Kembaran

1034 Kata
Angela nampak tersenyum membawa bekalnya, calon ayah tirinya itu membuatnya sedikit pusing, kemarin hampir saja ketahuan oleh Kemala, untung saja lelaki tua itu sigap mematikan panggilan itu, jika tidak Angela bisa dituntut dengan berbagai pertanyaan oleh mamanya. Bekal double telah di siapkan Kemala, mamanya tidak curiga saat ia meminta bekal lebih, malah senang. "Kasih temen kamu kalau kebanyakan." Tentu Angela tau untuk siapa bekalnya lagi satu. Seperti kemarin Kantor masih sepi, suasananya agak gimana gitu, gara-gara omongan pak Gata kemarin pagi, sekarang Angela malah berpikir yang tidak-tidak. Angela menghela napas panjang, lalu meminta ijin permisi, meskipun tidak ada orang di sana. Rutinitas setiap paginya, Angela menghidupkan PC. Memerikas beberapa berkas, lalu menyusun rencana kerja hari ini. "Pagi!" Hampir saja Angela terjungkal karena mendengar suara tiba-tiba, jantungnya berdebar dengan cepat. "Pak Gata, mau buat saya jantungan?" Mangata tertawa, lagi-lagi tawa itu sangat mirip seperti tawa mengesalkan Angelo, lain kali Angela harus mempertemukan mereka berdua. "Kamu bawa pesenan saya?" Angela menganggukan kepala, lalu mengeluarkan kotak bekalnya. "Nih pak, untung mama saya nggak curiga." Dengan senang hati Mangata menerima kotak bekal milik Angela, mengingat rasa masakan Kemala benar-benar membuatnya lapar. "Terima kasih, oh ya-- Angelo itu siapa? Pacar kamu?" Angela tertawa pelan, ya Tuhan pak Gata kok mikirnya kejahuan sih. "Kamu kenapa ketawa? Nggak ada yang lucu lho dari pertanyaan saya." Angela menggelengkan kepala pelan. "Bapak mau tau banget atau mau tau aja?" Mangata berdecih, "cepetan jawab." "Dia pacar mama saya." Mata Mangata terbuka lebar, tubuh lelaki itu menegang. "Canda kali pak, Angelo itu adik saya." Reaksi Mangata tidak berubah, rahangnya mengeras, "Pak jangan gitu kali mukanya, saya takut. Angelo adik kembar saya," ucap Angela santai. "Jadi kalau bapak nikah sama mama saya, bapak langsung punya dua anak." Angela terkikik, tanpa memperhatikan Mangata yang terdiam seribu bahasa. "Pak Gata--" Angela bergumam lirih, Mangata pergi tanpa sepatah katapun. Mungkin pak Bos memikirkan ulang untuk menikahi mamanya. Angela agak kecewa, gagal sudah niatnya punya papa. ==== Angelo, Angela, pantas nama meraka sama, semalaman Mangata memikirkan siapa laki-laki yang bernama Angelo, ia pikir itu pacar Angela, namun ia salah Angela mempunyai kembaran, yang bernama Angelo, ia sama sekali tidak pernah membayangkan Kemala hamil anak kembar, selama ini ia kira hanya mempunyai satu anak, namun ia ayah dua orang anak. Bangsat,seharusnya Mangata lebih berani mendekati Kemala, bukanya diam seperti pengecut, delapan belas tahun lebih, ia kelihangan kebersamaan dengan kedua anaknya, ini salahnya, tapi ini juga kesalahan Naratama. Setiap mengingat Naratama selalu membuat tekanan darah Mangata naik, kakak kembarnya yang kurang ajar. Sampai saat ini Mangata tidak pernah bicara lebih dari sepuluh kalimat diluar urusan pekerjaan, ia sama sekali tidak memperdulikan Naratama serta istri kakaknya itu. Maminya berulang kali meminta Mangata untuk memaafkan Naratama, tapi Mangata tidak bisa. Mamanya hanya tau jika Kemala hanya pacar Mangata tanpa tau wanita itu hamil. Naratama juga pasti tidak mengetahui hal itu, Mangata terlalu malas berbicara dengan kembarannya. Dia hanya ingin bersama kembali dengan Kemala, dengan usahanya sendiri, tapi delapan belas tahun lebih ia tidak bisa menggapai wanita itu. Naratama Manga, malam minggu ini lo sibuk nggak? Kalau lo nggak sibuk setidaknya lo bisa