Video Call

1056 Kata
"Pak Gata." Kepala Angela menyembul dari balik pintu kaca ruangan Mangata. Lelaki itu nampak asik membaca laporan di balik meja kerjanya. "Saya mau ambil tupperwarenya." Angela bersuara, namun tidak ada balasan dari Mangata. Gadis itu medelik mengehal napas berat, nampaknya Mangata mempunyai masalah di pita suaranya. "Hemmm, Pak Gata saya batal jadi makcoblang ya?" Tanpa di duga, Mangata langsung mrlemparkan laporan yang dibaca. "Masuk kamu." Angela tersenyum lebar, dia tau trik jitu membuat pak Bos bertekuk lutut. "Pak Gata nggak pulang? Ini udah jam lima," Tanya Angela sambil melirik jam di tanganya. "Masih ada beberapa berkas yang harus saya pelajari." Angela mengangguk singkat, "Tupperware-nya mana pak? Jangan bilang hilang, bisa-bisa saya beneran mengundurkan diri jadi Makcoblang." Angela kembali mengancam, "Kamu ngancam saya?" Tanya Mangata to the point. Kedua alis Angela menyatu ketengah. "Nggaklah pak, di mata mama saya, tupperware itu lebih berarti dari pada air mata saya pak." Mangata terkekeh pelan. "Ini,Tupperwarenya. Ingat tugas kamu, bagaimanapun caranya saya harus bisa deket sama mama kamu." "Gampang itu Bos, yang susah itu prakteknya." Angela tertawa dengan candanya yang menurut Mangata tidak lucu sama sekali. "Eeh pak, kok bisa bapak tertarik sama mama saya? Masa Cuma sekilas lihat foto-nya bapak langsung suka." Mata Angela menyipit, raut wajah berubah serius. "Jangan-jangan bapak punya niat terselubung? Awalnya tertarik sama mama saya tapi target-nya bapak itu saya?" Mangata terbahak sejenak, raut wajah Angela sangat lucu baginya. "Saya nggak sepicik itu Angela, kalau saya tertarik sama kamu mungkin saya nggak perlu meminta kamu jadi makcomblang saya." Angela terdiam, ia salah sangka. "Hehehe maaf pak." Ringisnya pelan. "Udah sana pulang," usir Mangata, lelaki itu bangun memberikan tupperware Angela. "Besok kalau bawa bekal, lebihin saya juga mau makan masakan calon istri saya." Angela mencoba menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan tanganya. "Nyakin banget pak, mama saya mau jadi istri pak Gata." "Harus mau, saya udah nunggu ber--" ucapan Mangata langsung terhenti, membuat Angela mengerutkan dahi. "Ber apa pak?" Tanya Angela. "Nggak apa, sana pulang atau mau saya kunci kamu disini?" Angela mengelengkan kepalanya, ia tidak ingin di kunci di tempat ini, nanti malah di ajak main sama mbak Kun lagi. Mangata menghela napas lega,setidaknya Angela tidak bertanya macam-macam pada. Ia harus memaafkan dirinya sendiri karena menfaatkan gadis belia itu. ... "Mama cans, Angela pulang." Angela segera masuk ke dapur setelah tidak menemukan mamanya di ruang tamu. Angela tersenyum lebar melihat mamanya yang sedang masak makan malam. "Tupperware kamu mana?" Keriangan Angela tiba-tiba lenyap, hal pertama yang mamanya tanyakan adalah tupperware-nya, bukan gimana kabarnya hari ini. "Ini." Angela menyerahkan tupperware itu kepada mamanya. "Besok bekalnya di tambahin ya ma," pinta Angela. Kemala menaikan sebelah alisnya, "Tumben? Katanya mau diet." Angela terkikik pelan. "Dietnya kapan-kapan ma, Njel kan udah sexy." Kemala tersenyum kecil, "Sana mandi, Angelo sedang ada urusan keluar kita makan berdua aja." Angela menganggukan kepala singkat, lalu meminta ijin ke mamanya untuk ke kamar. Setelah mendengar langkah kaki Angela menjauh Kemala mengadahkan kepalanya sejenak, tidak ada hal aneh terjadi setelah Angela menggantikan posisi Nari, lelaki itu nampaknya memang sudah melupakannya, dan semoga saja itu benar. Ia tidak ingin mengganggu rumah tangga orang dengan kehadiran dirinya dan anak kembarnya, membiarkan lelaki itu hidup dengan keluarganya begitu juga dirinya. "Biar