20

1021 Kata
Angela mengetik lalu menghapusnya, ragu-ragu aku mencari sesuatu di mesin pecari Google, kembali tanganku tanpa sadar mengehapus beberapa kata yang baru aku ketik, namun aku urungkan untuk menekan tombol enter, pikiran ku kembali sibuk, memikirkan keyword apa yang cocok, untuk menuntukan pertemuan yang tidak sengaja antara mama dan pak Bos, masalahnya mama adalah orang yang peka, lagi-lagi aku menghela napas berat, "Kamu kenapa Njel? sakit? pusing? Emang sih kerjaan kita hari ini lebih banyak dari pada kemarin-kemarin," suara mbak Sami membuatku kalang kabut, buru-buru aku menutup jendela pencarianku, "Lagi cari tips gimana caranya ngejinakin kembaran mbak,” ucapku spontan, tentu saja itu hanya akal-akalanku saja, Mbak Sami tertawa, “Lucu kamu, emang seliar apa Angelo, kan nggak gigit orang juga,” ujar Mbak Sami. “Nggak gigit orang, tapi gigit rekeningnya aku sampai bocor, uangnya habis tidak bersisa,” sahutku semakin asal, mendengar Asbunku, Mbak Sami semakin tertawa, bisa-bisa dia tertawa terpingkal-pingkal, “Masih pagi, kamu udah ngelawak aja, aduh kerjaan kita banyak banget nih, pak Bos baru sembuh, kerjaan menggunung.” Setelah Mbak Sami kembali ke mejanya, aku memutuskan untuk bekerja, urusan Mama dan Pak Gata biarkan dulu. “Njel, ingat tandai kalender kamu, bulan 4 minggu lagi kita ikut sama pak Gata kunjungan ke Bali, berhubung long weekend habis itu, kayaknya aku bakalan sekalian libur deh, kamu gimana?” Gerakan tanganku terhenti memilah arsip, “Aku juga ikut Mbak? Bukan Pak Fini juga ikut ya?” Tidak mungkin sekretaris pengganti seperti ku ikut, “Pak Fini sama Pak Mangata pergi untuk urusan kantor, kita pergi untuk urusan bisnis pribadi pak Mangata, kunjungan tri wulan, biasa aku sama Nari, kali pergi sama kamu, nggak sabar merasakan Bali vibes, padahal masih lama, tapi aroma pantai udara berasa.” Mbak Sami ada-ada saja, namun aku tidak pernah pergi ke Bali. Mama lebih sering mengajakku liburan ke Bandung atau Yogyakarta, beberapa kali pernah liburan ke Singapura, “eeh ajak Angelo juga, nanti biar datang belakangan, toh long weekend.” Mbak Sami memberikanku Ide, Mengajak Angelo, aku kembali mengambil kalender di mejaku, Well minggu itu adalah hari Mama untuk menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri, ya Ide Mbak Sami patut didiskusikan dengan adik kembarku itu. Perkerjaan hari itu begitu padat, banyak berkas dan petinggi perusahaan datang, meminta tanda tangan, rapat internal sedari jam 2 siang nampaknya belum akan selesai, aku kembali membuka mesin pecarian, mencari ide untuk kencan pertama Mama dengan Pak Gata, pekerjaan ku yang sudah selesai membuatku santai di jam sore ini, baru saja aku mendapat beberapa Ide, bunyi lift terbuka terdengar, sialan orang bagian Marketing datang, aku melirik jam di komputer, tuh kan kok bisa ia datang mepet waktu, 10 menit lagi jam pulang kantor, bisa-bisa merusak waktuku. … “Itu mulut kenapa gitu, kayak bebek.” Aku menepis tangan Angelo, karyawan bagian Marketing itu menahan waktu ku 10 menit lebih lama, untungnya adikku tidak bete menungguku lebih lama, “Biasa, jam mepet baru bawa kerjaan, untung ada Pak Fini,gue hibahkan ke Pak Fini dan karyawan itu di marahi sama pak Fini, kok bisa