Hanya Perlu Om Om

1083 Kata
Cahyo kaget dengan kedatangan Jessi di hadapannya. Bagaimana bisa mahasiswinya yang centil itu bisa sampai di rumahnya dan tiba-tiba saja udah ada di depan pintu kamarnya, dan yang lebih mengherankan Jessi pake baju super seksi, yang bikin Cahyo mangap. "Ka-kamu? Kok bisa di sini?" "Ya bisa dong pak, apa sih yang Jessi nggak bisa?" Jessi ngibasin rambut panjangnya dengan gaya seksi "Boleh masuk kan pak?" Jessi ngejawab pake suara lembut dan mendesah membuat Cahyo mendadak merinding. Cahyo hanya bisa diam, masih bingung dengan keberadaan Jessi yang tiba-tiba ada di hadapannya dan kini sudah duduk di tepi ranjangnya, menyibakkan rambut panjangnya dan memperlihatkan lehernya yang mulus. Cahyo menelan ludah. Ini nggak bener. Mereka berdua nggak seharusnya ada di ruangan tertutup kayak gini, karena bisa terjadi hal yang iya-iya, dan juga bisa mengundang fitnah. Cahyo berdehem, sekalian menenangkan jantungnya yang jedak jeduk. "Jes, sebaiknya kita keluar aja." "Emang kenapa pak?" "Takut ada fitnah." "Ah fitnah apa sih Pak?" Jessi tersenyum manis yang bikin diabetes, dan gadis muda itu beranjak dari ranjang, deketin Cahyo yang detak jantungnya udah kayak lari sprint. "Emang Bapak tuh takut difitnah gimana?" Jessi ngelingkarin kedua lengannya di leher Cahyo dan bikin Cahyo cukup shock. "Eu...Jes...le-lebih baik, kita bicara di luar." Cahyo menurunkan lengan Jessi, tapi gadis itu bersikeras menempelkan lengannya di leher Cahyo, bahkan menempelkan tubuhnya lebih dekat lagi ke tubuh Cahyo. "Jessi...kamu nggak boleh kayak gini." Jessi mengerling nakal, "Kalau gini boleh?" Jessi mengecup bibir Cahyo tiba-tiba dan Cahyo masih belum sadar dengan apa yang terjadi saat Jessi semakin meneruskan kecupannya menjadi ciuman yang lebih intens. Cahyo kayak kehilangan kesadaran dan larut dalam rayuan Jessi. Begitu saja Cahyo udah terlibat dalam kecupan panjang bersama Jessi. Peluh membasahi mereka berdua dalam deru nafas. Kulit putih mulus Jessi terlihat bersinar indah diterpa lampu kamar Cahyo dan mereka tenggelam dalam kecupan. Hasrat Cahyo semakin naik hendak mencapai puncak, saat tubuh tanpa busana Jessi tergolek pasrah di bawahnya, namun tiba-tiba sebuah suara menyebalkan, berasal dari ponsel, suara alarm berbunyi nyaring. Jessica Kirana menghilang, seiring dengan kelopak mata Cahyo yang membuka perlahan, disilaukan cahaya lampu, merebut kesadaran Cahyo kembali. Tubuh Cahyo dibanjiri keringat, Cahyo meraih ponsel, mematikan alarm dan menyadari bahwa celananya basah. Jessi hadir di mimpinya, membuat Cahyo terombang ambing dalam nafsu dan Cahyo merasa malu sendiri. Bagaimana bisa dia, sebagai dosen mimpi jorok, beradegan m***m dengan mahasiswinya? Cahyo benar-benar ngerasa dosen tidak bermoral. Mungkin gara-gara kejadian kemarin, Jessi terus-terusan ngejar-ngejar Cahyo, dan sempat jatuh. Kaki Jessi luka dan Cahyo nggak tega untuk ninggalin Jessi gitu aja. Cahyo nemenin Jessi ke kos dan sempet ngasih pertolongan pertama ke Jessi, dengan cara ngurut kaki Jessi yang sakit. Meski Cahyo udah berusaha sedikit mungkin mandang kaki mulus Jessi, tapi mungkin hal itu memicu alam bawah sadar Cahyo untuk mimpiin Jessi. Mimpi yang bikin jantung Cahyo jedak jeduk dan membuat aset pribadinya bereaksi heboh. "Nggak bisa kayak gini," gumam Cahyo. Ketemu sama Jessi bisa ngebuat hal yang nggak sehat, dan Cahyo mutusin buat jaga jarak sejauh mungkin sama Jessi. Cahyo nggak mau main-main, karna Cahyo udah punya tunangan, Gita, dan meski Cahyo dijodohin sama Gita, tapi Cahyo berusaha buat setia. * "Selamat pagi Pak." Jessi nyapa Cahyo dengan senyumnya yang semanis kembang gula saat Cahyo hendak masuk ke ruang kuliah. Cahyo hanya mengangguk apatis. Mimpinya dengan Jessi ngebuat Cahyo berusaha untuk ngehindarin Jessi, dan usaha itu tidak mudah, mengingat, Jessi mengambil semua mata kuliah yang diajarnya. Jessi natap Cahyo dengan mimik kecewa. Padahal kemarin Cahyo cukup care sama Jessi. Mungkin karena Gita, Cahyo jadi kayak gitu. Jessi menduga semalam Gita ketemu Cahyo dan entahlah, ada sesuatu yang terjadi di antara mereka hingga Cahyo semakin lengket pada Gita. Jessi mendengus kesal. Pokoknya dia harus bisa dapetin Cahyo gimanapun caranya! Dengan langkah gemulai, Jessi masuk ke kelas dan seperti biasa duduk di kursi paling depan. Jessi berusaha menjadi mahasiswa yang aktif, nanya ini itu tapi Cahyo nggak terlalu nanggepin, kentara banget Cahyo seperti terlihat menghindar, sampai kelas usai, Cahyo juga langsung kabur, bahkan Cahyo nggak ke ruang dosen tempat ia biasa menghabiskan waktu jeda mengajar. "Lo tau nggak kenapa pak Cahyo ngehindarin gue?" tanya Jessi pada Shely usai kelas Bisnis Internasional yang diajar Cahyo usai. Sehabis kuliah, Jessi berusaha ngejar Cahyo tapi pria jangkung itu benar-benar menghilang dan hal itu ngebuat Jessi penasaran. "Kenapa ya?" Shely nyomot tahu bakso milik Jessi. "Yeu, malah tanya balik, ngembat jajan gue lagi!" Jessi protes. "Hehehe. Kan laper Jes, kalau laper gue nggak bisa mikir, ntar kalau gue ga bisa mikir gue jadi ga bisa kasih tau lo alesan kenapa pak Cahyo nyuekin lo." "Ah ya.... pinter banget lo bikin alesan!" "Ng...kali karna pacarnya Jes...eh tunangannya deng." Shely menekankan. "Gosah diinget-ingetin soal tunangan bisa keles." "Ya abisnya kan emang kenyataan gitu." Shely nyengir. "Udahlah Jes, lupain Pak Cahyo, masih banyak cowok tampan, contohnya tuh, anak Tehnik Mineral, dari tadi natap lo nggak berhenti, mana cakep lagi!" Shely ngasih kode ke arah jam tiga di mana segerombolan cowok-cowok dengan baju korsa merah dengan tulisan Tehnik Geologi. "Huf! Nggak secakep Pak Cahyo dan gak sematang Pak Cahyo. Bocil semua tuh!" Jessi menoleh sekilas ke cowok-cowok tehnik itu dan kembali menyeruput teh botolnya. "Hem...bilang aja kalau ngrebut pak Cahyo dari tunangannya lebih asoy!" "Nah tuh tau!" "Parah lo Jess...Jess....." "Bodo amat ah!" "Udah gue cabut dulu, ayangbeb gue kabur, gue mau nyari dulu, jangan sampai ayangbeb gue disandera madam Mikmak." "Madam Mikmak siapa?" "Gita. Tunangannya lah." Sahut Jessi cuek, dan beranjak dari bangku. "Hai! Boleh kenalan?" Sebuah suara terdengar nyapa Jessi, dan saat Jessi menoleh salah satu dari gerombolan cowok yang tadi menatapnya sudah berada di hadapannya. Tinggi, putih, senyum menawan dan baju korsa merah membuat cowok itu terlihat shining shimmering splendid, dan yah kalau nggak bego-bego amat dia bisa kerja di Pertamina, Kaltim Prima Coal, Adaro, atau Freeport, perusahaan tambang besar di negara ini kalau kerjaannya kayak gitu, masa depan lumayan cukup cerah. "Boleh...boleh...." Shely justru yang semangat, dan cowok berkorsa merah itu tersenyum canggung. "Gue Shely, ini temen gue Jessi, lo namanya siapa?" Shely malah nyerocos kayak bajaj, dih kayaknya Shely emang udah ngincer nih anak tehnik, buktinya begitu cowok ini ngajak kenalan Jessi, malah Shely yang hore. "Gue Sean." Cowok itu jabat tangan Shely, dan jabat tangan Jessi. "Lo mau kemana Jes? Gue anter boleh?" Sean langsung ngegas ke Jessi. "Gue mau ke toilet. Beneran mau nganter? Yang ada dikira tukang ngintip ntar lo." "Demi lo nggak apa-apa gue dibilang apa juga." Sean mulai gombal gembel. Jessi ketawa. Sean lucu, tapi tetep aja bocil. Jessi hanya perlu om-om, bukan bocil tampan macam Sean.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN