“Saya sudah bilang, kita tunggu sampai kalian berdua melahirkan, hargailah keputusan saya.” “Tumben kamu tegas, biasanya plin-plan, Mas.” “Itu dulu, beda dengan sekarang.” “Okelah, awas aja, ya, Mas kalau kamu ingkari janji itu, gimana kalau memang benar-benar ini anak kamu coba,” cicit Adinda. Reyhan hanya diam memikirkan segala ucapan Adinda tadi, apa yang disangkakan bisa jadi benar-benar terjadi dan terbukti. “Lanjut dong, Mas, bukannya kita harus mengejar mobilnya si Aul, nanti semakin ketinggalan jauh.” “Jangan beli oleh-oleh segala! Mengerti?” tanya Reyhan. “Oke, lanjut aja, kejar tuh istri kesayangan kamu itu.” Tak memedulikan ucapan Adinda kali ini, Reyhan mengemudikan mobilnya kembali dengan kebut-kebutan. “Takut kehilangan Karina tapi jangan sampai membunuh diri kita se

