati ingin menyadarkan pak bos yang lagi kesambet, ujung-ujung dia yang repot membersihkan genengan airnya.
"Pak Gata udah dateng?" Tanya Sami sambil merapikan rambutnya. "Udah mbak," jawab Angela tak acuh, gadis itu sudah selesai mengepel. "Kamu mau kebawah?" Angela menggeleng pelan, "Cuma mau naruh ini, di tempatnya." Angela mengoyang-goyangkan tongkat pengepelan,"Oohh, kirain." Angela pergi tanpa bersuara,lalu pergi menaruh alat pel itu pada tempatnya.
"Njel, kamu kerjakan ini ya. Siang ini selesai kan?" Baru saja duduk, Angela sudah mendapatkan tugasnya. "Baik mbak, ada lagi?" Tanya Angela, dalam hatinya ia berdoa tidak mendapatkan lagi pekerjaan. "Itu aja dulu, nanti kalau aku kasih banyak kamu nggak selesai nanti." Angela tersenyum kecil, Sami memang pengertian.
Selesai mengetik beberapa halaman, Angela teringat akan sesuatu,lalu mengeluarkan bingkai foto, Dua hari yang ia sempat mencetak foto ukuran 5R, foto dirinya dengan sang mama saat kelulusannya. Angelo tidak ikut, karena adiknya itu yang memfoto mereka.
Angela menaruh figuran foto itu di dekat komputernya, senyum mama-nya membuatnya bersemangat.
"Who is she?" Gerakan jari Angela yang menyentuh keyboard terhenti, suara itu terdengar begitu dekat. Dengan rasa takut yang sudah keubun-ubun Angela menolehkan kepalanya.
Tanganya kanannya mengelus dadanya pelan. "Aduh! Pak Gata bikin saya takut, saya kira siapa." Angela menjauhkan sedikit kursinya, agak aneh rasanya berdekatan dengan Bosnya.
Mangata tidak menjawab, lelaki itu terfokus menatap bingkai foto Angela. "Who is she?" Mangata mengambil foto itu, lalu menunjuk wajah mama Angela.
"Mama saya." Jawab Angela sambil merebut figuran foto itu. "Boleh saya pinjam." Angela menggeleng kuat. "Nanti bapak pelet saya lagi." Mangata tertawa, lagi-lagi tawa itu mirip dengan si tengal. "Kalau saya mau, saya nggak bakalan pake cara yang curang seperti itu." Kata Mangata tak acuh.
"Ehh, maaf ya pak. saya nggak tertarik jadi sugar baby bapak. Saya lebih tertarik jadi anak angkat bapak." Mangata terperangah. "Apa kamu bilang anak angkat?" Angela mengangguk-anggukan kepalanya.
"Iya pak, bapak kan belom punya anak, saya mau kok jadi anak angkatnya bapak, dari pada jadi sugar baby mending jadi anaknya pak gata langsung."
"Kalau saya, maunya kamu jadi sugar baby saya gimana?" Angela menggeleng kepala kuat.
"Sorry pak, saya masih ingin punya pasangan yang seumuran, maaf banget pak, bukanya bapak-bapak seperti pak Gata." Angela terkekeh pelan lalu kembali berbicara.
"Kalau jadi anak pak Gata tuh, saya bisa dapet warisannya bapak, kalau bapak dah mati tapi." Mangata mendelik.
"Semua akan mati pak, maka dari itu, karena bapak nggak nikah, nanti saat bapak sudah tua renta. Kan nggak ada yang ngurus, kalau bapak angkat saya jadi anak saya akan berbakti sama pak Gata." Angela menampilkan senyum lebaranya.
"Sebenarnya juga saya ingin merasakan gimana rasanya punya papa sih pak, emang kasih sayang mama tu nggak kurang, tapi saat lihat temen-temen sekolah saya yang punya papa rasa iri itu muncul pak-- kok malah saya jadi curhat ya pak," seru Angela sambil tersenyum pongah, Mangata terdiam, ia tidak tahu kenapa di balik senyum itu Angela pasti merasakan menyimpan kesedihan yang mendalam.