angel yang cuci piringnya ma." Angela segera mengambil piring mamanya. "Kalau gitu mama tinggal ke ruang tamu ya?" Angela mengangguk-anggukan kepalanya. Setelah menaruh piring terakhir di tempatnya, Angela mengambil lap dan mengelap tangannya yang basah. Lampu ponselnya nampak berkedip-kedip, Angela segera mengambil ponselnya. Kedua alisnya menyatu ke tengah setelah tau siapa yang menghubunginya malam-malam seperti, mau tak mau Angela menerima panggilan video itu. "Malam Njel." Satu alis Angela terangkat, Bosnya itu kenapa? "Ngapain pak?" Tanyanya kurang ajar, tidak seharusnya ia bertanya seperti itu, di sebrang sana Mangata terkekeh pelan. "Mama kamu di mana? Saya kangen dia." Ingin rasanya Angela memuntahkan makan malamnya, "Jangan pura-pura muntah begitu." Angela menggeleng pelan. "Kangen dari mana, Belum pernah ketemu mama saya juga." Kedua bahu Mangata terangkat keatas sedikit. "Saya nggak tau kenapa bisa saya kangen sama mama kamu, kangen aja lihat dia senyum lebar kayak di foto." Angela diam, raut muka datar. "Terus bapak mau ngampain Vc saya? Saya nggak mungkin langsung ngasih mama saya ini hp kan?" Mangata tau Angela anak yang cerdas. "Tentu saja tidak, mama kamu dimana?" Angela bersuara kecil, "mama saya lagi nonton TV semoga dia tidak mendengar suara saya." "Bagus, di sebelah TV kamu ada sesuatu yang bisa naruh hp kamu biar tetap berdiri?" Angela menganggukan kepala, kalau tidak salah ada jam digital disebalah TV-nya. "Nanti kamu taruh hp kamu disana, arahin kameranya ke belakang, tentunya fokus kameranya kearah mama kamu." Lipatan di dahi Angela sangat kentara, "kamu ngerti kan?" Semoga Angela mengerti, kalau tidak Mangata akan menarik perkataan tentang Angela yang cerdas. "Saya ngerti banget kok pak, tapi kalau mama saya curiga gimana?" Tanya Angela, ia tidak ingin misinya ini gagal. "Kalau mama kamu curiga saya langsung matiin panggilan ini." Angela menganggukan kepala, setuju. Angela menghela napas gusar, mencoba menormal raut wajah Angela segera pergi ke ruang tamu, mama sedang menonton lanjutan drama korea yang mereka tonton kemarin malam. "Duduk sini Njel." Hampir saja Angela menjatuhkan ponselnya. "Iya ma." Angela menaruh ponselnya di depan Jam Digitalnya, berharap ponselnya bisa berdiri dengan tegak dan tidak jatuh. Setelah posisinya pas, Angela pura-pura melihat bagian belakang jam digitalnya. Posisi kameranya pas berhadapanya dengan sang mama, ia harus meminta imbalan pada Mangata. "Kamu ngapain Njel?" Angela segera memutar tubuhnya, "Ah? Eehh Angela lupa bawa buah ma." Alasan yang logis, mama tidak akan memeriksa ponselnya, semoga tidak. ... Mangata menyeringai, Angela mau saja ia suruh-suruh. Anak itu benar-benar menaruh ponselnya di sana. Mangata mengusap pelan layar ponselnya. "Kenapa kamu terus menghidar?" Gumam Mangata, lelaki menyandarkan tubuhnya di sofa, matanya menatap rindu wanita di layar ponselnya. "Setiap kali kita ketemu, kamu selalu menghindar Mala--" Mangata tersenyum kecut, dadanya terasa sesak melihat tawa Kemala. "Seandainya kamu nggak keras kepala, mungkin aku sedang duduk manis di samping kamu--" Mangata terpesona sejenak, wanita itu sedang tertawa terbahak-bahak, mungkin adegan film yang ditontonya membuat dia tertawa. "Seharusnya, yang buat kamu ketawa seperti itu, aku. Bukan sebuah drama Mala," gumam Mangata. Ia tidak melewatkan melihat Kemala secara virtual, hanya melihat wanita itu dari ponselnya sudah membuat rindu Mangata terbayarkan hanya sedikit, ia harus sabar, tidak ingin rencana kali ini gagal seperti yang terdahulu, apalagi ia sudah mulai mengambil hati anak wanita itu, perlahan tapi pasti. Tbc....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN