Prepare semua pakaian sudah selesai, tak lupa membawa sebagian barang-barang kesayangan, seperti boneka dan alat-alat make up. Karina menghela napas berat di saat dirinya sendiri berpikir kembali dengan apa yang sudah dia putuskan saat ini, resign dari perusahaan.
Mau bilang apa aku sama semuanya? Semuanya sudah terlanjur membanggakan aku, manusia macam apa aku?!
Baru saja Karina menyeret koper besar itu, sosok laki-laki yang sangat dia benci datang dan berusaha untuk mencegahnya, Reyhan datang langsung masuk ke kamar begitu saja.
Kedua mata mereka saling tatap, dengan tatapan tajam. Karina sendiri sudah muak dengan Reyhan, bermuka dua dan banyak sekali bersandiwara.
“Mau apa? Mau apa lagi kamu ke sini?”
Itu yang pertama kali Karina tanyakan, baginya kejadian tadi di rumah mewah itu sudah sangat jelas, siapa dirinya dan siapa Reyhan yang sebenarnya.
“Saya bisa jelaskan, saya ....”
“Mulut Bapak kenapa, sih, pintar sekali berdusta, bersandiwara, dan bahkan ... Bapak bisa bermulut manis tapi palsu,” ucap Karina.
“Terserah, apapun itu saya akan terima sekalipun kamu menghina saya, kamu harusnya mengerti dong, tadi di rumah ....”
“Di rumah apa? Ada maminya Pak Reyhan? Atau ada istri sah nya?”
“Mengenai Adinda saya tidak peduli ada atau seperti apa dirinya, tapi kamu harus tahu, Karina. Saya lemah di hadapan Mami,” kata Reyhan.
“Udah, Pak. Aku capek berurusan lagi sama Bapak ataupun siapa itu yang bersangkutan dengan keluarga Bapak, mulai sekarang aku resign, dan jangan ganggu hidup aku lagi,” tegas Karina penuh penekanan.
Namun, sayangnya Reyhan tak putus asa begitu saja, dia sangat pintar sekaligus licik. Sebelum Karina menarik knop pintu kamar, kedua matanya membelalak terkejut melihat dan menonton video hot dirinya dengan Reyhan malam itu di sofa.
“Gila, ngapain Bapak rekam? Mau disebarkan ke mana? YouTube? Atau apa?”
“Kamu pikir saya apa? Tidak ada untungnya juga kalau disebarkan di media sosial, lebih menguntungkan jika saya memperlihatkan video ini kepada semua keluarga kamu di desa, apalagi ... kedua orang tua kamu, Karina!”
Tidak bisa dipungkiri, Karina terkejut dengan apa yang sudah Reyhan lakukan saat ini, bagaimana perasaan keluarga terutama kedua orang tuanya jika mereka menonton video itu, walaupun sebenarnya hubungan mereka suami istri, tetap akan runyam masalahnya.
“Gimana, Karina? Masih mau pergi setelah tahu ini? Hmm? Sadar dong, bukan hanya rumah saya saja yang pakai CCTV, saya juga pintar, rumah kecil ini pun sama, bedanya di rumah ini saya sendiri yang pasang, asal kamu tahu juga, di luar waktu itu bukan kucing atau hewan lainnya,” ucap Reyhan menyeringai lebar.
“Apa? Siapa hah?!” Karina sudah emosi.
“Tidak penting! Karena yang lebih penting, jangan pergi! Jangan resign, memangnya kamu pikir cari sekretaris baru itu mudah apa! Tidak, tolong pikirkan perusahaan saja jika kamu tidak mau memikirkan perasaan saya.”
Karina mendudukkan bokongnya di ranjang, menatap Reyhan dengan tatapan tak menyangka bisa selicik dan sejahat itu, bahkan terpikirkan ada CCTV saja tidak oleh Karina, bisa-bisanya Reyhan lancang.
“Gimana Karina? Saya tidak ada waktu banyak untuk kamu hari ini, karena setelah ini saya sekeluarga harus akting di depan semua kolegan keluarga,” ucap Reyhan.
“Oke, oke kalau itu semua bisa menutup mulut kamu, Pak. Jangan sampai keluarga di desa ada yang tahu,” sahut Karina terpaksa.
“Ha ha, benar, kan, ternyata kamu tidak beda jauh dengan Adinda, sama-sama bodoh, lemah dan tidak berdaya! Kalian sama-sama tetap membutuhkan saya!”
Bosan, malas, dan bahkan capek dengan semua ini, Karina diam tak menjawab apapun lagi, kembali merapikan barang-barang ke tempat semula.
Reyhan langsung pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun, bagi Karina semua ini sudah kelewatan, mana ada, sih, pelakor yang tersakiti? Pikir Karina.
Tring.
Bunyi ponsel membuyarkan lamunan Karina, menyeka air matanya terlebih dahulu kemudian membaca pesan yang baru saja masuk.
Assalamualaikum, Neng. Gimana kabarnya di Jakarta? Ibu rindu sekali, Neng. Bapak dan yang lain pun sama rindunya
Pesan itu ternyata dari desa, ibu kandung yang selama ini sudah berjasa bagi Karina, demi kesembuhan bapaknya, Karina merelakan kesucian bahkan harga dirinya di Jakarta.
Waalaikumussalam, kabar aku baik Bu, kabar Ibu dan Bapak gimana? Semuanya sehat, kan? Sabar, Karina masih berjuang untuk membahagiakan semuanya, Bu.
Hanya itu yang Karina balas, tak terasa air mata terus membanjiri pipinya, menghela napas panjang secara perlahan, menghembuskan perlahan.
***
Jika hatimu bukanlah milikku, untuk apa kita bertahan seperti ini? Saling menyakiti dan menyiksa batin masing-masing.
“Mas, lama banget beli buah nya?” tanya Adinda.
“Heh, jangan mentang-mentang ada Mami kamu jadi seenaknya sama saya,” bisik Reyhan.
“Ehem, kalian ngapain di situ hah? Sini, ngapain bisik-bisik di situ, mana buah yang Mami minta,” ucap Mami Deli membuyarkan keduanya.
Reyhan dengan terpaksa merangkul pinggang Adinda dengan mesra, ternyata beberapa kolegan sekaligus keluarga dari pihak Reyhan sudah kumpul di ruang tamu.
“Jangan bikin semuanya ragu dengan rumah tangga kita, awas kalau kamu berani buka mulut yang tidak-tidak,” bisik Reyhan.
“Hmm, iya, Mas.”
Reyhan dan semuanya sibuk membicarakan tentang perusahaan dan juga beberapa bisnis, sedangkan Mami izin ke belakang bersama Adinda.
Tepatnya di dapur, keduanya saling tatap, Adinda sendiri bingung sebenarnya apa yang akan mertuanya ucapkan.
“A-ada apa Mi?”
“Kamu kapan, sih, hamilnya hah? Kamu dengar sendiri tadi? Semuanya tanya kenapa kamu belum isi juga, gimana, sih, masa iya sampai dua tahun belum juga hamil,” ucap Mami Deli ketus.
“Mi ... sebelumnya, kan, kita semua udah bahas, anak itu rezeki dari Allah SWT, kalau tahun ini belum juga, mungkin belum dikasih kepercayaan,” sahut Adinda.
“Gitu aja terus jawaban kamu! Bosan saya mendengar ceramah dari kamu, malam ini pakai nih baju!” Mami Deli melempar tote bag yang ukurannya lumayan besar.
“Apa ini, Mi?“ tanya Adinda.
“Buka dan pakai malam ini! Walaupun saya tidak suka kamu, tetap saja saya sangat menginginkan cucu! Pakai dan laksanakan, camkan itu!” Mami Deli memaki sebelum melenggang meninggalkan Adinda seorang diri.
Adinda membuka dan melihat betapa sexy, pakaian yang mertuanya berikan. Lingerie? Walaupun sudah dua tahun menikah, belum pernah Adinda memakai pakaian itu.
“Apa aku harus melakukannya? Pakai ini?” Adinda mengusap wajahnya sendiri dengan lesu.