ya ngasih berkas mepet waktu,” cerocosku sambil memakai helm yang Angelo berikan “ Udah-udah, ayo pulang, kata mama dia buat mie ayam home made, duh kangen juga sama mie ayam mama.” Mendengar mama membuat mie ayam membuat semangatku membara, meskipun tidak bisa jajan sembarang, mama selalu menyempatkan waktunya untuk membuatkan kami makanan, mama benar-benar membatasi makanan siap saji, namun mama juga membuatkan kami makanan sebisa mungkin home made. “Nanti gimana caranya kirimin pak Gata mie ayamnya ya? Kasihan gitu dia tinggal di apartemen sendirian.” Tiba-tiba sekali Angelo berujar, pantesan ini anak tiba-tiba memasang intercom helm, ada udang dibalik batu, benar juga di rumah kami bakalan tidak bisa berdiskusi mengenai perjodohan ini, “Nanti kita gojekin, toh kayaknya mama bakalan ngasih mie ayam buat satpam depan, kan biasa lo yang bawa kedepan,” jawabku “Kok lo pekiran sih, gue dari tadi buntu tau,” ucapnya senang, “Lo aja bego,” sambarku sambil tertawa, “lo juga bego tau.” Balasnya tidak mau kalah, “Jlo, 4 minggu lagi long weekend nih, gue ada kerjaan keluar kota, selasa udah pergi, lo mau nyusulin nggak?” Tanyaku, “Ke Bali ya?” Aku mengangukan kepala, Angelo dapat melihatku dari kaca spion, “Kok lo tau sih! Dapet Info dari mana?” Cercarku, jangan bilang dari Pak Gata lagi, idih pria tua itu mulai melancarkan aksi ke Angelo, “ Pak Gata lah, dia ngajakin gue, maunya dari hari selasa, katanya biar bisa ikut lihat usahanya dia yang lain, belajar dari bawah katanya.” Tunggu belajar dari bawah? “Dia beneran serius sama mama, makanya gue di minta ikut ngecek usahanya, lo juga kan? Sama Sekretarisnya pak Gata, Mbak Sami bakalan ngajarin kita sekalian di sana.” Otakku terlalu lelah untuk mencerna ini semua, jadi ini bukan kunjungan biasa, namun belajar, kok rasanya di siapin jadi pewaris deh, aduh Angela kok lo kepedean sih. Aku meruntuki diri sendiri, “Terus sabtu pagi diajak sunmori ke Bedugul, nginep di resort di sana, Minggu siang baru balik ke Denpasar, oh ya motor gue bakalan di kirim langsung dari Jakarta ke Bali, wih nggak sabar gue,” Angelo bersuara senang, impiannya road trip Pulau Jawa dan Bali, namun masih terlahang ijin mama, namun dengan mengendari motor kesayangannya di Bali nampaknya sudah cukup baginya. “Ternyata gini rasanya punya papa ya, Mama ngelarang, tapi papa ngedukung kita,” ucap Angelo sambil terkekeh, lalu lintas sore hari mulai padat merayap, deretan gedung pencakar langit mulai terlihat bersinar, lampu-lampu mulai hidup dari dalam sana, mungkin beberapa karyawan ada yang sedang lembur. Om Kemal, belum ada menghubungiku lagi, sepertinya dia berada di tengah laut, nanti bakalan aku ceritakan dengan pak Mangata pada dia, Om Kemal adalah saudara laki-laki mama, bekerja di oil dan gas di Qatar, jarang memberi kabar, namun sekalinya memberi kabar, 3 jam terasa singkat, “Semoga perjodohan ini berhasil ya Njel, dari dulu kita selalu menentang mama cari pendamping, sekarang waktunya kita carikan mama pendamping, untuk menemani sepanjang usianya,” perkataan Angelo, aku aminkan, semoga Tuhan merestui rencana Kami, biar bertambah personil untuk diajak makab masakan mama yang the best itu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN