“Kamu ngapain ke sini, Adinda! Hah?” “Maaf, Mi. Kali ini Adinda nggak akan takut sama Mami, ini urusan rumah tangga kita berdua,” ucap Adinda berusaha tegar. “Berani-beraninya kamu!” Mami Deli mengepalkan tangannya di bawah sampai akhirnya dia sendiri yang pergi. Reyhan mendekat tetapi Adinda menjauh, terus saja begitu sampai Adinda terpentok tembok yang menandakan sudah tak ada jalan lagi, buntu. “Saya bisa ....” “Apa Mas? Bisa apa?!” “Bisa jelaskan apa maksud dari semua ini, kamu dengarkan baik-baik.” “Nggak perlu, Mas. Aku udah cukup tahu selama ini, mengikuti kamu ke manapun itu, sampai aku berkali-kali mendengarkan desahan kalian berdua! Kamu dan dia! Wanita penghancur rumah tangga kita.” “Desahan apa? Wanita siapa?” Reyhan tetap mengelak. “Udahlah, Mas. Jangan kamu pikir wan