dateng ke kampus. Mangata terkekeh pelan melihat pesan Naratama tiga hari yang lalu, namun baru ia sempat baca, bukan sempat namun sengaja lebih tepatnya, Mangata tidak membalas pesan itu. Ia memiliki agenda lain-lain, daripada menghadiri acara ulang tahun kampus milik keluargnya. Mangata tidak tertarik berada disana, satu tempat dengan Naratama. .. "Elo besok libur kan?" Angela menatap aneh adiknya itu, bukannya bertanya kabar karena sepanjang minggu ini Angelo sibuk luar biasa, mereka jarang bertemu. "Liburlah, sabtu, Minggu waktunya gue biasa hibernasi." Angelo menganggukan kepala, "Malam minggu besok lo ikut ke kampus ya, besok puncak dies natalis kampus gue." "Terus gue nggak bisa hibernasi dong," gerutu Angela, ia tidak ingin jadwal tidurnya diganggu orang. "Hari minggu kan lo bisa tidur Njel, setahun sekali lho, bintang tamunya kali ini NCT dan udah di konfirmasi ke dua puluh satu membernya dateng semua." Mata Angela menyipit, ia curiga Angelo menipunya, sekaya apa kampus Angelo bisa-bisa mengundang anggota NCT. "Gue nggak percaya, terus dari mana kalian dapetin uang buat ngudang NCT." Angelo tertawa pelan, lelaki itu mendudukan dirinya di bangku samping Angela, mereka sedang berada di rooftop. "Lo pura-pura nggak tahu apa emang nggak tahu," seru Angelo mengoda Angela, "Lo apaan sih, gue beneran nggak tau apapun tentang kampus lo," jawab Angela sambil memutar matanya malas, ia benar-benar tidak tahu. "Yaelah, yang punya kampus gue itu, bapak dari bos lo." Mata Angela melotot menatap Angelo, mulutnya terbuka lebar. "Sumpah. Gue kaget Njelo." Angelo terkekeh pelan, melihat wajah bodoh Angela. "Nggak apa-apa, makanya gue ngewanti-wanti lo jangan mau jadi sugarbaby-nya pak Mangata, setidaknya jangan buat malu gue." "Gue nggak bakalan jadi sugarbaby kok, lo tentang aja. Eeh lo tau pak Mangata?" Jika Angelo pernah melihat pak Gata, kemungkinan kemirip mereka cuma hayalan Angela. "Tau namanya aja, dia nggak pernah terlihat di kampus, cuma pak Naratama aja yang sering gue lihat, istrinya kan wakil dekan juga." jelas Angelo. "Pak Naratama itu siapa?" Kedua alis Angelo menyatu ketengah, "Lo nggak tau?" Angela menggeleng pelan. "Dia itu kakak kembarnya pak Mangata." Angelo terdiam. "Kata temen-temen di kampus gue rada mirip gitu sama pak Naratama," lanjut Angelo sambil mengusap kepalanya. "Gue jadi mikir aneh-aneh gimana kalau pak Naratama itu ternyata papa?" Suara Angelo terdengar serak, Angela menolehkan kepalanya, Angelo sedang menatap langit, namun lebih tepatnya menyembunyikan air matanya. Angela mengusap pelan punggung tangan adiknya, "Tanpa sengaja gue pernah lihat pak Naratama dengan anaknya, anaknya kating gue. d**a gue sakit njel ngeliat interaksi mereka." Suara Angelo bergetar hebat, tubuhnya gemetaran, ia tidak bisa membendung lagi tangisannya, ia tidak sekuat itu, di samping Angela ia rapuh. Ia hanya ingin menangis sambil memeluk Angela kuat, menghilangkan rasa sesak didadanya. Mendengar tangisan Angelo, membuat Angela menangis, ia langsung memeluk Angelo dengan erat, mereka berbagi kesedihan yang sama. Setidaknya mama tidak tau mereka menangis. "Gue berharap pak Naratama memang bukan papa, gue nggak sanggup punya suadara selain elo, gue nggak mau." Angela menepuk-nepuk bahu Angelo pelan, ia tidak bisa bersuara, mereka punya mama yang hebat, namun kadang iri juga melihat orang lain punya papa. Angela harus bekerja lebih keras, Pak Gata harus jadi papanya, setidaknya ia memilik papa walaupun darah lelaki itu tidak mengalir dalam tubuhnya. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN