“Jadi ... Bapak belum cinta sama aku?” Reyhan tak menjawab, dia lebih memfokuskan diri pada atap rumah yang menurutnya lebih baik dibandingkan harus menatap langsung wanita yang ada di sampingnya. “Pak, jawab aku! Kenapa Bapak belum jatuh cinta sama aku?” “Terus selama ini kita berhubungan apa namanya?” “Pak ... jawab dong Pak.” Walaupun Karina berusaha merengek, berontak, dan bahkan sampai menangis pun Reyhan tetap diam tak menjawab. Sampai satu jam mereka saling diam. “Terima kasih untuk semalam dan sarapan ini, ya, saya harus ke kantor. Masih banyak yang harus saya kerjakan. Kamu? Istirahat saja di rumah.” “Kenapa? Kenapa aku harus istirahat di rumah? Toh aku juga mau kerja.” “Kamu harus istirahat, semalam, kan, sudah lelah. Ya sudah, saya duluan, ya, hati-hati.” Hanya itu yang