"Pak Gata ngapai disini, kita di gaji bukan untuk ngobrol pak." Angela kembali menatap layar PC di hadapannya dan mulai mengetik lagi. Helaan napas terdengar di belakang Angela, gadis itu tidak peduli, ya ia salah juga malah mengharapkan diangkat jadi anak oleh Mangata.
"Saya ada meeting sampai sore di luar, kamu mau pesen makanan apa?" Angela terdiam sejenak. "Apa ajalah pak, sekalian sama mbak Sami ya, nanti saya pesen sendiri, dikira saya punya hubungan sama bapak." Mangata terkekeh pelan, Angela tidak ada niatan untuk mendekatinya, itu lebih baik karena ikatan mereka lebih dari itu.
"Yau dah, nanti saya suruh Pak Fini untuk pesanan kalian makan siang, saya pergi dulu." Angela menolehkan kepalanya, lalu mengangguk singkat. "Hati-hati pak," ucap Angela. Sami sedang tidak ada di tempatnya, setidaknya wanita itu tidak akan menanyainya macam-macam.
....
"Wih pak Gata mungkin lagi kesambet mbak Kun ya? Tumben-tumbenan ngasih makan siang gini," ujar Sami sambil mengambil rendang.
"Dulu nggak pernah mbak?" Tanya Angela hati-hati, ia tidak ingin Sami berprasangka buruk. "Bukan gitu, biasanya sih, kami di transferin saldo Ovo atau Dana sih, buat beli makanan, bukanya di belin langsung gini." Angela menganggukan kepalanya.
"Palingan Pak Fini yang beliin nih, nasi padang emang favoritnya." Sami terkekeh pelan, tidak mungkin bosnya berbaik hati membelikan mereka makanan langsung.
"Siapapun itu, yang penting kita makan gratis mbak," seru Angela, Sami mengangguk-anggukan kepalanya. "Betul. Tumben kamu nggak bawa bekal?" Tanya Sami.
"Udah aku makan tadi, pas Mbak Sami kebawah." Bohong Angela, tidak mungkin ia berkata jujur, bekalnya di makan Mangata.
"Ya udah lanjutin makannya." Kedua makan dalam kehingan. Angela tidak mengijinkan Sami membuat Story, bisa muncul masalah baru, jika Nari melihatnya. Nari itu intel-nya Angela, wanita itu sangat berbaik hati mengawasi Angela atas permintaan ibunya.
Pak Bos Gata
Tawaran kamu
Saya terima
Kening Angela mengerut setelah membaca pesan dari pak Bos. Maksudnya tawaran apa? Habis makan, otaknya juga masih beristirahat sejenak, makanya dia agak lola.
Angela
Maaf pak, tawaran apa ya?
Saya lupa?
Balasan Angela langsung terbaca, membuat Angela mengerutkan dahi, ada tulisan mengetik pesan, namun tidak ada balasan yang terkirim-kirim.
"Mungkin pak gata salah kirim nggak sih?" Gumam Angela pelan. Gadis itu mengangkat bahunya.
Pak Bos Gata
Jadi anak angkat saya
Mata Angela melotot menatap layar PC-nya, ia sedang membuka WA web.
Namun saat ingin membalas pesan itu di hapus oleh Mangata.
Pak Bos Gata
Maksudnya jadi anak tiri saya.
Saya tertarik sama mama kamu.
Angela ternganga, matanya masih menatap lekat layar PC di hadapanya.
Ia tidak salah baca kan? Benar kata Sami, pak Gata kesamben mbak kun deh.
Pak Bos Gata
Kamu combalangin saya sama
mama kamu.
Angela terdiam, ia tidak bisa memutuskan apapun. Ia juga tidak ingin mamanya menghabiskan sesisa hidupnya dengan kesendirian, tapi mamanya juga tidak ingin menjalin hubungan serius dengan laki-laki.
Angela
Gimana ya pak.
Mama saya sedang tidak
berkeinginan menajalin hubungan serius pak.
Maaf pak
Pak Bos Gata
Saya akan berjuang, kamu berada di pihak saya.
Angela menghela napas panjang, lalu mengetik balasan untuk Mangata.
Angela
Terserah pak Gata, tapi semua itu tidak gratis pak.
Saya bukan mau jual mama saya, namun ada harga jasa untuk seorang makcomblak!
TBC...